231110 Garuda Janji Perbaiki Sistem TI Secepatnya

JAKARTA—Maskapai penerbangan Garuda Indonesia berjanji secepatnya membereskan sistem Teknologi Informasinnya (TI) agar tidak lagi menganggu kenyamanan penumpang berupa dibatalkannya keberangkatan pesawat secara mendadak seperti Minggu (21/11).

“Kami akan memperbaiki sistem TI secepatnya. Mungkin masih ada delay sama pembatalan, tetapi itu kita usahakan diminimalisir sebaik mungkin,” ungkap Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar di Jakarta, Senin (22/11).

Dijelaskannya, saat ini kemajuan pengintegrasian sistem TI  masih dalam pemasangan  manual selama satu dua hari ke depan. Dampaknya,  masih akan ada pesawat delay atau dibatalkan.

Untuk mempertahankan kepercayaan pelanggan, jelasnya, Garuda akan memberikan jaminan bahwa pesawat yang mengalami pembatalan penumpangnya akan mendapatkan refund dua kali. Bagi yang melanjutkan perjalanan, akan diberi tiket gratis dan mendapat refund satu kali harga tiket, sementara yang membatalkan akan direfund dua kali harga tiket.

Diungkapkannya, gangguan sistem TI yang terjadi dengan Garuda pada Minggu (21/11) kemarin adalah karena  diterapkannya konsep Integrated Operational Control System (IOCS) mulai Kamis (18/11). Namun saat sistem belum bekerja dengan baik, sistem back up mengalami anjlok sehingga sistem penerbangan Garuda di bandara Soekarno Hatta terganggu.

Beberapa penerbangan yang kemarin mengalami pembatalan antara lain penerbangan ke Medan, Batam, Pangkal Pinang dan Padang. Sedangkan penerbangan ke Singapura juga batal terbang. Hingga Senin siang masih banyak terjadi keterlambatan penerbangan.

(IOCS) diterapkan karena Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu ingin masuk dalam Global Alliance Sky Team yang menuntut  sistem penerbangan Garuda harus terkoneksi dengan sistem seluruh anggota aliansi itu.

Global Alliance adalah aliansi perusahaan penerbangan di seluruh dunia yang saat ini beranggotakan 13 maskapai seperti KLM, Air France, Korea Airlines, Delta Airlines, Aeroflot, Aero Mexico dan Chinna Southern. Rencananya, acara penandatanganan masuknya Garuda ke Global Alliance dilakukan, Selasa (23/11) di Jakarta.

Plt Direktur Keuangan Garuda, Elisa Lumbantoruan  mengungkapkan, maskapainya berpotensi mengalami kerugian sekitar 800 juta rupiah akibat terjadinya pembatalan keberangkatan kemarin. “Kita kan memberikan penginapan di hotel dan double refund kepada penumpang,” katanya.

Dikatakannya, saat ini perseroan sedang memeriksa gangguan yang terjadi. “Banyak kemungkinan yang menjadi penyebab anjloknya sistem pelayanan tersebut. Salah satu kemungkinannya adalah sabotase.. tetapi ini  masih terus diselidiki,” katanya.

Secara terpisah, Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Herry Bakti S Gumay meminta, Garuda secepatnya menyelesaikan masalah sistem TI-nya untuk membayar kekecewaan pelanggannya.

“Hari ini masih ada laporan ke saya, pembatalan dan keterlambatan beberapa penerbangan. Saya minta hari ini Garuda menyelesaikan semua masalahnya dengan cara mengembalikan sistem TI ke manual. Kalau tidak beres juga, kami kasih peringatan,” katanya.

Sementara Praktisi Telematika Abimanyu Wachjoewidajat menilai  munculnya gagal sistem TI di perusahaan sekelas Garuda menunjukkan  ketidaksiapan perusahaan dan  kurang profesionalnya  tim pelaksana inti yang terlibat dalam melakukan migrasi dalam membuat planning dan mengantisipasi
segala masalah.

“Biasanya untuk melakukan integrasi sistem itu perlu ada pengelolaan tahap perubahan,  proses transisi,  parallel run,  pemilihan waktu,  uji coba, dan koordinasi. Sepertinya tahapan ini ada yang tidak dipenuhi Garuda,” sesalnya.[dni]

231110 Xirka Gandeng Mimos

JAKARTA–PT Xirka Silicon Technology (Xirka) menggandeng Mimos dari Malaysia untuk pengembangan chipset dan perangkat Broadband Wireless Access (BWA) dengan standar 16e.

