260111 Sayap-sayap Patah di Industri Penerbangan

Industri penerbangan Indonesia mendapatkan kado yang tak manis di awal tahun ini. Mandala Airlines (Mandala) yang merupakan salah satu maskapai andalan di angkutan udara akhirnya menghentikan operasi untuk sementara pada paro kedua Januari karena krisis keuangan yang membelitnya.

Krisis yang melanda Mandala sebenarnya  sudah terendus di kalangan industri penerbangan sejak medio Maret 2010. Kala itu dikabarkan  sejumlah pesawatnya ditarik perusahaan penyewaan pesawat (lessor).

Namun kala itu manajemen Mandala bersikeras maskapainya masih mampu beroperasi dan menyakinkan  25 pesawat akan berdatangan pada 2011.

Pada posisi itu,  Mandala mengklaim mengoperasikan tujuh unit pesawat dari sebelumnya pernah mengoperasikan 11 pesawat pada akhir 2008. Sedangkan posisi terakhir dikabarkan Mandala hanya memiliki 5 unit pesawat. Angka itu jauh dibawah standar regulasi dimana maskapai diharuskan memiliki 10 unit pesawat

Maskapai Mandala dikuasai Cardig International (51%) dan Indigo Partners (49%). Cardig International merupakan perusahaan yang memfokuskan bisnisnya pada industri aviasi yang kini memiliki investasi di 10 perusahaan.

Sedangkan Indigo Partners adalah perusahaan yang berinvestasi di sektor penerbangan dan memiliki saham di sejumlah maskapai seperti Spirit Airlines (USA), Wizz (Europe), Tiger (Singapore), Abnanova Airlines (Russia) dan Mandala Airlines (Indonesia).

Mandala tidak sendirian yang mengalami “sayap patah”. Kartika Airlines ternyata telah menghentikan operasinya sejak Juli 2010. Kabar ini tentu mengejutkan karena awal Juli 2010, maskapai ini mengumumkan  rencana memperbaharui armadanya dengan mendatangkan  30 Sukhoi SuperJet 200 senilai 840 juta dollar AS untuk menunjang rencana bisnis ke depan.

Kartika yang memiliki hub di Batam tersebut melayani delapan rute domestik, yaitu Batam-Jambi, Batam-Medan, Batam-Padang, Batam-Palembang, Jakarta-Batam, Jakarta-Medan, Jakarta-Padang, dan Medan Padang. Pesawat Kartika sekarang 3 unit yaitu MD-80, Boeing 737-200 dan Boeing 737-300. Seluruh armada  masih sewa belum ada yang berstatus milik.

Saat beroperasi, Kartika mengangkut  sebanyak 441.672 orang dan kargo 1.663 ton pada 2009. Tahun 2010 (per Juni) mengangkut sebanyak 105.355 pax dan 1 ton barang. Pada 10 Januari 2011  Kartika memberitahukan bahwa akan beroperasi kembali pada tgl 1 April 2011. Tetapi  Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, pada  14 Januari 2011 mencabut rute-rute Kartika. Saat ini Kartika tidak punya pesawat

Salah Strategi
Presiden Direktur Mandala Airlines Diono Nurjadinmengaku, kalah bersaing di industri penerbangan lokal karena salah menerapkan strategi dalam berusaha.

“Kami bermain di pasar low cost carrier (LCC), tetapi tidak didukung saluran penjualan yang tepat. Selama ini Mandala berjualan tiket melalui agen, sedangkan LCC itu direct sales,” katanya.

Hal ini semakin diperburuk dengan struktur biaya yang tinggi karena menyewa pasat mahal  sehingga pendapatan yang diraih tidak seimbang dengan pemasukan.

Dikatakannya, langkah kedepan yang dilakukan oleh manajemen adalah mengubah strategi agar bisa bersaing dengan dukungan investor baru. “Kami sudah berbicara dengan beberapa investor. Semoga dalam waktu 45 hari kedepan sudah ada kepastian investor baru masuk,” katanya.

Sementara untuk kontrak mendatangkan 25 pesawat Airbus baru yang telah dicanangkan sejak lama akan dilakukan negosiasi ulang.

“Kami optimistis jika mendapatkan investor baru beberapa rencana lama bisa direalisasikan seperti memiliki 10 pesawat dan melayani rute lama. Bahkan kita ada rencana masuk ke Australia dan India,” katanya.

