260111 Ekspansi Milik Pemodal Kuat

Agresifitas milik yang kuat. Pameo ini masih berlaku di industri penerbangan. Di tengah ada pemain yang kesulitan keuangan, pelaku usaha lainnya terlihat masih bernafsu mengepakkan sayapnya di angkasa Indonesia.

Simak aksi Garuda Indonesia yang segera melantai di bursa saham tak lama lagi. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini rencananya melakukan ekspansi pasar ke segmen sub-100 seat alias angkutan dengan kapasitas di bawah 100 penumpang tak lama lagi

EVP Operation  Garuda Indonesia  Capt. Ari Sapari mengungkapkan, ekspansi  guna melengkapi layanan yang ada selama ini.Di dunia penerbangan selama ini bermain di pasar full service melalui Garuda dan Low Cost Carrier (LCC) dengan Citilink.

“Armada Sub 100 seat  untuk menghilangkan batasan antara feeder, regional, dan rute utama untuk melayani rute-rute high yield dengan low density,” jelasnya.

Diungkapkannya,  perseroan  sedang mengaji untuk menggunakan pesawat jenis ATR, Embraer, atau Bombardier untuk segmen tersebut. “Pesawat berkapasitas kursi kecil memberikan keuntungan dari sisi operasional sedangkan rute yang dilayani menjanjikan keuntungan yang besar,” jelasnya.

Direktur IT dan Strategis Garuda Indonesia Elisa Lumbantoruan menjelaskan, segmen sub 100- seat digarap untuk mengakomodasi tiga hal. Pertama, untuk melayani  rute yang memiliki landasan pendek dan tidak terlalu keras. Kedua, mengakomodasi rute-rute yang selama ini belum memiliki hak bypass domestik seperti Medan-Denpasar yang selama ini harus dilewati melalui Jakarta.

Melalui layanan ini, maka akan terbuka peluang pasar baru karena penumpang bisa merasakan keuntunganlangsung, yakni kecepatan dan kemudahan dalam bepergian.

Ketiga, tentunya menambah frekuensi di sejumlah slot kosong penerbangan. Selama ini ada sejumlah rute dengan frekuensi yang cukup tinggi masih memiliki jeda waktu atau slot kosong.  Contohnya, Jakarta-Surabaya, masih ada slot yang kosong sekitar 1,5 jam, tidak ada penerbangan.

Sedangkan Direktur Umum Lion Air Edward Sirait mengungkapkan, terus meremajakan armadanya dan sedang mempersiapkan diri untuk mendapatkan sertifikat IATA Operational Safety Audit (IOSA) .

“Pada tahun lalu kami mengangku 20 juta penumpang. Kita berencana pada 2017 semua armada berisikan B737-NG,” katanya.

Wakil Direktur Utama Sriwijaya Air Hasudungan Panjaitan mengungkapkan, perseroan sedang mempersiapkan grand design dari  medium service menjadi full service pada Juli nanti. “Kami juga telah meminta ke Angkasa Pura II lahan seluas 5 HA untuk bisnis perawatan pesawat. Sriwijaya akan terus berkembang, hal itu terlihat pada kemampuannya mengangkut 600 ribu penumpang setiap harinya,” jelasnya.

Sementara Deputy Service Director Batavia Air M.Yamin mengungkapkan, maskapainya telah menguasai 60 persen dari total 36 unit armada yang dioperasikan. “Ini artinya Batavia tidak mengalami masalah dalam operasional atau pesawat mendadak ditarik lessor. Kami sendiri dalam pengembangan rute internasional seperti ke Australia, Osaka, dan Roma. Setiap bulannya dari 39 rute yang dijalani terangkut 500 ribu penumpang,” jelasnya

Presiden Direktur Indonesia Air Asia (IAA) Dharmadi  juga tidak mau kalah bersaing dengan menyatakan telah memiliki lima Hub di Indonesia yakni Medan, Cengkareng, Bandung, Denpasar, dan Surabaya.

Corporate Communication Manager Indonesia Air Asia Audrey Progastama Petriny mengungkapkan,  maskapainya pada tahun ini menargetkan mengangkut 4,5 juta penumpang atau naik 12,5 persen dibanding 2010 sebesar 4 juta penumpang.

Guna mendukung ekspansi  yang dilakukan, maskapai-maskapai ini meminta adanya perbaikan sarana dan prasarana di bandara udara.

“Kami sangat terkendala menambah frekuensi penerbangan karena keterbatasan sarana dan prasana penerbangan di Indonesia. Misalnya untuk masalah panjang landasan dan jam operasional bandara yang tidak standar di seluruh Indonesia,” kata Ari.

Diungkapkannya, panjang landasan di seluruh Indonesia tidak sama sehingga sulit untuk didarati oleh pesawat berbadan besar. Belum lagi masalah tidak beroperasinya bandara selama 24 jam yang membuat pesawat banyak terparkir.

Dharmadi menambahkan, dibutuhkannya satu sistem standar navigasi di setiap bandara yang ada di Indonesia agar memudahkan maskapai untuk melakukan penerbangan dan peningkatan pelayanan di bandara. “Standar sistem check in harus ada. Ini agar penumpang nyaman menggunakan angkutan udara tidak hanya kala di udara, tetapi juga di darat,” katanya.

Hal lain yang menjadi catatan untuk ditingkatkan adalah  integrasi moda dari bandara dan ke bandara yang masih sangat minim. “Lonjakan penumpang cukup membuat padat  suasana di Bandara. Belum lagi persoalan integrasi moda yang masih sangat minim seperti taxi dan bus. Karena itu, kami meminta agar sarana dan prasarana diperbaiki,” katanya.

Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono mengakui, angkutan udara memang menjadi andalan untuk menghubungkan Indonesia yang merupakan negara kepulauan.

“Angkutan udara menjadi tulang punggung untuk Indonesia Connected. Pemerintah akan mendorong terus industri penerbangan untuk melayani tidak hanya pasar domestik tetapi juga luar negeri,” katanya [dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s