“Kami menggandeng Mimos dalam untuk pengembangan perangkat Mimos WiWi generasi kedua yang dilengkapi chipset milik Xirka. Selain itu juga menggunakan fasilitas laboratorium percobaan milik Mimos untuk pengembangan desain-desain chipset yang kami buat,” ungkap CEO Xirka Sylvia Sumarlin dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (22/11).

Dijelaskannya, secara prinsip terdapat dua lini bentuk kerjasama strategis dengan perusahaan bentukan Kementrian Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Inovasi Malaysia itu.

Pertama, fokus di penelitian dan pengembangan. Kedua, membawa hasil produk penelitian dan pengembangan ke pasar.

“Harus diketahui dari satu Chipset milik Xirka itu bisa menghasilkan beberapa perangkat. Mimos sendiri akan fokus menyediakan perangkat untuk kebutuhan publik seperti solusi teknologi informasi untuk listrik dan  kereta api. Nantinya dari setiap penjualan perangkat itu ada pembagian hak kekayaan intelektual yang kita dapat,” jelasnya.

Diungkapkannya, kerjasama penelitian dan pengembangan chipset BWA tersebut dengan negara tetangga sangat membantu perseroan melakukan efisiensi karena selama ini banyak melakukan percobaan di Jepang.

“Dari sisi transportasi saja sudah ada penghematan. Harus diingat, sebagai pemain swasta tidak mungkin kami langsung investasi di bagian seperti ini karena teknologi berkembang terus. Jika hal seperti ini ingin dilakukan di Indonesia, pemerintah harus berinvestasi di alatnya,” jelasnya.

Ditargetkannya, hasil  penelitian untuk produk chipset akan selesai pada triwulan I tahun depan. Setelah itu Juni 2011 mulai dilakukan penjualan.

“Kami membidik pemasaran  di Malaysia dan global. Selain tentunya di Indonesia jika stanmdar 16 e diberlakukan,” katanya.

Koordinator ICT dan R&D Badan Pengembangan dan Penerapan Teknologi (BPPT) M. Mustafa Sarinanto mengatakan,  Indonesia seharusnya bisa memiliki lembaga sekaliber Mimos karena sudah memulai terlebih dulu dengan adanya Pusat Pengembangan Informasi Teknologi (Puspitek).

“Masalahnya di Indonesia itu tidak terintegrasi sehingga manufaktur susah untuk mengembangkan produk. Padahal jika lembaga seperti Mimos kita miliki bisa menghemat investasi manufaktur sebesar 20-30 persen,” katanya. [Dni]

221110 Maskapai Mulai Layani Penerbangan ke Yogyakarta

 

JAKARTA—Maskapai penerbangan lokal dan internasional mulai melayani penerbangan ke Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta seiring dibukanya larangan terbang oleh Kementrian Perhubungan (Kemhub).

Demikian rangkuman pernyataan dari juru bicara berbagai maskapai yang dihubungi secara terpisah pada Minggu (21/11).

“Garuda mulai melayani penerbangan ke Yogyakarta mulai Minggu, 21 November 2010  baik itu dari  Jakarta atau  Denpasar,” ungkap Juru bicara Garuda Indonesia Pujobroto.

Dijelaskannya, penerbangan dari Jakarta ke Jogjakarta akan dilayani dengan dua penerbangan yaitu GA 206, berangkat dari Jakarta pukul 9.20 tiba di Jogjakarta pukul 10.25; dan penerbangan GA 214, dari Jakarta pukul 15.15, tiba di Jogjakarta pukul 16.20.

Sementara itu, penerbangan dari Jogjakarta ke Jakarta, masing-masing GA 207, dari Jogja pukul 11.10 tiba di Jakarta pukul 12.15; dan GA 215 dari Jogja pukul 17.00, tiba di Jakarta pukul 18.05. Penerbangan dari Denpasar ke Jogajakarta dilayani satu kali penerbangan, yaitu GA 253 berangkat dari Denpasar pukul 07.00 dan tiba di Jogja pukul 07.15. Penerbangan dari Jogjakarta ke Denpasar, berangkat pukul 08.00 dan tiba di Denpasar pukul 10.15.

“Penerbangan Garuda dari Jakarta dan Denpasar ke Jogjakata dilaksanakan secara bertahap. Untuk sementara ini penerbangan ke Jogjakarta dilaksanakan pada siang hari, mengingat penerbangan pada malam hari akan sulit untuk dilakukan pendeteksian sekiranya masih ada terdapat abu vulkanik,” jelasnya.

