251110 Menanti dukungan Bagi Ekosistem Manufaktur TI

YTL Communications akhirnya merilis layanan  Worldwide Interoperablity for Microwave Access (WiMAX ) dengan merek dagang Yes di Malaysia pekan lalu. Yes menjadi  produk  WiMAX keempat di negeri itu dengan standar 16.e.

Situs Celullar News mengungkapkan YTL akan  membenamkan dana sebesar 850 juta dollar AS untuk membangun jaringan WiMAX. Yes menawarkan layanan teknologi yang tidak hanya menghantarkan data, tetapi juga kemampuan suara dengan Voice Over Internet Protocol (VoIP) yang memiliki interkoneksi dengan pemain lama.

Di Malaysia sendiri terdapat tiga  pemain WiMAX lainnya yang telah hadir lebih dulu  yakni Asia Space sdn bhd,  Redtone sdn bhd, dan Packetone Networks sdn bhd (P1). P1 menjangku 40 persen wilayah Malaysia dan telah memiliki 196 ribu pelanggan.

Jika dilihat secara sekilas, Malaysia dan Indonesia hampir mirip dalam pengembangan teknologi WiMax, baik  untuk pembagian zona layanan atau pilihan frekuensi.  Bedanya,  Indonesia memilih standar  WiMAX  16 d atau  nomadic dan tidak diperbolehkan untuk suara. Sementara di Malaysia pilihan standar adalah 16 e dan jasa suara bisa dijual oleh operator.

Lantas kenapa di Indonesia hingga sekarang belum ada tanda-tanda peluncuran secara komersial teknologi tersebut setelah dua tahun lisensi di berikan kepada 8 operator?

Jawabannya adalah belum dibangunnya ekosistem manufaktur secara konsisten oleh pemerintah sehingga  yang terjadi adalah tarik menarik antara kepentingan bisnis dan idealisme. Hal itu bisa terlihat dari keinginan  operator  agar  diterapkan standar 16 e  guna memberi jalan bagi  vendor global dan  kemudahan menggaet pemodal asing.

Padahal,  pemerintah memilih  standar 16 d karena  menginginkan majunya manufaktur lokal dalam pengembangan teknologi WiMAX. Hal itu terlihat dari adanya kewajiban  kandungan lokal (TKDN) minimal 30 persen  untuk subscriber station (SS) dan 40 persen untuk base station (BS).  Standar ini juga bagian dari strategi  entry barrier masuknya produk asing ke dalam negeri.

Disiplin Implementasi
Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono mengungkapkan, sebenarnya konsep pengembangan teknologi WiMAX di Indonesia sudah bagus, hanya tidak disiplin dalam implementasi.

“Pemerintah  ingin memajukan manufaktur lokal, tetapi tidak melihat  kenyataan.  Harusnya dibangun sinergi antara operator, manufaktur, dan pemerintah sehingga tidak ada tarik menarik seperti belakangan ini,” katanya.

Dijelaskannya, perbedaan nyata antara Malaysia dan Indonesia dalam mengembangkan masyarakat berbasis broadband pada  perencanaan yang jelas dan adanya dukungan dari pemimpin tertingginya.

“Malaysia mengembangkan roadmap broadband tidak bergeser dari rencana yang telah ditetapkan. Hasilnya penterasi broadband mencapai 53,5 persen dari total populasi. Semua ini  karena pemimpin negara menyatakan Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) sebagai salah satu penggerak ekonomi. Di Indonesia dukungan pemimpin itu sebatas wacana,” keluhnya.

Perbedaan lain terletak pada komitmen mendukung industri dengan membentuk lembaga penelitian yang memiliki  format perseroan yakni Mimos. “Mimos itu sebenarnya sama saja dengan Pusat Pengembangan Informasi Teknologi (Puspitek) di Serpong. Bedanya cara pengelolaannya tidak bermental birokrat tetapi ala pengusaha. Dampaknya, orang pintar Malaysia yang di luar negeri balik kampung karena dihargai di negeri sendiri dengan pembayaran hak kekayaan intelektual yang jelas,” ketusnya.

