181110 M. Remittance : Upaya Menyuburkan Uang Digital

Telkomsel akhirnya mengoptimalkan izin Kegiatan Usaha Pengiriman Uang (KUPU) dari Bank Indonesia yang dikantonginya pada Februari lalu  untuk mengembangkan layanan dompet digital T-Cash.

T-Cash (singkatan dari Telkomsel Cash) merupakan inovasi layanan mobile wallet yang memungkinkan ponsel pelanggan berfungsi layaknya dompet penyimpanan uang ( uang digital atau e-money) yang siap digunakan untuk bertransaksi dengan nominal hingga  5 juta rupiah. Telkomsel membenamkan dana sebesar 50 juta dollar AS sejak tiga tahun lalu mengembangkan jasa ini.

Pelanggan dapat melakukan pembelian barang (pulsa isi ulang, token PLN prabayar, produk di merchant), pembayaran tagihan (kartuHALO, TelkomVision, PLN, PDAM), pengiriman uang, serta pengambilan tunai. Seluruh aktivitas ini dapat dilakukan dengan mengakses *828# yang merupakan single menu browser untuk semua layanan T-Cash.

Produk yang memanfaatkan izin KUPU sendiri adalah T-Cash Kirim Uang yang memungkinkan  pelanggan  melakukan pengiriman uang (Mobile Remittance) langsung dari ponsel secepat mengirim SMS dan langsung dapat melakukan penarikan tunai di seluruh outlet Indomaret.

Pelanggan bisa mengirimkan uang berkali-kali dalam satu hari dengan nominal pengiriman  seribu rupiah  hingga  satu juta rupiah  untuk sekali pengiriman. Jumlah nominal uang yang dikirimkan maksimal satu  juta rupiah  setiap harinya dan  20 juta rupiah setiap bulannya. Pelanggan sendiri dikenakan biaya seribu rupiah  untuk sekali pengiriman uang.

VP T-Cash Management Telkomsel Bambang Supriogo mengungkapkan, saat ini  jumlah pengguna T-Cash  mencapai 3 juta nomor, di mana yang aktif hanya berkisar 10 persen saja. “Kami perkirakan sampai akhir tahun ini jumlah pengguna bertambah menjadi 3,2 juta nomor, dan menjadi  7 juta pelanggan pada tahun depan. Angka ini realistis berkat adanya fitur baru ini,” katanya.

Saat ini  merchant yang bisa melayani T-Cash  adalah Indomaret yang terdapat di hampir 5.000 lokasi. Rencananya  pada tahun depan  akan ditambah hingga 15.000 lokasi, dengan perusahaan yang digandeng sebanyak 5.000 perusahaan.

Menurutnya, Telkomsel berpeluang meraup lebih banyak lagi pengguna  T-Cash karena masih banyak masyarakat Indonesia yang belum memiliki rekening di bank. “T-Cash ini membidik pelanggan yang tidak memiliki rekening di bank, terdapat kurang lebih 80 juta orang yang belum memiliki rekening bank. Jadi potensi pasarnya sangat besar,” jelasnya.

Diungkapkannya, saat ini pengguna T-Cash  rata-rata memiliki perputaran transaksi per bulan mencapai tiga  miliar rupiah  di mana sebagian besar merupakan transaksi bernominal 50 ribu hingga  150 ribu rupiah  per pelanggan.

Ikut Bermain
Group Head Pemasaran VAS Indosat Teguh Prasetya mengungkapkan, perseroan juga akan meluncurkan layanan mobile remittance (M. Remittance) ala Telkomsel pada pertengahan November ini. “Kami juga sudah mendapatkan izin KUPU pada Agustus lalu. Sekarang sedang dilakukan uji coba dulu,” katanya.

Indosat sendiri untuk uang digital memiliki produk dompetku yang telah digunakan oleh tiga ratus ribu pelanggan. Rencananya untuk M.Remittance akan menggandeng mitra outlet penjual voucher untuk tempat pencairan uang. “Itu salah satu strateginya karena yang dibidik adalah pelanggan yang tidak terkoneksi dengan perbankan,” katanya.

