021210 Garuda Telah Angkut sebanyak 37.790 Jemaah dari Tanah Suci

JAKARTA–Maskapai penerbangan nasional, Garuda Indonesia,  telah memulangkan  sebanyak 37.790 jemaah haji dalam 98 kloter hingga Rabu (1/12).

“Ketepatan penerbangan keberangkatan jemaah haji ke Tanah Suci yang dilaksanakan Garuda untuk  phase I  alias keberangkatan mencapai 92 persen,” ungkap Direktur Operasi Garuda Ari Sapari di Jakarta, Rabu (1/12).

Namun, diakuinya,  mengingat permasalahan klasik yaitu terbatasnya pintu keberangkatan (departure gate) di bandara King Abdul Aziz – Jeddah yang hanya berjumlah sekitar 14 gates, sementara seluruh jemaah haji dari seluruh dunia yang mencapai sekitar 2,5 juta orang, akan segera kembali dalam waktu bersamaan ke negara masing – masing, maka hal ini mengakibatkan terjadinya keterlambatan – keterlambatan yang dialami oleh seluruh maskapai penerbangan dari berbagai negara termasuk Garuda Indonesia pada phase pemulangan jemaah saat ini.

Dijelaskannya, pada phase pemulangan, setiap hari terdapat sekitar 300 pergerakan pesawat  yaitu pesawat yang tiba dan akan berangkat dari bandara King Abdul Aziz, sementara gate yang tersedia hanya 14 buah. Akibat ketidaksesuaian antara jumlah pesawat yang datang dan akan berangkat dengan jumlah gate yang tersedia tersebut, maka dalam periode satu hingga dua minggu pada phase pemulangan selalu terjadi keterlambatan – keterlambatan.

Selain permasalahan jumlah gate yang terbatas, keterlambatan yang terjadi juga akibat ketatnya proses pemeriksaan yang dilakukan oleh petugas bandara King Abdul Aziz kepada para jemaah yang akan kembali ke Tanah Air, sehingga proses dari masuk gate hingga naik ke pesawat memerlukan waktu yang sangat lama, yaitu sekitar 6 – 10 jam.

Selain itu juga kurangnya disiplin jemaah yang masih membawa benda-benda logam yang seharusnya tidak boleh dibawa ke pesawat seperti gunting, pisau cukur, sendok, dan lain sebagainya sehingga hal ini menghambat proses security check pada saat boarding.

Sementara ”ground time” (waktu yang disediakan untuk pesawat melakukan persiapan keberangkatan) hanya dua jam, sehingga penerbangan akan mengalami keterlambatan yang berantai dan jumlah waktu keterlambatan juga meningkat untuk penerbangan – penerbangan selanjutnya.

Keterlambatan yang terjadi – seperti pada pemulangan haji tahun tahun sebelumnya – akan dapat berkurang setelah para jemaah haji dari negara – negara yang jemaah hajinya relatif kecil (seperti dari negara – negara Eropa, Australia, dll) telah selesai, sehingga gate yang tersedia akan lebih memungkinkan untuk dipergunakan.

“Hal tersebut biasanya akan dapat dicapai setelah 10 hingga 14 hari phase pemulangan,” katanya.

Menurutnya, walau sudah diberikan dedicated Gates oleh bandara King Abdul Aziz, namun belum mampu menekan keterlambatan karena maskapainya tidak mengelola secara langsung. “Gates itu dikelola oleh Port Project Management Development Company (PPMDC) alias perusahaan ketiga, kami saja untuk mendapatkan pass masuk susah,” katanya.

Diharapkannya ke depan pemerintah mengusahakan gates dedicated untuk Garuda secara permanen agar keterlambatan dapat ditekan. “Masalah ada evaluasi untuk Garuda terkait keterlambatan pemulangan kami tidak ada masalah. Kita hanya minta obyektif saja penilaiannya,” katanya.[Dni]

021210 Pelanggan Axis Tumbuh 33,3%

JAKARTA—PT Natrindo Telepon Selular (NTS) berhasil memiliki delapan juta pelanggan atau tumbuh 33.3 persen dari posisi awal tahun sebanyak 6 juta penguna.

“Masyarakat semakin percaya dengan merek Axis. Hal itu terbukti dari terus tumbuhnya pelanggan Axis. Ini bukti Axis mampu memberikan penawaran yang disukai masyarakat,” ungkap Head of Corporate Communication Axis, Anita Avianty di Jakarta, Rabu (1/12).

