151110 Antisipasi Perubahan

Jasa suara dan SMS dalam kurun waktu lima tahun belakangan ini masih menjadi andalan dari operator untuk mengembangkan pasar dan penyumbang terbesar bagi pendapatan.

Nokia Siemens Networks (NSN) mencatat pada tahun ini jasa yang masuk dalam kategori kebutuhan dasar di telekomunikasi itu menyumbang 85 persen bagi pendapatan operator.

Sementara International Data Corporation (IDC) memperkirakan hingga empat tahun mendatang SMS masih akan bisa berbicara banyak di pasar karena  karena masih ada sekitar 40 persen  masyarakat Indonesia yang belum menjadi pelanggan dari operator telekomunikasi

“Tahun 2020 kami perkirakan  tiga jenis bisnis, yakni layanan, koneksi dan campurannya akan dipisah secara penuh,” ungkap  Global Head of Industry Enviroment – India & Emerging Markets  Nokia Siemens Networks Ajay Ranjan Mishra di Jakarta, akhir pekan lalu.

Diprediksinya, sepuluh tahun mendatang bisnis di industri telekomunikasi akan  berubah dimana layanan  dasar  menjadi barang komoditas. “Pada 2020 nanti diramalkan  bisnis data akan meningkat hingga mencapai angka 73 persen, tidak seperti tahun 2010 yang mana bisnis telekomunikasi masih dikuasai bisnis suara  sebesar 85 persen,” katanya.

VP Mobile Advertising Management Telkomsel Nyoto Priyono mengakui, gelombang bisnis baru memang harus digarap oleh operator agar bisa mengoptimalkan infrastruktur yang dimilikinya.

“Salah satunya adalah mengoptimalkan basis pelanggan untuk mobile advertising. Bayangkan, Telkomsel memiliki total 94 juta pelanggan, 30 juta diantaranya memiliki potensi yang tinggi untuk mobile advertising. Sayangnya, hingga sekarang belum dioptimalkan oleh agency atau pengiklan,” sesalnya.

Diungkapkannya, pada tahun ini terdapat dana sebesar 9 triliun rupiah digunakan untuk beriklan oleh semua produsen.  Sayangnya, mobile advertising belum bisa mencicipi hingga satu persen dari angka itu. “Masih kecil walau impresinya lebih terukur ketimbang di media tradisional. Saya rasa masalah momentum yang belum didapat oleh produk ini, sepertinya masih butuh waktu dua tahun lagi.  Tetapi Telkomsel tetap yakin bisa meraih 40 miliar rupiah dari jasa ini,” katanya.

Dijelaskannya, upaya untuk mencapai target tersebut dengan menawarkan produk baru seperti   layanan Ad@hand dan mobile coupon (MCoupon). Ad@hand adalah  layanan mobile advertising berbasis lokasi dengan memanfaatkan SMS dan MMS  untuk memudahkan pengiriman pesan komersial  ke ponsel pelanggan

Sedangkan M.Coupon adalah  kupon elektronik berupa image dalam layanan MMS yang bisa  digunakan pelanggan untuk membeli suatu produk dengan potongan harga sesuai dengan nilai yang tertera pada kupon tersebut.  Kedua layanan ini telah hadir di  Jakarta dan selanjutnya dikembangkan ke  Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Medan, dan Makassar.

“Saya optimistis layanan kupon mobile akan bisa diterima oleh pasar karena konsep yang ditawarkan sama dengan prabayar. Apalagi harga dari kupon sendiri lebih murah ketimbang ritel. Ini karena biaya pemasaran berupa iklan telah masuk dalam kupon sehingga bisa dikonversi menjadi diskon,” jelasnya.