Dirjen Perhubungan Udara Herry Bakti  S Gumay mengaku sudah mengetahu Mandala bermasalah sejak pertengahan tahun lalu sehingga memperketat pengawasan terhadap maskapai itu sejak tahun lalu.

“Kami sudah mengetahui maskapai itu bermasalah sejak tahun lalu. Karena itu kami meminta maskapai itu menyesuaikan rute yang dilayani dengan jumlah maskapai dimiliki,” ungkapnya.

Menurutnya, regulator sudah menjalankan fungsi pengawasan dengan melihat kesiapan aspek keselamatan yang dijalankan oleh maskapai tersebut.

“Masalah kita memberikan izin rute baru seperti ke luar negeri yakni Macau atau HongKong  karena ingin mengakomodasi perencanaan bisnis dari maskapai itu yang ingin bertahan. Mereka melayani rute baru dan meninggalkan rute lama sebagai bagian dari strategi bisnis. Saya tegaskan, Mandala itu kesulitan karena salah satu pemegang saham yakni Indigo and Partners tidak mendukung ekspansinya,” jelasnya

Sementara Direktur Angkutan Udara Ditjen Perhubungan Udara Edward A Silooy mengatakan, sebaiknya jangan cepat tersilau dengan rencana ekspansi dari satu maskapai seperti pengumuman akan membeli pesawat. “Kartika itu baru sebatas MoU. Bisnis penerbangan ini tidak hanya membutuhkan skill usaha tapi juga teknis,” katanya.

Pengawasan Lemah
Pada kesempatan lain, Anggota Komisi V DPR KH Abdul Hakim menyesalkan sikap yang diambil oleh  Kemenhub dimana dalam membina industri penerbangan hanya fokus pada aspek keselamatan tetapi melupakan analisa kemampuan  manajemen terutama keuangan.

“Pasal 99 dalam UU Penerbangan secara tegas mengatakan harus dilakukan evaluasi secara periodik dari kinerja manajemen. Ini sudah cukup untuk melakukan intervensi jika maskapai disinyalir bermasalah, bukan malah terjadi pembiaran. Kalau sudah begini, dalam kasus Mandala pemerintah tak bisa lepas tangan,” ketusnya.

Sedangkan di pasal 118 huruf G dinyatakan setiap bulan tanggal 10 harus diberikan laporan keuangan kepada pemerintah.

Menurutnya, pembiaran yang dilakukan oleh pemerintah beroperasinya Mandala walau sudah tahu terseok seperti menutupi ketidakmampuan mengawasi. “Saya melihat pemerintah seperti tidak rela maskapai berhenti operasi. Padahal transparansi itu bagus untuk pembelajaran bagi pelaku usaha lainnya,” katanya.

Anggota Komisi V DPR- RI Estu Sadarwati mendorong terjadinya konsolidasi di angkutan udara karena sudah terlalu banyak pemain dan semakin rendahnya kualitas layanan yang diberikan ke masyarakat. “Maskapai baiknya jangan terlalu membanting harga tiket secara murah. Soalnya itu akan berdampak kepada kualitas layanan dan daya tahan keuangan perusahaan,” katanya.

Anggota Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sudaryatmo mengatakan  tidak selamanya banyak pemain  menguntungkan konsumen karena pilihan beragam. “Lihat saja kondisi sekarang, konsumen dalam posisi yang lemah,” ungkapnya.

Presiden Direktur Sriwijaya Air Chandra Lie menyarankan, untuk menjaga persaingan yang sehat di angkutan udara pemerintah harus secepatnya membuat aturan tarif batas atas dan bawah agar tidak terjadi perang harga. “Masalah aturan batas atas dan bawah itu harus cepat dibuat. Selain itu harus ada dukungan yang jelas dari lembaga keuangan untuk menolong maskapai dalamn memberikan pembiayaan dengan bunga yang rendah,” katanya.

Ketua Umum Indonesia National Air Carriers Asociation (INACA) Emirsyah Satar mengatakan, kondisi di industri penerbangan memang sudah menjurus kea rah konsolidasi.

“Kedepan itu ukuran menjadi penentu menang di kompetisi. Walaupun skala ekonomi besar, tetapi efisiensi dari masing-masing pemain dibutuhkan. Masalah berapa jumlah pemain yang ideal dibutuhkan, biarkan pasar yang menentukan,” katanya.