Dikatakannya, dalam situasi normal, Garuda melayani penerbangan dari Jakarta ke Jogja delapan kali setiap hari, dan dari Denpasar ke Jogjakarta dua kali setiap hari; menggunakan pesawat B 737-800 berkapasitas 162 penumpang; 12 penumpang kelas bisnis, dan 150 penumpang kelas ekonomi.

Direktur Umum Lion Air Edward Sirait imengungkapkan akan  membuka reservasi untuk penerbangan dari dan ke Yogyakarta pada Senin (22/11).

Alasannya, Lion Air mendapatkan informasi bahwa penerbangan Adisutjipto akan dibuka Minggu 21 November. Namun rencana itu bisa saja diubah jika nantinya ada perubahan.

“Kita rencana membuka penerbangan hari Senin, karena membuka reservasi tidak bisa mendadak” jelasnya.

Menurutnya, maskapai memerlukan proses untuk membuka kembali penerbangan. Maskapai membutuhkan persiapan untuk membuka penerbangan, seperti memberi kesempatan kepada penumpang untuk revervasi.

Lion Air sendiri melayani penerbangan dari dan ke Yogyakarta sebanyak 8 kali sehari

Sekretaris Perusahaan Angkasa Pura II Hari Cahyono mengungkapkan,    berdasarkan laporan yang diterima dari enam maskapai pemilik rute penerbangan Jakarta – Jogjakarta, diketahui bahwa belum seluruhnya akan langsung melayani rute menyusul dicabutnya larangan terbang.

Keenam maskapai pemilik rute Jakarta – Jogjakarta tersebut adalah Garuda Indonesia, Lion Air, Sriwijaya Air, Batavia Airlines, Indonesia AirAsia, serta Mandala Airlines.

”Sejumlah maskapai memutuskan untuk memulai penerbangannya dari BSH menuju Jogjakarta pada Minggu (21/11). Sementara maskapai lainnya menginformasikan baru akan mulai terbang lagi pada akhir November atau awal Desember,” jelasnya.

Maskapai yang akan memulai penerbangan dari BSH menuju Adisutjipto pada Minggu, 21 November 2010, lanjut Hari, antara lain Garuda Indonesia, Sriwijaya dan Indonesia AirAsia.

Sementara Lion Air mengkonfirmasikan baru akan memulai pada Jumat, 26 November 2010, Mandala Air pada akhir November dan Batavia Air mengatakan baru akan terbang pada awal Desember 2010.

”Garuda Indonesia dan Indonesia AirAsia untuk hari Minggu buka dua penerbangan dari Jakarta menuju Jogjakarta. Sementara Sriwijaya hanya satu penerbangan. Sampai saat ini kami masih terus menunggu konfirmasi dari pihak maskapai terkait rencana penerbangan mereka. Bisa saja yang sebelumnya memutuskan untuk terbang akhir Desember, berubah jadi besok,” ungkapnya.

Corporate Communication
Indonesia AirAsia Audrey Progastama mengungkapkan,  penerbangan Indonesia AirAsia dengan nomor QZ 7138 tujuan Singapura merupakan penerbangan menuju destinasi internasional pertama dari Bandara tersebut  pasca meletusnya Gunung Merapi.

Penerbangan ini juga akan dilanjutkan dengan penerbangan rute internasional lainnya, yaitu Yogyakarta – Kuala Lumpur, dengan nomor penerbangan AK 595 yang dijadwalkan berangkat pukul 08.55 pagi WIB dari Yogyakarta, serta mendarat di Kuala Lumpur pukul 12.15 siang waktu setempat.

AirAsia melayani rute Jakarta – Yogyakarta 2 kali sehari, Yogyakarta – Kuala Lumpur 1 kali sehari serta Yogyakarta – Singapura 1 kali sehari.

Sebelumnya, dalam rilis resminya Kemhub  mengharapkan maskapai nasional maupun asing kembali mengoperasikan penerbangan ke dan dari Yogyakarta menyusul kondusifnya situasi di disana terkait aktifitas Gunung Merapi.

Dalam rilis resminya hari ini, Kemenhub menyatakan aktifitas Gunung Merapi dari kemarin relatif stabil, dan gempa vulkanik yang terjadi dalam 24 jam terakhir tidak menyebabkan adanya semburan awan panas.

