020211 BTEL Tetap Optimistis Tanpa Flexi

JAKARTA—PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) tetap optimistis mengarungi persaingan industri telekomunikasi pada tahun ini walau rencana konsolidasi dengan unit usaha Fixed Wireless Access (FWA) Telkom, Flexi, belum terealisasi.

“Tidak ada masalah konsolidasi itu belum terealisasi. Kami masih tetap bersaing dengan pemain lain,” tegas Wakil Dirut Bakrie Telecom Bidang Jaringan M. Buldansyah di Jakarta, Selasa (1/2).

Dijelaskannya, niat perseroan untuk melakukan konsolidasi dengan Flexi adalah untuk mengurangi persaingan di pasar FWA dan mencari efisiensi serta efektifitas dalam pengelolaan keuangan. “Kalau konsolidasi itu terjadi tidak perlu masing-masing mengeluarkan uang untuk biaya pemasaran atau peralatan. Dua item itu saja sudah signifikan menekan biaya,” jelasnya.

Sedangkan untuk pengembangan jaringan, jelasnya, belum menjadi masalah dari sisi kapasitas baik untuk pasar data atau suara dan SMS. “Kapasitas untuk data ada satu kanal yang bisa melayani satu juta pelanggan. Sementara dari sisi suara dan SMS ada tiga kanal yang masih bisa dioptimasi,” katanya.

Direktur Korporasi Bakrie Telecom Rakhmat Junaidi menegaskan, pihak BTEL sejauh ini belum pernah menghentikan pembahasan konsolidasi dengan Telkom.

“Kami masih terbuka dan menunggu soal rencana itu. Soal isu Telkom sekarang melirik FWA milik Indosat, StarOne, baiknya ditanya ke Telkom. Satu hal yang pasti di negosiasi dengan Telkom itu tidak ada hitung-hitungan penawaran harga,” jelasnya.

Rakhmat mengungkapkan, walau rencana konsolidasi belum terealisasi, namun pasar masih mempercayai kinerja BTEL. Hal itu terlihat dari cepatnya terserap    obligasi senilai 130 juta dollar AS yang akan jatuh tempo pada Mei 2015.

BTEL berencana menggunakan dana tersebut untuk membayar pinjaman bank senilai 30 juta dollar AS dan utang dagang perseroan senilai 50 juta dollar AS.Sisanya, sekitar 50 juta dollar AS, akan digunakan untuk mendanai belanja modal perseroan. “Book building dari obligasi itu mencapai 7 kali. Sejauh ini baru itu yang bisa saya katakan,” jelasnya.

Berhasilnya penerbitan obligasi, menurut Rakhmat, menjadikan perseroan bisa memiliki belanja modal sebesar 200 juta dollar AS dimana 50 persen akan dialokasikan untuk pengembangan unit usaha Bakrie Connectivity (Bconnect) yang bermain di pasar data.

Presiden Bakrie Connectivity Erik Meijer mengungkapkan, hingga akhir tahun lalu pengguna jasanya telah mencapai 75 ribu nomor di 12 kota. “Kami menargetkan pada tahun ini Bconnect bisa hadir di 20 kota,” katanya.
Buldansyah menambahkan, belanja modal dari Bconnect akan digunakan untuk meng-upgrade 3-4 ribu BTS milik BTEL mengadopsi teknologi Evolution Data Optimized (EVDO). “Sekarang baru 70 persen dari total BTS yang bisa EVDO,” katanya.

Sebelumnya, Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah mengaku terbuka jika PT Indosat Tbk ingin melepas anak usaha FWA, StarOne, untuk dikonsolidasikan dengan Flexi.  “Pada satu atau 1,5 tahun lalu memang ada pembicaraan dengan Indosat membahas StarOne-Flexi. Tetapi setelah itu tidak ada lagi. Kami terbuka saja kembali berdiskusi jika Indosat memang benar ingin memisahkan StarOne dari perusahaanya,” jelasnya.

Sedangkan Komisaris Utama Telkom Jusman Syafii Djamal menegaskan, Flexi terus dikembangkan untuk memperkuat portfolio perseroan. “Flexi terus dikembangkan. Strategi pengembangannya bermacam-macam. Kajian terus dilakukan,” ungkap Jusman.

Diakuinya, salah satu strategi yang dilakukan adalah mencarikan mitra untuk mengembangkan unit usaha itu. “Tentunya dalam bermitra itu kami mencari yang sehat dan dalam posisi mayoritas,” tegasnya.

Ditegaskannya, di pasar FWA, Flexi adalah penguasa pasar baik dari sisi pelanggan atau infrastruktur, sehingga posisi mayoritas dalam bermitra adalah hal yang wajar. “Jika di dalam negeri tidak ada mitra yang sesuai, tak tertutup kemungkinan datang dari luar negeri,” katanya.

Presiden Direktur Indosat Harry Sasongko  mengaku  ingin mengoptimalkan StarOne  agar tidak menjadi aset tidur yang memberatkan perusahaan.

“StarOne akan terus dikembangkan. Kita ingin semua aset yang berpotensi memberikan pendapatan bagi perusahaan dioptimalkan,”  jelas Harry.
Sayangnya, Harry enggan membagi strategi yang dipilih mengoptimalkan jasa yang memiliki sekitar 750 ribu pelanggan itu.

Saat ini pilihan yang tersedia adalah mencari mitra strategis atau melepas sebagian kepemilikan di StarOne. Sedangkan berharap induk usaha, Qatar Telecom, untuk menginjeksi dana sepertinya hal yang mustahil karena fokus selama ini ke jasa seluler. “Kalau strateginya tidak bisa diungkap. Semua masih dikaji dulu,” katanya.

Sebelumnya, Flexi ramai diisukan akan disbanding dengan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL). Namun, kabar ini akhirnya mereda setelah Menneg BUMN Mustafa Abubakar menyadari wacana tersebut tidak menguntungkan bagi Telkom. “Sudah tutup buku soal itu,” tegasnya.

Banyak kalangan di industri telekomunikasi menolak wacana merger Flexi dengan Esia termasuk dari Serikat Karyawan (Sekar) Telkom. Mereka menilai BTEL perusahaan yang terlalu memiliki hutang tinggi sehingga penggabungan justru akan menjadi beban bagi Telkom karena ikut menanggung. Hal ini makin dipersulit dengan isu posisi Telkom yang nantinya hanya menjadi minoritas jika penggabungan terjadi.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s