Direktur Pemasaran XL Nicanor V Santiago mengungkapkan, perseroan mengandalkan konsep mobile data service untuk menggaet pasar mobile advertising. Produk MDS XL diantaranya XL BlackBerry Mall, Fanbook, dan XLgo!. Sedangkan mitra yang diajak kerjasama adalah Buzzcity dan Inmobi. “Pendapatan dari mobile advertising ini sekitar 8 miliar rupiah per kuartal,” ungkapnya.[dni]

151110 Tarif Promosi : Waspada Jebakan Pemasaran

Menyambut akhir tahun 2010, dua operator mengenalkan tarif promosi baru yang dimilikinya. Kedua operator itu adalah PT Indosat Tbk (Indosat) dan PT Bakrie Teelcom Tbk (Btel). Masing-masing menawarkan tarif promosi yang terlihat sederhana secara bahasa pemasaran.

Lihat saja Btel yang menetapkan tarif Rp 1 untuk semua jenis layanan yang ditawarkan oleh produk Esia atau angka 24 yang dijadikan acuan untuk semua bentuk penawaran dari produk IM3 milik Indosat.

“Kini semuanya disatukan dalam satu tarif untuk semua layanan, yaitu Rp 1. Apa saja  bisa   satu rupiah,”  ungkap Wakil Direktur Utama  Bakrie Telecom Erik Meijer di Jakarta belum lama ini.

Erik mengklaim,  konsep yang ditawarkannya  lebih memanjakan pelanggan di saat semua operator lain dari tarif per detik pindah ke per menit atau melakukan pembulatan  ke atas. “Itu kan sama saja menaikkan  tarif, kami justru menurunkan dan menjadikannya per detik,” tegasnya.

Director & Chief Commercial Officer Indosat Laszlo Barta menegaskan, program baru yang ditawarkannya lebih kompetitif ketimbang pesaing.  “Kami sekarang sudah memiliki 40 juta pelanggan. Program baru ini menawarkan kepada masyarakat berkomunikasi dengan biaya yang lebih kompetitif tanpa harus mengundang perang tarif dengan pemain lain,” jelasnya.

Untuk diketahui, di pasar esia bertempur sengit dengan Flexi yang menawarkan tarif 49 rupiah per menit. Sementara IM3 dengan XL yang lebih dulu menawarkan tarif 25 rupiah per menit. Lantas, benarkah penawaran terbaru yang ditawarkan oleh esia dan IM3 ini benar-benar menguntungkan pelanggan.

Lebih Mahal
Koran Jakarta mencoba melakukan simulasi  tarif baru yang dimiliki oleh esia untuk percakapan empat, enam, dan 60 menit ke sesama pelanggan.  Durasi ini dipilih karena biasanya pelanggan berbicara di beberapa durasi tersebut dan 95 persen panggilan dilakukan ke sesama operator.

Hasilnya, untuk panggilan selama empat menit dari esia dikenakan biaya 230 rupiah, 6 menit ( Rp 350), dan satu jam (Rp 3.590). Angka itu jika dibandingkan dengan tarif esia sebelumnya sebesar 50 rupiah justru ada kenaikan yang dialami oleh pelanggan.

Jika menggunakan tarif lama maka pembicaraan empat menit hanya dikenakan biaya 200 rupiah, enam menit (Rp 300), dan satu jam jika tidak ada mengalami putus sambungan seribu rupiah, tetapi jika terjadi putus sambungan sekitar tiga ribu rupiah. Hal ini berarti jika dibandingkan tarif baru   dan  lama milik esia justru terjadi kenaikan sebesar  15 persen untuk pembicaraan empat menit, 17 persen (enam menit), dan 20 persen (satu jam).

Sementara untuk panggilan lokal seluler, tarif yang dibayar pelanggan Esia untuk lima menit sekitar 3.350 rupiah. Hal ini karena walau tarif pembicaraan lima menit hanya 300 rupiah, tetapi ada fasilitas registrasi harian sebesar tiga ribu rupiah dan biaya SMS registrasi 50 rupiah. Tarif “hemat” ke seluler ini juga memiliki batas waktu hingga menjelang tengah malam pada hari bersangkutan.

