060111 Telkomsel Layani 1,8 Miliar SMS

JAKARTA—Telkomsel kala pergantian tahun lalu berhasil melayani 1.8 miliar SMS atau melonjak 136 persen dari jumlah pengiriman hari biasa sekitar 763 juta SMS per hari dari 94 juta pelangganya.

“Upaya menghadirkan layanan berkualitas melalui penggelaran jaringan dalam rangka menghadapi periode pergantian tahun baru telah direspon positif dan dimanfaatkan oleh pelanggan secara optimal,” ungkap Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno di Jakarta, belum lama ini.

Diungkapkannya, kenaikan pengiriman SMS diantisipasi dengan peningkatan kapasitas SMS Center dari 60.000 SMS/detik tahun lalu menjadi sanggup memproses 80.000 SMS/detik.

Sedangkan penggunaan layanan komunikasi untuk menelpon meningkat menjadi 310 juta panggilan pada puncak pergantian tahun, di mana trafik yang sukses dilayani 1.080 juta menit atau melonjak 13 persen dibanding trafik suara di hari normal. Untuk layanan MMS terjadi kenaikan trafik sebesar 75 persen menjadi 1.100 ribu MMS dari trafik MMS sehari-hari 630 ribu MMS. Sementara untuk layanan data, terjadi penurunan trafik sebesar 11 persen menjadi 56 Tera Bytes dari trafik data sehari-hari 63 Tera Bytes per hari.

Ditegaskannya, secara umum tidak ada kendala berarti yang dialami Telkomsel dalam menghadirkan kelancaran dan kenyamanan berkomunikasi pelanggan menjelang momen pergantian tahun. Hal ini dikarenakan Telkomsel secara rutin melakukan kegiatan pengecekan jaringan untuk mempersiapkan terjadinya lonjakan trafik komunikasi yang signifikan, yang biasanya terjadi pada setiap Hari Raya Idul Fitri maupun Tahun Baru.

Sebelumnya, Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemenkominfo Gatot S. Dewa Broto menegaskan, layanan operator kala pergantian tahun belum memuaskan mengacu fakta di lapangan yang menunjukkan pelanggan masih harus mengulang panggilan minimal sekali untuk dapat terhubung dengan tujuan yang dihubungi.

Sementara itu, untuk layanan data, sekitar 2 jam menjelang pergantian tahun baru hingga 2 jam berikutnya, kecepatan untuk mengakses internet agak terkendala, karena kecepatannya berkurang dan cukup banyak dikeluhkan oleh sejumlah pengguna layanan kepada Kemenkominfo.[dni]

060111 Restrukturisasi Kemenkominfo Sebaiknya Dikaji Ulang

JAKARTA—Center for Indonesia Telecommunications Regulation Study (Citrus) meminta restrukturisasi Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) ditinjau ulang mengingat fungsinya sebagai pembina industri strategis yang bisa menjadi mesin pertumbuhan ekonomi.

“Jika mau melakukan perubahan harus tercermin pada struktur organisasi dan penunjukan personalnya. Perlu diingat, ini adalah lembaga teknis yang sangat strategis,” kata Pendiri Citrus Asmiati Rasyid kepada Koran Jakarta, Rabu (5/1).

Diharapkannya, jika pun terjadi perubahan, struktur baru harus lebih baik ketimbang yang lama. “Saran saya pengelolaan spektrum bukan di bawah Menkominfo dan harus diposisikan lebih tinggi karena ini terkait lintas kementrian dan regulator. Indonesia butuh Badan Pengelola Spektrum Nasional. Jika masih seperti sekarang, spektrum direbutkan banyak pihak karena besarnya Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP),” katanya.

Selain itu, tidak tepat rasanya sektor Pos masih digabung dengan telekomunikasi dalam satu direktorat. “Harusnya berkaca pada negara maju dimana usaha Pos bisa untung. Ini harus dibenahi,” tegasnya.

