211210 Operator Diminta Tetap Semangat Kembangkan LTE

JAKARTA—Opertaor telekomunikasi diminta untuk tetap semangat mengembangkan teknologi Long Term Evolution (LTE) walau di Indonesia masih ada kendala penempatan frekuensi.

“Tidak ada masalah operator semangat mengembangkan LTE dengan melakukan serangkaian uji coba walau masalah penempatan frekuensi belum selesai di Indonesia. Ini semua bisa diselesaikan secara paralel nantinya. Toh, LTE sendiri belum matang secara inovasi,” ungkap Direktur Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit Ditjen Postel Tulus Rahardjo di Jakarta, Senin (20/12).

Diungkapkannya, pemerintah sekarang sedang menata penggunaan frekuensi oleh operator yang tidak sesuai dengan peruntukkannya. Salah satu yang dibidik adalah spektrum 2,5 GHz dimana lebih ideal untuk teresterial ketimbang penyiaran. “Kami sudah meminta pemilik pita 150 MHz di spekturm itu untuk memberikan rencana bisnis ke depan yang disesuaikan dengan perkembangan teknologi. Ini akan bisa mengurangi penguasaan frekuensi yang dimilikinya,” katanya.

Sekjen Indonesia Wireless Broadband (Idwibb) Y. Sumaryo mengungkapkan, akibat spektrum frekuensi 2520-2670 MHz selebar 150 Mhz masih dikuasai oleh penyiaran digital satelit dalam jangka panjang yang berpotensi negara kehilangan pendapatan sebesar 2,4 triliun rupiah per tahun.

Padahal, pemerintah mengetahui spektrum frekuensi itu oleh International Telecommunication Union (ITU-Radio) sudah dialokasikan untuk terersterial. Jika dikalulasi, pemakaian spektrum selebar 150 MHz dengan Biaya Hak Pemakaian (BHP) frekuensi sebesar 2 juta rupiah per MHz, negara hanya mendapatkan 300 juta rupiah per tahun.

Jika pita spektrum yang sama digunakan untuk layanan seluler negara memperoleh BHP frekuensi 2.4 Triliun rupiah per tahun. Angka ini didapat menggunakan basis harga lelang kala frekuensi 3G empat tahun lalu yakni sebesar 160 miliar rupiah sebesar 5 Mhz.

Executive Chairman Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Sumitro Roestam mengungkapkan, Indonesia diperkirakan kehilangan potensi sebanyak 40 triliun rupiah karena terlalu lambat menggelar akses broadband, khususnya yang berbasis kabel serat optik ke rumah-rumah dan perkantoran bisnis.

Direktur Jaringan XL Dian Siswarini mengungkapkan, LTE merupakan solusi bagi operator berbasis 3G untuk meningkatkan akses data karena bisa berjalan di banyak frekuensi dan mampu memberikan kecepatan yang lebih tinggi. “Kami hanya berharap pemerintah mengeluarkan regulasi sesuai dengan kondisi riil di lapangan. Misalnya, untuk masalah tingkat kandungan lokal, tentunya harus melihat juga kemampuan industri manufaktur dalam negeri,” katanya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s