“Telah diterbitkan NOTAM (notice to airmen) nomor 82032/10 yang menyatakan bahwa jalur W45 W17N atau Jakarta-Semarang-Solo-Yogyakarta sudah bisa difungsikan secara normal, hanya bagian-bagian rute itu yang terkena dampak,” seperti dikutip dalam rilis tersebut.

Bandara Adisutjipto sempat ditutup (aerodrome closed) sejak 8 November 2010 hingga 20 November 2010. Sebelum 8 November, pemerintah memberlakukan kebijakan buka tutup terhadap operasional pelabuhan udara internasional itu.

Adapun jumlah penerbangan dari dan ke Yogyakarta mencapai sedikitnya 90 kali penerbangan per hari. Selain rute domestik, maskapai juga melayani penerbangan ke Singapura dan Kuala Lumpur (Malaysia).

Ketua Umum Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Emirsyah Satar memperkirakan,  potensi kehilangan pendapatan yang di derita seluruh maskapai akibat  tidak bisa terbang ke Bandara Adisutjipto  lebih dari 35,28 miliar rupiah selama satu minggu.

Angka tersebut  berasal dari 42 penerbangan domestik dikalikan kapasitas 100 kursi per pesawat dikalikan tarif per penumpang sekitar  600 ribu rupiah dikalikan tujuh hari dikalikan dua penerbangan pulang pergi.

Angkasa Pura I sebagai pengelola sendiri memperkirakan ada kehilangan  potensi pendapatan sebesar 250 juta per hari.

Kehilangan pendapatan itu antara lain dari tarif Pelayanan Jasa Pendaratan, Penempatan dan Penyimpanan Pesawat Udara (PJP4U), passenger service charge, konsesi serta pendapatan lainnya.[dni]

231110 Kala FWA di Persimpangan

Pada kuartal kedua tahun ini Code Division Multiple Access (CDMA) Group  memperkirakan akhir tahun nanti  jumlah pengguna teknologinya akan mencapai 41 juta pelanggan atau naik 17 persen dari tahun lalu yang mencapai 35 juta pelanggan

Di Indonesia, teknologi CDMA  digunakan oleh enam operator yakni  Telkom Flexi, Indosat StarOne, Bakrie Telecom, Mobile-8 Telecom, Smart Telecom, dan Sampoerna Telekomunikasi.

Telkom Flexi  memimpin dengan menguasai 55 persen pangsa pasar, setelah itu diikuti Bakrie Telecom (BTEL) sekitar 35 persen dan sisanya direbutkan oleh empat pemain lainnya. Dominanya kedua operator itu menunjukkan  lisensi  fixed wireless access (FWA) menjadi andalan untuk berkembangnya CDMA di Indonesia ketimbang seluler mengingat kedua pemain adalah pemilik jasa yang identik dengan penomoran menggunakan kode area itu. Selain dua operator itu, FWA juga dimiliki  Indosat StarOne  dan Mobile-8 (Hepi).

FWA di Indonesia menggunakan  payung hukum Kepmenhub No. 35/2004 tentang Penyelenggaraan Jaringan Tetap Lokal Tanpa Kabel dengan Mobilitas Terbatas. Pembeda antara layanan FWA dan seluler adalah  pengguna FWA  hanya boleh menggunakan nomor tersebut hanya di wilayah tersebut, tidak boleh membawanya ke luar kode area. Sedangkan seluler  prefix number yang digunakan berlaku nasional.

Identiknya FWA dengan teknologi  CDMA tak bisa dilepaskan dari keinginan pemerintah yang berkeinginan untuk mengembangkan jaringan tetap lokal (Jartaplok) secara massif. Namun, pemilihan teknologi inilah yang dianggap simalakama karena  CDMA 2000  di International Telecommunication Union (ITU)  sudah dikategorikan sebagai IMT-2000 atau 3G.

Tetapi,  karena izin dikantongi pemain Jartaplok,  maka teknologinya dipasung tidak boleh roaming dan  tidak boleh bergerak diluar kode wilayah. Sebagai kompromi, kompensasi membayar Biaya Hak Penggunaan (BHP) frekuensi dan interkoneksi FWA lebih rendah daripada jaringan seluler. Kabarnya hanya seperdelapan dari BHP seluler.

Tertekan
Jika melihat kinerja dari pemain FWA hingga kuartal III  tahun ini, bisa dikatakan para pemainnya  berada dalam tekanan berat operator seluler. Lihat saja kinerja BTEL yang hanya mampu  mencatat pertumbuhan pendapatan usaha baik secara bersih atau kotor dibawah angka satu persen pada kuartal ketiga tahun ini.