Sebelumnya, Menkominfo Tifatul Sembiring telah menetapkan struktur baru berdasarkan Peraturan Menteri Kominfo No17/PER/M.KOMINFO/10/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kominfo. Struktur baru yang mulai berlaku adalah Sekretaris Jenderal, Irjen, Ditjen Sumberdaya dan Perangkat Pos dan Informatika, Ditjen Penyelenggaraan Pos dan Informatika, Ditjen Aplikasi Informatika, Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik dan Badan Litbang SDM.

Tifatul sendiri untuk sementara masih belum menunjuk pejabat definitif. Saat ini adanya Pelaksana Harian (PLH) mulai dari Eselon I hingga Eselon IV. Contohnya, Plh Sekjen Kementerian Kominfo Basuki Yusuf Iskandar, Plh Irjen Agung Widjayadi, Plh Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika Muhammad Budi Setiawan, Plh Dirjen Penyelenggaraan Pos dan Informatika Bambang Subiantoro, Plh Dirjen Aplikasi Informatika Ashwin Sasongko, Plh Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Freddy Tulung, dan Plh Kepala Badan Litbang SDM Cahyana Ahmadjayadi.

Kabar beredar mengapungkan nama Basuki Yusuf Iskandar sebagai Dirjen Penyelenggaraan Pos dan Informatika. Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Infromatika diduduki Azhar Hasyim dan M. Budi Setyawan di pos Dirjen Aplikasi dan Informatika.

Untuk posisi Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik dipegang oleh Freddy Tulung, Badan Litbang SDM oleh Cahyana Ahmadjayadi, serta Sekjen oleh Aizirman Djusan. Tim Penilai Akhir (TPA) sendiri dikabarkan sudah mengirimkan hasil penilaian kepada Menkominfo Tifatul Sembiring pada Desember 2010.

Kemenkominfo sendiri pada 2011 mendapatkan Pagu Definitif sebesar Rp 3.45 triliun rupiah atau meningkat cukup signifikan, mengingat sebelumnya untuk tahun 2009 adalah sebesar 2.131 triliun rupiah dan 2010 sebesar 2.889 triliun rupiah.[dni]

060111 Perahu Kecil Menantang Ombak Besar

Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) boleh saja sudah mengumumkan biaya interkoneksi untuk panggilan dari jasa seluler mengalami penurunan rata-rata 6 persen muali awal tahun ini.

Namun, suara pelanggan ternyata berkata lain. Adalah Pengacara Hinca Panjaitan yang mencoba mengayuh “perahu kecilnya” menantang “ombak besar” yang dibuat oleh regulator.

Pada Desember 2010, Hinca melontarkan somasi ke Kemenkominfo meminta penetapan penurunan biaya interkoneksi ditunda karena tidak ada transparansi dalam pembahasan. “Kala itu saya meminta besaran persentase itu dipaparkan secara ilmiah di depan publik. Ini agar jelas, angka-angka itu datangnya darimana. Jangan diklaim sepihak,” tegasnya kepada Koran Jakarta, Rabu (5/1).

Hinca menyesalkan, somasinya tidak diindahkan malah yang terjadi adalah diumumkannya penurunan biaya interkoneksi. “Kalau begini, minggu depan saya mengajukan gugatan. Apalagi besaran itu kabarnya karena kompromi. Kalau begitu yang dipikirkan hanya pelaku usaha, pelanggan dipinggirkan,” keluhnya.

Berdasarkan catatan, kajian secara publik untuk biaya interkoneksi kali ini terkesan tertutup dibandingkan 2008. Bisa dilihat, hingga sekarang jawaban tertulis dari regulator terkait pertanyaan dari kelompok yang menginginkan biaya interkoneksi diturunkan lebih besar tidak terjawab.

Selain itu, hasil hitungan dari konsultan yang ditunjuk Postel (TriTech) untuk menghitung biaya interkoneksi terkesan janggal karena tidak mencerminkan efisiensi dari Telkomsel yang dijadikan sebagai referensi bottom up. Telkomsel yang memiliki tarif efektif 220 rupiah, tetapi dihitung memiliki biaya interkoneksi 261 rupiah.

