250111 BRTI Selidiki Kebocoran Data Pelanggan

JAKARTA—Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) menyelidiki isu kebocoran data pelanggan telekomunikasi sebanyak  25 juta nomor ke pihak di luar operator yang dilanggani.

“Isu kebocoran data pengguna telekomunikasi mengemuka setelah adanya klaim dari penjual produk pengiriman sms broadcast yang mengaku memiliki database 25 juta pengguna telepon aktif di Indonesia,” ungkap Anggota Komite BRTI Heru Sutadi di Jakarta, Senin (24/1).

Ditegaskannya,  penyelidikan  penting dilakukan mengingat  data pengguna adalah sesuatu yang bersifat rahasia dan dilindungi UU Telekomunikasi No. 36/1999.  “Jika isu ini benar, maka jelas hal itu pelanggaran,” tegasnya.

Dijelaskannya, penyelidikan  juga terkait dengan maraknya pengiriman SMS broadcast yang bersifat spam dari bank-bank yang menawarkan kartu kredit maupun kredit tanpa aguna (KTA).

Dari laporan masyarakat, bank yang banyak mengirim sms spam adalah Standard Chartered Bank dan  ANZ. Selain perbankan, kini pola-pola seperti itu juga diikuti oleh penyelenggara telepon premium. “Dalam diskusi beberapa waktu lalu dengan perwakilan konsumen, ada protes  karena kata-kata yang digunakan dalam berpromosi tersebut sangat vulgar,” ketusnya.

Menanggapi hal itu, Deputy VP Corporate Secretary Telkomsel Aulia E.Marinto mendukung  penyelidikan terhadap dugaan kebocoran data tersebut.  “Namun perlu di perjelas yang dimaksud “data” disini, apakah sekadar digit MSISDN atau berikut  info pelanggan,” katanya.

Dijelaskannya, dari sisi operator nomor dan data informasi  pelanggan sangat  dilindungi sedangkan khusus nomor  MSISDN sangat tergantung pelanggan karena hal tersebut saat ini sudah jamak menjadi “identitas” seseorang sehingga  mudah untuk  dipertukarkan atau diberikan saat pelanggan melakukan suatu transaksi.

Menurutnya, terlepas bocornya data pelanggan,  kebijakan sender keep all terkait SMS membuka peluang pihak pengguna memanfaatkan dengan sangat leluasa. “Jika kebijakan sms interkoneksi diberlakukan maka dengan sendirinya penawaran operator akan terkoreksi sehingga mengecilkan peluang terjadinya sms spam,” katanya.

Head Of Corporate Communication XL Axiata Febriati Nadira menegaskan, jika pengiriman SMS dilakukan secara person to person tidak bisa dikontrol.”Namun, jika diketahui pengirimnya menggunakan nama XL atau layanan XL akan di-block nomornya agar tidak disalahgunakan dan  merugikan pelanggan,” tegasnya.

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s