Belum lagi pertambahan pelanggannya per kuartal yang tergolong kecil yakni pada kuartal ketiga meraih 12,1 juta nomor, sementara pada semester I di posisi 11,1 juta pelanggan dengan Average Revenue Per User (ARPU) sekitar 26 ribu rupiah.

Begitu juga Flexi yang memiliki 16,8 juta pelanggan dengan ARPU 17 ribu rupiah. Total dari kuartal pertama Flexi hanya mendapatkan 852 ribu pelanggan. StarOne lebiih miris lagi nasibnya karena angka pelanggannya berputar-putar dari 500-722 ribu pelanggan selama setahun terakhir, sementara ARPU turun secara konstan dengan posisi terakhir 17 ribu rupiah

Bandingkan dengan pemain seluler berbasis GSM seperti Telkomsel yang mampu mendapatkan tambahan pelanggan dari kuartal I-III sebesar 11,186 juta pelanggan hingga bisa meraih 93,136 juta pelanggan dengan pertumbuhan pendapatan sekitar 5 persen. Hal yang sama juga terjadi dengan pemain seluler lainnya seperti XL dan Indosat  yang mendapatkan tambahan pelanggan  dan pertumbuhan pendapatan lumayan kinclong.

“Iklim kompetisi yang makin ketat dalam industri telekomunikasi  manjadi tantangan serius bagi perusahaan untuk terus menjaga laju pertumbuhan pelanggan dan kinerja keuangan yang positif. Kami berusaha terus menjaga adanya pertumbuhan,” ungkap Direktur Utama  Bakrie Telecom Anindya N Bakrie di Jakarta, belum lama ini.

Group Head Vas Indosat Teguh Prasetya mengakui, pemain seluler berbasis GSM berhasil membangun persepsi murah dengan jangkauan luas sehingga menekan pemain FWA. “Apalagi  ponsel  GSM  sudah bergerak di level 200 ribuan rupiah. Jadi,  daya  tarik FWA dengan bundling menjadi kurang bersinar sehingga membuat para pemain berada di persimpangan jalan dalam mempertahankan positioning di pasar yang mengatakan murah itu FWA. Kalau sudah begini lebih baik dijadikan sebagai seluler saja,” katanya.

EGM Telkom Flexi Triana Mulyatsa mengatakan, turunnya ARPU Flexi karena jumlah pelanggan meningkat dan dibukanya segmen baru. “Tantangan di pasar itu pemain seluler bermain tarif ala FWA. Keuntungan Flexi adalah bagian dari Telkom grup sehingga bisa melakukan sinergi menguntungkan dengan anak usaha lainnya,” katanya.
Penataan
PLT Dirjen Postel Muhammad B. Setyawan mengugkapkan, akan ada penataan dari lisensi karena di masa depan semua teknologi dianggap netral. “Di  masa depan  tidak ada lagi FWA atau seluler karena penarikan BHP frekuensi berbasis lebar pita. Untuk sementara, agar pemain FWA keluar dari tekanan kemungkinan diberikan lisensi seluler,” jelasnya.

Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) M.Ridwan Effendi menambahkan,  konsep FWA yang dijalankan sekarang  dipaksakan karena pilihan teknologinya adalah selular. “Jadi menurut saya sekarang waktunya  meluruskan sejarah dengan model lisensinya diganti selular dengan konsep fixed-mobile convergence

Anggota Komite lainnya Nonot Harsono menjelaskan, konsep  FWA yang benar adalah  Wireless Local  Loop (WLL) dimana dari Sentral Telepon (STO) terdekat menggunakan  wireless ketimbang kabel. “Masalahnya di Indonesia terjadi penyusupan seluler ala Amerika Serikat sehingga muncul istilah fixed but mobile. Padahal konsep FWA yang benar dibutuhkan  untuk daerah yang minim populasi karena harga kabel mahal,” sesalnya.

Menurutnya, solusi untuk pemain FWA adalah harus segera diselulerkan dengan pembenahan di pola pentarifan. “Saat ini pola kompetisinya tidak jelas. Misalnya, pelanggan melakukan panggilan  dari seluler ke FWA akan ada biaya interkoneksi ditambah  SLJJ . Kondisi ini membuat  pelanggan seluler mensubsidi FWA. Seharusnya  point of Interconnection (POI) dipaksa  di setiap level seperti yang di Telecom Act 1996 US dan point of charge ( PoC) harusnya mengikuti PoI,” tegasnya.
Direktur Utama Mobile-8 Merza Fachys mengakui, akibat salah implementasi, pemain FWA mulai terjadi  kekurangan nomer lokal. “Hal ini karena tata niaganya dibuat mengikuti seluler yang membutuhkan penomoran hingga 10 kali lipat untuk berjualan. Bagi operator FWA yang sudah memiliki basis pelanggan besar, memang lebih baik dijadikan seluler saja,” katanya.