Dijelaskannya, saat ini Axis sudah emmiliki 4.600 BTS dengan menjangkau 164 juta orang di seluruh Indonesia dan hadir di 400 kota. “Kami akan terus meningkatkan penetrasi dan membuka segmen baru untuk dilayani,” katanya.

Salah satu segmen yang rajin digarap adalah pengguna BlackBerry dengan  berencana mengeluarkan handset terbaru Blackberry 9780 atau onyx 2 akhir Desember 2010.

“Kami baru dapat barang testing, bulan depan akan kami luncurkan,” katanya.

Untuk diketahui, Blackberry Onyx 2 ini memiliki spesifikasi sedikit berbeda dengan generasi sebelumnya, Onyx 1 (9700). Fitur yang dimiliki diantaranya, kamera 5 Megapixels,  dan didukung kemampuan baterai Li-Ion 1150 mAh. Sedangkan  kapasitas memory, Onyx 2 mengusung Internal Memory: 256 MB, 512 MB RAM dan bisa dilengkapi External Memory sebesar 16 GB.

Diungkapkannya,  harga onyx 2  berada  di atas Onyx 1 dan di bawah Blackberry Torch yang juga baru diluncurkan Axis.  Seri Torch dibanderol Axis  dengan harga 5.999 juta rupiah  dengan memberikan paket enam bulan gratis layanan BlackBerry Unlimited Axis cukup dengan membayar untuk tiga bulan, gratis 1 tahun.

“Kami juga  akan mengeluarkan paket kartu perdana MicroSim yang dapat digunakan untuk gadget seperti iPad. Semua ini karena kami sadar layanan data sedang diminati oleh masyarakat,” katanya.

Sementara untuk menjaga kesetiaan pelanggan, Axis baru saja menyelesaikan program “Hadiah Berlimpah Isi Ulang”  dengan hadiah utama satu unit mobil Toyota Yaris. Program ini diikuti  300.000 pelanggan yang memperebutkan hadiah utama satu unit mobil sedan.

“Program ini juga efektif meningkatkan volume isi ulang dari pelanggan. Biasanya sebulan mengisi 50 ribu rupiah bisa naik menjadi 150 ribu rupiah,” katanya.[dni]

021210 Indonesia Makin Lama Nikmati Wimax

JAKARTA—Indonesia diyakini akan semakin lama menikmati hadirnya teknologi Worldwide interoperability for  Microwave Access (Wimax) walaupun sudah ada 8 operator yang telah memenangkan tender Broadband Wireless Access (BWA) dua tahun lalu.

“Wacana menghadirkan teknologi netral di  sisa  frekuensi 2,3 GHz itu bukan solusi terbaik jika 8 operator yang menjadi pemenang dua tahun lalu tidak diperlakukan sama,” jelas Pengamat Telematika Soemitro Rustam di Jakarta, Rabu (1/12).

Menurutnya,  8 operator harus diperbolehkan menggunakan teknologi netral karena saat ini pasar sudah siap untuk kehadiran Wimax. “Jika diperbolehkan menggunakan teknologi netral, tentu akan digunakan untuk wimax 16e dimana ekosistemnya sudah maju. Nanti, wimax 16e ini akan berdampingan dengan 3G sehingga tidak saling mematikan dalam menyediakan broadband,” katanya.

Dikatakannya, saat ini di Indonesia  wireless masih menjadi andalan untuk akses broadband dan teknologi 3G sangat dominan. “Masalahnya di 3G sendiri mulai kelebihan kapasitas dan susah melayani permintaan pelanggan. Hadirnya teknologi pendampaing seperti Wimax itu sangat dibutuhkan,” jelasnya.

Chief Marketing Officer Sitra Wimax Jerome Teh  memperkirakan, jika pemerintah akan melakukan lelang untuk sisa frekuensi di 2,3GHz akan  membutuhkan waktu sekitar dua tahun untuk merealisasikan lelang. “Padahal, jika dibuka standar wimax 16e bagi pemenang seperti Sitra Wimax, bisa lebih cepat mendorong penetrasi broadband. Lihat saja Malaysia yang dua tahun lalu penetrasi broadband baru 21 perse, sekarang n berubah menjadi 50 persen berkat Wimax,” katanya.

