100211 Pengalamatan IP: Menyelamatkan Eksistensi Dunia Maya

Kabar menganggetkan dirilis oleh Internet Assigned Numbers Authority (IANA) yang menyatakan persediaan alamat IPv4 akan habis di pertengahan 2011.  IANA adalah lembaga yang mengatur alokasi Internet Protocol Address (IP address) di dunia. Di bawahnya ada pembagian 5 wilayah berdasarkan geografi. Indonesia bernaung di bawah  Asia Pacific Network Information Centre (APNIC) yang berpusat di Australia.

IP Address merupakan salah satu sumberdaya internet yang terbatas jumlahnya dan menjadi satu-satunya sistem pengalamatan jaringan internet. Sistem pengalamatan ini memungkinkan komunikasi antar jaringan di dalam Internet. Jika untuk basic telephony, IP address diibaratkan adalah penomoran. Seandainya sumber daya ini habis, maka kiamatlah eksistensi dunia maya di satu negara  karena tidak bisa berkembang.

Sejak 1983, sistem pengalamatan yang digunakan adalah IPv4 dengan jumlah sekitar 4 miliar.  IANA mengungkapkan  alamat IPv4  yang  tersisa 7 persen  atau setara dengan 280 juta IP di seluruh dunia, sehingga harus segera bersiap untuk migrasi ke dalam IPv6. IPv4 yang tersisa akan dibagi untuk kawasan Amerika Utara akan mendapatkan jatah 20 persen, 10 persen untuk wilayah Eropa, Timur Tengah, dan Rusia, Amerika Latin dan Karibia sebesar 10 persen, sedangkan wilayah Afrika sebanyak 53 persen.
IPv6 merupakan jenis pengalamatan jaringan yang digunakan di dalam protokol jaringan TCP/IP yang menggunakan protokol IP versi 6. Panjang totalnya adalah 128-bit, dan secara teoritis dapat mengalamati hingga 2128=3,4 x 1038 host komputer di seluruh dunia.
IPv6 memiliki kelebihan seperti tingkat keamanan jaringan lebih tinggi, konfigurasi dan routing otomatis serta jumlah pengalamatan yang bisa mencapai jumlah tidak terhingga atau setara setiap inci permukaan bumi.

Operator Siap
Direktur Jaringan XL Axiata Dian Siswarini menegaskan, telah siap menjalankan IPv6 karena persiapan dilakukan sejak 2007. “Sekarang implementasi memakai dual stack mode, hampir semua elemen jaringan sudah siap menjalankan IPv6  mulai dari upstream, core network (Network Access Provider/NAP, ISP POP) dan  server seperti  DNS, Web dan  Mail server,” jelasnya kepada Koran Jakarta, Rabu (9/2).

Dijelaskannya, Dual stack dilakukan agar  transisi  mulus sehingga  perangkat yang menggunakan  IPv4 masih bisa dilayani. “Jika migrasi menggunakan  clean cut, pengguna malah tidak bisa akses ke internet,” katanya.

Wakil Direktur Utama Bidang Jaringan Bakrie Telecom M. Danny Buldansyah memperkirakan masih butuh waktu dua hingga tiga bulan meng-upgrade sistem setelah waktu yang ditetapkan oleh pemerintah agar seluruh jaringannya siap dengan IPv6.
Sementara Direktur Utama  Indosat Mega Media (IM2) Indar Atmanto mengungkapkan, IM2 telah memperluas kesiapan terhadap IPv6 pada Maret tahun lalu yang mencakup perangkat dan router yang melayani pelanggan segmen korporasi.
Rendah
Kepala Humas dan Pusat Informasi Kemenkominfo Gatot Dewo S Broto mengakui di Indonesia masih rendah persiapan untuk migrasi ke IPv6 walau sudah dilakukan berbagai persiapan sejak dua tahun lalu. “Kita sudah lakukan segala upaya, bahkan membuat satuan gugus tugas (Task Force), tetapi persiapannya sekitar 65 persen. Kami ingin migrasi ke IPv6 diakselerasi lebih cepat  karena habisnya IPv4 ternyata lebih cepat. Kita targetkan April persiapan infrastruktur sudah selesai,” tegasnya.