Wakil Direktur Utama Bidang Pemasaran Bakrie Telecom Erik Meijer mengungkapkan, FWA masih dibutuhkan jika  bisa memberikan model bisnis seperti awal kemunculannya yakni lebih murah membayar bandwidth frekuensi, interkoneksi, dan lainnya. “Jika itu bisa dipertahankan masih ada manfaatnya bagi konsumen. Masalahnya sekarang benefit itu kian tergerus,” katanya.

Secara terpisah, Ketua Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Setyanto P Santoso menegaskan, FWA masih tetap diperlukan  untuk segmentasi konsumen yang tidak terjangkau oleh kabel. “Jika kinerja secara keuangan belum menjanjikan karena operator belum focus mengembangkan layanan ini. Di Indonesia ini ada kesalahan di regulasi dan model bisnis. Memang sudah waktunya ditata ulang,” tegasnya.

Pengamat telekomunikasi Guntur S Siboro menilai pemain FWA memerlukan strategi pemasaran yang agresif untuk menaikkan skala usahanya dan dukungan komitmen dari investor. “Potensi itu  di Flexi karena ada Telkom di belakangnya. Sayangnya, sekarang malah disibukkan dengan isu merger,” sesalnya.[dni]

231110 XL Garap Full Track Download

JAKARTA–PT XL Axiata Tbk (XL) menggarap fitur lagu full track download untuk memanjakan pelanggan disamping ingin meningkatkan pendapatan dari jasa  Value Added Service (VAS).

“Kami menawarkan layanan XL Music Life bagi 38,5 juta pelanggan yang  bisa menjadi jawaban atas semakin meningkatnya kebutuhan  terhadap kemudahan dalam mengakses dan mendengarkan musik atau lagu-lagu yang sesuai dengan kesukaan masing-masing tanpa dibatasi oleh spesifikasi tertentu dari perangkat ponsel  yang dimilikinya,” ungkap Direktur Marketing XL, Nicanor V Santiago di Jakarta, akhir pekan lalu.

Dijelaskannya,  XL Music Live merupakan layanan  bagi pelanggan untuk dapat mendengarkan berbagai pilihan musik sesuai channel atau ketegori tertentu. Layanan ini  terdiri dari dua pilihan paket penggunaan yaitu Pay As You Use (PAYU) dengan biaya sebesar  200 rupiah per menit serta paket berlangganan sebesar  1.500 rupiah per 30 menit per hari sudah  termasuk pajak.    XL Music Live memiliki katalog lagu lokal dan internasional.

Menurutnya, kehadiran layanan ini juga bisa membantu industri musik lokal melawan pembajakan karena survei mengungkapkan dari  6,5 triliun rupiah nilai bisnis musik lokal, 69 persen atau 4,5 triliun rupiah dikuasai oleh para pembajak.

“Secara bisnis perusahaan rekaman hanya mendapatkan 600 miliar rupiah. Justru menjual lagu secara digital yang memberikan pendapatan signifikan, nilainya bisa 1,2 triliun rupiah. Penjualan secara digital itu bisa dari Ring Back Tone (RBT) atau Full Track Download,” jelasnya.

Pada kesempatan lain,  Direktur Utama  IM2 Indar Atmanto mengungkapkan, menyiapkan  20 ribu paket Broom Kalong untuk  pengguna internet yang suka mendownload data dalam jumlah besar.

Broom Kalong merupakan varian produk prabayar 3,5G terbaru IM2 yang secara khusus diciptakan untuk penggunaan akses internet pada malam hari. Produk baru ini tersedia baik dalam fitur unlimited maupun classic (volume based).

“Pengguna internet kebanyakan anak-anak muda, mereka senang Download musik, dan film, dan tren tersebut selama ini dilakukan setiap hari dan bergeser ke malam hari, jadi kami meluncurkan paket untuk pengguna malam hari. Selama ini pasar malam hari belum digarap dan ini inovasi yang pertama di dunia,” kata Indar.