Selain Sitra Wimax, IM2 dan Telkom yang juga menjadi pemenang tender di 2,3GHz dua tahun lalu juga meminta diperbolehkan menjalankan wimax 16e di pita frekuensi yang dimenangkannya.

Untuk diketahui, di frekuensi 2,3 GHz  tengah terjadi tarik menarik standar antara pemegang lisensi Broadband Wireless Access (BWA) yang telah mendapatkan alokasi pita sebesar 30 MHz dengan pemerintah. Para pemenang mendesak pemerintah merevisi surat Keputusan Dirjen Postel No. 94, 95, dan 96/2008 mengenai batasan kanalisasi (Channel Bandwitdh).

Regulasi itu mengatur pembatasan channel bandwitdh sebesar 3,5 MHz dan 7 MHz yang dalam istilah teknis mengacu pada standar  Worldwide interoperability for  Microwave Access (Wimax) IEEE 802.16d-2004  (16 d) untuk Fixed atau Nomadic Wimax.

Pemenang  meminta direvisi menjadi 5 MHz dan 10 MHz yang identik dengan IEEE 802.16e-2005 (16 e). Dampak dari tarik menarik ini tidak ada satupun hingga sekarang dari 8 pemenang yang menggelar layanan komersial.

Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) sendiri tengah  membentuk tim adhoc untuk menyelesaikan kisruh pilihan  standarisasi di frekuensi 2,3 GHz. Tim adhoc ditugaskan untuk mengevaluasi penggunaan sisa pita yang tersedia sebanyak 60 MHz untuk penggunaan teknologi netral kala dilakukan lelang tahun depan. Pemilihan teknologi netral berarti pemberian izin tidak dikaitkan dengan satu inovasi, industri memiliki hak untuk memilih.[dni]

021210 BTEL Belum Layak Dapat Lisensi Selular

JAKARTA—PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) dianggap belum layak mendapatkan lisensi selular karena masih banyak kewajiban yang belum dipenuhi terkait izin lama yang dikantonginya.

“BTEL mengantongi izin Fixed Wireless Access (FWA), Sambungan Langsung Internasional (SLI), dan  Sambungan Langsung Jarak Jauh (SLJJ). Untuk dua lisensi itu ada beberapa kewajiban yang belum dipenuhi. Harusnya, diselesaikan dulu hutangnya baru dipertimbangkan diberikan  lisensi lainya,” tegas Direktur Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Informasi (LPPMI) Kamilov Sagala di Jakarta, Rabu (1/12).

Diungkapkannya, untuk SLI BTEL harus bisa mengklarifikasi kepastian pembangunan Sentra Gerbang Internasional (SGI) Kupang-Darwin yang menjadi penentu dimenangkan kala tender dilakukan beberapa tahun lalu. Belum lagi untuk SGI di Batam-Singapura terkait kerjasama dengan Moratel yakni penyewaan atau pembelian core.

Sedangkan untuk SLJJ, hingga saat ini BTEL belum ada rencana mengajukan Uji Laik Operasi (ULO) padahal izin prinsip telah diberikan sejak dua tahun lalu. “Rasanya tidak elok jika masalah-masalh itu belum diselesaikan, malah mengajukan permintaan lisensi selular. Ini kan seperti anak kecil yang minta mainan. Melihat ada yang lebih bagus, mainan lama ditinggal,” ketusnya.

Kamilov pun menyayangkan sikap yang diambil oleh Ditjen Postel dan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) dimana merespons permintaan BTEL  ketimbang pemain lain. “XL dan Axis mengajukan lisensi SLI sejak tahun lalu tidak ada kedengaran progresnya. BTEL mengajukan Mei lalu, sekarang sudah dalam tahap persiapan membuat modern lisensi. Ini namanya ada perbedaan perlakuan,” tegasnya.

Disarankannya, untuk memberikan transparansi bagi masyarakat dan menghindari tudingan adanya obral lisensi, maka regulator harus menerapkan sistem seleksi dalam pemberian izin selular kepada BTEL ketimbang evaluasi.

Apalagi jika mengacu pada PM No 1/2010 yang mengatakan evaluasi diberikan jika pemain sudah memiliki kode akses jaringan dan frekuensi. Sementara BTEL sendiri belum memiliki kode akses jaringan sesuai  Fundamental Technical Plan (FTP).  Untuk diketahui, menurut FTP  penomoran terdapat  nomor pelanggan, kode akses, kode wilayah, dan kode akses jaringan.