Menanggapi hal itu, Herry Bakti menegaskan  tidak akan menerapkan batas tarif bawah . “Maskapai dipersilakan untuk memberlakukan tarif promosi agar ada penumpangnya. Pemerintah tidak akan memberlakukan batas tarif bawah,” katanya.

Menurutnya, konsolidasi akan terganjal ego pemilik yang tinggi. “Kemungkinan besar di akhir tahun akan banyak yang tidak memenuhi persyaratan kepemilikan jumlah pesawat yakni lima sewa dan lima milik sendiri,  sehingga Surat Izin Usaha Penerbangan (SIUP)  bisa dicabut,” katanya.[dni]

260111 RI-India Tandatangani Air Service

JAKARTA–Pemerintah Republik Indonesia (RI) dengan India menandatangani Memorandum Of Understanding (MoU) Air Service  pada Selasa (25/1).

Penandatanganan dilakukan oleh Menteri Penerbangan Sipil India Dr. Syed Nasim dan Menteri Perhubungan Indonesia Freddy Numberi disaksikan PM India Manmohan Singh dan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono.

“MoU sudah resmi ditandatangani,” ungkap juru bicara Kementrian Perhubungan (Kemenhub) Bambang S. Ervan di Jakarta, Selasa (25/1).

Dijelaskannya,  perjanjian  akan berisi tentang definisi wilayah, penunjukan perusahaan penerbangan, tarif, sertak eselamatan dan keamanan penerbangan.

“Selama ini penerbangan ke India tidak ada yang langsung. Semua baru codeshare atau connecting flight. Pemerintah ingin membuka kesempatan bagi maskapai lokal masuk ke India,” jelasnya.

Menurutnya, India adalah salah satu negara yang mengalami pertumbuhan perekonomian tinggi sehingga wajar dipererat kerjasama khususnya untuk angkutan udara.

Dalam situs resmi Kemenhub, perjanjian baru itu merupakan revisiatas air service agreement antarkedua negara sebelumnya yang telahditandatangani pada 18 September 1968.

Sebelumnya juga telah dilakukan perundingan hubungan udara untukmerevisi perjanjian yang ada. Perundingan dilakukan di New Delhi,India, pada 25 Mei-26 Mei 2010.

Di dalam revisi perjanjian udara,
kedua negara sepakat menganut multi designated airlines, untuk penunjukan perusahaan penerbangan. Artinya, tidak hanya satumaskapai yang bisa melayani rute RI-India.

Dirjen Perhubungan Udara Herry Bhakti S Gumay mengungkapkan,    sejumlah maskapai tertarik memberikan layanan penerbangan ke India.

Sebelumnya, Dirut Garuda Indonesia Emirsyah Satar mengatakan tahun ini akan beroperasi ke beberapa rute regional antara lain kota Mumbai dan New Delhi.

Rencananya Garuda akan mengoperasikan pesawat jenisBoeing 737-800 NG.

Secara terpisah, juru bicara Indonesia Air Asia  Audrey Progastama mengatakan belum tertarik menggarap rute langsung dari Indonesia ke India.

” AirAsia memang sudah ke India. Indonesia AirAsia (IAA) belum,” katanya.

Diungkapkannya, selama ini IAA  hanya ada layanan fly thru dari Jakarta, Bali, Surabaya, Medan menuju beberapa Kota di India, melalui Kuala Lumpur (transit). Itupun bukan hanya IAA yang mengoperasikan,  gabungan antara IAA dan AirAsia X.[Dni]

260111 BPSDM Perhubungan Optimistis Penuhi Kebutuhan Industri

JAKARTA— Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) optimistis mampu memasok sumber daya manusia (SDM) yang berkompeten untuk memenuhi tantangan industri transportasi selama lima tahun mendatang.

“Kami optimistis mampu mencetak SDM yang berkompeten dan unggul untuk sektor transportasi. Sekolah dan badan diklat yang berada di bawah BPSDM terus memperbaiki diri baik dari sisi jumlah atau kualitas,” ungkap Kepala BPSDM Kementrian Perhubungan  Bobby R Mamahit di Jakarta, Selasa (25/1).

