080211 Mencari Pasangan untuk Bersaing

Pada tahun ini pertumbuhan sektor telekomunikasi diperkirakan hanya 9 persen dengan  jumlah pelanggan yang diperebutkan sekitar 38,15 juta nomor baru. Jika menilik pada performa tiga tahun belakangan, jasa seluler akan kembali mendominasi perolehan jumlah pelanggan, sementara pemain Fixed Wireless Access (FWA) masih berusaha bertahan untuk hidup.

Pemain seluler di Indonesia terdiri dari Telkomsel, Indosat, XL Axiata, Smart, Mobile-8, Axis, Tri, dan Sampoerna. Sedangkan pemain FWA adalah TelkomFlexi, Indosat Starone, Bakrie Telecom (BTEL), dan Mobile-8 Hepi.

Isyarat pemain FWA masih berada dalam tekanan bisa dilihat dari kinerja BTEL yang hingga kuartal III tahun lalu  hanya mampu  mencatat pertumbuhan pendapatan usaha baik secara bersih atau kotor dibawah angka satu persen.

Belum lagi pertambahan pelanggannya per kuartal yang tergolong kecil yakni pada kuartal ketiga meraih 12,1 juta nomor, sementara pada semester I di posisi 11,1 juta pelanggan dengan Average Revenue Per User (ARPU) sekitar 26 ribu rupiah.

Begitu juga Flexi yang memiliki 16,8 juta pelanggan dengan ARPU 17 ribu rupiah yang didukung 5.650 BTS. Total dari kuartal pertama hingga kuartal III 2010,  Flexi hanya mendapatkan 852 ribu pelanggan. StarOne lebiih miris lagi nasibnya karena angka pelanggannya berputar-putar dari 500-722 ribu pelanggan selama setahun terakhir, sementara ARPU turun secara konstan dengan posisi terakhir 17 ribu rupiah.

Bandingkan dengan pemain seluler seperti Telkomsel yang sepanjang 2010 mampu mendapatkan 13 juta pelanggan baru sehingga mengumpulkan 95 juta nomor atau XL Axiata yang berhasil menambah 9 juta pelanggan baru hingga memiliki 40,4 juta pengguna.

Sadar
Para pemain FWA pun sadar berada dalam tekanan seluler untuk berkompetisi. Wacana konsolidasi sudah mulai terlontar. Salah satunya yang paling heboh pada tahun lalu adalah isyarat akan dikonsolidasikannya TelkomFlexi (Flexi) dengan BTEL.

Namun, kabar ini akhirnya mereda setelah Menneg BUMN Mustafa Abubakar menyadari wacana tersebut tidak menguntungkan bagi Telkom. “Sudah tutup buku soal itu,” tegasnya beberapa waktu lalu

Banyak kalangan di industri telekomunikasi menolak wacana merger Flexi dengan pemilik merek dagang  Esia itu,  termasuk dari Serikat Karyawan (Sekar) Telkom. Mereka menilai BTEL perusahaan yang terlalu memiliki hutang tinggi sehingga penggabungan justru akan menjadi beban bagi Telkom karena ikut menanggung. Hal ini makin dipersulit dengan isu posisi Telkom yang nantinya hanya menjadi minoritas jika penggabungan terjadi

Komisaris Utama Telkom Jusman Syafii Djamal menegaskan, Flexi terus dikembangkan untuk memperkuat portfolio perseroan. “Flexi terus dikembangkan. Strategi pengembangannya bermacam-macam. Kajian terus dilakukan,” ungkap Jusman.

Diakuinya, salah satu strategi yang dilakukan adalah mencarikan mitra untuk mengembangkan unit usaha itu. “Tentunya dalam bermitra itu kami mencari yang sehat dan dalam posisi mayoritas. Jika di dalam negeri tidak ada mitra yang sesuai, tak tertutup kemungkinan datang dari luar negeri,” tegasnya.

Lirik StarOne
Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah mengaku terbuka jika  Indosat  ingin melepas anak usaha FWA, StarOne, untuk dikonsolidasikan dengan Flexi.  “ Dulu, satu atau 1,5 tahun lalu memang ada pembicaraan dengan Indosat membahas StarOne-Flexi. Tetapi setelah itu tidak ada lagi. Kami terbuka saja kembali berdiskusi jika Indosat memang benar ingin memisahkan StarOne dari perusahaanya,” jelasnya.

