110111 Saatnya Meredakakan Perang Tarif

Industri telekomunikasi Indonesia pada 2010 diperkirakan memiliki penetrasi hingga 84,3 persen atau menjual sebanyak 204,8 juta kartu SIM. Angka itu mengalami kenaikan 8 persen jika dibandingkan 2009 dimana penetrasi 76,3 persen dari total populasi melalui penjualan  183,27 juta kartu SIM.

Pada 2010 diperkirakan industri telekomunikasi mengalami pertumbuhan sebesar 13,6 persen atau mencapai  11,776 juta dollar AS. Sedangkan investasi  diperkirakan  mencapai 2,2 miliar dollar AS yang digunakan 11 operator  memperebutkan  35 juta pelanggan baru.

Para analis keuangan memperkirakan pada tahun ini pertumbuhan sektor telekomunikasi hanya 9 persen, sedangkan jumlah pelanggan yang diperebutkan sekitar 38,15 juta nomor baru.

“Biasanya dengan kondisi penetrasi kartu SIM yang kian tinggi, tingkat pertumbuhan hampir sama dengan ekonomi. Lihat saja di negara maju dimana penetrasinya sudah 100 persen, tingkat pertumbuhannya sudah single digit,” ungkap Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah di Jakarta, belum lama ini.

Direktur Utama XL Axiata Hasnul Suhaimi mengakui pertumbuhan industri pada tahun ini tak lebih dari 9 persen. “Namun,  XL tetap akan berusaha tumbuh di atas industri sekitar 11-12 persen baik untuk pendapatan atau jumlah pelanggan,” katanya.

Diungkapkannya, hingga tutup 2010 perseroan  berhasil mendapatkan 40,1 juta pelanggan  atau tumbuh 27,7 persen dibandingkan 2009 sebesar 31,4 juta pelanggan. Untuk tahun ini XL menargetkan  meraih  44,5-44,9 juta pelanggan

Diungkapkannya, strategi perusahaan ke depan tidak lagi akan bermain tarif di suara dan SMS mengingat besarannya telah terus dipangkas sejak tahun lalu. “Jika kita terus bermain di tarif untuk kedua jasa itu akan terkorbankan kualitas layanan. Selain itu, melihat pertumbuhan SIM Card tahun ini yang tidak besar, tidak ada gunanya dibanting tarif kalau pelanggan yang masuk tidak besar,” katanya.

Dijelaskannya, langkah yang akan dilakukan XL adalah fokus pada layanan data yang terus tumbuh kontribusinya pada tahun ini. Diperkirakan pada 2010 jasa data berkontribusi sebesar 9-10 persen bagi total pendapatan perseroan. Pada 2011 diharapkan meningkat di kisaran 15 persen untuk target minimal dan 20 persen dalam pencapaian maksimal.

“Sebanyak 30-35 persen belanja modal 2011  sebesar 500 juta dollar AS  akan digunakan untuk mengembangkan jasa data. Sisanya membangun 1.500- 2 ribu BTS baru,” katanya.

Telkomsel Meredup
Jika pada 2010 XL berhasil mencatat kinerja yang kinclong, tidak demikian halnya dengan pemimpin pasar seluler, Telkomsel. Anak usaha Telkom yang selalu menjadi andalan sebagai kontributor utama bagi pendapatan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu tidak menggembirakan kinerjanya.

“Pada 2010 Telkomsel tidak mencapai target meraih 100 juta pelanggan dan pertumbuhan pendapatan sekitar 10 persen. Ini semua karena pasar sudah mencapai titik jenuh,” keluh Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno.

Berdasarkan catatan, Telkomsel pada 2009 meraih pendapatan sekitar 40 triliun rupiah dengan jumlah pelanggan 82 juta nomor. Target pada 2010 adalah mendapatkan omset 44 triliun rupiah dengan jumlah pelanggan 100 juta nomor.

Sinyal tidak dicapainya target oleh manajemen Telkomsel telah terbaca pada kinerja kuartal ketiga 2010 dimana hanya meraih pendapatan usaha 33,738 triliun atau tumbuh 5 persen dibandingkan periode sama 2009 sebesar  32,117 triliun rupiah.

“Kinerja terpukul kala kuartal I 2010 dimana terjadi perang penawaran SMS gratis lintas operator. Pada tahun ini kami fokus mengembangkan layanan data di 40 kota yang dinasbihkan sebagai broadband city. Kita prediksi sumbangan layanan data pada tahun ini mencapai 18 persen alias naik dari sebelumnya 14 persen,” jelasnya.

Berkaitan  isu pembenahan di manajemen Telkomsel dengan hadirnya direktur bidang Sumber Daya Manusia, Pemasaran, New Business, dan Teknologi Informasi untuk melengkapi posisi  direktur utama, keuangan, operasi, perencanaan dan pengembangan, dan niaga,  Rinaldi yang juga komisaris utama Telkomsel mengatakan baru sebatas wacana. “Semua harus dibicarakan dengan pemegang saham lainnya,” katanya.

Secara terpisah, Group Head Pemasaran  Vas Indosat Teguh Prasetya mengisyaratkan pada 2010 jasa seluler perseroan berhasil mencatat kinerja yang menggembirakan dengan pertumbuhan 19 persen dibandingkan 2009. “Kerja keras membuahkan hasil. Tahun ini kami perang di value dengan harga yang murah dan berkualitas,” katanya.

Sementara Wakil Direktur Bidang Pemasaran Bakrie Telecom Erik Meijer menegaskan,  tetap fokus ke jasa suara dan SMS  melalui produk Esia karena segmen itu masih besar. “Bisnis data tidak dilupakan melalui AHA. Masalahnya ini produk baru, jadi belum banyak bicara,” jelasnya.

Erik mengaku tidak khawatir walau Juli nanti biaya interkoneksi untuk Fixed Wireless Access (FWA) berubah karena perseroan  dari awal dilahirkan sebagai budget operator  sudah mengimplementasikan  effective cost leadership. “Dari dulu kami tetap yang bisa dan sanggup menawarkan tarif telpon dan sms  paling murah ke konsumen. Itu yang akan menentukan di masa mendatang dan kami  paling siap,” tegasnya.

Sedangkan Pengamat telekomunikasi Bayu Samudiyo mengingatkan, titik jenuh pasar seluler terjadi di area yang biasa dilayani sementara untuk area baru masih ada potensi untuk digarap.

“Melihat kinerja operator pada tahun lalu,  memang bukan saatnya lagi perang untuk mencari pelanggan baru. Sekarang saatnya menaikkan pendapatan dengan menyediakan layanan berkualitas,” tegasnya.

Bayu memperkirakan, pada tahun ini persaingan yang panas terjadi di jasa data, sementara  untuk  suara  dan SMS, akan tetap “banjir bonus” demi mengejar pelanggan baru. “ Paket banjir bonus itu, hanya  untuk pelanggan baru. Ini akan memicu tingkat pindah pelanggan tetap tinggi, soalnya  fenomena konsumen mempunyai lebih dari satu kartu  adalah hal yg biasa. Nomor lama tetap hidup, tapi tetap ada nomor baru yang didorong promosi operator,” katanya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s