Sekarang mari bandingkan dengan Flexi yang mengaku lebih irit dalam komunikasi pemasarannya. Flexi yang memberlakukan angka keramat 49 untuk pembicaraan empat menit hanya mengenakan tarif 196 rupiah, 6 menit (Rp 294), dan satu jam (Rp 2.940).

Sedangkan untuk percakapan ke seluler lokal khususnya Telkomsel yang menguasai 50 persen pangsa pasar jasa itu, hanya mengenakan biaya 959, 29 rupiah untuk lima menit percakapan. Angka itu  sudah memasukkan biaya registrasi harian sebesar 714,29 rupiah.

Simulasi berikutnya adalah untuk program 24 milik IM3. panggilan dilakukan dengan membandingkan tarif milik XL. Untuk diketahui, tarif 24 milik IM3 memliki empat time band yakni 00.00-06.00, 06.00-11.00, 11.00-17.00, dan 17.00-24.00.

Misalnya di area Jawa, untuk jam  00 – 06 berlaku Rp 24/ menit,  06 – 11 dikenakan Rp 24/10 detik untuk dua menit pertama dan setelah itu  Rp 24/menit untuk dua menit.  Selanjutnya jam  11 – 17  tarifnya  Rp 24/ 6 detik pertama  setelah itu  Rp 24/menit  untuk  2 menit dan jam 17 – 24 tarifnya Rp 24 setiap 4 detik untuk dua menit pertama setelah itu  Rp 24/ untuk 30 detik  di   2 menit berikutnya.

Hasilnya, untuk panggilan ke sesama IM3 untuk lima menit pada jam  00-06 adalah  120 rupiah,  06.00-11.00 sebesar 360 rupiah, 11.00-17.00 (Rp 552), 17.00-24.00 (Rp 864). Sementara XL untuk tiga time band (00.00-06.00, 06.00-11.00, 11.00-17.00) hanya 125 rupiah, sementara untuk jam 17.00-24.00 sebesar   1.550 rupiah.

Fokus Komunikasi
Executive General Manager Telkom Flexi Triana Mulyatsa menegaskan, untuk penawaran di pasar Flexi masih lebih kompetitif ketimbang pesaingnya. “Kami hanya perlu mengedukasi pasar dengan komunikasi pemasaran yang tepat. Kalau bicara produk, kita tetap akan konsisten dengan penawaran 49,” tegasnya.

Direktur Pemasaran XL Nicanor V Santiago mengaku belum berminat untuk mengeluarkan program baru karena sudah melakukannya sejak beberapa bulan lalu. “Program Rp 25 per menit masih menunjukkan kinerja yang baik. Kami belum berminat untuk menjawab tantangan dari pemain besar lainnya,” katanya.

Dijelaskannya, hal yang mungkin dilakukan oleh XL adalah memperbarui komunikasi pemasaran karena ini memegang peranan penting di pasar untuk mengakuisisi pelanggan.”Masyarakat itu senang dengan segala sesuatu yang baru. Perubahan sedikit saja pada iklan dan bentuk kartu perdana bisa membuat impulsive buying. Sepertinya mengubah iklan akan kami lakukan secepatnya,” jelasnya.

Lebih Teliti
Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi meminta pelanggan lebih teliti membaca penawaran yang diberikan oleh operator karena bahasa pemasaran selalu banyak jebakan.

“Sebagai regulator sudah dilakukan pencegahan dengan meminta operator melaporkan setiap detail penawaran yang diberikan ke masyarakat. Jika ada yang justru menaikkan tarifnya akan diperingatkan. Hampir semua operator pernah kita semprit untuk urusan seperti ini,” tegasnya.

Anggota Komite lainnya, M. Ridwan Effendi  mengungkapkan, tarif promosi harus memiliki batas waktu yang jelas dan angkanya berada di bawah biaya produksi yang terefleksi di penawaran interkoneksi masing-masing pemain.