Belum lagi jika dilihat hasil perhitungan Bottom Up untuk 2009-2013 milik Telkomsel yang menunjukkan perbedaan dengan prediksi yang dibuat Ovum tiga tahun lalu. Ovum adalah konsultan yang dipakai untuk menghitung biaya interkoneksi 2008. Tercatat, menurut Tritech paanggilan dari seluler ke seluler lokal, telepon tetap, dan satelit pada 2009 sebesar 267 rupiah, 2010 (Rp 260), 2011 (Rp 251), 2012 (Rp 239), dan 2013 (Rp 230).

Bandingkan dengan hitungan 2007 yang dibuat Ovum dimana pada 2008 harusnya untuk tiga panggilan itu biaya 261 rupiah. Hal ini berarti pada 2009 terjadi kenaikan sekitar 2 persen oleh Telkomsel dari 261 menjadi 267 rupiah. Anehnya, untuk hitungan tahun 2011, besaran angka sama antara hitungan ovum dan Tritech yakni 251 rupiah.

Direktur Lembaga Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat Informasi (LPPMI) Kamilov Sagala menilai, penurunan biaya interkoneksi yang kecil bisa dibaca sebagai keinginan dari regulator untuk melindungi kepentingan operator tanpa melihat masyarakat yang sudah kecewa dengan layanan pelaku usaha yang tidak sesuai lisensi modern dimiliki.

“Rasanya wajar ada gugatan dari masyarakat terhadap putusan ini. Lebih menyedihkan adalah komitmen lima wakil masyarakat di Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) yang tidak mencerminkan aspirasi rakyat. Mana komitmen di awal jabatan yang ingin bekerja keras demi rakyat itu,” tagihnya.

Sekjen Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Mas Wigrantoro Roes Setiyadi mengatakan, penurunan biaya interkoneksi harusnya dinikmati oleh pelannggan bukan hanya operator. “Tetapi ini ada benturan kepentingan antara dua operator besar (Telkomsel dan Indosat) di satu sisi, di sisi lain ada XL dan operator kecil yang meminta penurunan lebih besar,” jelasnya.

Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi menegaskan, sebagai personal sudah berjuang keras menurunkan biaya interkoneksi lebih besar sesuai aspirasi msyarakat. “Saya sudah berjuang keras. Harus diingat keputusan di BRTI itu kolegial. Apalah arti satu suara saya. Seperti beriak di tepian,” keluhnya.[dni]

060111 Opera Siapkan Browser Versi Tablet

JAKARTA—Opera Software tengah menyiapkan browser yang dikhususkan untuk perangkat tablet guna mengantisipasi semakin tingginya pemakaian produk tersebut pada tahun ini.

Dikutip melalui situs Engadget, browser milik Opera ini akan hadir secara khusus dengan basis sentuhan. “Pemunculan pertama dari browser ini akan terlihat pada acara Consumer Electronics Show (CES) di Las Vegas pekan ini,” kata situs tersebut.

Diungkapkannya, browser milik opera itu sangat intutif dan mampu bergeser secara halus sama seperti yang dimiliki Safari untuk iPad. Bedanyam Opera tablet tersebut dijalankan untuk sistem operasi berbasis Android.

Opera Tablet ini memiliki sistem antarmuka berbeda dengan Opera Mini karena jika Opera Mini memproses isi konten dengan terhubung ke server mereka maka Opera Tablet ini akan menjalankan kode HTML dan JavaScript secara langsung di browser.

Sementara itu, Research In Motion (RIM) mulai membocorkan kemampuan browser milik tabletnya BlackBerry PlayBook.

Dalam video yang berdurasi lebih dari tiga menit yang dimunculkan di situs Cellular News itu terlihat kemampuan dari Playbook menjadi perangkat mobile internet yang handal.

Dipertontokan dalam video itu kemampuan Playbook menjelajahi situs videojs.com untuk menjajal kemampuan HTML5 di browsernya. Kemudian dilanjutkan dengan membuka video berbasis flash di YouTube.

Bahan pengujian selanjutnya menyambangi Facebook. Di situs yang sudah memiliki lebih dari 500 juta pengguna ini, PlayBook coba bermain dengan fasilitas chat dan game.

Dari demo itu bisa diketahui kemampuan perangkat ini membesarkan (zoom-in) dan mengecilkan (zoom-out) tampilan di perangkat ini sama seperti iPad yakni menyapukan tangan.

