070111 Pelanggan XL Tumbuh 27,7%

JAKARTA—PT XL Axiata Tbk (XL) berhasil mendapatkan 40,1 juta pelanggan hingga akhir 2010 atau tumbuh 27,7 persen dibandingkan 2009 sebesar 31,4 juta pelanggan.

“Kami berhasil melampaui target yang telah direvisi sebanyak dua kali yakni meraih 40 juta pelanggan,” ungkap Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi di Jakarta, Kamis (6/1).

Berdasarkan catatan, XL merevisi target pelanggan sebanyak dua kali. Awalnya target ditetapkan untuk 2010 meraih 35 juta pelanggan. Setelah itu diubah menjadi 38 atau 39 juta pelanggan. Selanjutnya pada Oktober direvisi menjadi 40 juta pelanggan.

Dijelaskannya, target 40 juta pelanggan telah diraih pada November 2010. Sedangkan selama Desember 2010 hanya bisa diraih tambahan 100 ribu pelanggan karena persaingan yang lumayan keras di pasar.

“Untuk tahun ini ditargetkan pertumbuhan pelanggan sekitar 11-12 persen. Hal ini berarti pada akhir 2011 jumlah pelanggan XL bisa menjadi 44,5-44,9 juta pelanggan Kami selalu ingin tumbuh di atas industri yang berkisar di 10 persen,” jelasnya.

Diungkapkannya, strategi perusahaan ke depan tidak lagi akan bermain tarif di suara dan SMS mengingat besarannya telah terus dipangkas sejak tahun lalu. “Jika kita terus bermain di tarif untuk kedua jasa itu akan terkorbankan kualitas layanan. Selain itu, melihat pertumbuhan SIM Card tahun ini yang tidak besar, tidak ada gunanya dibanting tarif kalau pelanggan yang masuk tidak besar,” katanya.

Dijelaskannya, langkah yang akan dilakukan XL adalah fokus pada layanan data yang terus tumbuh kontribusinya pada tahun ini. Diperkirakan pada 2010 jasa data berkontribusi sebesar 9-10 persen bagi total pendapatan perseroan. Pada 2011 diharapkan meningkat di kisaran 15 persen untuk target minimal dan 20 persen dalam pencapaian maksimal.

“Pertumbuhan pendapatan secara keseluruhan pada 2010 di atas 20 persen. Angka pastinya belum bisa dikeluarkan. Tunggu selesai audit,” jelasnya.

Berdasarkan catatan, hingga kuartal tiga lalu XL memberikan kinerja lumayan kinclong untuk top line dan bottom line dengan mendapatkan pendapatan usaha sebesar 13 triliun rupiah atau naik 32 persen dibandingkan periode sama tahun lalu. Sedangkan laba bersih naik 73 persen dibandingkan periode sama tahun lalu menjadi 2,1 triliun rupiah. Jasa seluler XL pada periode itu memiliki 38,5 juta pelanggan.

Selanjutnya diungkapkan, untuk tahun depan XL menyiapkan belanja modal sebesar 500 juta dollar AS yang akan digunakan untuk membangun 1.500- 2 ribu BTS, peningkatan kapasitas jaringan, dan membangun serat optik. “Besaran belanja modal itu moderat. Bisa saja di pertengahan jalan direvisi jika dibutuhkan dana lebih besar. Kami menggunakan dana internal untuk pemenuhan belanja modal,” katanya.

Secara terpisah, Pengamat telekomunikasi Guntur S. Siboro memperkirakan, perang tarif ala 2008 tak akan terjadi pada tahun ini walau regulator telah memutuskan biaya interkoneksi diturunkan sebesar 6 persen untuk jasa seluler.

Biaya interkoneksi merupakan biaya yang dibebankan sebagai akibat adanya saling keterhubungan antarjaringan telekomunikasi yang berbeda dan ketersambungan jaringan telekomunikasi dengan perangkat milik penyelenggara jasa telekomunikasi. Biaya ini salah satu komponen menentukan tariff retail selain margin keuntungan dan biaya pemasaran.

“Pada 2008 “perang tarif” bukan dipicu oleh penurunan biaya interkoneksi tetapi akibat aksi XL yang terlalu agresif sehingga ada perlawanan dari dua besar yakni Telkomsel dan Indosat. Perang tarif itu terjadi di panggilan sesama pelanggan (On nett), tidak ada hubungan langsung dengan biaya interkoneksi. Sekarang XL sudah di posisi nomor dua, menarik melihat konsistensinya mendorong perubahan,” katanya.[dni]