Pengamat telematika Suhono Harso Supangkat mengatakan, sebenarnya regulasi yang dibuat oleh  Postel dua tahun lalu dengan memaksa adanya kandungan lokal sudah bagus. “Masalahnya  niat dari masing-masing pemain beda-beda. Jadinya, semua mengambang saja,” katanya.

Menurutnya, kelemahan membangun ekosistem manufaktur di Indonesia karena  proses monitoring dan cara mengajaknya tidak dilakukan dengan baik. “Konsep Mimos di Malaysia adalah membuat sesuatu yang bisa mendorong industri berjalan. Nah, di Indonesia manufaktur melakukan penelitian sendiri, sementara peneliti pemerintah malah lebih banyak menghasilkan sesuatu yang tidak marketable.  Padahal investasi yang besar untuk manufaktur itu adalah di penelitian. Harusnya pemerintah memfasilitasi ini,” katanya.

Pengamat telekomunikasi Johnny Swandi Sjam mengingatkan, pemerintah harus mulai menata ekosistem manufaktur lokal karena bisa menghemat devisa dan menyerap tenaga kerja. “Saat ini kebutuhan TIK itu 90 persen masih diimpor, belum lagi investasi di  R&D lumayan tinggi. Jika memang ingin  meretas ekosistem melalui WiMAX, tunjukkan dukungan dari hulu ke hilir. Misalnya, berinvestasi dengan membuat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) penelitian  yang terintegrasi oleh pemerintah,” tegasnya.

Koordinator ICT dan R&D Badan Pengembangan dan Penerapan Teknologi (BPPT) M. Mustafa Sarinanto mengatakan,  Indonesia seharusnya bisa lebih maju dari Malaysia dalam pengembangan TIK karena sudah memiliki lebih dulu semua konsep yang dijalankan negeri jiran itu.

“Memang, untuk  beberapa laboratorium yang dmiliki masih berserakan di berbagai tempat. Jika ingin mengintegrasikan harus ada reformasi birokrasi dulu. Padahal jika lembaga seperti Mimos kita miliki bisa menghemat investasi manufaktur sebesar 20-30 persen,” katanya.

Sementara Direktur Utama  Xirka Silicon Technology (Xirka) Sylvia W Sumarlin mengakui, swasta tidak akan sanggup untuk berinvestasi besar membangun lembaga penelitian karena teknologi terus berubah. “Swasta itu bisanya menggandeng pemerintah. Pemerintahlah yang harus berinvestasi mendukung pengembangan produk lokal. Ini baru namanya ekosistem yang sehat terjadi,” katanya.

Selain itu, lanjutnya, pemerintah harus mengambil sikap realistis dalam penetapan satu teknologi. “Tidak bisa dipatok harus menggunakan satu standar padahal teknologi itu dinamis. Pemilihan standar 16d itu membuat Indonesia terbelenggu. Harusnya yang dibuat itu adalah keharusan adanya aplikasi lokal yang digunakan sehingga perangkat apapun yang masuk akan tetap menggandeng anak negeri untuk pengembangan aplikasi,” jelasnya.[dni]

Menanti dukungan Bagi  Ekosistem Manufaktur TI

YTL Communications akhirnya merilis layanan  Worldwide Interoperablity for Microwave Access (WiMAX ) dengan merek dagang Yes di Malaysia pekan lalu. Yes menjadi  produk  WiMAX keempat di negeri itu dengan standar 16.e.

Situs Celullar News mengungkapkan YTL akan  membenamkan dana sebesar 850 juta dollar AS untuk membangun jaringan WiMAX. Yes menawarkan layanan teknologi yang tidak hanya menghantarkan data, tetapi juga kemampuan suara dengan Voice Over Internet Protocol (VoIP) yang memiliki interkoneksi dengan pemain lama.

Di Malaysia sendiri terdapat tiga  pemain WiMAX lainnya yang telah hadir lebih dulu  yakni Asia Space sdn bhd,  Redtone sdn bhd, dan Packetone Networks sdn bhd (P1). P1 menjangku 40 persen wilayah Malaysia dan telah memiliki 196 ribu pelanggan.