“Regulator tidak punya hak untuk mengurus tarif ritel. Tetapi untuk menjaga persaingan ada pemikiran untuk menetapkan batas atas dan bawah agar tidak terjadi predatory pricing di pasar,” katanya.

Sedangkan pengamat telekomunikasi Guntur S. Siboro menilai, banyak penawaran operator terkesan bombastis tetapi melupakan kenyataan yang tidak cocok dengan perilaku dari pengguna. “Untuk segmen tertentu jika menggunakan layanan dengan tarif per detik alias ketengan tentu merugikan. Bagaimana pun  harga ketengan selalu lebih tinggi dibanding harga dalam unit banyak,” ketusnya.[dni]

Frankl kemudian memvisualisasikan dirinya pada keadaan-keadaan yang berbeda, misalnya sedang memberikan kuliah pada para mahasiswanya sesudah dilepaskan dari kamp maut tersebut. Di dalam pikirannya, ia menggambarkan dirinya berada di dalam ruang kuliah dan memberikan pelajaran tentang apa yang ia pelajari selama menjalani siksaan.
Melalui serangkaian kedisiplinan diri secara mental dan emosional ia melatih dirinya dengan menggunakan visualisasi membuahi pikirannya sehingga tercipta embrio kebebasan di dalam pikiran bawah sadarnya. Kemudian dengan disiplin dia menumbuhkembangkan embrio kebebasan itu menjadi lebih besar daripada orang-orang Nazi yang menangkapnya.
Meskipun para sipir penjara itu secara fisik adalah manusia merdeka, tetapi secara mental Frankl memiliki kebebasan yang lebih besar. Ia memiliki kekuatan batin yang lebih besar dan menjadi sumber inspirasi bagi orang-orang di sekitarnya, bahkan bagi beberapa sipir penjara. Ia menolong orang lain menemukan arti penderitaan dan martabat mereka dalam keberadaan mereka di kamp konsentrasi dan diperlakukan lebih rendah dari seekor binatang.
Di tengah keadaan yang paling hina tersebut, Frankl menggunakan anugerah Tuhan berupa kekuatan untuk bertahan (the power of survival) melalui kekuatan pikirannya (the power of mind) dan kekuatan impian dan keyakinannya (the power of dreams) dengan senantiasa fokus (the power of focus) pada impiannya tersebut.
Ia selanjutnya melatih dirinya dalam penciptaan realitas yang diimpikannya melalui serangkaian kedisiplinan diri (the power of self-discipline) sehingga dia dapat mempelajari secara lebih jauh keberadaan dirinya dan kekuatan yang dimilikinya (the power of learning).
Puncak dari itu semua adalah kekuatan kasih yang dimilikinya (the power of love) yang memungkinkan dia memiliki kedamaian diri dan kerinduan untuk membantu dan memberi semangat serta inspirasi bagi orang-orang di sekelilingnya untuk dapat bertahan dan menemukan kembali martabat kemanusiaan mereka yang terhempas akibat perlakuan yang tidak berperikemanusiaan dari tentara Nazi.

151110 BRTI Desak BTEL Gelar SLJJ

JAKARTA—Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) mendesak PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) untuk memberikan kepastian waktu penggelaran layanan Sambungan Langsung Jarak Jauh (SLJJ) karena Izin prinsip telah diberikan sejak dua tahun lalu.

“Sampai sekarang tidak ada kepastian penggelaran SLJJ oleh BTEL. Bahkan untuk mengajukan  uji laik operasional (ULO) sebagai prasyarat mendapatkan izin penyelenggaraan SLJJ saja belum ada. Masalah ini belum selesai, BTEL sudah mengajukan pula lisensi ingin bermain di seluler,” sesal Anggota Komite BRTI Heru Sutadi di Jakarta, Senin (15/11).

