210111 RIM Mulai Sensor Konten Porno

JAKARTA–Research In Motion (RIM) mulai melakukan sensor konten porno secara bertahap di layanan BlackBerry sejak 18 Januari lalu.

“Mulai jam 4 sore waktu setempat di Kanada pada 18 Januari 2011, sensor  dilakukan secara bertahap,” ungkap Kepala Humas dan Pusat Informasi Kemenkominfo Gatot S Dewo Broto di Jakarta, Kamis (20/1).

Diungkapkannya, sensor dilakukan secara bertahap karena banyaknya nama situs porno yang beredar di dunia maya dan harus disinkronkan dengan sistem. “Satu hal yang pasti kami menyambut gembira kemajuan yang dibuat RIM. Ketimbang baru bergerak menjelang batas waktu yang diberikan  yakni 21 Januari,” katanya.

Pernyataan tertulis RIM yang dikirimkan melalui surat elektronik membenarkan perseroan dalam proses melakukan filtering konten pornografi dalam rangka memenuhi aturan di Indonesia.

Masih dalam pernyataan tersebut dikatakan solusi teknis yang tersedia sesuai dengan persyaratan yang ditentukan pemerintah Indonesia dan digunakan sebelumnya oleh pelaku industri lokal.

RIM juga menegaskan akan terus berinvestasi di Indonesia dan mendukung pengembang aplikasi, pelanggan, dan distributornya.

Deputi Humas Yayasan Nawala Nusantara Irwin Day mengungkapkan, RIM menggunakan software lokal Domain Name System (DNS)  Nawala untuk memfilter konten porno.

DNS Nawala  merupakan software yang digunakan pengguna internet yang membutuhkan saringan konten negatif dan berbau pornografi. Perangkat lunak ini bisa menyaring konten-konten asusila, malicious software, dan phising.

“Saat ini sedang dilakukan uji coba. Kami memiliki sekitar satu juta nama situs porno yang siap ditangkal,” ungkapnya.

Diakuinya, hingga kini beberapa situs porno masih bisa diakses melalui BlackBerry karena diperlukan update service book semua BlackBerry. “Jika dilakukan langsung bakal repot,” jelasnya.

Irwin mengakui, hingga saat ini belum ada perjanjian komersial dengan RIM terkait penggunaan software-nya. “Kami akan tetap memberikan tagihan ke RIM. Pakai Nawala lebih murah. Software lainnya biayanya lebih mahal yakni sekitar 0,5 dollar AS per handset dan database-nya tidak semutakhir Nawala yang mulai mendapatkan trust di industri,” tegasnya.

Secara terpisah, Anggota Komisi I DPR RI Tantowi Yahya menyambut gembira aksi RIM karena dilandasi kesadaran dan pengakuan bahwa RIM telah melanggar UU ITE dan UU Pornografi.

Head of Corporate Communication XL Axiata Febriati Nadira ‎​mengakui proses filtering  sedang berjalan secara bertahap.” Kami optimis harusnya RIM bisa menyelesaikannya sesuai dengan tenggang waktu yang diberikan oleh pemerintah. Untuk biayanya sendiri kami tidak memiliki gambaran, karena sesuai kesepakatan pertemuan  tanggal 17 Januri lalu, RIM sendiri yang akan melakukan proses filtering,” tegasnya.

Deputy VP Corporate Secretary Telkomsel Aulia E. Marinto mengakui pada ‎​jam 1 siang tadi RIM sudah terkoneksi dengan Nawala untuk pelanggannya. “Jika sampai sekarang ada yang masih bisa mengakses konten porno itu kemungkinan Nawala belum update database atau koneksi RIM ke Nawala tidak stabil,” katanya.

Untuk diketahui, permintaan sensor konten porno dilakukan oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika berdasarkan UU Informasi dan Transaksi Elektornika (ITE), serta UU Pornografi. Hutang RIM yang belum selesai ke pemerintah adalah akses penyadapan (lawful of interception), pembangunan server, dan Biaya Hak Penggunaan (BHP) telekomunikasi.[Dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s