Jika dilihat secara sekilas, Malaysia dan Indonesia hampir mirip dalam pengembangan teknologi WiMax, baik  untuk pembagian zona layanan atau pilihan frekuensi.  Bedanya,  Indonesia memilih standar  WiMAX  16 d atau  nomadic dan tidak diperbolehkan untuk suara. Sementara di Malaysia pilihan standar adalah 16 e dan jasa suara bisa dijual oleh operator.

Lantas kenapa di Indonesia hingga sekarang belum ada tanda-tanda peluncuran secara komersial teknologi tersebut setelah dua tahun lisensi di berikan kepada 8 operator?

Jawabannya adalah belum dibangunnya ekosistem manufaktur secara konsisten oleh pemerintah sehingga  yang terjadi adalah tarik menarik antara kepentingan bisnis dan idealisme. Hal itu bisa terlihat dari keinginan  operator  agar  diterapkan standar 16 e  guna memberi jalan bagi  vendor global dan  kemudahan menggaet pemodal asing.

Padahal,  pemerintah memilih  standar 16 d karena  menginginkan majunya manufaktur lokal dalam pengembangan teknologi WiMAX. Hal itu terlihat dari adanya kewajiban  kandungan lokal (TKDN) minimal 30 persen  untuk subscriber station (SS) dan 40 persen untuk base station (BS).  Standar ini juga bagian dari strategi  entry barrier masuknya produk asing ke dalam negeri.

Disiplin Implementasi
Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono mengungkapkan, sebenarnya konsep pengembangan teknologi WiMAX di Indonesia sudah bagus, hanya tidak disiplin dalam implementasi.

“Pemerintah  ingin memajukan manufaktur lokal, tetapi tidak melihat  kenyataan.  Harusnya dibangun sinergi antara operator, manufaktur, dan pemerintah sehingga tidak ada tarik menarik seperti belakangan ini,” katanya.

Dijelaskannya, perbedaan nyata antara Malaysia dan Indonesia dalam mengembangkan masyarakat berbasis broadband pada  perencanaan yang jelas dan adanya dukungan dari pemimpin tertingginya.

“Malaysia mengembangkan roadmap broadband tidak bergeser dari rencana yang telah ditetapkan. Hasilnya penterasi broadband mencapai 53,5 persen dari total populasi. Semua ini  karena pemimpin negara menyatakan Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) sebagai salah satu penggerak ekonomi. Di Indonesia dukungan pemimpin itu sebatas wacana,” keluhnya.

Perbedaan lain terletak pada komitmen mendukung industri dengan membentuk lembaga penelitian yang memiliki  format perseroan yakni Mimos. “Mimos itu sebenarnya sama saja dengan Pusat Pengembangan Informasi Teknologi (Puspitek) di Serpong. Bedanya cara pengelolaannya tidak bermental birokrat tetapi ala pengusaha. Dampaknya, orang pintar Malaysia yang di luar negeri balik kampung karena dihargai di negeri sendiri dengan pembayaran hak kekayaan intelektual yang jelas,” ketusnya.

Pengamat telematika Suhono Harso Supangkat mengatakan, sebenarnya regulasi yang dibuat oleh  Postel dua tahun lalu dengan memaksa adanya kandungan lokal sudah bagus. “Masalahnya  niat dari masing-masing pemain beda-beda. Jadinya, semua mengambang saja,” katanya.

Menurutnya, kelemahan membangun ekosistem manufaktur di Indonesia karena  proses monitoring dan cara mengajaknya tidak dilakukan dengan baik. “Konsep Mimos di Malaysia adalah membuat sesuatu yang bisa mendorong industri berjalan. Nah, di Indonesia manufaktur melakukan penelitian sendiri, sementara peneliti pemerintah malah lebih banyak menghasilkan sesuatu yang tidak marketable.  Padahal investasi yang besar untuk manufaktur itu adalah di penelitian. Harusnya pemerintah memfasilitasi ini,” katanya.