Sebelumnya, lembaga riset Gartner Inc memperkirakan penjualan komputer tablet akan mencapai 19,5 juta unit pada 2010 dan pada 2011 meningkat tiga kali lipat.[dni]

060110 Penurunan Biaya Interkoneksi Kompromi Tanpa Tsunami

Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) pada awal tahun ini memutuskan biaya interkoneksi seluler mengalami penurunan rata-rata 6 persen dibandingkan 2008. (Lihat tabel-Red)

Biaya interkoneksi merupakan biaya yang dibebankan sebagai akibat adanya saling keterhubungan antarjaringan telekomunikasi yang berbeda dan ketersambungan jaringan telekomunikasi dengan perangkat milik penyelenggara jasa telekomunikasi. Biaya ini salah satu komponen menentukan tariff retail selain margin keuntungan dan biaya pemasaran.

Penurunan kali ini tidak berlaku bagi biaya terminasi lokal fixed to fixed, begitu juga untuk terminasi lokal dari Fixed Wireline Lokal (FWL) ke Fixed Wireless Access (FWA) yakni tetap sebesar 73 rupiah per menit per panggilan untuk setiap panggilan yang berhasil. Sedangkan pola penagihan SMS tetap berbasis sender keeps all (SKA)

“Memang ada tarik-menarik antara operator besar dan kecil dalam menetapkan penurunan biaya interkoneksi. Regulator mencoba mengkompromikan kepentingan semua pihak. Inilah yang terbaik,” ungkap Menkominfo Tifatul Sembiring di Jakarta, belum lama ini.

Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemenkominfo Gatot S. Dewa Broto menambahkan, biaya interkoneksi baru untuk seluler berlaku mulai 1 Januari 2011. Sedangkan untuk FWA per 1 Juli 2011. “Kita harapkan operator secepatnya menyerahkan Daftar Penawaran Interkoneksi (DPI) untuk ditelaah. Diperkirakan pada Maret atau April nanti sudah ada tarif retail baru di masyarakat,” katanya.

Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) M. Ridwan Effendi mengharapkan, tarif retail mengalami penurunan sama besar dengan biaya interkoneksi yakni sekitar 6 persen. Syaratnya, operator tidak mempertahakan margin keuntungan yang tinggi.

“Secara teoritis semua berpotensi turun. Masalahnya di Indonesia kelihatannya tidak ada korelasi antara tarif ritel dengan biaya interkoneksi,” keluhnya.

Berdasarkan catatan, pada 2008 regulator menurunkan biaya interkoneksi 20-40 persen. Dampaknya tariff retail terpangkas hingga 70 persen dari 15 sen dollar AS menjadi 2 sen dollar AS.

Tidak Berdampak
Presiden Direktur XL Axiata Hasnul Suhaimi menegaskan, penurunan kali ini tidak banyak memberi ruang gerak bagi operator untuk memberikan tarif murah kepada pelanggan.

“Tadinya kami berharap masih bisa turun hingga 40 persen. Namun karena sudah menjadi keputusan pemerintah, terpaksa diikuti,” katanya.

VP Sales & Distribution Axis Syakieb A. Sungkar menegaskan, penurunan yang kecil mempertontonkan rezim interkoneksi terlalu kuat sehingga tariff panggilan lintas operator (off net) tidak akan murah. Hal ini berbeda dengan di luar negeri dimana biaya interkoneksi ditekan serendah mungkin untuk menghindari monopoli incumbent.

“Penurunan yang kecil upaya incumbent membangun tembok tinggi agar tidak bisa dilewati oleh operator baru. Anda bisa bayangkan, seandainya tarif lintas operator dibanting murah, akan terjadi tsunami di industri berupa pindah layanan dari operator besar ke operator kecil karena yang bicara nanti adalah kualitas layanan,” tegasnya.

Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sudaryatmo mengungkapkan biaya interkoneksi seharusnya dikaitkan dengan struktur pasar di mana jumlah operator di Indonesia terlalu banyak. “Biaya interkoneksi juga seharusnya dikonversikan dengan market share yang seimbang sehingga tarif bisa ditekan,” ujarnya

Sementara Head of Corporate Communication Telkom Eddy Kurnia menilai besaran penurunan sudah melalui perhitungan yang matang dengan melihat dampak terhadap industri telekomunikasi secara keseluruhan. “Ini sudah bagus. Jadinya antarpemain tidak saling bunuh Jangan membiarkan pasar tidak sehat, penurunan sewajarnya atas dasar perhitungan yang matang itu baik sekali,” katanya.

Deputy VP Corporate Secretary Telkomsel Aulia E. Marinto enggan menanggapi tudingan yang dilontarkan pesaingnya. “Sebaiknya diserahkan kepada pihak regulator yang mengeluarkan kebijakan itu,” tukasnya.

Dijelaskannya, Telkomsel sendiri masih mengaji perlu atau tidaknya menurunkan tarif off net karena masih menunggu perkembangan dan analisa bisnis. Sebagai ilustrasi, saat ini kompetisi sudah berkembang per area. Bisa saja di satu area tarif off net turun, daerah lainnya tetap.

“Secara keseluruhan ini harus dikaitkan dengan komitmen membangun jaringan berdasarkan lisensi yang dimiliki, bukan semata-mata soal penurunan karena soal murah bisa di siasati dalam bentuk lain seperti bonus off net call,” ketusnya.

Sedangkan VP Intercarrier Bakrie Telecom Hery Nugroho mengungkapkan, berlakunya biaya interkoneksi baru bagi FWA pada Juli nanti berdampak terjadinya kenaikan pendapatan interkoneksi bagi pemainnya walau biaya interkoneksi juga naik. Namun, untuk telepon rumah alias PSTN kabel akan mengalami kesulitan karena tarifnya makin mahal.

“Secara teknis, pemisahan FWA dengan PSTN tidak akan mudah karena tidak ada pembedaan penomoran. Akibatnya, semua operator pasti akan mendapat pekerjaan baru untuk mengidentifikasi nomor-nomor yang campur aduk itu. Belum lagi, secara regulasi perlu ada pemisahan PSTN dengan FWA. Tanpa itu, maka regulator melanggar aturan yang dibuatnya sendiri,” tegasnya.

Ketua Komite Tetap Bidang Telekomunikasi Kadin Johnny Swandi Sjam mengakui, walau peluang untuk menurunkan biaya interkoneksi lebih besar mengingat average revenue per menit sudah sangat rendah, tetapi operator memerlukan kontinuitas dalam membangun jaringan.

“Inilah alasan tarif retail tidak akan turun besar. Apalagi biaya pemasaran makin membengkak, kalau tarif retail diturunkan, bisa terjadi pendarahan,” jelasnya.

Pengamat telekomunikasi Guntur S. Siboro menjelaskan, pada 2008 “perang tarif” bukan dipicu oleh penurunan biaya interkoneksi tetapi akibat aksi XL yang terlalu agresif sehingga ada perlawanan dari dua besar yakni Telkomsel dan Indosat.

“Perang tarif itu terjadi di panggilan sesama pelanggan (On nett), tidak ada hubungan langsung dengan biaya interkoneksi. Sekarang XL sudah di posisi nomor dua, menarik melihat konsistensinya mendorong perubahan,” katanya.[dni]

Tabel Biaya Interkoneksi 2011

Tarif interkoneksi voice baru
————————————————————
Keterangan Tarif (Rp/menit)
————————————————————
Seluler ke PSTN/FWA lokal 251
Seluler ke seluler lokal 251
Seluler ke satelit lokal 251
Seluler ke PSTN/FWA SLJJ 357
Seluler ke seluler SLJJ 461
Seluler ke satelit SLJJ 463
Seluler ke SLI 453
FWA ke PSTN lokal 73
FWA ke FWA lokal 211
FWA ke seluler lokal 209
FWA ke satelit lokal 209
FWA ke VoIP lokal 271
FWA ke PSTN/FWA SLJJ 419
FWA ke seluler SLJJ 577
FWA ke satelit SLJJ 611
SMS Sender Keep All
———————————————————
Sumber: Ditjen Postel