Menurutnya, pengajuan ULO harus dilakukan dua tahun setelah pemberian izin prinsip oleh regulator. tahun ini.“Jika tidak ULO untuk komersial sampai batas waktu yang ditentukan, izin prinsipnya bisa kita batalkan,” tegasnya.

Berdasarkan catatan,  komitmen pembangunan jaringan tetap SLJJ yang harus dilakukan oleh BTEL   diantaranya  komitmen minimal dari pembangunan infrastruktur jaringan tetap SLJJ sebanyak 58 kota/kabupaten di mana 15 kota/kabupaten berada di wilayah Indonesia bagian timur.

BTEL juga harus membangun terlebih dahulu 24 point of interconnection (POI) dengan panjang jaringan transmisi baru yang akan dibangun sepanjang 3.003 km. Sementara itu, kapasitas jaringan yang akan dimanfaatkan untuk penyelenggaraan layanan SLJJ sebanyak 80 core.

Anggota Komite lainnya,   Nonot Harsono menilai BTEL  akan kesulitan mengembangkan jasa  SLJJ karena belum adanya kepastian kelancaran kode akses dari operator incumbent seperti penentuan point of interconnection (PoI) dan point of contact (PoC).

“Berat kerjaannya dan hasilnya belum tentu ada, mengingat dengan seluler sepertinya SLJJ sudah banyak ditinggalkan pelanggan. Operator ini juga akan kesulitan BTEL   merealisasikan model jaringan PSTN ke dalam jaringan bermesin seluler,” katanya.

Sementara Direktur Layanan Korporasi  Bakrie Telecom  Rakhmat Junaidi mengatakan pihaknya segera mengajukan ULO SLJJ. “Saat ini sedang dalam pembangunan. Tunggu sebentar lagi. Bedasarkan regulasi kami diberikan waktu tiga tahun,” katanya. [dni]

151110 T-Cash Bidik 3,2 Juta Pengguna

JAKARTA—Telkomsel mengharapkan layanan mobile money, Telkomsel Cash (T-Cash), mampu membidik 3,2 juta pelanggan pada akhir tahun nanti setelah mengeluarkan produk baru T-Cash Kirim uang.

T-Cash adalah  layanan yang  memungkinkan ponsel pelanggan berfungsi layaknya dompet penyimpanan uang atau m-money yang siap digunakan untuk bertransaksi dengan nominal hingga 5 juta rupiah.

Layanan T-Cash Kirim uang sendiri memungkinkan  pelanggan bisa melakukan pengiriman uang langsung dari ponsel secepat mengirim SMS dan langsung dapat melakukan penarikan tunai di seluruh outlet Indomaret.

Vice President T-Cash Management PT Telkomsel Bambang Supriogo mengatakan jumlah pengguna T-Cash saat ini mencapai 3 juta nomor, di mana yang aktif hanya berkisar 10 persen saja.

“Kami perkirakan sampai akhir tahun ini jumlah pengguna bertambah menjadi 3,2 juta nomor, dan terus membesar di bulan-bulan berikutnya setelah ada layanan kirim uang. Pada 2011  diperkirakan mencapai 7 juta pelanggan,” katanya di Jakarta, belum lama ini.

Diungkapaknnya,  dari total pengguna T-Cash saat ini, rata-rata perputaran transaksi per bulan mencapai 3 miliar rupiah di mana sebagian besar merupakan transaksi bernominal 50 — 150 ribu rupiah   per pelanggan.

Saat ini  merchant yang bisa melayani T-Cash ini adalah Indomaret yang terdapat di hampir 5.000 lokasi, namun pada 2011 mendatang, akan ditambah hingga 15.000 lokasi, dengan perusahaan yang digandeng sebanyak 5.000 perusahaan.