Pengamat telekomunikasi Johnny Swandi Sjam mengingatkan, pemerintah harus mulai menata ekosistem manufaktur lokal karena bisa menghemat devisa dan menyerap tenaga kerja. “Saat ini kebutuhan TIK itu 90 persen masih diimpor, belum lagi investasi di  R&D lumayan tinggi. Jika memang ingin  meretas ekosistem melalui WiMAX, tunjukkan dukungan dari hulu ke hilir. Misalnya, berinvestasi dengan membuat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) penelitian  yang terintegrasi oleh pemerintah,” tegasnya.

Koordinator ICT dan R&D Badan Pengembangan dan Penerapan Teknologi (BPPT) M. Mustafa Sarinanto mengatakan,  Indonesia seharusnya bisa lebih maju dari Malaysia dalam pengembangan TIK karena sudah memiliki lebih dulu semua konsep yang dijalankan negeri jiran itu.

“Memang, untuk  beberapa laboratorium yang dmiliki masih berserakan di berbagai tempat. Jika ingin mengintegrasikan harus ada reformasi birokrasi dulu. Padahal jika lembaga seperti Mimos kita miliki bisa menghemat investasi manufaktur sebesar 20-30 persen,” katanya.

Sementara Direktur Utama  Xirka Silicon Technology (Xirka) Sylvia W Sumarlin mengakui, swasta tidak akan sanggup untuk berinvestasi besar membangun lembaga penelitian karena teknologi terus berubah. “Swasta itu bisanya menggandeng pemerintah. Pemerintahlah yang harus berinvestasi mendukung pengembangan produk lokal. Ini baru namanya ekosistem yang sehat terjadi,” katanya.

Selain itu, lanjutnya, pemerintah harus mengambil sikap realistis dalam penetapan satu teknologi. “Tidak bisa dipatok harus menggunakan satu standar padahal teknologi itu dinamis. Pemilihan standar 16d itu membuat Indonesia terbelenggu. Harusnya yang dibuat itu adalah keharusan adanya aplikasi lokal yang digunakan sehingga perangkat apapun yang masuk akan tetap menggandeng anak negeri untuk pengembangan aplikasi,” jelasnya.[dni]

251110 Pendapatan Telkomsel Diperkirakan Hanya Tumbuh 5%

JAKARTA—Pendapatan Telkomsel diperkirakan hanya tumbuh lima persen pada akhir tahun nanti dibandingkan tahun lalu akibat mulai jenuhnya pasar layanan tradisional selular yakni suara dan SMS.

“Industri sudah masuk masa saturasi untuk dua layanan itu. Jika ditanya berapa pertumbuhan perseroan, saya rasa sama dengan industri. Jika Industri hanya 5 persen, kita akan menyamai,” ungkap Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno di Jakarta, Rabu (24/11).

Untuk diketahui, pada tahun lalu anak usaha Telkom ini  berhasil meraup pendapatan sebesar 40 triliun rupiah  atau naik sekitar 10 persen dibanding perolehan tahun sebelumnya. Kinerja yang lumayan kinclong itu membuat jajaran manajemen Telkomsel optimistis pertumbuhan pada tahun ini akan sama dengan tahun lalu.

Sayangnya, kenyataan berbicara lain. Pada kuartal III 2010, pertumbuhan pendapatan Telkomsel hanya berkisar di angka 5 persen. Hal ini membuat Telkom sebagi induk usaha  melakukan revisi pertumbuhan pendapatan menjadi lima persen dari sebelumnya sembilan persen. Pasalanya,  Telkomsel selama ini adalah  penyumbang pendapatan terbesar bagi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu.

Namun, Sarwoto mengungkapkan, perseroan telah menyiapkan sejumlah jurus untuk keluar dari  kejenuhan jasa tradisional dengan menggeber new services seperti mobile data dan aplikasi yang mengikutinya. “Operator yang serius mengembangkan new services akan tetap sebagai pemimpin pasar di masa mendatang. Kami sudah di jalur yang benar karena mampu menaikkan kontribusi new services dari 7 persen pada tahun lalu menjadi 13 persen sekarang bagi pendapatan,” jelasnya.

