141210 Sitra Bantah Komersialkan Layanan

JAKARTA—Sitra Wimax (Sitra)membantah segera mengomersialkan teknologi Wimax pada bulan depan walaupun sedang memberikan gratis uji coba kepada sedikitnya seribu pengguna di kawasan Karawaci, Kebon Jeruk, dan Puri Kembangan, Jakarta.

“Kami memberikan uji coba gratis itu sejak paska soft launching dan menerima sertifikat Uji Laik Operasi (ULO) pada Juni lalu. Rumor yang menyebutkan Sitra segera mengomersialkan layanannya dengan menggunakan Wimax standar 16e setelah mengikat kerjasama dengan penyedia perangkat Huawei dan ZTE sama sekali tidak benar,” tegas Chief Marketing Officer Sitra Wimax Jerome Teh kepada Koran Jakarta, Senin (13/12).

Diungkapkannya,  hingga  saat ini Sitra  masih fokus melakukan optimalisasi jaringan pada area uji coba gratis  dengan mengevaluasi berbagai masukan  dari  pengguna.

“Menjadi operator 4G wimax pertama tidaklah mudah.  Sitra berkomitmen memberikan kualitas layanan dan produk terbaik pada saat komersial  nanti. Hingga saat ini Sitra masih terus melakukan layanan uji coba gratis ini karena ingin mengantisipasi segala kelemahan yang mungkin muncul dari produk dan layanan 4G Wimax ini,” tegasnya.

Sebelumnya, beredar kabar Sitra sebagai salah satu penyelenggara Broadband Wireless Access (BWA) di Jabodetabek telah bekerjasama dengan Huawei dan ZTE untuk menyediakan perangkat di 120 titik dari BTS yang akan dibangun oleh operator itu.

Direktur Standardisasi Ditjen Postel Azhar Hasyim mengingatkan, walaupun Sitra telah mengantongi sertifikat ULO, tidak tertutup kemungkinan dilakukan pemeriksaan ulang perangkat yang digunakan. “Jika benar menggunakan perangkat dari dua perusahaan asal China itu tentu menjadi pertanyaan karena Postel tidak pernah mengeluarkan Type Approval (TA) untuk mereka (ZTE dan Huawei). Apalagi ketika ULO perangkat yang digunakan keluaran perusahaan lokal,” katanya.

Diingatkannya, operator yang menggunakan perangkat tanpa TA, berarti melanggar aturan karena barang yang masuk ke Indonesia tidak terdaftar. “Ini harus diselidiki lagi dengan mendalam. Seandainya benar ada perangkat tanpa TA bisa masuk ke Indonesia, itu lewat jalur mana? Soalnya sistem impor dengan National Single Windows (NSW) secara jelas melarang barang masuk tanpa sertifikat,” ketusnya. [dni]

141210 Kualitas Layanan Telkomsel Sesuai Standar

JAKARTA—Telkomsel menegaskan kualitas layanannya dalam melayani keluhan pelanggan sudah sesuai standar regulasi, bahkan untuk beberapa hal melebihi parameter yang ditentukan regulator.

“Kualitas layanan dalam melayani pelanggan itu ada Standar Operating Procedure (SOP). Kami sangat menyadari posisi yang diambil dalam melayani pelanggan. Untuk kasus di Grapari Menado pada Senin (6/12) itu semua sudah sesuai SOP yang berlaku di perseroan,” tegas Deputy VP Sekretaris Perusahaan Telkomsel Aulia E. Marinto di Jakarta, akhir pekan lalu.

Sebelumnya, pada Senin (6/12)  seorang pelanggan Telkomsel meninggal di Menado karena mengeluhkan layanan operator tersebut. Disinyalir sempat terjadi adu debat antara pelanggan dan petugas layanan di Grapari Menado sebelum peristiwa naas itu terjadi.

Dijelaskannya, peristiwa tersebut berawal dari keinginan pelanggan mengganti kartu SIM. Namun, karena dokumen data diri tidak lengkap, maka ditolak oleh petugas layanan. Sempat terjadi adu argumen antara pelanggan dan petugas sehingga akhirnya dipanggil petugas keamanan untuk mengamankan situasi.