Kamilov menduga, ngototnya BTEL mendapatkan lisensi selular karena ingin meningkatkan nilai perusahaan dan menepis dugaan monopoli di FWA jika konsolidasi terjadi dengan Telkom Flexi.

“BTEL terus mengejar ketertinggalan dari Flexi dengan membentuk  anak usaha PT Bakrie Connectivity (Bconnect) yang bermain di jasa data.  Saat ini nilai nilai kapitalisasi pasar BTEL  mencapai  6,693 triliun rupiah. Jika lisensi selular didapat itu akan  melampaui Flexi yang ditaksir hanya senilai 7 triliun rupiah,” katanya.

Sebelumnya, PLT Dirjen Postel/Ketua Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Muhammad Budi Setyawan mengungkapkan, belum ada keputusan di lembaganya terkait lisensi seluler milik BTEL. “Masih telaah teknis dan legal,” ungkapnya.

Namun, Anggota Komite BRTI M. Ridwan Effendi mengakui, sedang ada pembahasan tentang kewajiban BTEL jika mendapatkan izin selular di sebuah hotel mewah di kawasan Ancol. “Salah satunya membahas tentang hal itu, selain isu strategis lainnya,” katanya.[dni]

021210 Membangun Citra Melalui Dunia Maya

Tingginya penetrasi ponsel di Indonesia ternyata banyak membawa hikmah bagi mereka yang pintar memanfaatkan peluang.

Simak saja polah salah satu kandidat ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) DKI Jakarta, Iqbal Farabi dengan laman http://www.iqbalfarabi.com yang baru dibuatnya akhir Oktober lalu.

“Sejak hadirnya situs ini, posisi saya yang sebelumnya nomor buncit dalam ajang perebutan menujuk kursi HPMI Jaya naik menjadi posisi nomor dua. Internet itu ibarat pisau bermata dua. Jika pintar menggunakannya, akan menjadi alat yang membantu mencapai tujuan,” jelasnya di Jakarta, belum lama ini.

Situs yang dibuat untuk menjalin komunikasi dengan para simpatisan itu  dalam sehari dikunjungi  sekitar 1.500 orang. Bahkan beberapa hari lalu pernah mencapai 15 ribu pengunjung.  “Padahal untuk menjadi ketua umum hanya mebutuhkan suara sekitar 1.200. Jika pengunjung situs ini memiliki komitmen mendukung, langkah untuk menjadi ketua tentu lebih ringan,” katanya.

Dijelaskannya, pembuatan  situs untuk bersosialisasi hanya salah satu contoh bagaimana value gap dalam memanfaatkan internet bisa ditekan.  “Pemerintah harus terus mensosialisasikan  perlunya ditekan  kesenjangan nilai (Value Gap) dari penggunaan internet sebagai alat konsumtif menjadi sumber informasi.  Saat ini penterasi internet di Indonesia sudah mulai tinggi. Jika akses dengan ponsel dimasukkan,jumlahnya bisa mencapai 45 juta pengguna. Sayangnya, value gap masih tinggi sehingga ini bisa menimbulkan perilaku konsumtif,” jelasnya.

Dikatakannya, jika masyarakat bisa diedukasi tentang manfaat lain dari internet seperti mendorong hadirnya e-health, e-education, dan lainnya, barulah bisa diwujudkan teori penetrasi  broadband bisa mendorong perekonomian.

“Situs jejaring sosial pun sebenarnya bisa dijadikan alat untuk meningkatkan perekonomian. Banyak yang berdagang atau menyosialisasikan program melalui media ini, seperti saya.  Intinya, internet jangan disederhanakan kepada masalah masuk ke dunia maya saja,” tegasnya.

Diharapkannya, semakin giatnya pemerintah menekan  kesenjangan akses dengan mendorong operator membangun jaringan, tidak melupakan  tersedianya  perangkat dengan harga murah sehingga membuat masyarakat semakin banyak mengakses internet.

“Nah, kalau perangkat makin murah tentunya akses internet bisa menembus hingga segmen bawah. Baiknya value gap ditekan bersamaan dengan kehadiran perangkat murah,” katanya.