Sebelumnya, Menteri Negara BUMN Mustafa Abubakar mengungkapkan,  akan mengevaluasi kinerja dari manajemen Telkomsel seiring tidak kinclongnya performa operator seluler terbesar  dalam waktu 9 bulan belakangan ini.

“Jajaran manajemen Telkomsel salah satu yang akan dievaluasi. Tetapi itu setelah dibereskan induk usahanya dulu,Telkom. Kita benahi atasnya dulu, baru setelah itu bawahnya,” ungkapnya.

Kabar beredar mengatakan, jajaran manajemen Telkomsel akan dimelarkan dengan hadirnya Direktur bidang Sumber Daya Manusia, Pemasaran, New Business, dan Teknologi Informasi. Sebelumnya, jajaran direksi hanya terdiri atas direktur utama, keuangan, operasi, perencanaan dan pengembangan, dan niaga.[dni]

251110 BTIP Optimistis Tender SIMMLIK Selesai Bulan Depan

JAKARTA— Balai Telekomunikasi dan Informatika Perdesaan (BTIP) Ditjen Postel optimistis tender Sistem Informasi Manajemen dan Monitoring Layanan Internet Kecamatan (SIMMLIK) akan mendapatkan pemenang pada  Desember 2010.

“Pada 29 November nanti adalah periode memasukkan dokumen bagi peserta yang berminat mengikuti tender dengan  dana  210,99 miliar rupiah dalam  jangka waktu empat tahun ke depan. Kita perkirakan jika tidak ada masalah maka pada 23-25 Desember bisa dilakukan kontrak kerja dengan pemenang,” ungkap Kepala BTIP Santoso Serad di Jakarta, Rabu (24/11).

Diungkapkannya, tender terbuka bagi perusahaan yang berminat, bahkan pemenang tender  Penyedia Layanan Internet Kecamatan (PLIK) sebelumnya. “Tidak ada masalah jika kebetulan yang menang pemain PLIK karena perangkat SIMMLIK itu dioperasionalkan oleh BTIP,” jelasnya.

Sementara untuk pengadaan Port Internet, BTIP telah mengikat kontrak dengan Cyber Network Indonesia (CNI) yang berkonsorsium dengan Indopratama Tele Global. Nilai kontrak untuk pengadaan Port Internet sekitar 24 miliar rupiah.

“Program internet kecamatan itu ada tiga tahap, pertama PLIK, kedua Port Internet, setelah itu SIMMLIK. Nah, jika ini sudah selesai semua akan ada digital library ditempatkan di server agar
akses internet itu berguna bagi masyarakat desa,” jelasnya.

Berdasarkan catatan, perusahaan yang menjadi pelaksana  PLIK adalah  Telkom, Jastrindo Dinamika, Sarana Insan Muda Selaras, serta Aplikanusa Lintasarta.

Sementara Direktur Utama Lintasarta Samsriyono Nugroho mengatakan, peluang pemenang tender PLIK dalam lelang SIMM-LIK akan lebih besar ketimbang pelaku usaha lainnya karena konfigurasi sistem jaringan adalah milik para pemenang.

“Tetapi tidak tertutup juga kemungkinan yang menang nantinya bukan peserta PLIK. Hal ini karena dalam PLIK itu menetapkan penggunaan jaringan ada spesifikasi teknis dan semua bisa menyesuaikan. Apalagi bahasa mesin itu standar,” katanya.

Berkaitan dengan program Universal Service Obligation (USO) telepon pedesaan, Santoso memperkirakan, dapat terealisasi 33 ribu desa mendapatkan akses pada Maret 2011. “Kalau bicara Telkomsel, 25412 desa yang dibuka aksesnya sudah selesai dibangun. Tinggal Icon+ yang belum menyelesaikan pembangunan,” ungkapnya.

Santoso menjanjikan, Icon+ akan terkena denda telatnya pengoperasian karena tidak sesuai jadwal. “Sekarang kami fokus dulu kepada penggelaran layanan oleh Icon+. Misalnya untuk urusan peralihan kontraktor yang ternyata tidak mulus dilakukan atau mendorong dibukanya interkoneksi secepatnya,” jelasnya.[dni]

251110 Mobile-8 Bidik Pasar Mahasiswa

JAKARTA—PT Mobile-8 Telecom Tbk membidik pasar mahasiswa untuk mengembangkan layanannya dengan menggandeng  Universitas Gunadarma melalui  layanan mobile academic ‘UG 1 click’.