Diperkirakannya, untuk lima tahun mendatang sektor transportasi udara dan laut akan membutuhkan banyak SDM yang unggul. Kebutuhan SDM sektor udara untuk lima tahun mendatang sekitar 7.500 orang, dimana 4 ribu diantaranya penerbang dan seribu petugas Air Traffic Control (ATC). Sedangkan untuk pelayaran dibutuhkan 43.806 pelaut yang terdiri diantaranya  18.774 perwira.

“Kapasitas sekolah pelayaran yang dikelola bisa meluluskan 700-1000 pelaut tiap tahunnya, tetapi kita punya target pada tahun depan bisa meluluskan 3.000 pelaut. Sedangkan untuk penerbang setiap tahunnya ada lulusan sekitar 100-200 orang,” jelasnya.

Diungkapkannya, untuk meningkatkan jumlah SDM di sektor transportasi, BPSDM  berencana menambah jumlah sekolah. Rencananya tiga sekolah pelayaran akan dibuka pada tahun depan yang berada di Sumatera Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Menado. Sedangkan pembangunan fisik Akademi Kereta Api di Madiun telah dimulai pada tahun ini. Selain itu juga ada rencana membangun Diklat  transportasi darat dan pelayaran di Kalimantan,  penerbangan di Papua dan Papua Barat.

Selanjutnya dijelaskan, tantangan menyediakan SDM yang bermutu adalah kemauan untuk bekerja di perusahaan nasional. Umumnya para lulusan mengincar perusahaan luar negeri karena struktur gaji yang lebih menjanjikan.

Guna menahan para SDM terbaik bekerja di perusahaan luar negeri biasanya untuk sektor penerbangan BPSDM bekerjasma dengan maskapai nasional untuk memperkerjakan dengan kompensasi mengganti sebagian  uang pendidikan pilot yang mencapai 500 juta rupiah hingga  lulus. “Model seperti ini juga akan diterapkan di pelayaran. Kita ingin perusahaan pelayaran itu mendapatkan SDM terbaik. Soalnya 75 persen pelaut lulusan dalam negeri itu bekerja di perusahaan asing karena gajinya 3-4 kali lebih tinggi ketimbang perusahaan lokal,” jelasnya.[dni]

250111 XL Modernisasi Jaringan di Sumatera

JAKARTA—PT XL Axiata Tbk (XL) melakukan modernisasi jaringan di Sumatera mulai 16 Januari hingga 1 Februari 2011 untuk mengantisipasi kian tingginya trafik komunikasi di area itu.

”Kota Medan dan beberapa kabupaten di Sumatera Barat menjadi prioritas dari modernisasi,” ungkap VP West Region XL AXiata  Agus Simorangkir di Jakarta, Senin (24/1).

Dijelaskannya, modernisasi perlu dilakukan seiring berubahnya pola berkomunikasi pelanggan dari dulunya hanya suara dan SMS menjadi keranjingan akses data.  ”Di Medan  permintaan layanan datanya  bertumbuh sangat cepat. Anak TK saja sudah pegang BlackBerry,” katanya.

Diyakininya, teknologi BTS terbaru yang dimiliki  akan membuat kapasitas bertambah 50 persen dan  menekan konsumsi energi hingga 60 persen.  Modernisasi jaringan yang dilakukan antara lain mencakup penggantian perangkat RBS (Radio Base Station] dan BSC [Base Station Controler] dengan perangkat yang lebih baru dari sisi penghematan penggunaan ruang, konsumsi daya dan teknologi yang mampu beradaptasi dengan evolusi penggunaan gadget ke masa yang datang. Proses modernisasi ini melengkapi modernisasi jaringan sebelumnya yakni dengan antara lain penggunaan softswitch, dan IP Transmission.

Hingga saat ini jumlah pelanggan di seluruh Sumatera sebanyak 9 juta, sedangkan khusus di Sumatera Utara sekitar 2,3 juta dan Sumatera Barat 570 ribu. Layanan XL di Sumatera didukung oleh antara lain BTS 4.836 (2G/3G), termasuk 2.733 (2G/3G) BTS di antaranya di Sumatera Bagian Utara (Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kep Riau).

Selain itu, jaringan XL juga ditopang dengan Backbone Microwave dan 4 ring kabel serat optik teresterial dan submarine yang telah menjangkau sebagian besar Sumatera dan kepulauan dan sekaligus terhubung dengan jaringan di Jawa dan pulau-pulau lainnya, termasuk ke jalur internasional.