Sementara Praktisi telematika Andy Zain menyarankan, jika ingin mengoptimalkan pengaruh internet, maka sang kreator harus  bisa muncul dengan cita rasa lokal sebagai cara untuk mendekatkan diri kepada komunitas. “Dunia internet ini memang lebih dekat pada komunitas. Membangun merek di dunia ini susah-susah gampang. Orang mau mengakses satu situs karena ada manfaat baginya, itu harus diingat,” katanya.

Sedangkan  Praktisi Komunikasi Djaka Winarso menilai pemanfaatan dunia maya bagi  sosok publik untuk mengangkat citra diri harus berhati-hati karena bisa menjadi  bumerang jika implementasi tidak sesuai dengan roh dari komunitas internet.

“Kala Pemilu tahun lalu banyak politisi bermain-main di dunia maya, tetapi itu sekadar narsis saja karena tidak paham cara berkomunikasi dengan komunitas. Akhirnya malah menjadi bumerang dimana tokoh tersebut diadili secara online oleh komunitas internet,” tegasnya.

Menurutnya, dunia internet memiliki keunikan dan etika sendiri sehingga bagi pihak-pihak yang ingin memanfaatkan media online untuk membangun citra diri harus berhati-hati.” Pengguna internet lebih kritis dan tidak bisa dibodohi. Jika satu situs hanya sekadar hadir dan tidak dikelola  dengan baik, dijamin akan ditinggalkan oleh pengunjungnya,” tegasnya.[dni]

021210 Mengoptimalkan Penetrasi Perangkat Bergerak

Kehadiran perangkat bergerak sebagai alat komunikasi bagi masyarakat tak bisa dibantahkan lagi sebagai kebutuhan utama. Saat ini secara global diperkirakan penetrasi ponsel telah mencapai 70 persen dari populasi dunia alias sebanyak 5 miliar unit. Dalam kurun waktu 10 tahun mendatang, diperkirakan angka penetrasi mencapai 100 persen.

Di Indonesia, diperkirakan ada 197 juta pengguna ponsel dimana setiap tahunnya terjual 45 juta unit. Diperkirakan 20 hingga 40 persen pengguna ponsel itu aktif mengakses internet.

“Tingginya penetrasi ponsel telah mengubah pola berkomunikasi masyarakat dan memunculkan banyak peluang untuk berusaha,” ungkap CEO Numedia Global Andy Zain di Jakarta, belum lama ini.

Dijelaskannya, mulai dominannya smartphone membuat munculnya banyak aplikasi untuk digarap mulai dari membentuk toko aplikasi hingga bermain di tingkat pembuat konten. Sementara dari sisi pengguna juga membuat lebih banyak berinterkasi misalanya dalam jejaring sosial, commerce, atau perbankan.

“Kalau belajar dari Korea Selatan, pemain yang memanfaatkan peluang itu justru kelasnya individu atau Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Itu hampir 66 persen. Di Indoensia rasanya tak jauh beda. Sedangkan  untuk Indoensia jika bicara transaksi melalui ponsel, aplikasi yang paling akan diminati nantinya adalah remitansi alias pengiriman uang ,” jelasnya.

Belum Tergarap
Direktur Roy Morgan Indonesia Irawati Soekirman mengungkapkan, sedikitnya ada  14 miliar rupiah  potensi dari aplikasi mobile yang belum tergarap di kota-kota besar di Indonesia. Angka ini bakal bertambah mengingat penetrasi ponsel yang demikian pesat saat ini.

Berdasarkan riset yang dilakukan lembaganya,  dari  30,5 juta orang yang tinggal di kota besar,  baru sekitar 16,5 juta orang yang mengakses aplikasi mobile. Sedangkan sebanyak 5,5 juta orang yang belum mengakses aplikasi mobile tapi mengaku akan segera menggunakan aplikasi mobile dalam waktu dekat. Sisanya, 8,5 juta orang tidak tertarik menggunakan aplikasi ini.

Survei tersebut juga menyatakan sebanyak  60 persen mengaku bersedia membayar harga aplikasi dengan biaya 1.000- 5.000 rupiah  per download aplikasi. Sebanyak 38 persen memilih membayar dengan skema tarif paket, dengan kisaran  10.000-30.000 rupiah  per paket.

“Sebagian besar pengguna aplikasi mobile adalah pelajar dan pekerja muda dengan usia di bawah 24 tahun. Jenis aplikasi yang paling banyak diakses oleh seluruh pengguna aplikasi mobile adalah musik dan games, selain sosial network. Pasar yang belum tergarap dengan baik adalah usia di atas 24 tahun. Ini cukup dominan yakni 57,4 persen,” katanya.