Head of Product Management IM2 Tubagus Bondan  mengatakan, harga staterpack untuk paket broom Kalong adalah 150 ribu rupiah. Untuk fitur unlimited kecepatan broom kalong dapat mencapai 1 Mbps dengan threshold 5 GB pada malam hari sejak 00.00 hingga 06.00 dan selanjutnya unlimited dengan kecepatan hingga 64 Apabila telah melewati threshold. Pada pukul 06.01 WIB sampai dengan pukul 23.59 WIB kecepatan adalah mencapai 16 Kbps. Sedangkan pada fitu classic, kecepatan dapat mencapai 3,6 Mbps dengan kuota 200 MB.[dni]

231110 Telkomsel Buka Pemesanan Awal iPhone4

JAKARTA—Operator seluler yang menjadi mitra Apple di Indonesia untuk memasarkan ponsel cerdas iPhone, mulai membuka pemesanan awal produk tersebut mulai  i Jumat (18/11/) lalu.

“Telkomsel akan meluncurkan iPhone 4, ponsel cerdas paling ramping di dunia dengan tampilan resolusi tertinggi yang dihadirkan pada ponsel, di Indonesia dalam waktu dekat,” kata Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno di Jakarta, akhir pekan lalu

Dijelaskannya,  pemesanan dapat dilakukan melalui situs http://www.telkomsel.com/iphone. Calon pembeli yang tertarik akan mendapat nomor pemesanan dan akan diberi tahu melalui SMS dan email begitu barang yang tersedia telah siap.

Sayangnya, tidak ada keterangan lebih rinci bisa digali dari orang nomor satu di Telkomsel itu terutama berkaitan tepatnya waktu kehadiran  dan harga dari iPhone 4.

Dalam situs resmi operator itu  hanya disebutkan untuk pre order  Telkomsel akan menggelar pameran saat peluncuran nanti dan menjanjikan bonus iPhone case untuk 500 pelanggan pertama yang membeli iPhone 4 dengan bundling Simpati Turbo.

Sebelumnya,  Telkomsel,  menyatakan iPhone 4 akan resmi hadir di Indonesia bulan November ini. Bahkan, rencananya iPad pun akan dihadirkan bersamaan dengan iPhone 4.

Namun, VP  Channel Management Telkomsel Gideon Edi Purnomo mengungkapkan, untuk computer tablet yang menjadi tren setter di dunia itu akan diluncurkan sendiri oleh Apple.  “Soal waktunya masih gelap. Kami sendiri sudah menyiapkan micro sim card untuk produk tersebut. Sedangkan pelanggan iPhone sendiri di Telkomsel sudah mencapai 40 ribu orang,” ungkapnya.

iPad sendiri sebenarnya telah masuk Indonesia sejak beberapa bulan lalu yang dibawa secara perorangan dari luar negeri atau dijual di sentra ponsel meskipun Apple belum meluncurkan secara resmi di Indonesia. Beberapa operator seperti XL, Three atau Telkomsel  pun memanfaatkan demam iPad dengan menawarkan kartu micro sim yang dilengkapi dengan akses internet secara unlimited.

Produk ini dalam waktu hanya 80 hari setelah peluncuran perdana di Amerika Serikat terjual tiga juta unit.  Sedangkan volume penjualan computer tablet secara umum, yaitu iPad dan para pengekornya, diperkirakan akan mencapai 12,5 juta unit oleh lembaga riset Canalys  pada akhir 2010.

Sedangkan lembaga riset  Gartner memprediksi, volume penjualan tablet global pada 2010 akan mencapai 19,5 juta unit dan  akan terus meningkat, menjadi 54,8 juta unit pada 2011, serta 103,4 juta unit pada 2012, dan 154,1 juta unit pada 2013.[dni]

231110 Sejumlah Jurus untuk Bertahan

Berjuang hingga titik darah terakhir. Inilah kalimat yang pantas diapungkan untuk para pemain Fixed Wireless Access (FWA). Simak aksi PT Mobile-8 Telecom Tbk (Mobile 8) yang semakin lengket dengan Smart Telecom (Smart) belakangan ini.

Mobile-8 yang selama ini  “Pacaran” dengan Smart melalui  aliansi  pemasaran  berencana meningkatkan hubungan ke jenjang “Pernikahan” alias merger secara resmi tak lama lagi.