Diharapkannya, adanya modernisasi akan meningkatkan pangsa pasar XL di Sumatera. ”Saat ini diperkirakan ada 35-37 juta pelanggan selular di area itu. Kami perkirakan pangsa pasar  XL sekitar 22-23 persen  di Sumatera alias naik dibandingkan sebelumnya sekitar 14.5 persen. Kita harapkan tahun ini semakin naik jadi 30 persen,” jelasnya.[dni]

250111 Garuda Dapatkan Kepercayaan Calon Investor

JAKARTA–PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk berhasil mendapatkan kepercayaan calon investor dari dalam dan luar negeri dalam rangka aksi korporasinya untuk “melantai” di bursa saham.

“Hasil roadshow yang kami lakukan hingga Senin (24/1) direspons dengan positif sekali oleh calon investor. Mereka senang dengan paparan, manajemen, dan potensi perkembangan perusahaan  ke depannya,” ungkap Direktur IT dan Strategis Garuda Indonesia Elisa Lumbantoruan kepada Koran Jakarta, Senin (24/1).

Untuk diketahui, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini dalam rangka go public ke bursa selama dua pekan lalu melakukan roadshow ke dalam dan luar negeri untuk menarik calon investor membeli sahamnya.

Kota-kota yang didatangi oleh manajemen Garuda diantaranya  Surabaya, Makassar, Bandung, Palembang, Padang, Banda Aceh, Balikpapan dan Singapura, Hong Kong, London, Boston, dan New York. Roadshow ditutup berakhir pada Senin (24/1) ini. Rencananya  perseroan akan  melepas total 9,36 miliar lembar saham yang terdiri dari sekitar 7,4 miliar saham baru dan 1,9 miliar merupakan saham divestasi PT Bank Mandiri Tbk.

Dijelaskannya, tentang book building belum bisa diungkapkan karena batas akhir adalah hari ini. “Book building mungkin baru besok bisa diketahui. Begitupun juga tentang harga. Mudah-mudahan besok sore akan ditentukan oleh pemegang saham. Sedangkan soal penjatahan tidak ada. Dibuka untuk semuanya,” katanya.

Sebelumnya, kisaran harga saham  Garuda  ditawarkan sebesar 750 hingga 1.100 rupiah. Harga saham perdana Garuda akan ditetapkan pada 25 Januari 2011. Penetapan dilakukan setelah manajemen melakukan masa penawaran awal atau book-building yang akan dilakukan pada 13 hingga 24 Januari 2011.

Dari pelepasan saham ke pasar itu  perseroan berharap mendapatkan dana 500 juta dolar AS yang akan digunakan  sebanyak 80 persen  untuk pengembangan armada baru yakni 10 pesawat B737-800 NG, 10 B777 dan 6 A330-200, serta 5 pesawat tipe “narrow-body” untuk Citilink dan 5 tipe Sub-100. Sisanya sebesar 20 persen akan digunakan untuk membiayai modal Garuda yang diperlukan untuk pengembangan usaha.

Ekspansi Pasar
Pada kesempatan lain, EVP Operation  Garuda Indonesia  Capt. Ari Sapari mengungkapkan,perseroan akan berekspansi menggarap pasar penerbangan sub-100 seat atau  angkutan dengan kapasitas di bawah 100 penumpang guna melengkapi layanan yang ada selama ini. BUMN ini di dunia penerbangan selama ini bermain di pasar full service melalui Garuda dan Low Cost Carrier (LCC) dengan Citilink.

“Armada Sub 100 seat  untuk menghilangkan batasan antara feeder, regional, dan rute utama untuk melayani rute-rute high yield dengan low density,” jelasnya.

Diungkapkannya,  perseroan  sedang mengaji untuk menggunakan pesawat jenis ATR, Embraer, atau Bombardier untuk segmen tersebut. “Pesawat berkapasitas kursi kecil memberikan keuntungan dari sisi operasional sedangkan rute yang dilayani menjanjikan keuntungan yang besar,” jelasnya.

Elisa menjelaskan, segmen sub 100- seat digarap untuk mengakomodasi tiga hal. Pertama, untuk melayani  rute yang memiliki landasan pendek dan tidak terlalu keras. Kedua, mengakomodasi rute-rute yang selama ini belum memiliki hak bypass domestik seperti Medan-Denpasar yang selama ini harus dilewati melalui Jakarta.

