110111 RIM Bersedia Sensor Konten Porno

JAKARTA—Research in Motion (RIM) menegaskan akan memenuhi tuntutan dari Menkominfo Tifatul Sembiring untuk menyensor konten porno dari layanan BlackBerry dengan menggandeng operator yang menjadi mitranya.

“Kami memahami pentingnya amsalah sensor itu. Hal ini akan segera dipenuhi dengan mengajak operator mitra melakukan sensor.  Berbagai hal teknis sedang didiskusikan dengan pemerintah dan operator lokal,” ungkap keterangan tertulis RIM yang diterima Senin (10/1).

Group Head Corporate Communication Indosat Djarot Handoko mengatakan,  permintaan pemerintah kepada RIM untuk menutup akses yang bisa digunakan  melihat situs porno melalui BlackBerry didukung penuh oleh perseroan.

Menurutnya,  tidak semua fitur layanan dan aplikasi di BlackBerry harus dinonaktifkan dalam rangka menutup akses terhadap situs konten porno. karena fitur Blackberry yang berpotensi untuk mengakses situs porno ada pada fitur browser.

Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno mengatakan, karena sensor domain pemerintah, akan ikut menyukseskan. “Kami ikut saja. Tetapi jika blokir total itu ada kerugian karena selama ini BlackBerry tidak hanya digunakan untuk data,” katanya.

Sementara itu, Menkominfo Tifatul Sembiring menegaskan, masalah sensor konten porno hanya satu elemen yang harus diselesaikan RIM dengan  Kemenkominfo.

“Ini bukan hanya masalah sensor konten porno. Ada regulasi yaitu  UU 36/1999 (Telekomunikasi), UU 11/2008 (ITE),  dan UU 44/2008 (pornografi) yang harus dipenuhi oleh RIM,” tegasnya.

PLT Dirjen Sumber Daya Penyelenggaraan Perangkat Pos dan Informatika M. Budi Setyawan menambahkan, klarifikasi lain yang belum selesai dengan RIM adalah masalah pembayaran Biaya Hak Penggunaan (BHP) frekuensi.

Dijelaskannya, untuk penarikan BHP frekuensi, regulator menginginkan RIM dianggap sebagai penyelenggara multimedia berbasis Internet Service Provider (ISP). ” Jika sebagai ISP tentu kewajiban BHP tak bisa dihindari. Sayangnya, RIM ingin memanfaatkan celah sebagai penyelenggara multimedia dengan menyatakan sebagai pemain Sistim Komunikasi Data (Siskomdat) atau server center,” keluhnya.

Dijelaskannya, jika sebagai Siskomdat atau server center, maka RIM lolos dari kewajibannya membayar BHP frekuensi karena kewajiban itu dialihkan ke operator yang menjadi rekanan.

Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi menambahkan,  hal utama yang harus dikejar adalah  agar RIM bangun server di Indonesia. Jika hal itu tercapai maka data pengguna bisa aman  sesuai UU 36/1999, serta tarif yang lebih murah bagi pengguna karena trafik Indonesia tidak perlu dibawa ke Kanada.

Kepala Pusat Informasi Kominfo Gatot S Dewa Broto, menjelaskan, masyarakat harus memahami cara kerja trafik yang dihantarkan oleh RIM dengan layanan sejenis.  “Saya akui akses konten porno bisa dengan ponsel biasa Tetapi aksesnya kan dari ISP (penyedia akses internet) yang jelas-jelas izinnya dari Kominfo,” jelasnya.

Gatot menjelaskan, BlackBerry berbeda dengan ponsel lain pada umumnyakarena menggunakan skema bisnis internet menggunakan jalur sendiri untuk koneksi internasionalnya. Sementara ponsel yang lain hanya mengandalkan jaringan yang disediakan operator.

Anggota Komite BRTI lainnya Nonot Harsono mengungkapkan, layanan BlackBerry  merupakan global-network dengan numbering sistem sendiri yang menjadikan operator seluler tak lebih sebagai pipa (akses poin).  RIM mengenakan biaya  langganan sekitar 17 dollar AS  per pelanggan per bulan dimana perusahaan itu menndapat 7 dollar AS  (netto), sedang seluruh biaya mulai dari jaringan, layanan pelanggan, kapaistas Radio Access Network (RAN), pemasaran, dan lainya ditanggung oleh operator.

Tarik menarik terjadi antara RIM dengan regulator karena perusahaan itu berpendapat  menyediakan  akses yang dibeli 7 dollar AS per pelanggan per bulan.  Sementara regulator  berpendapat RIM sebagai penyedia jasa global yang menyewa jaringan operator seharga 10 dollar AS per pelanggan.

“Konsep ala RIM itu tidak dijalankan oleh instant messaging lainnya seperti Yahoo, Skype, atau Facebook.  Dari pola bisnis ini, RIM melalui RIM Indonesia harusnya termasuk penyelenggara jasa.  Karena itu harus mengurus izin operasi dan cukup bikin node atau exchange-point di sini, “ jelasnya.

Ketua Bidang Teknologi Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Taufik Hasan menjelaskan, data yang disalurkan oleh RIM terenkripsi sehingga filtering tidak bisa oleh operator tetapi harus dilakukan RIM langsung.

“Pendirian server di Indonesia akan membantu karena trafik tidak  bolak- balik. RIM juga akan dianggap sebagai Network Access Perovider (NAP) sehingga bisa diminta tanggung jawab trafik internasional,  dan kecepatan menjadi lebih tinggi dengan peering ke Indonesia Internet Exchange (IIX),” jelasnya.

Selain itu biaya untuk pengguna menjadi lebih murah, negara mendapatkan tambahan PNBP, dan adanya kompetisi dengan penyedia akses lainnya.

Berdasarkan catatan, operator yang menjadi Mitra RIM adalah Telkomsel (960 ribu pelanggan), Indosat (650 ribu) pelanggan), XL (650 ribu pelanggan) Axis (90 ribu pelanggan), Smart Telecom (20 ribu pelanggan) Tri (90 ribu pelanggan) [dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s