Sayangnya, walau memiliki target yang mepet, pemerintah tidak mau keluar biaya untuk akselerasi dan lebih membatasi diri sebagai  fasilitator melalui edukasi. “Biaya dan tanggungjawab migrasi ini ada di Penyedia jaringan Internet (PJI),” tegasnya.

Anggota Tim Ahli Task Force Migrasi IPv6,  M. S. Manggalanny mengungkapkan, perwakilan dari APNIC di Indonesia adalah Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII). “Proses pengajuan alamat IP ada biaya per tahun. Khusus bagi pengguna yang sdh punya alokasi IPv4 sendiri boleh mengajukan alokasi IPv6 gratis selama beberapa waktu untuk uji coba implementasi,” jelasnya.

Kemungkinan  biaya tambahan akan terjadi kala  implementasi di jaringan dipacu oleh penggunaan sumber daya manusia atau meng-upgrade  upgrade peralatan serta aplikasi. Belum lagi kemungkinan biaya di sisi pelanggan jika  diterapkan di PJI. “Di Indonesia itu masih dual stack alias  IPv6 berjalan di jaringan  IPv4. Sangat sedikit PJI yang murni menjalankan IPv6,” katanya.

Ditegaskannya, pemerintah sudah bekerja keras  namun  antusiasme industri untuk migrasi rendah dan ini terjadi di semua negara.  Hal ini karena  prinsipnya IPv6 sendiri sebenarnya belum sampai tahap yang reasonable untuk diimplementasikan. Apalagi, IPv4 hingga sekarang masih bisa berjalan, sehingga pelaku usaha lebih suka “menunggu” ketimbang dana keluar. Semakin diperparah  adaptasi terhadap IPv6 itu sendiri di kalangan industri penghasil teknologi masih sangat rendah.

Disarankannya, jalan keluar yang dilakukan adalah mendorong  pendistribusian secara masif IPv6 kepada publik. Namun ini akan menghadapi kendala dimana selama ini  sumber daya IP sudah menjadi komoditas yang dikuasai oleh rejim NIC/NIR akibatnya lantas cenderung komersil serta birokratif, untuk mengikat stakeholder  sekaligus  daya tawar di dalam relasinya ke semua mitra.

Wakil Ketua Umum APJII Sammy Pangerapan  menjelaskan, sebenarnya yang terrjadi bukanlah migrasi ke IPv6 tetapi semua PJI siap menjalankan IPv6.  “Migrasi baru bisa dilakukan  jika semua stakeholder sudah mengunakan IPv6. Sekarang itu masih  dual stack.  Saat ini yang sudah terlihat di jaringan internasional ada 44 atau sekitar 19 persen  dari total  227 PJI,” jelasnya.

Sammy pun membantah asosiasinya melakukan komersialisasi dalam pengalamatan IP. “Komersial darimana? Fee kita lebih murah daripada ambil di APNIC dan fee itu ditentukan lewat  rapat yang terbuka,” tegasnya.

Sementara Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Internet Teleponi Indonesia (APITI) Teddy A. Purwardi mengungkapkan, baru sekitar 10 persen PJIyang siap menjalankan IPv6. “Soal migrasi itu akan  terjadi secara akomodatif. Jika tidak migrasi  para pengguna IPv4 tidak bisa melongok ke IPv6. Proses ini hulu ke  hilir dari segi jaringan dan paralel  dengan DNSv6,” jelasnya.

Diungkapkannya, walau IPv4 sudah krisis persediaannya, PJI yang juga sebagai operator selular atau Fixed Wireless Access (FWA)  masih meminta IPv4  karena belum siap dengan IPv6 di sisi jaringan hingga ke  pelanggan. “Operator itu  sudah habis-habisan investasi  di IPv4. Ini juga salah satu pemicu lambannya persiapan ke IPv6,” ketusnya.[dni]

Iklan

1 Komentar

  1. sya merasa tertarik aan eksistensi dunia maya karena dengan adanya dunia maya maka setiap insan atau manusia bebas untuk mengeksplorasi kemampuan melalui aksi kocak dan brutal dengan tujuan untuk menghibur khalayak…


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s