260111 Sayap-sayap Patah di Industri Penerbangan

Industri penerbangan Indonesia mendapatkan kado yang tak manis di awal tahun ini. Mandala Airlines (Mandala) yang merupakan salah satu maskapai andalan di angkutan udara akhirnya menghentikan operasi untuk sementara pada paro kedua Januari karena krisis keuangan yang membelitnya.

Krisis yang melanda Mandala sebenarnya  sudah terendus di kalangan industri penerbangan sejak medio Maret 2010. Kala itu dikabarkan  sejumlah pesawatnya ditarik perusahaan penyewaan pesawat (lessor).

Namun kala itu manajemen Mandala bersikeras maskapainya masih mampu beroperasi dan menyakinkan  25 pesawat akan berdatangan pada 2011.

Pada posisi itu,  Mandala mengklaim mengoperasikan tujuh unit pesawat dari sebelumnya pernah mengoperasikan 11 pesawat pada akhir 2008. Sedangkan posisi terakhir dikabarkan Mandala hanya memiliki 5 unit pesawat. Angka itu jauh dibawah standar regulasi dimana maskapai diharuskan memiliki 10 unit pesawat

Maskapai Mandala dikuasai Cardig International (51%) dan Indigo Partners (49%). Cardig International merupakan perusahaan yang memfokuskan bisnisnya pada industri aviasi yang kini memiliki investasi di 10 perusahaan.

Sedangkan Indigo Partners adalah perusahaan yang berinvestasi di sektor penerbangan dan memiliki saham di sejumlah maskapai seperti Spirit Airlines (USA), Wizz (Europe), Tiger (Singapore), Abnanova Airlines (Russia) dan Mandala Airlines (Indonesia).

Mandala tidak sendirian yang mengalami “sayap patah”. Kartika Airlines ternyata telah menghentikan operasinya sejak Juli 2010. Kabar ini tentu mengejutkan karena awal Juli 2010, maskapai ini mengumumkan  rencana memperbaharui armadanya dengan mendatangkan  30 Sukhoi SuperJet 200 senilai 840 juta dollar AS untuk menunjang rencana bisnis ke depan.

Kartika yang memiliki hub di Batam tersebut melayani delapan rute domestik, yaitu Batam-Jambi, Batam-Medan, Batam-Padang, Batam-Palembang, Jakarta-Batam, Jakarta-Medan, Jakarta-Padang, dan Medan Padang. Pesawat Kartika sekarang 3 unit yaitu MD-80, Boeing 737-200 dan Boeing 737-300. Seluruh armada  masih sewa belum ada yang berstatus milik.

Saat beroperasi, Kartika mengangkut  sebanyak 441.672 orang dan kargo 1.663 ton pada 2009. Tahun 2010 (per Juni) mengangkut sebanyak 105.355 pax dan 1 ton barang. Pada 10 Januari 2011  Kartika memberitahukan bahwa akan beroperasi kembali pada tgl 1 April 2011. Tetapi  Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, pada  14 Januari 2011 mencabut rute-rute Kartika. Saat ini Kartika tidak punya pesawat

Salah Strategi
Presiden Direktur Mandala Airlines Diono Nurjadinmengaku, kalah bersaing di industri penerbangan lokal karena salah menerapkan strategi dalam berusaha.

“Kami bermain di pasar low cost carrier (LCC), tetapi tidak didukung saluran penjualan yang tepat. Selama ini Mandala berjualan tiket melalui agen, sedangkan LCC itu direct sales,” katanya.

Hal ini semakin diperburuk dengan struktur biaya yang tinggi karena menyewa pasat mahal  sehingga pendapatan yang diraih tidak seimbang dengan pemasukan.

Dikatakannya, langkah kedepan yang dilakukan oleh manajemen adalah mengubah strategi agar bisa bersaing dengan dukungan investor baru. “Kami sudah berbicara dengan beberapa investor. Semoga dalam waktu 45 hari kedepan sudah ada kepastian investor baru masuk,” katanya.

Sementara untuk kontrak mendatangkan 25 pesawat Airbus baru yang telah dicanangkan sejak lama akan dilakukan negosiasi ulang.

“Kami optimistis jika mendapatkan investor baru beberapa rencana lama bisa direalisasikan seperti memiliki 10 pesawat dan melayani rute lama. Bahkan kita ada rencana masuk ke Australia dan India,” katanya.

Dirjen Perhubungan Udara Herry Bakti  S Gumay mengaku sudah mengetahu Mandala bermasalah sejak pertengahan tahun lalu sehingga memperketat pengawasan terhadap maskapai itu sejak tahun lalu.