“UG 1 click merupakan layanan nilai tambah pertama di Indonesia yang memberikan kemudahan bagi mahasiswa Universitas Gunadarma tahun ajaran 2010 untuk dapat mengetahui informasi dan aktifitas akademik yang diikuti melalui ponsel fren,” ungkap Direktur Sales & Marketing Mobile-8 Telecom Juliana Dotulong di Jakarta, Rabu (24/11).

Diungkapkannya,  UG 1 click membuat  mahasiswa dapat mengakses informasi lainnya, seperti info akademik, pendaftaran kursus, seminar, info ujian (UTS/UAS), portfolio mahasiswa, aktivasi studentsite dan absensi mahasiswa/dosen.

Fitur UG 1 click yang tergolong inovatif adalah sistem absensi perkuliahan yang telah ditanamkan ke dalam pesawat Handphone yang dibagikan  secara gratis kepada mahasiswa baru angkatan 2010.

Secara terpisah, Vice President Mobile Data Services XL Asni Juita mengungkapkan, untuk mendorong penggunaan akses mobile broadband, perseroan  meluncurkan paket berlangganan  99 ribu rupiah per bulan unlimited dan tidak lagi memberlakukan kartu perdana  khusus untuk Mobile broadband.

”Layanan mobile broadband terus tumbuh seiring dengan meningkatnya mobilitas masyarakat dalam beraktivitas serta kebutuhan atas akses internet menggunakan notebook. Fenomena ini tidak hanya terja di di kota-kota besar, tetapi juga sampai terja di di banyak daerah seiring dengan terus memasyarakatnya layanan internet. Karena itu, XL ingin terus mempermudah dan menyederhanakan cara mendapatkan layanan XL mobile Broadband,” katanya.

Menurutnya,  dengan berlangganan layanan XL Mobile Broadband versi terbaru  pelanggan akan bisa mendapatkan layanan internet dengan kecepatan hingga 256 Kbps dengan di sertai penerapan Fair Usage Policy (FUP) di mana pada saat pencapaian akses Internet yang di lakukan oleh pelanggan sudah mencapai 1 GB, maka tingkat kecepatan akses Internet akan di turunkan menjadi 64 Kbps yang bertujuan untuk memberikan kenyamanan yang lebih merata bagi pelanggan internet  unlimited.

Berdasarkan catatan,  XL memiliki  38,5 juta pelanggan dimana  sekitar 19 juta merupak pengakses aktif layanan data dengan dukungan  21.623 BTS.. Sedangkan XL Mobile Broadband digunakan sebanyak  70 ribu pelanggan.[dni]

251110 Direktur Utama Xirka Sylvia W. Sumarlin : Jangan Hanya Sekadar Menjahit


Sylvia W. Sumarlin adalah salah satu srikandi  di tengah  dominasi kaum adam dalam  industri telekomunikasi Indonesia. Setelah sukses membesarkan perusahaan penyedia jasa internet (PJI) D-Net, wanita yang baru saja merayakan ulang tahunnya 19 November lalu merintis usaha pembuatan chipset dan perangkat Broadband Wireless Access (BWA) berbasis standar 16 e.

Nama Xirka pun digunakan sebagai merek dagang. Perusahaan yang fokus mengembangkan perangkat adalah  Xirka Dama Persada. Belum lama ini perusahaan itu berhasil menggandeng raksasa dari China, Huawei untuk berkomitmen membenamkan dana 70 juta dollar AS mengembangkan perangkat bersama Xirka.

Sementara  Xirka Silicon Technology bermain di pengembangan chipset.  Perusahaan ini merupakan satu-satunya pemain  di Asia Tenggara dan telah menelan investasi sebesar 150 miliar rupiah.  Didukung lebih dari 60 peneliti, perusahaan ini ibarat wajah cantik Sylvia yang banyak dipinang untuk diajak kerjasama.

