100211 Dirgantara Indonesia Gandeng Twin Otter

JAKARTA—PT Dirgantara Indonesia akan menggandeng pabrikan pesawat Twin Otter, De Havilland Canada (DHC), untuk membangun pabrik di Indonesia.

“Kami mendapatkan laporan dari Dirgantara Indonesia sedang ada penjajakan kerjasama dengan Twin Otter untuk memindahkan operasi pabrik asal Kanada itu ke Bandung,” ungkap Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian
Perhubungan, Herry Bakti Singayudha Gumay di Jakarta, Rabu (9/2).

Diungkapkannya, kedua belah pihak saat ini dalam tahap pengajian  dengan syarat salah  satunya pabrikan itu akan memindahkan pabriknya jika di Indonesia terdapat operator  membeli pesawat Twin Otter minimal 30 unit. Padahal,  kenyataannya pesawat Twin Otter di Indonesia sudah lebih dari itu.

Tercatat, Merpati memiliki Twin Otter jenis  DHC 6-300 dengan kapasitas 18 penumpang  sebanyak  8 unit, PT Pelita Air Service jenis DHC 7-103 sebanyak 6 unit, Trigana Air Service jenis DHC 6-300 dan DHC 4A sebanyak 4 unit.

Secara terpisah Presiden Direktur  Dirgantara Indonesia Budi Santoso mengakui masih dalam penjajakan dengan pabrikan tersebut. “Kami belum deal soal bagi-bagi untung. Menurut mereka  pasar pesawat Twin Otter  di Indonesia itu sangat besar sedikitnya 60 pesawat,” katanya.

Dijelaskannya,  saat ini di Indonesia ada 20 pesawat Twin Otter yang beroperasi tapi sudah uzur karena dibuat  tahun  1970-an, sementara pemerintah minta segera diremajakan.

“Untuk jumlah investasi belum bisa disebutkan  Kalau disebutkan sekarang  bisa rugi. Pokoknya kita ingin cepat ini direalisasikan,” katanya.

Berdasarkan catatan, untuk membangun satu pabrik Twin Otter dibutuhkan biaya sebesar dua kali lipat harga jual satu pesawat. Twin Otter sendiri dilepas ke  pasar senilai 5-6 juta dollar AS. Hal ini berarti membangun pabrik dibutuhkan dana sekitar 10-12 juta dollar AS.

Menurutnya, dipilihnya Indonesia oleh twin Otter karena  lokasi pabrik  jauh lebih kompetitif dibanding negara lain di dunia. Apalagi,  di negara asalnya Twin Otter akan  tutup.

Sedangkan untuk kemampuan tenaga kerja  indonesia untuk membangun pesawat berbahan aluminium  tak usaha diragukan lagi. “Soal lokasi masih belum ditentukan, kalau mau mudah  di Bandung karena tenaga  di sini semua, tapi kan tanah mahal di sini. Kalau di Papua yang selama ini basis pesawat Twin Otter  sepertinya sulit karena  harus memobilisasi tenaga kerja,” jelasnya.

Eliminir
Secara terpisah,  Direktur Keuangan Garuda Indonesia Elisa Lumbantoruan mengungkapkan, maskapainya tidak akan memilih armada berbasis baling-baling untuk melayani segmen di bawah 100 kursi (Sub-100).

“Salah satu aplikasi dari Sub-100 ini adalah untuk melayani penerbangan pengumpan (feeder) domestik. Misalnya penerbangan langsung Medan-Balikpapan, Medan-Denpasar, bahkan Medan-Ujung Pandang. Jadi kemungkinan kami akan memilih jet,” kata Elisa.

Jika demikian, maka  ATR Aircraft, pabrikan pesawat baling-baling (propeller) asal Blagnac, Perancis tentu tereliminasi sebagai kandidat armada yang digunakan untuk Sub-100.  Hal ini berarti dua  merek pesawat yang masih diseleksi adalah Embraer asal Brasil serta Bombardier dari Jerman.

Elisa mengakui, pesawat baling-baling jauh lebih ekonomis digunakan sebagai feeder. Namun, jika diputuskan untuk menggunakan dua tipe pesawat maka biaya operasional Garuda bisa menjadi boros. “Sampai saat ini kami masih mengevaluasi, perkiraan saya antara pertengahan sampai akhir Maret sudah ada keputusan pesawat Sub-100 yang akan kami datangkan,” katanya.

Sesuai rencana, Garuda akan mengalokasikan dana dari hasil penawaran umum saham perdana (IPO) untuk mendatangkan 36 pesawat. Terdiri dari 10 Boeing 737-800 Next Generation (NG), 10 unit Boeing 777, enam unit Airbus A330-200, lima unit pesawat narrow body untuk digunakan Citilink, serta lima unit pesawat tipe Sub-100. Dalam jangka panjang, jumlah Sub-100 yang dioperasikan Garuda akan bertambah sampai 18 unit.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s