181210 Telkom Antisipasi Kejenuhan Telekomunikasi Dasar

JAKARTA–Jajaran direksi PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) yang terpilih dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) menyiapkan sejumlah langkah untuk mengantisipasi datangnya kejenuhan telekomunikasi dasar seperti suara dan SMS dalam waktu lima tahun mendatang.

“Sekarang industri telekomunikasi itu di era 2.0. Telkom sudah kuat di konektifitas dalam penyediaan jasa suara, SMS, dan Internet. Lima tahun ke depan itu adalah era layanan solusi teknologi informasi (TI),” ungkap Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah di Jakarta, Jumaat (17/12).

RUPSLB Telkom selain memilih. kembali Rinaldi juga menetapkan posisi lama seperti Direktur Keuangan Sudiro Asno, Direktur Network & Solution Ermady Dahlan, Direktur Konsumer I. Nyoman G Wiryanata, Direktur Human Capital & GA Faisal Sjam, Direktur Compliance & Risk Management Prasetio, Direktur Enterprise & Wholesale Arief Yahya, dan Direktur IT&Supply Indra Utoyo.

Sedangkan komisaris Utama Telkom sekarang diduduki oleh mantan Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal, Komisaris Independen Rudiantara, komisaris Independen Johnny Swandi Sjam, Komisaris Bobby A.A Nazief, dan komisaris Mahmmuddin Yasin.

Rinaldi mengungkapkan, sejumlah langkah telah dilakukan dalam memperkuat di bisnis IT seperti akan diluncurkannya layanan Internet Protocol TV (IPTV) pada kuartal I 2011, menggarap bisnis komputasi awan (Cloud Computing) melalui anak usaha Sigma Cipta Caraka, dan mengembangkan pembayaran melalui akses telekomunikasi (e-payment).

“E-payment ini sesuatu yang baru. Pada tahun depan akan diluncurkan dengan nama Delima,” jelasnya.

Sedangkan untuk aksi korporasi berupa mengembangkan sayap ke tingkat regional, perseroan tengah membidik satu perusahaan seluler di Kamboja.

“Kami berkompetisi dengan tiga perusahaan dalam upaya menjadi pemilik mayoritas di operator berbasis teknologi GSM itu. Kamboja dipilih karena penetrasi selulernya masih rendah yakni sekitar 50 persen dari total populasi 14 juta jiwa,” jelasnya.

Berkaitan dengan realisasi konsolidasi unit usaha Flexi dengan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), Rinaldi mengungkapkan, belum ada langkah lebih jauh yang dapat dilakukan mengingat evaluasi terus dijalankan.

“Satu hal yang pasti, kami harus melaporkan semua langkah-langkah ke dewan komisaris baru. Hingga saat ini belum ada perkembangan baru,” katanya.

Dijelaskannya, pemikiran diperlukannya mengkonsolidasikan unit usaha yang bergerak di jasa Fixed Wireless Access (FWA) itu karena posisi Telkom tidak 100 persen menguasai saham anak usaha di bidang seluler yakni Telkomsel. Telkomsel selama ini adalah kontributor terbesar bagi total omset Telkom yakni sebesar 60 persen.

“Di Telkomsel, kami hanya memiliki 65 persen, sisanya SingTel. Jika Telkom 100 persen di Telkomsel, itu lain cerita,” katanya.

Diingatkannya, masalah konsolidasi tidak perlu dilihat secara sinis karena kenyataan di Indonesia terlalu banyak pemain yakni 11 operator. “Konsolidasi itu pasti terjadi antarpemain untuk efisiensi,” katanya.

Rinaldi pun membantah, terpilihnya jajaran direksi lama sebagai upaya mengamankan konsolidasi dengan BTEL. “Kami semua terpilih untuk satu term alias periode. Itu lima tahun. Tidak ada itu hanya dipilih untuk 6 bulan ke depan,” tegasnya.

Menneg BUMN Mustafa Abubakar juga menegaskan, penetapan manajemen Telkom tidak berhubungan dengan konsolidasi Flexi dan Esia.

“Mereka terpilih karena diyakini mampu meningkatkan kinerja Telkom sebagai satu-satunya BUMN yang listing di New York,” tegasnya.

Pada kesempatan sama, Ketua Umum DPP Serikat Karyawan Telkom Wisnu Adhi Wuryanto menegaskan, masih dalam posisi menolak rencana konsolidasi Flexi dengan BTEL.

“Kami akan bertanya ke pemerintah sebagai pemegang saham. Menneg BUMN menyatakan mengaji aksi itu dan tidak memaksakan. Jika demikian, orang-orang yang terpilih ini harus membuktikan mampu mendengar suara karyawan yakni menolak konsolidasi,” tegasnya.

Secara terpisah, pengamat pasar modal Adler Manurung mengingatkan, manajemen terpilih untuk pintar membaca reaksi pasar terkait rencana konsolidasi dengan BTEL.

“Pernyataan Telkom yang keluar hari ini di media tentang konsolidasi tidak terjadi tahun ini direspons dengan naiknya saham operator itu dan turunnya saham BTEL. Ini artinya, pasar itu tidak setuju dengan aksi korporasi itu,” tegasnya.[Dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s