170111 Kemenkominfo Siap Hadapi RIM

JAKARTA—Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) siap menghadapi Research In Motion (RIM) yang akan bertandang ke kantor Ditjen Sumber Daya Perangkat Pos dan Informatika serta Ditjen Penyelenggara Perangkat Pos dan Informatika pada Senin (17/1) besok.

“Kita sudah siap dengan keteguhan hati menagih janji RIM yang dilontarkan selama ini kepada pemerintah Indonesia untuk mematuhi semua aturan yang ada di negeri ini. Tidak ada niat untuk mundur selangkah pun,” tegas Kepala Humas dan Pusat Informasi  Kemenkominfo Gatot S Dewo Broto di Jakarta, Minggu (16/1).

Diungkapaknnya, Kemenkominfo beserta seluruh jajarannya sudah memanggil semua operator yang menjadi mitra RIM pekan lalu untuk memastikan kesiapan mengantisipasi kemungkinan terburuk yakni blokir browsing akses internet jika RIM tidak memenuhi tuntutan pemerintah. “Operator siap mendukung Kemenkominfo menegakkan aturan,” katanya.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha dan Importir Telepon Genggam (Aspiteg)Alie Cendrawan mendukung  uoaya Menkominfo Tifatul Sembiring menekan RIM agar berkontribusi kepada Indonesia seeprti membangun server atau menajdi penyedia jasa internet (PJI) agar ada setoran Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP).

“Tuntutan Kemenkominfo terkait penyediaan server RIM di Indonesia akan membawa keuntungan besar bagi pemerintah, pelaku bisnis telekomunikasi, hingga pelanggan,” katanya.

Menurutnya,  pembangunan server di Indonesia bukan hanya berdampak pada pengendalian konten berbahaya. Pada akhirnya pemerintah juga bisa mendapatkan pemasukan pajak yang sudah sewajarnya dibayarkan RIM.

“Jika server RIM ada di Indonesia maka RIM wajib mendirikan perusahaan, bukan sekedar kantor perwakilan seperti saat ini. Jika mereka mendirikan perusahaan, tentu harus mendapatkan izin usaha dari pemerintah. Karena bisnis operasional ada di Indonesia, perusahaan wajib membayar pajak. Dari sana pendapatan pemerintah bisa mencapai triliunan per tahun,” jelasnya.

Menurutnya,  jika sekarang RIM bisa mendapatkan sekitar  1,4 triliun rupiah  per tahun dari operator dengan menarik fee 7 dollar AS per pelanggan  itu tidak sebandig dengan kerja keras yang dikeluarkan oleh operator.  “Berarti keuntungan RIM besar sekali. Sedangkan operator yang bekerja keras mencari pelanggan, porsinya sedikit sekali,” jelasnya.

Alie mengingatkan, masalah penyaringan konten di BlackBerry sebenarnya tidak hanya sebatas masalah  pornografi tetapi juga  mencakup data intelijen. “Isu pornografi sebenarnya merupakan kendaraan bagi pemerintah agar tuntutan untuk penyaringan konten bisa terwujud karena pornografi kan sudah diatur secara jelas dalam undang-undang,” tuturnya.

Alie menyarankan, jika RIM membandel dalam pertemuan pada Senin (17/1)) pemerintah bisa mengambil langkah  membekukan sementara sertifikasi Blackberry di Indonesia. Selain demi memberi tekanan lebih kepada RIM, hal ini juga diperlukan untuk melakukan evaluasi terhadap kinerja RIM.

“Lebih baik pembekuan sertifikasi dilakukan ketimbang blokir akses ke internet. Jika pembekuan sertifikasi, pasar BlackBerry bisa tidak berkembang. Kalau blokir akses kasihan pelanggan yang sudah menggunakan layanan itu,” katanya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s