Presiden Direktur Indosat Harry Sasongko  mengaku  ingin mengoptimalkan StarOne  agar tidak menjadi aset tidur yang memberatkan perusahaan. “StarOne akan terus dikembangkan. Kita ingin semua aset yang berpotensi memberikan pendapatan bagi perusahaan dioptimalkan,”  jelas Harry.

Jika melihat beberapa pilihan yang tersedia,  mencari mitra strategis atau melepas sebagian kepemilikan di StarOne adalah langkah realistis bagi Indosat. Pasalnya,  berharap induk usaha, Qatar Telecom, untuk menginjeksi dana sepertinya hal yang mustahil karena fokus selama ini ke jasa seluler.

Pengamat telekomunikasi Guntur S Siboro menyarankan sebelum dilakukan konsolidasi ada kajian dulu tentang kebutuhan kedua pemain. “Konsolidasi itu mengincar spektrum frekuensi,  pelanggan, brand equity, saluran distribusi, atau efisiensi pendanaan,” katanya.

Diungkapkannya, dari sisi merek dagang atau saluran distribusi StarOne tidak begitu menarik. “Namun, jika melihat spektrum yang menganggur ada baiknya dikembangkan oleh Telkom,” tuturnya.

Pengamat telekomunikasi lainnya, Bayu Samudiyo mengungkapkan, jika  Flexi dikonsolidasikan dengan StarOne tidak memberikan dampak bagi Telkom secara grup. “Kalau dilihat dari sisi pendapatan, pangsa pasar, dan keuntungan, StarOne tidak menjual jika disandingkan dengan Flexi,” jelasnya.

Sementara Pengamat telematika Koesmarihati Koesnowarso mengingatkan, masalah letak frekuensi antara StarOne dan Flexi yang berjauhan akan menjadi kendala tersendiri untuk konsolidasi.

“Frekuensi  StarOne bersebelahan dengan GSM milik Indosat sendiri. Selama ini karena dikelola satu perusahaan lebih mudah mengatasi interference yang terjadi. Sementara kondisi sekarang, untuk di perbatasan Singapura  dan Malaysia, sulit dipakai, karena kedua negara  memakainya untuk extended GSM,” jelasnya.

Dijelaskannya, selama ini walau StarOne memiliki dua kanal frekuensi, satu kanal digunakan untuk guardband dengan GSM dan satunya lagi untuk menggelar layanan. “Akan lebih menguntungkan bagi Indosat,  frekuensi StarOne yang efektif satu kanal digunakan untuk pengembangan GSM khususnnya layanan data,” jelasnya.

Secara terpisah, Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi meminta kedua belah pihak yang akan melakukan konsolidasi melapor ke regulator jika benar akan direalisasikan.

“Meskipun dilihat dari penguasaan pasar keduanya tidak memicu monopoli kalau dari sisi jumlah pelanggan, regulator telekomunikasi perlu melakukan kajian terutama soal sumber daya terbatas yang dikelola keduanya yakni frekuensi dan penomoran,” tegasnya.

Dijelaskannya, StarOne hanyalah nama produk, sedangkan yang memegang lisensinya adalah Indosat, sehingga perlu kejelasan mengingat frekuensi tidak bisa dipindahtangankan ke perusahaan lain.

Diungkapkannya,  saat ini memang lisensi antara seluler dan FWA dipisahkan, tidak seperti dulu masih digabung dalam satu paket.

Dikatakannya, masalah kecenderungan konsolidasi di sektor telekomunikasi sudah diantisipasi dengan menggodok peraturan menteri terkait merger dan akuisisi.

Dalam kajian itu masalah penguasaan sumber daya terbatas akibat adanya konsolidasi harus dikembalikan dulu ke pemerintah untuk ditelaah  kebutuhan ideal dari entitas baru.

Rancangan peraturan menteri itu mengacu kepada UU anti monopoli sehingga tidak akan tumpang tindih dengan regulasi terkait merger dan akuisisi dari Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).

“Sekarang masih terus dibahas. Semoga bisa cepat diselesaikan agar bisa mendapat respons dari publik. Soalnya banyak yang bilang tahun ini akan ada beberapa konsolidasi dilakukan oleh pemain. Regulasi ini bisa menjadi kepastian dan payung hukum, ” tegasnya.[Dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s