Melalui layanan ini, maka akan terbuka peluang pasar baru karena penumpang bisa merasakan keuntunganlangsung, yakni kecepatan dan kemudahan dalam bepergian. Ketiga, tentunya menambah frekuensi di sejumlah slot kosong penerbangan. Selama ini ada sejumlah rute dengan frekuensi yang cukup tinggi masih memiliki jeda waktu atau slot kosong.  Contohnya, Jakarta-Surabaya, masih ada slot yang kosong sekitar 1,5 jam, tidak ada penerbangan.

Game Changer
Berkaitan dengan pengembangan layanan Citilink,  Ari Sapari  mengungkapkan bahwa pihaknya tengah menimbang pemilihan pesawat jenis Airbus atau Boeing 737. “Citilink akan menjadi “game changer” di pasar LCC. Strategi Citilink berfokus pada peningkatan kapasitas kursi, frekuensi penggunaan pesawat, biaya distribusi yang rendah, dan bermain di rute dengan radius penerbangan 2 jam baik domestik maupun internasional,” jelasnya.

Sebelumnya, Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar meengungkapkan,  bahwa armada Citilink memang akan ditambah sebanyak 19 unit dari 6 unit yang dimiliki. Pada  2010, Citilink pun telah mengangkut penumpang  sebanyak 1,2 juta orang.

Sementara Garuda, kata Emir, dalam waktu dekat berencana untuk membuka dua rute domestik baru, yakni Gorontalo dan Belitung, serta tiga rute internasional baru, yaitu Delhi, Mumbai, dan Taipei. Adanya tambahan dua rute domestik itu membuat  Garuda tahun ini  genap menerbangi seluruh nusantara.

Anggota Komisi V DPR RI Michael Watimmena meminta agar Garuda tidak hanya memiliki frekuensi tinggi pada rute-rute gemuk di wilayah Barat Indonesia.

“Kawasan timur Indonesia juga harus diberikan perhatian. Masyarakat di kawasan itu juga ingin merasakan kenyamanan angkutan udara tetapi maskapai yang singgah bisa dihitung jari. Garuda sebagai flag carrier harus bisa menjawab permintaan masyarakat kawasan itu,” katanya.
Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono pun mengakui, angkutan udara memang menjadi andalan untuk menghubungkan Indonesia yang merupakan negara kepulauan.

“Angkutan udara menjadi tulang punggung untuk Indonesia Connected. Pemerintah akan mendorong terus industri penerbangan untuk melayani tidak hanya pasar domestik tetapi juga luar negeri,” katanya.

Sedangkan Dirjen Perhubungan Udara Herry Bhakti S Gumay menilai, maskapai yang berhasil melantai di bursa saham sebagai cerminan kepercayaan pasar ke industri penerbangan. “Ini akan membuat maskapai itu terus berkembang dan kian giat berekspansi untuk melayani masyarakat,” katanya.[dni]

250111 Smartfren Hadirkan Kartu Lokal Plus

JAKARTA—PT Smart Telecom (Smart) dan Mobile-8 Telecom (Mobile-8) melalui sinergi Smartfren  menghadirkan kartu “Lokal Plus” dengan kelebihan  nomor lokal  dapat dibawa ke luar kota tanpa harus melakukan registrasi atau daftar terlebih dulu.

“Layanan ini gabungan jasa Fixed Wireless Access (FWA)  dengan selular dan satu-satunya di Indonesia yang memberikan layanan gratis telpon selamanya tanpa syarat,” ungkap Deputy CEO Commercial Smart Telecom Djoko Tata Ibrahim di Jakarta (24/1).

Diungkapkannya, kartu Lokal plus diluncurkan serentak di 19 kota di Indonesia yaitu Jakarta, Bogor, Bandung, Cirebon,  Semarang, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Malang, Madiun, Jember, Medan, Batam, Palembang, Lampung, Makassar, Manado, Denpasar dan Banjarmasin.

Dijelaskannya, Lokal Plus memungkinkan pelanggan dapat menikmati manfaat murah nomor lokal dengan kemampuan layanan seluler di dalam satu layanan secara bersamaan.  Kartu perdana ‘Lokal Plus’ dapat diperoleh masyarakat luas hanya dengan hargadua ribu rupiah  berisi pulsa sebesar seribu rupiah.  Keuntungan yang didapatkan diantaranya ditelpon super murah, bonus isi ulang pulsa hingga 50 ribu rupiah dan  gratis 6 bulan konten seru.