“Kami sudah mengetahui maskapai itu bermasalah sejak tahun lalu. Karena itu kami meminta maskapai itu menyesuaikan rute yang dilayani dengan jumlah maskapai dimiliki,” ungkapnya.

Menurutnya, regulator sudah menjalankan fungsi pengawasan dengan melihat kesiapan aspek keselamatan yang dijalankan oleh maskapai tersebut.

“Masalah kita memberikan izin rute baru seperti ke luar negeri yakni Macau atau HongKong  karena ingin mengakomodasi perencanaan bisnis dari maskapai itu yang ingin bertahan. Mereka melayani rute baru dan meninggalkan rute lama sebagai bagian dari strategi bisnis. Saya tegaskan, Mandala itu kesulitan karena salah satu pemegang saham yakni Indigo and Partners tidak mendukung ekspansinya,” jelasnya

Sementara Direktur Angkutan Udara Ditjen Perhubungan Udara Edward A Silooy mengatakan, sebaiknya jangan cepat tersilau dengan rencana ekspansi dari satu maskapai seperti pengumuman akan membeli pesawat. “Kartika itu baru sebatas MoU. Bisnis penerbangan ini tidak hanya membutuhkan skill usaha tapi juga teknis,” katanya.

Pengawasan Lemah
Pada kesempatan lain, Anggota Komisi V DPR KH Abdul Hakim menyesalkan sikap yang diambil oleh  Kemenhub dimana dalam membina industri penerbangan hanya fokus pada aspek keselamatan tetapi melupakan analisa kemampuan  manajemen terutama keuangan.

“Pasal 99 dalam UU Penerbangan secara tegas mengatakan harus dilakukan evaluasi secara periodik dari kinerja manajemen. Ini sudah cukup untuk melakukan intervensi jika maskapai disinyalir bermasalah, bukan malah terjadi pembiaran. Kalau sudah begini, dalam kasus Mandala pemerintah tak bisa lepas tangan,” ketusnya.

Sedangkan di pasal 118 huruf G dinyatakan setiap bulan tanggal 10 harus diberikan laporan keuangan kepada pemerintah.

Menurutnya, pembiaran yang dilakukan oleh pemerintah beroperasinya Mandala walau sudah tahu terseok seperti menutupi ketidakmampuan mengawasi. “Saya melihat pemerintah seperti tidak rela maskapai berhenti operasi. Padahal transparansi itu bagus untuk pembelajaran bagi pelaku usaha lainnya,” katanya.

Anggota Komisi V DPR- RI Estu Sadarwati mendorong terjadinya konsolidasi di angkutan udara karena sudah terlalu banyak pemain dan semakin rendahnya kualitas layanan yang diberikan ke masyarakat. “Maskapai baiknya jangan terlalu membanting harga tiket secara murah. Soalnya itu akan berdampak kepada kualitas layanan dan daya tahan keuangan perusahaan,” katanya.

Anggota Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sudaryatmo mengatakan  tidak selamanya banyak pemain  menguntungkan konsumen karena pilihan beragam. “Lihat saja kondisi sekarang, konsumen dalam posisi yang lemah,” ungkapnya.

Presiden Direktur Sriwijaya Air Chandra Lie menyarankan, untuk menjaga persaingan yang sehat di angkutan udara pemerintah harus secepatnya membuat aturan tarif batas atas dan bawah agar tidak terjadi perang harga. “Masalah aturan batas atas dan bawah itu harus cepat dibuat. Selain itu harus ada dukungan yang jelas dari lembaga keuangan untuk menolong maskapai dalamn memberikan pembiayaan dengan bunga yang rendah,” katanya.

Ketua Umum Indonesia National Air Carriers Asociation (INACA) Emirsyah Satar mengatakan, kondisi di industri penerbangan memang sudah menjurus kea rah konsolidasi.

“Kedepan itu ukuran menjadi penentu menang di kompetisi. Walaupun skala ekonomi besar, tetapi efisiensi dari masing-masing pemain dibutuhkan. Masalah berapa jumlah pemain yang ideal dibutuhkan, biarkan pasar yang menentukan,” katanya.

Menanggapi hal itu, Herry Bakti menegaskan  tidak akan menerapkan batas tarif bawah . “Maskapai dipersilakan untuk memberlakukan tarif promosi agar ada penumpangnya. Pemerintah tidak akan memberlakukan batas tarif bawah,” katanya.

Menurutnya, konsolidasi akan terganjal ego pemilik yang tinggi. “Kemungkinan besar di akhir tahun akan banyak yang tidak memenuhi persyaratan kepemilikan jumlah pesawat yakni lima sewa dan lima milik sendiri,  sehingga Surat Izin Usaha Penerbangan (SIUP)  bisa dicabut,” katanya.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s