310111 Investor India Bidik Pasar Angkutan Udara

JAKARTA—Investor dari India disinyalir tengah membidik pasar angkutan udara Indonesia dengan menggandeng mitra lokal untuk membentuk maskapai patungan yang akan menyasar segmen full service.

“Ada satu investor dari India yang sudah menggandeng mitra lokal ingin membuat maskapai full service. Saat ini orang-orang lokalnya tengah mengurus Surat Izin Usaha Penerbangan (SIUP),” ungkap  Dirjen Perhubungan Udara Herry Bhakti S Gumay di Jakarta, Minggu (30/1).

Diungkapkannya, maskapai tersebut telah mendaftarkan diri sebagai badan usaha Indonesia dengan nama PT Pasific Royale dan membidik pasar angkutan niaga berjadwal. “Investor lokalnya ibu Gunarni. Sedangkan eksekutif lokalnya Samudera Sukardi. Saya lupa nama investor dari India-nya. Satu hal yang pasti komposisi investor lokal harus dominan yakni 51 persen sesuai regulasi,” jelasnya.

Samudera Sukardi adalah mantan VP System Information dari  Garuda Indonesia. Sementara Gunarni Soeworo salah satu mantan komisaris Garuda Indonesia era Direktur Utama Indra Setiawan.

Menurutnya, kian tingginya pertumbuhan ekonomi India harus dimanfaatkan oleh Indonesia. Di sektor angkutan udara telah dimulai dengan  menandatangani Memorandum Of Understanding (MoU) Air Service  pada Selasa (25/1).

Penandatanganan dilakukan oleh Menteri Penerbangan Sipil India Dr. Syed Nasim dan Menteri Perhubungan Indonesia Freddy Numberi disaksikan PM India Manmohan Singh dan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono.
Perjanjian  berisi tentang definisi wilayah, penunjukan perusahaan penerbangan, tarif, serta keselamatan dan keamanan penerbangan.

Dalam situs resmi Kemenhub, perjanjian baru itu merupakan revisi atas air service agreement antarkedua negara sebelumnya yang telahditandatangani pada 18 September 1968.

Sebelumnya juga telah dilakukan perundingan hubungan udara untukmerevisi perjanjian yang ada. Perundingan dilakukan di New Delhi,India, pada 25 Mei-26 Mei 2010.

Di dalam revisi perjanjian udara, kedua negara sepakat menganut multi designated airlines, untuk penunjukan perusahaan penerbangan. Artinya, tidak hanya satu maskapai yang bisa melayani rute RI-India.

Herry mengungkapkan,  sejumlah maskapai lokal sudah tertarik untuk menggarap pasar India, diantaranya Garuda Indonesia, Batavia Air, dan Lion Air. “Potensi dari pasar lokal berasal dari wilayah Medan dan Bali ke India. Ini jika dilihat hubungan historis dan keagamaannya,” jelasnya.

Mandala
Berkaitan dengan nasib Mandala Airlines (Mandala) Herry mengungkapkan, sudah ada dua investor berminat  untuk menjajaki kerjasama pembelian saham maskapai tersebut.  Kedua investor nasional tersebut yaitu PT LCNC dan PT Manunggal Sejati Group.

“Sudah ada dua investor yang berminat untuk membeli saham Mandala, namun hingga kemarin, dari pihak mereka (Mandala) menyatakan bahwa kedua investor lokal tersebut masih dalam tahap negosiasi secara financial. Nanti sahamnya Indigo yang akan terdilusi,” jelasnya.

PT LCNC adalah perusahaan lessor (penyewaan pesawat) yang merupakan hasil konsursium dari beberapa perusahaan nasional dan asing. Situs resmi perusahaan, menyebutkan LCNC Holdings Limited merupakan perusahaan penyewaan pesawat dan kapal yang bermarkas di Kowloon, Hong Kong.

Sedangkan  Grup Manunggal Sejati dikabarkan siap  mengambil 51 persen  saham Mandala dengan  mempersiapkan dana 4 triliun rupiah.
Manunggal Sejati dikabarkan untuk jangka pendek menyiapkan dana  segar sekitar 250 miliar rupiah  dari total komitmen awal pendanaan 1 triliun rupiah. Adapun, sisa dana 3 triliun rupiah  akan disetorkan setelah proses akuisisi guna pengadaan pesawat baru.

Namun, Herry menegaskan, sebagai regulator  pihaknya tidak bisa menentukan invesor mana yang boleh dan tidak untuk mengadakan kerjasama dengan pihak Mandala. “Kita hanya mewajibkan  melaporkan kepada kemenhub , investor mana saja yang akan menjadi mitra strategisnya dan harus sesuai dengan regulasi penerbangan dimana lokal tetap dominan di kepemilikan saham,” tegasnya.

Dikatakannya, pemerintah  tetap memberikan waktu selama 45 hari sejak Mandala berhenti beroperasi 13 Januari 2011 untuk mencari investor baru. Jika tidak berhasil melakukannya, maka pemerintah akan mencabut izin rute dan Surat Izin Usaha Penerbangan (SIUP) SKEP/79/1995 atas nama Mandala yang terbit 16 Mei 1995.

Head of Corporate Communication Mandala Airlines Nurmaria Sarosa menyatakan perusahaannya hingga saat ini masih belum memutuskan mengenai penjajakan mitra bisnis dari kedua investor tersebut. Meskipun demikian, dia mengakui sudah ada beberapa investor yang telah bertemu dengan Mandala untuk membicakan pembelian saham perusahaannya.

“Dari pemegang saham maupun manajemen belum ada yang mengumumkan  keputusan untuk menjadikan LCNC dan Manunggal Sejati Group menjadi mitra strategis Mandala, jadi saya belum bisa berkomentar banyak,” ujar Nurmaria

Nurmaria menambahkan, perusahaannya berencana untuk mengumumkan mitra bisnis barunya pada pertengan Februari mendatang. Sedangkan saat ini, menurut dia, Mandala masih dalam proses restrukturisasi perusahaan sejak Pengadilan Niaga, Jakarta Pusat mengabulkan permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) kepada Mandala selama 45 hari sejak 17 Januari lalu.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s