Secara terpisah, GM Device Bundling Telkomsel Heru Sukendro mengungkapkan, perseroan menggandeng  Huawei menyediakan 1 juta paket bundling modem untuk akses data melalui TelkomselFlash  sepanjang  2011. Kerjasama ini ditandai dengan peluncuran paket bundling mini router E5830 dan modem E153 Huawei yang memberikan unlimited akses internet TELKOMSELFlash secara gratis selama 3 bulan.

“Telkomsel telah melayani 1 juta pelanggan bundling modem TelkomselFlash yang merupakan bagian dari 4 juta pelanggan TELKOMSELFlash dan 24 juta pelanggan layanan data,” ungkapnya.

Dijelaskannya, modem Huawei E153 memiliki kemampuan mengakses internet dengan kecepatan hingga 3,6 Mbps. Modem berdesain tipis nan elegan dengan balutan warna putih dan garis biru pada pinggir badan modem ini bisa diperoleh dengan harga  399 ribu rupiah.

Telkomsel mendukung akses data dengan kehadiran  37.000 Base Transceiver Station (BTS), termasuk 7.700 Node B (BTS 3G) di seluruh Indonesia.  Hingga akhir tahun 2011, diharapkan 40 kota di Indonesia sudah memperoleh full access layanan mobile broadband Telkomsel.[dni]

250111 BRTI Selidiki Kebocoran Data Pelanggan

JAKARTA—Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) menyelidiki isu kebocoran data pelanggan telekomunikasi sebanyak  25 juta nomor ke pihak di luar operator yang dilanggani.

“Isu kebocoran data pengguna telekomunikasi mengemuka setelah adanya klaim dari penjual produk pengiriman sms broadcast yang mengaku memiliki database 25 juta pengguna telepon aktif di Indonesia,” ungkap Anggota Komite BRTI Heru Sutadi di Jakarta, Senin (24/1).

Ditegaskannya,  penyelidikan  penting dilakukan mengingat  data pengguna adalah sesuatu yang bersifat rahasia dan dilindungi UU Telekomunikasi No. 36/1999.  “Jika isu ini benar, maka jelas hal itu pelanggaran,” tegasnya.

Dijelaskannya, penyelidikan  juga terkait dengan maraknya pengiriman SMS broadcast yang bersifat spam dari bank-bank yang menawarkan kartu kredit maupun kredit tanpa aguna (KTA).

Dari laporan masyarakat, bank yang banyak mengirim sms spam adalah Standard Chartered Bank dan  ANZ. Selain perbankan, kini pola-pola seperti itu juga diikuti oleh penyelenggara telepon premium. “Dalam diskusi beberapa waktu lalu dengan perwakilan konsumen, ada protes  karena kata-kata yang digunakan dalam berpromosi tersebut sangat vulgar,” ketusnya.

Menanggapi hal itu, Deputy VP Corporate Secretary Telkomsel Aulia E.Marinto mendukung  penyelidikan terhadap dugaan kebocoran data tersebut.  “Namun perlu di perjelas yang dimaksud “data” disini, apakah sekadar digit MSISDN atau berikut  info pelanggan,” katanya.

Dijelaskannya, dari sisi operator nomor dan data informasi  pelanggan sangat  dilindungi sedangkan khusus nomor  MSISDN sangat tergantung pelanggan karena hal tersebut saat ini sudah jamak menjadi “identitas” seseorang sehingga  mudah untuk  dipertukarkan atau diberikan saat pelanggan melakukan suatu transaksi.

Menurutnya, terlepas bocornya data pelanggan,  kebijakan sender keep all terkait SMS membuka peluang pihak pengguna memanfaatkan dengan sangat leluasa. “Jika kebijakan sms interkoneksi diberlakukan maka dengan sendirinya penawaran operator akan terkoreksi sehingga mengecilkan peluang terjadinya sms spam,” katanya.

Head Of Corporate Communication XL Axiata Febriati Nadira menegaskan, jika pengiriman SMS dilakukan secara person to person tidak bisa dikontrol.”Namun, jika diketahui pengirimnya menggunakan nama XL atau layanan XL akan di-block nomornya agar tidak disalahgunakan dan  merugikan pelanggan,” tegasnya.