211210 Pemindahan Satelit Protostar II: Akomodasi Asing Ala Penguasa

Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) akhirnya merestui rencana pemindahan satelit Protostar II yang dimiliki oleh PT Media Citra Indostar (MCI) bersama SES World Skies (SES) dari filling milik Indonesia yaitu 107.7 derajat BT ke 108.2 derajat BT.

Filing satelit merupakan data teknis perencanaan satelit suatu negara yang nantinya diwujudkan pada fisik satelit yang didaftarkan ke International Telecommunication Union (ITU) agar tidak terjadi interferensi.

“Pemindahan dilakukan oleh MCI untukmemberi jarak dengan satelit Indostar I yang juga berada di 107.7 derajat BT agar tidak terjadi interferensi. Indonesia juga akan memproses filling di 108.2 derajat BT. Kami akan memproses filling-filling itu ke International Telecommunication Union (ITU),” ungkap Direktur Kelembagaan Internasional Ditjen Postel Ikhsan Baidirus kepada Koran Jakarta, belum lama ini.

Ditegaskannya, walaupun terjadi pemindahan satelit milik MCI, Indonesia tidak akan kehilangan hak di 107.7 derajat BT walaupun diduduki oleh satelit tua (Indostar I). “Masih ada waktu dua tahun bagi Indonesia menyiapkan satelit pengganti. Jika pun satelit sudah tidak ada, masih dua tahun lagi,” tegasnya.

Untuk diketahui, satelit Protostar II atau di Indonesia dikenal dengan nama Indostar II diluncurkan pada 16 Mei 2009 dan baru beroperasi pada 17 Juni 2009 menyusul in-orbit testing. Satelit Protostar II menyediakan pelayanan kepada MCI dan PT MNC Skyvision, operator layanan televisi satelit Direct To Home (DTH) terbesar di Indonesia dengan merek dagang Indovision.

Satelit tersebut menempati slot orbit milik Indonesia sesuai registrasi di ITU yaitu 107,7 derajat BT dengan membawa 32 transponder. Dari 32 tranponder yang.dimiliki, 10 transponder aktif dan 3 transponder cadangan akan difungsikan sebagai penguat gelombang frekuensi S-Band untuk menyediakan jasa layanan penyiaran langsung ke rumah-rumah atau (Direct-To-Home/DTH).

Indostar-II juga menggunakan frekeunsi KU-Band yang didesain untuk layanan DTH dan telekomunikasi di India. Sedangkan transponder KU-Band lainnya digunakan untuk akses internet berkecepatan tinggi dan layanan telekomunikasi di Filipina , Taiwan maupun Indonesia.

Pada tahun lalu kepemilikan Protostar II berubah seiring bangkrutnya mitra MCI yakni Protostar Ltd. SES World Skies (SES) membeli satelit tersebut seharga 185 juta dollar AS, sehingga kepemilikan satelit sekarang diklaim oleh MCI adalah milik bersama dengan perusahaan Perancis itu.

Berubahnya kepemilikan inilah yang memicu adanya pergeseran penempatan satelit. Pasalnya, SES memiliki slot orbit di 108.2 yang bisa dimanfaatkan untuk memaksimalkan layanan KU-Band. Jika Indostar II berada di filling milik Indonesia, maka interferensi akan terjadi kala KU-Band dijual.

Direstuinya pemindahan satelit ini memunculkan dua isu utama yang harus diklarifikasi oleh pemerintah. Pertama, soal kepemilikan satelit. Jika benar MCI berinvestasi sepertiga dari total nilai satelit sebesar 300 juta dollar AS, kenapa daya tawarnya lemah? Kedua, masalah landing right (hal labuh) jika nantinya KU-Band dijual untuk Indonesia mengingat satelit berada bukan di slot orbit merah putih.

Sesuai SOP
Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono menegaskan regulator menangani permintaan Indostar II sudah sesuai PP 53 pasal 32 dan 34 tentang penggunaan spektrum frekuensi radio dan orbit satelit. “MCI pemilik minoritas di Indostar II. MCI harus ikuti keinginan SES yaitu pindah slot dari 107.7 derajat BT ke 108.2 derajat BT. Karena itu MCI minta slot baru, yaitu 108.2 derajat BT untuk S-band,” tegasnya.

Diingatkannya, bisnis satelit memerlukan investasi tinggi karena itu terdapat model bisnis model patungan atau condo satelit. “Soal slot 107.7 derajat BT itu masih ada satelit lama yang bertahan hingga 2014. Bila ada operator lain yang ingin memanfaatkan, seperti Telkom dan Indosat, dipersilahkan karena sudah senior untuk band tertentu. Bila tidak ada yang berminat, pada 2016 slot tersebut kembali ke ITU,” katanya.

Dijelaskannya, untuk landing right hanya diperlukan bila SES mau berjualan Ku-band di Indonesia. Sedangkan MCI yang memiliki transponder S-band tidak perlu landing right karena dianggap sebagai satelit milik Indonesia.

Akomodasi Asing
Sekjen Indonesia Wireless Broadband (Idwibb) Y.Sumaryo mengakui heran dengan aksi dari pemerintah yang meminta filling baru demi mengamankan kepentingan SES. “MCI sudah di di-filling di 107.7 derajat BT. Jika mengacu pada aturan, harusnya yang diurus itu filling baru. Bukan malah Indonesia sibuk mengurus filling untuk akomodasi kepentingan asing,” sesalnya.

Pengamat satelit Kanaka Hidayat menilai rencana pemerintah untuk mendaftakan filling 108.2 derajat BT untuk menyelamatkan nasib MCI dan melegalkan yang de facto. “Jika alasannya interferensi harusnya digeser dari dulu. Perlu juga dipastikan, Indostar I masih dalam normal orbit atau sdh de-orbit,” ketusnya.

Ketua Umum Asosiasi Satelit Seluruh Indonesia (ASSI) Tonda Priyanto mengungkapkan, letak slot orbit 107.7 derjat BT dengan 108.2 derajat BT berdekatan sehingga dari sisi pelanggan dampaknya terhadap kualitas sangat kecil, sehingga secara teknis bisa dianggap satu slot.

“Hal yang kita sesalkan adalah pemerintah tidak menyelesaikan pekerjaan rumahnya yakni mengesahkan regulasi, padahal pembahasannya sudah lama. Dalam regulasi itu banyak hal dari model bisnis baru yang diakomodasi. Jika mengurus satu perusahaan dulu, sementara regulasi sebagai payung besar belum dibereskan, bisa menimbulkan masalah dikemudian hari,” sesalnya.

Group Head Satellite and Submarine Cable Indosat Prastowo M Wibowo mengaku khawatir SES sebagai pemain besar akan melakukan aksi banting harga sewa untuk meraih pangsa pasar. “SES itu pemain besar di bisnis satelit. Bisa saja untuk penetrasi pasar melakukan banting harga,” katanya.

Head Of Corporate Communication Telkom Eddy Kurnia tidak khawatir dengan aksi pemindahan karena daya jangkau Ku Band Protostar II tidak mencakup seluruh Indonesia. “Kita masih bisa bersaing karena satelit Telkom III yang akan diluncurkan untuk seluruh Indonesia,” katanya.

Telkom hanya khawatir jika SES menerapkan pola subsidi silang dengan satelit lain yang menjadi milik perusahaan itu sehingga dumping harga terjadi. “Kalau itu terjadi, Merah Putih bisa meringis di negerinya sendiri. Inilah yang kami sesalkan karena pemerintah mengambil keputusan tanpa ada semangat melindungi pemain lokal,” sesalnya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s