“Setelah itu supervisor dari Grapari datang dan membawa pelanggan ke ruang yang lebih pribadi agar tidak menganggu kenyamanan pengunjung lainnya. Setelah itu ditawarkan solusi  mengisi keterangan domisili dan diterima oleh pelanggan.  Nah, kala dalam ruangan  dimana pelanggan sedang mengisi form itulah terlihat ada keanehan sehingga akhirnya dibawa ke rumah sakit. Sampai tahap ini kami tidak berani memastikan adanya serangan jantung karena masih dalam penyelidikan kepolisian,” tuturnya.

Aulia menjanjikan, hasil dari penyelidikan kasus ini akan dilaporkan juga ke KemKominfo sebagai penawas teknis dari layanan operator. “Kami terbuka saja untuk setiap masukan dari regulator. KemKominfo tentu berhak tahu peristiwa sebenarnya. Setelah kepolisian selesai menyelidiki akan kita kirimkan surat,” katanya.

Sebelumnya, Juru bicara KemKominfo Gatot S Dewo Broto meminta Telkomsel tidak mengabaikan keluhan pelanggan secara langsung  guna menekan adanya gejolak sosial yang tak puas terhadap  kualitas layanan pelaku usaha.

Menurut Gatot,  jika operator mengikuti aturan dari kualitas layanan, maka hal-hal naas itu bisa dihindari. “Sayangnya kami masih banyak menemui pelanggaran di lapangan. Padahal jika aturan ini diikuti, secara jelas diatur tentang cara penanganan keluhan pelanggan,” katanya.

Ditegaskannya, adanya peristiwa yang menimpa pelanggan Telkomsel itu akan menjadi catatan bagi regulator dalam evaluasi tahunan terhadap kualitas layanan dari operator tersebut. “Denda terhadap pelanggaran kualitas layanan berlaku mulai tahun depan. Tetapi jika kasus yang menimpa pelanggan Telkomsel ini masuk kejadian luar biasa dan ada bukti-bukti kuat secara hukum,  teguran keras bisa saja dilayangkan seusai ada evaluasi darurat,” ketusnya.[dni]

141210 Konsolidasi Flexi-BTEL Untungkan Pelanggan

JAKARTA—Konsolidasi layanan Fixed Wireless Access (FWA) milik PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom), Flexi dengan  PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) sebagai pemilik merek dagang Esia dinilai akan menguntungkan pelanggan karena akan mendapatkan jasa dengan jangkauan yang lebih luas berkat makin lebarnya kanal frekuensi yang dimiliki entitas baru itu.

“Pelanggan tidak akan dirugikan karena adanya konsolidasi itu, justru diuntungkan karena bisa mendapatkan layanan yang lebih beragam. Bagi Telkom sendiri akan bagus karena bisa fokus pada  portofolio  bisnis yang lain,” jelas  Sekjen Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Mas Wigrantoro Roes Setiadi di Jakarta, Senin (13/12).

Disarankannya, agar konsolidasi mulus ada dialog yang intensif antara manajemen Telkom, BTEL, dengan karyawannya agar tidak ada pertentangan secara internal. “Konsolidasi itu tidak mudah karena ada budaya kedua perusahaan yang harus disatukan. Dialog intensif akan menjadi solusi terbaik,” katanya.

Sementara itu, Ketua Umum DPP Serikat Karyawan  Telkom, Wisnu Adhi Wuryanto menolak tegas rencana konsolidasi tersebut karena dinilai berpotensi merugikan negara.  “Ke depannya ada indikasi entitas hasil konsolidasi itu  akan dilepas ke asing seperti investor asal Korea Selatan atau China.  Jika itu terealisasi  ini adalah bentuk penjualan aset negara secara serampangan,” tegasnya.

Diungkapkannya, jika konsolidasi terjadi  negara terancam dirugikan sekitar 9 triliun rupiah, di luar sebagian hutang BTEL yang harus ditanggung nantinya oleh Telkom sebagai salah satu pemilik entitas baru.