Kerjasama terbaru  dengan Mimos, perusahaan penelitian bentukan Kementrian Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Inovasi Malaysia, Mimos. Bagaimana langkah wanita yang akrab dipanggil Evie ini mengembangkan manufaktur lokal, Wartawan Koran Jakarta, Doni Ismanto mewawancarainya belum lama ini. Berikut kutipannya.

T: Bagaimana bentuk kerjasama antara Xirka dan Mimos
J: Kerjasamanya dalam dua hal yakni pengembangan chipset dan menyempurnakan design yang dimiliki selama ini. Penggunaan laboratorium milik Mimos untuk uji coba hasil design Xirka. Selain itu, bersama Mimos kami ingin mengembangkan industri manufaktur WiMAX baik di Malaysia atau Indonesia

T: Bagaimana caranya mendorong berkembangnya manufaktur WiMAX bersama Mimos
J: Mimos menghasilkan perangkat yang banyak digunakan untuk pemerintahan. Satu chipset Xirka itu bisa menghasilkan beberapa perangkat. Transaksi itu akan terjadi kala perangkat terjual karena ada Hak Kekayaan Intelektual disitu. Target kami masa penelitian akan selesai pada kuartal pertama 2011, dan Juni tahun depan sudah ada perangkat hasil kolaborasi yang dikomersialkan

T: Mengapa harus  Mimos
J: Laboratorium yang dimiliki oleh Mimos lumayan lengkap peralatannya. Sebelumnya kita menguji di Jepang dan itu biayanya besar. Sebagai swasta kami lebih senang menyewa ketimbang membeli peralatan penelitian karena teknologi itu dinamis. Idealnya, jika pemerintah Indonesia mau mengembangkan manufaktur lokal berinvestasi di peralatan penelitian dan menganggap itu bagian dari layanan publik.

T: Bagaimana perkembangan pembangunan pabrik dengan Huawei
J: Pabrik dibangun di Padalarang, Jawa Barat. Saat ini dalam tahap pemindahan sebelum teseting dan teseting. Rencananya Huawei akan memindahkan semua lini pabriknya di China kesana. Kami menargetkan pda Maret-April tahun depan satu lini sudah dipindahkan

T: Apa kendala pengembangan manufaktur lokal
J: Manufaktur lokal baru bisa tumbuh jika tatanan industrinya  lengkap. Indonesia  baru lengkap diujung alias assembling.  Sementara untuk penelitian dan pengembangan belum ada. Akhirnya kita menunggu saja inovasi dari luar. Xirka tidak mau seperti itu, kami ingin dari hulu ke hilir sehingga pasar dikembangkan dengan baik dan tidak hanya menjadi tukang jahit, tetapi membuat dari awal.

T: Apa manufaktur lokal masih bisa dibangkitkan
J: Kuncinya adalah penerapan teknologi netral, jangan dipasung dengan satu standar. Begitu teknologi netral dibuka, pangsa pasar akan terbuka lebih banyak. Kita ini mirip dengan China, kalau bisa meniru negara itu yang memperkuat pasar domestik, Indonesia akan menjadi negara yang diperhitungkan untuk manufaktur teknologi informasi.

T: Bagaimana melihat  Kisruh standar WiMAX antara 16 d dan 16 e  di Indoneisa
J:  Kami akan jalan terus dengan WiMAX standar 16e, bahkan tahun depan akan mengembangkan 16 e versi enhanced dan tahun berikutnya  WiMAX Mobile. Ini kami lakukan karena sesuai dengan roadmap global. Saya hanya ingin pemerintah membuka matanya, jika ingin membantu manufaktur lokal, bukalah kesempatan untuk teknologi netral. Peluang sekarang ada di 16 e karena semua menggunakannya. Ini tidak hanya menggerakkan Xirka tetapi usaha kecil dan menengah (UKM). Harus diingat, Xirka  banyak bermitra dengan UKM untuk membuat perangkat, misalnya antena atau  mounting. Jika permintaan melonjak, tentunya semua elemen bisa menikmati.