Hal itu bisa disimak dari aksi korporasi  Mobile-8  yang  akan menerbitkan saham baru senilai 3,7 triliun rupiah pada awal Januari 2011. Jika rencana ini terealisasi,  laporan keuangan Smart Telecom akan langsung terkonsolidasi ke Mobile-8 karena menjadi penguasa  lebih dari 50 persen saham operator itu.

Bagi Smart Telecom, akuisisi tersebut merupakan aksi backdoor listing atau masuk ke pasar modal tanpa lewat penawaran saham perdana. Pasalnya, pemegang saham mayoritas Smart Telecom akan bertindak menjadi pembeli siaga dan berpotensi menjadi pengendali di Mobile-8.

Selanjutnya adalah aksi dari PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) yang terus memoles diri agar nilai perusahaan meningkat untuk memuluskan proses konsolidasi dengan unit usaha FWA milik PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom), Flexi.

Pada tahun ini BTEL mendirikan anak usaha PT Bakrie Connectivity (Bconnect) yang bermain di jasa data. Selain itu, operator ini mengantongi lisensi Sambungan Langsung Internasional (SLI) dan Sambungan Langsung Jarak Jauh (SLJJ).

Saat ini nilai nilai kapitalisasi pasar BTEL  mencapai  6,693 triliun rupiah. Guna mendongkrak valuasi, BTEL mengajukan lisensi seluler beberapa bulan lalu ke regulator. Jika ini terealisasi, dipastikan nilai BTEL akan melampaui Flexi yang ditaksir hanya senilai 7 triliun rupiah.

PLT Dirjen Postel/Ketua Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Muhammad Budi Setyawan mengungkapkan, belum ada keputusan di lembaganya terkait lisensi seluler milik BTEL. “Masih telaah teknis dan legal,” ungkapnya kepada Koran Jakarta, Senin (22/11).

Anggota Komite BRTI M. Ridwan Effendi menambahkan, sedang dibentuk tim Adhoc untuk  evaluasi sementara permohonan secara hukum  segera diproses. “Jika lisensi seluler diberikan akan ada pemisahan kanal untuk FWA dan seluler. Soalnya sekarang masih menggunakan rezim berbasis izin stasiun radio (ISR) untuk frekuensi,” katanya.

Sementara Anggota Komite BRTI Heru Sutadi meminta BTEL untuk menyelesaikan masalah  kepastian waktu penggelaran  SLJJ karena Izin prinsip telah diberikan sejak dua tahun lalu.

“Sampai sekarang tidak ada kepastian penggelaran SLJJ oleh BTEL. Bahkan untuk mengajukan  uji laik operasional (ULO) sebagai prasyarat mendapatkan izin penyelenggaraan SLJJ saja belum ada. Masalah ini belum selesai, BTEL sudah mengajukan pula lisensi ingin bermain di seluler,” sesalnya.

Menurutnya, BTEL belum pantas mendapatkan lisensi seluler karena  frekuensi berbasis pita belum dijalankan. “Baiknya tunggu BHP berbasis pita dimana unified license dijalankan. Tetapi ini pendapat pribadi sebagai anggota komite. Keputusan ada di pleno,” ketusnya.

Pengamat telekomunikasi Guntur S Siboro mengingatkan, jika lisensi seluler diberikan ke BTEl banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan seperti penomoran. “Dual lisensi yang dimiliki BTEL lebih kepada meningkatkan nilai perusahaan agar mitra baru masuk Isu utama FWA itu komitmen operator mengembangkannya,” tegasnya.

Pengamat Ekonomi dari Universitas Trisakti Fransiskus Paschalis mengingatkan, pemberian lisensi seluler kepada BTEL berbeda dengan FWA milik Mobile-8. “BTEL mengajukan lisensi, sementara Mobile-8 diberikan sebagai kompensasi karena frekuensinya dikurangi. Jika permintaan BTEL diloloskan ini akan menjadi isu nasional,” tuturnya.

Diperkirakannya, para pemain seluler berbasis teknologi GSM akan memprotes pemberian lisensi itu karena beberapa tahun belakangan FWA menikmati semacam tarif murah berkat pembedaan biaya frekuensi, interkoneksi, dan lisensi walau sudah memberikan layanan sama dengan seluler.

“Sekarang kala FWA menjelang senja kala, tiba-tiba pindah ke seluler tentu akan menjadi polemik di pasar. Tetapi secara bisnis bisa dikatakan aksi ini cerdik untuk mengakali tudingan monopoli jika merger dengan Flexi terjadi. Jika dihitung sebagai pemain seluler, BTEL tentu tidak dominan layaknya di FWA,” katanya.[dni]