Teguh mengharapakan, regulator telekomunikasi dan perbankan mendukung upaya operator menghadirkan M.Remittance karena diyakini fitur ini akan membuat less cash society bisa terwujud di Indonesia.

“Regulator perbankan dan telekomunikasi harus kompak. Soalnya di perbankan ini masuk  penyelenggaraan micropayment, sementara di  telekomunikasi  dianggap  nilai tambah.  Di perbankan operator diperlakukan  seperti  bank padahal secara teknis yang dilakukan sama dengan  jual beli dan transfer pulsa saja,  hanya kali ini  denominasinya uang,” jelasnya.

Sementara Direktur Komersial XL Axiata Joy Wahjudi mengatakan, perseroan baru dalam tahap ujicoba untuk menggelar M.remittance. “Izin dari pemegang saham sudah didapat. Rencananya tahun depan baru dikomersialkan dengan membidik tenaga kerja Indonesia di luar negeri dan pasar lokal,” katanya.

Siapkan Infrastruktur
Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi  menjelaskan, regulator sedang menyiapkan infrastruktur berupa  white paper dan rancangan peraturan menteri  mengenai keamanan jaringan dan Biaya Hak Penggunaan (BHP) Jasa .

“Jasa ini agak rumit karena melibatkan aturan lain dari Bank Indonesia.  Ada dua  isu utama  terkait jasa  ini yakni  anti money laundering (AML) dan  combating financing terrorism (CFT). Selain itu tentunya fee yang besar dinikmati oleh pemainnya,” katanya.

Sementara Direktur Telecom Research Project Dr. Peter Lovelock mengatakan,  masalah regulasi memegang peranan penting karena akan mempengaruhi biaya dan investasi dari kegiatan mobile money. “Harus ada standarisasi sehingga tercipta interperobility yang membuat daya terima pasar terhadap produk ini tinggi. Isu lainnya yang perlu diperhatikan masalah perlukah transaksi ini terkena pajak pertambahan nilai. Soalnya jika ada pengiriman uang antar negara, masalah pajak akan menjadi hal utama,” katanya.

Senior Consultant Ovum Sascha Süßspeck menegaskan, masalah teknologi tidak menjadi hambatan dalam penyelenggaraan layanan mobile money karena bisa dijalankan melalui perangkat sederhana seperti ponsel 2G. “Hal yang harus diperhatikan adalah masalah kualitas layanan pengiriman harus setara dengan institusi keuangan khususnya masalah keamanan data,” katanya.

Diyakininya, di negara berkembang layanan uang digital akan mencapai pasar besar dalam waktu empat tahun mendatang jika isu-isu utama bisa diselesaikan.”Saya perkirakan penetrasinya bisa mencapai 30-40 persen jika masalah regulasi, interperobilitas dan standarisasi bisa diselesaikan,” katanya.

Diingatkannya,  mobile money tidak menjadi kontributor utama bagi  pendapatan operator karena menyediakan jasa itu  lebih kepada menjaga pelanggan dan nilai perusahaan tetap kompetitif di pasar. “Nah, sekarang tinggal regulator setempat memberikan ruang untuk menyuburkan dompet digital di wilayahnya agar less cash society terwujud,” tegasnya.

Pada kesempatan lain, Pengamat Telematika Dimitri Mahayana menyarankan, M.Remittance sebaiknya difokuskan kepada TKI  yang berjumlah 2,67 juta orang dengan pengiriman uang  mencapai 6,615 miliar dollar AS per tahunnya.

“Pengurangan biaya pengiriman uang sebesar 2-5 persen dapat meningkatkan remitansi 50-70 persen,  sehingga meningkatkan kegiatan ekonomi lokal. Jika layanan ini didukung keberadaannya dengan regulasi yang kuat, bisa dibayangkan dampaknya bagi perekonomian nasional,” tuturnya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s