211210 Tradisi yang Mulai Hilang

Kala Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemnkominfo) dipimpin oleh Sofian Djalil atau Mohammad Nuh, melakukan konsultasi publik dalam rangka mengeluarkan satu keputusan atau regulasi penting merupakan tradisi yang dijalankan.

Konsultasi publik biasanya melibatkan pemangku kepentingan di industri agar aspirasi semua pihak terserap. Aksi ini diibaratkan sebagai induk untuk satu kebijakan dimana regulasi atau keputusan yang dikeluarkan bisa diterima oleh industri tanpa menimbulkan gejolak.

Sayangnya, tradisi ini mulai pudar di era Menkominfo Tifatul Sembiring. Tifatul yang berasal dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan merupakan buah dari reformasi sepertinya lebih senang menggunakan pola operasi diam-diam atau test the water dalam mengeluarkan kebijakan.

Mari simak aksi Tifatul kala mengeluarkan wacana akan keluarnya Peraturan Menteri tentang konten multimedia. Kala itu para pelaku di dunia maya seperti kebakaran jenggot karena merasa kurangnya sosialisasi. Setelah Presiden berkomentar, akhirnya regulasi itu diendapkan dan muncullah aturan tentang pemblokiran konten porno yang lebih lembut.

Contoh operasi diam-diam dari Pria yang diberikan gelar Datuak oleh masyarakat minang ini adalah keluarnya Peraturan Menteri (PM) No. 01/2010 tentang Penyelenggaraan Jaringan Telekomunikasi pada 25 Januari lalu.

Para punggawa di industri telekomunikasi merasa tidak pernah diminta pendapatnya oleh regulator berkaitan dengan direvisinya KM. 20/2001 berikut seluruh perubahannya. Sementara alasan dari Kemkominfo adalah aturan itu tidak sama sekali baru karena merupakan KM 20/2001 yang diubah beberapa kali.

Dampak dari operasi diam-diam ini mulai terasa kala PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) mengajukan lisensi seluler pada Mei lalu dan diproses oleh KemKominfo serta Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI).

Pemicunya adalah Pasal 4 di aturan itu yang masih menggunakan acuan regulasi lama karena digunakan untuk pemberian lisensi bagi Mobile-8 beberapa tahun lalu. Jika mengacu pada PM No 1/2010 pasal 4 yang mengatakan evaluasi diberikan jika pemain sudah memiliki kode akses jaringan dan frekuensi. Sementara BTEL sendiri belum memiliki kode akses jaringan tetapi kode akses wilayah sesuai Fundamental Technical Plan (FTP).

Proses pemberian lisensi seluler bagi BTEL pun menimbulkan kecemburuan jika mengacu pada prinsip first come, first serve yang menjadi alasan dari regualtor. Pasalnya, dua operator (XL dan Axis) sudah mengajukan lisensi untuk Sambungan Langsung Internasional (SLI) sejak lama tanpa ada kejelasan ditolak atau diterima.

Terakhir, tentunya restu yang dikeluarkan oleh Kemkominfo untuk pindahnya satelit Indostar II dari slot orbit 107.7 derajat BT ke 108.2 derajat BT. Regulator berpegang teguh telah menjalankan amanat dari PP 53 pasal 32 dan 34 tentang penggunaan spektrum frekuensi radio dan orbit satelit.

Padahal kenyataannya, sesuai Pasal 33 ayat (2) di aturan itu menyebutkan pendaftaran penggunaan satelit harus mengikuti tahapan publikasi, koordinasi dan notifikasi. Sementara
publikasi pemerintah terkait perpindahan itu selama ini belum ada. Bahkan ketika dikonfirmasi sejak Maret 2010, Postel terkesan mengulur-ulur waktu untuk memberikan kepastian kepemilikan satelit atau rencana pemindahan.

Berikutnya di Pasal 34 ayat (3) yang menyatakan penetapan penggunaan lokasi satelit pada orbit tidak dapat dialihkan. Ini tentu bertentangan dengan kenyataan dimana satelit dari slot 107.7 derajat BT dialihakan ke 108.15 derajat BT. Apalagi di pasal 34 ayat (2) mengatakan masa berlaku penggunaan lokasi satelit pada orbit sesuai denga umur satelit. Kalau begitu kenapa Indostar II yang belum habis usianya sedah dipindah?

Sekjen Indonesia Wireless Broadband (Idwibb) Y. Sumaryo mengingatkan, mulai hilangnya tradisi konsultasi publik tidak hanya berpotensi menimbulkan kerugian bagi pelaku usaha, tetapi juga negara. “Transparansi itu adalah semangat reformasi. Jangan pernah dilupakan,” ketusnya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s