290111 Kinerja Regulator Transportasi Sebaiknya Dievaluasi

JAKARTA—Kinerja regulator transportasi sebaiknya dievaluasi terkait masih maraknya kecelakaan di sektor yang dibinanya sehingga membuat masyarakat tidak tenang dalam menggunakan moda yang tersedia.

“Saya prihatin atas musibah yang terjadi secara beruntun di sektor transportasi.  Saya minta kepada Presiden untuk segera mengevaluasi dan memberi tindakan kepada mentri dan pejabat terkait yang tidak mampu memperbaiki pelayanan dan keselamatan transportasi massal,”  tegas Anggota Komisi V DPR RI KH Abdul Hakim di Jakarta, Jumat (28/1).

Menurutnya,  kinerja Kementerian Perhubungan (Kemenhub) belum memuaskan dalam penyelenggaraan transportasi massal. Kemenhub masih setengah hati menjalankan paket UU Transportasi.

“Program roadmap to zero accident yang digadang-gadang pemerintah juga masih sebatas rencana, belum sampai pada aksi konkret. Sehingga tak heran, kecelakaan transportasi seperti kereta api (KA) masih kerap terjadi. Terbukti dalam rentang waktu 3 bulan sejak tabrakan KA Logawa di Petaruk, Oktober lalu, rentetan kecelakaan KA masih kerap terjadi,” ketusnya.

Melihat kondisi saat ini, dimintanya, Kemenhub  untuk segara melakukan evaluasi komprehensif  atas musibah yang terjadi.  “Misalnya, musibah tabrakan KA itu menunjukkan buruknya kinerja pemerintah di bidang perkeretaapian.  Kemenhub harus mengambil langkah-langkah radikal agar kecelakaan serupa tidak terjadi lagi,” tegasnya.

Diungkapkannya, dalam rapat dengar pendapat dengan Dirjen Kereta Api, pekan lalu, Komisi V DPR meminta Dirjen KA untuk segera membenahi sektor perkeretaapian sebagaimana diatur dalam UU No. 23 tahun 2007 tentang Perkeretaapian.

“Komisi V sudah terlalu sering mengingatkan pemerintah untuk segera melakukan audit dan pemisahan asset kereta api sebagai upaya memulai pembenahan sector ini. Pemisahan fungsi operator dan regulator juga harus segera dilakukan. Tapi, apa yang kami sampaikan sebagaimana diamanatkan UU Perkeretaapian masih setengah hati dilakukan pemerintah. AKibatnya, perkeretaapian kita tidak maju-maju,” kata Hakim.

Hakim pun meminta  PT Kereta Api Indonesia (PT KAI)  selaku penyelenggaraan perkeretaapian untuk melakukan penanganan kecelakaan KA sesuai dengan UU No.23/2007 pasal 125 dan meminta pemerintah memberikan sanksi tegas pada pihak-pihak yang lalai melaksanakan tugasnya sehingga menyebabkan kecelakaan maut tersebut.

Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Said Didu menyatakan, terdapat tiga hal mendasar yang perlu diselesaikan untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan kereta api yang terus berulang. Pertama, penerapan seluruh standar operasi dan keselamatan KA sesuai dengan standar internasional. Termasuk rasionalisasi tarif dengan menaikkan tarif atau menaikkan anggaran PSO (Public Service Obligation).

“Kedua, penyelesaian segera masalah pengelolaan aset prasarana kereta api dan tanggung jawab pemeliharaan rel antara pemerintah dengan PT KAI sebagaimana amanat UU Perkeretaapian. Ketiga, melalui penetapan kebijakan pemerintah yangg konsisten dan bersifat jangka panjang untuk memberikan kepastian investasi perkeretaapian,” tambahnya.

Kronologis
Sebelumnya, terjadi kecelakaan kereta api di Banjar, Jawa Barat, dan kebakaran ferry di lintasan perairan Merak-Bakauheni pada Jumat (28/1).  \
Kecelakaan antara KA Kutojaya jurusan Jakarta-Kutoarjo, Jawa Tengah, dengan KA Mutiara Selatan jurusan Surabaya-Bandung terjadi di Stasiun Langensari, Banjar, Jawa Barat, pada Jumat (28/1) pukul 02.24 WIB. Kejadian itu menyebabkan tiga penumpang tewas, 17
penumpang luka berat, dan 25 penumpang luka ringan.

“Berdasarkan SOP, Kutojaya harus masuk ke Sepur III, sementara Mutiara Selatan jalan terus, tapi Mutiara Selatan justru memasuki Sepur III dan menabrak Kutoarjo. Masih jadi pertanyaan mengapa Mutiara Selatan justru masuk ke Sepur III. Nantinya itu akan diselidiki lebih lanjut oleh Kepolisian dan KNKT,” jelas Juru bicara Kemenhub Bambang S. Ervan

Direktur Keselamatan PT Kereta Api Indonesia Rono Pradipto mengatakan, untuk menjamin operasional, KA yang melintasi lokasi kejadian memperlambat kecepatannya.

“Kecepatan memang dibatasi, tapi tidak signifikan mengganggu jadwal. Operasional kereta berjalan normal. Terkait penyebab kecelakaan, sampai saat ini belum bisa kami pastikan. Namun, sekarang KA Mutiara Selatan sudah melanjutkan perjalanan ke Bandung,” jelasnya.

Sedangkan untuk kecelakaan yang menimpa KMP Laut Teduh II sebanyak 13
orang tewas dan 425 penumpang, sementara 31 ABK, selamat dari kapal milik PT Bangun Putra di lintasan perairan Merak-Bakauheni, sebelum Pulau Tempurung, pada Jumat (28/1) pukul 03.19 WIB. Hingga saat ini belum dapat dipastikan penyebab kebakaran tersebut.

Bambang menduga  api diduga berasal dari dek tempat kendaraan diangkut. Akibatnya, seluruh 93 unit kendaraan yang terdiri dari 4 unit golongan I, 38 unit golongan IVA, 8 golongan IVB, 1 unit golongan VA, 26 unit golongan VB, 1 unit golongan VIA, 9 unit golongan VIB, dan 6 unit golongan VII hangus terbakar.

“Saat ini semua korban sudah dievakuasi di RS Karakatau Steel dan RS Panggung Rawi. Upaya pencarian korban terus dilakukan dengan penyisiran di perairan menggunakan kapal syahbandar, polisi air, dan angkatan laut. Kapalnya sendiri sudah ditandaskan di Pulau Anyer.
Kapal terbakar, tidak tenggelam,” ungkapnya.

Bambang memastikan, kecelakaan tersebut tidak mengganggu pelayaran lainnya. Sementara Kepala Cabang PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Tedja Suprana mengatakan, pihaknya sudah mengerahkan sembilan kapal feri dan lima unit tug boat untuk proses evakuasi kapal yang mengangkut 34 penumpang dewasa dan satu orang anak kecil itu.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s