Sachet
Kepala Pemasaran Vas Indosat  Teguh Prasetya  mengakui masih rendahnya penjualan aplikasi di Indonesia karena awareness masih belum merata dan regulasi tidak mendukung.

“Penjualan aplikasi secara mobile commerce masih rendah di Indonesia. Banyak kendala seperti pola pembayaran. Indonesia belum membolehkan pulsa menjadi pengganti uang, semoga regulasi perbankan nanti mengakomodasi hal ini,” jelasnya.

Menurutnya,  dalam penjualan aplikasi salah satu  trend baru  menggunakan operator billing membeli virtual good. “Jadi, itu dimasukkan dalam pulsa dan langsung terpotong. Pelanggan suka hal seperti itu karena tidak membuat repot. Sedangkan harganya harus dibawah lima ribu rupiah karena psikologi harga masyarakat itu suka dengan nilai sachet alias rendah,” jelasnya.

Division Head Mobile Commerce  Indosat Indra Lestiadi memperkirakan, transaksi komersial memanfaatkan perangkat bergerak (mobile commerce) akan booming di Indonesia dalam waktu empat tahun  mendatang.

“Potensi  transaksi jual-beli dan pembayaran melalui ponsel  sangat besar  Saya yakin pada 2014 akan ada perubahan yang luar biasa untuk m-commerce  Saat ini pengguna mobile commerce  baru 20 juta pelanggan, nanti akan membengkak seiring semua transaksi menggunakan perangkat ini,” jelasnya.

VP Digital Music and Content Management Telkomsel Krish Pribadi memperkirakan aplikasi berkaitan dengan gaya hidup akan banyak diminati oleh pelanggan.

“Kendalanya di Indonesia masalah sistem distribusi dan pembayaran.  Inilah alas an Telkomsel menawarkan T-Cash sebagai mobile money. Jadi, semuanya bisa satu pintu mulai dari aplikasinya hingga metode pembayaran,” katanya.

Direktur Komersial XL Axiata Joy Wahjudi mengatakan, jika Indonesia menginginkan adanya volume yang tinggi dalam transaksi melalui perangkat bergerak maka kepercayaan  terhadap  sistem harus  di bangun dulu. “Masalahnya di Indonesia  saluran distribusi perbankan sudah sangat maju sehingga membuat pelangan menjadikan mobile commerce hanya sebagai aksesori bukan kebutuhan utama,” katanya.

Diungkapkannya, XL sendiri sedang mencari  aplikasi-aplikasi  tertentu yang relevan untuk konsumen dan belum menjadi fokusnya sektor  perbankan. “Kami tidak mau main di pasar yang sama. Inilah alasannya walau sudah mendapat izin untuk bermain di remittance, tetapi diskusi bentuk penawarannya alot sekali di internal,” jelasnya.

Group Head of Product & Device Management Mobile-8 Telcom Sukaca Purwokardjono mengakui, penetrasi yang tinggi dari ponsel harus dimaksimalkan tidak hanya untuk komunikasi dasar seperti suara dan SMS, tetapi menjadikan alat ini sebagai pendukung aktifitas sehari-hari. “Tingakt penetrasi yang tinggi tentu menjangkau segmen yang tidak bisa dilayani oleh sektor lainnya, Disinilah keunggulan ponsel yang memiliki beragam aplikasi,” jelasnya.

Diungkapkannya, saat ini perseroan  sedang mengembangkan M.Shop sebagai tempat transaksi jual beli aplikasi. Selain menggarap mobile commerce dengan menggandeng Bank Sinar Mas.

Sementara Wakil Direktur Utama Bidang Pemasaran Bakrie Telecom Erik Meijer mengungkapkan, untuk mobile commerce yang paling diminati oleh pelanggan adalah  layanan berkaitan dengan ponsel  dan mobile banking. “Tidak jauh dari jual beli wall paper dan ringtone. Selain tentunya transfer dana,” katanya.

“Saya rasa butuh  kerjasama yang erat dengan industri perbankan untuk menaikkan mobile commerce. Selain itu pelanggan harus lebih dipermudah lagi untuk melakukan transaksi. Kalau bisa aplikasinya sudah ditanam di dalam ponsel,” katanya.[dni]