“Flexi bisa dikatakan tidak ada hutang . Bahkan unit usaha ini mampu memberikan kontribusi 3 triliun rupiah bagi total pendapatan Telkom. Kekhawatiran keterbatasan frekuensi yang dijadikan alasan manajemen tidak tepat karena teknologi ke depan menuju Long Term Evolution (LTE) dimana operator berbasis CDMA atau GSM bersiap untuk inovasi itu,” katanya.

Diingatkannya, manajemen Telkom harus mengembalikan khitah perseroan sebagai pembangun infrastruktur dan penyedia konektifitas bukan kreator satu usaha yang dibuat untuk dijual.

“Jika mental jajaran direksinya seperti ini, kami menolak orang-orangnya terpilih kembali pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 17 Desember nanti. Direksi terpilih harus membuang jauh-jauh wacana konsolidasi yang merugikan perseroan dan Negara. Jika wacana itu dilanjutkan, kami akan melakukan mogok nasional,” tegasnya.[dni]

141210 Sriwijaya Ingin Kembangkan Rute KTI

JAKARTA–Maskapai penerbangan swasta Sriwijaya Air  mulai tahun depan  akan lebih agresif mengembangkan rute untuk Kawasan Timur Indonesia (KTI) guna memperluas pangsa pasar yang dilayani.

“Tiga rute di Papua yaitu Sorong, Jayapura dan Timika menjadi sasaran utama perseroan untuk menyambung kota-kota di seluruh Indonesia. Diharapkan pada semester I 2011 sudah bisa dilayani tiga kota itu,” ungkap juru bicara Sriwijaya Air Ruth Hanna Simatupang di Jakarta, Senin (13/12).

Diungkapkannya, selama ini  rute-rute untuk KTI yang dilayani perseroan masih terbatas seperti ke.  Ternate, Ambon, Kupang dan kota-kota di Pulau Sulawesi.

“Untuk mendukung ekspansi tersebut, Sriwijaya akan mendatangkan dua unit pesawat lagi yaitu Boeing 737-300 yang dipastikan datang pada bulan ini,” jelasnya.

Dikatakannya,  disasarnya kota-kota di Papua tersebut sebagai salah satu rencana bisnis Sriwijaya karena selama ini daerah itu belum digarap dengan baik.

Menurutnya, banyak maskapai enggan ke wilayah itu Karena kondisi cuacanya yang ekstrim. Namun, di  sisi lain, karena kurangnya layanan, maka permintaannya sangat besar sehingga pemain  pun bisa memberikan layanan dengan harga yang sangat baik.

Selanjutnya diungkapkan,  pada semester II 2011 nanti, kota-kota di Asia juga direncanakan akan diterbangi maskapai tersebut seiring datangnya  dua unit  Boeing 737-800 NG. “Kota-kota di Asia timur dan Australia bakal menjadi sasaran Sriwijaya,” katanya.

Secara terpisah,  Direktur Niaga Sriwijaya, Toto Nursatyo memperkirakan, pada tahun depan bisa mengangkut 9 juta penumpang mengingat iklim bisnis penerbangan saat ini sangat baik.

“Pertumbuhan Sriwijaya tahun ini diyakini melampaui target tersebut, di mana jumlah  penumpang yang diangkut  hingga Desember nanti diperkirakan melampaui 7,2 juta orang. Pada 2009 kami mengangkut. 5,6 juta penumpang. Itu artinya pertumbuhan kami mencapai 30 persen tahun ini,” jelasnya.

Diungkapkannya, dari capaian hingga November lalu, di mana jumlah penumpangnya telah mencapai 6,63 juta. Pada akhir tahun yang biasanya terjadi peak season, maka penumpang bakal meningkat lagi. Perkiraannya, pada Desember ini Sriwijaya bakal menambah sekitar 600 ribu penumpang.

Hingga akhir tahun 2010, Sriwijaya mengoperasikan sebanyak 27 unit pesawat, yaitu Boeing 737 seri 200, 300, 400 dan 500.[Dni]