GM Sales & Marketing  Telkomsel Regional Jabar Erick Noviantoro mengatakan pihaknya akan menambah fitur layanan T-Cash, tidak hanya sebagai sebagai alat transaksi di merchant Indomaret saja. Hal ini karena di   Jabar pengguna T-Cash  mencapai 260.000 nomor, tersebar sebagian besar di Kota Bandung yang mencapai 240.000 nomor

“Kami akan tambah lagi dengan layanan pembayaran rekening listrik, kerja sama dengan PT PLN, juga pembayaran tagihan air dengan PDAM,” ujarnya.[dni]

151110 Kemhub Perpanjang Penutupan Bandara Adi Sutjipto

JAKARTA –Kementrian Perhubungan (Kemhub) memutuskan untuk memperpanjang penutupan Bandara Internasional Adi Sutjipto Yogyakarta selama lima hari ke depan karena menilai debu dari letusan Gunung Merapi masih mengganggu penerbangan.

“Sebelumnya sudah diputuskan bandara itu ditutup hingga 15 November. Melihat keadaan terbaru kita putuskan tetap menutup hingga lima hari kedepan,” ungkap Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Herry Bakti Singayudha Gumay di Jakarta, Senin (15/11).

Menurutnya, meski intensitas letusan Merapi telah menurun, namun masih ada awan debu yang mengganggu. “Letusan masih terjadi dan angin menuju arah selatan dan barat. Karenanya kota Yogyakarta masih diselimuti debu vulkanik, meski jumlahnya telah berkurang, tetapi masih tetap membahayakan penerbangan. Kita  mengutamakan safety, inilah alasan  bandara ditutup lagi untuk lima hari,” katanya.

Diungkapkannya, penutupan tersebut melanjutkan notice to airman (notam) karena debu gunung meletus atau ashtam yang telah dikeluarkan oleh Kemhub selama seminggu sejak 8 November lalu. Adanya putusan terbaru ini membuat  bandara Adi Sutjipto ditutup hingga 20 November nanti

Selain untuk keselamatan, lanjutnya,  pemerintah juga tidak mau gegabah memberikan izin terbang ke Yogyakarta agar dunia internasional semakin percaya pada regulasi penerbangan di Indonesia.

Herry meminta seluruh maskapai penerbangan maupun pihak PT Angkasa Pura I (Persero) selaku pengelola bandara  untuk bisa memahami kebijakan penutupan bandara tersebut.

“Pihak bandara meminta sudah boleh beroperasi, tetapi saya bilang tidak. Memang ada potensi kerugiannya karena tidak beroperasi seperti biasa, tapi coba pahami faktor keselamatan. Kalau terjadi apa-apa bukan hanya rugi materil yang terjadi, tetapi citra  kita di mata internasional jadi jelek,” tegasnya.

Disarankannya,   maskapai  agar mengalihkan penerbangan ke Yogyakarta  dengan rute yang lebih dekat yaitu Bandara A Yani,  Semarang atau Bandara Adi Sumarmo, Solo.

Semarang dan Solo dinyatakan aman untuk penerbangan karena tidak masuk dalam lintasan abu vulkanik merapi. Abu tersebut memenuhi wilayah di sebelah selatan dan barat gunung, yaitu Yogyakarta  dan Magelang

Secara terpisah, juru bicara Garuda Indonesia Pujobroto, juru bicara Batavia Air Eddy Harianto, dan Direktur Umum Lion Air Edward Sirait mengaku siap menjalankan himbauan dari regulator. “Maskapai itu tunduk pada perintah regulator. Jika dilarang ke sana, kita ikuti,” kata mereka kala dihubungi secara terpisah.

Sebelumnya, Ketua Umum Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Emirsyah Satar memperkirakan,   potensi kehilangan pendapatan yang di derita seluruh maskapai akibat  tidak bisa terbang ke Bandara Adisutjipto  lebih dari 35,28 miliar rupiah selama satu minggu.

Angka tersebut  berasal dari 42 penerbangan domestik dikalikan kapasitas 100 kursi per pesawat dikalikan tarif per penumpang sekitar  600 ribu rupiah dikalikan tujuh hari dikalikan dua penerbangan pulang pergi.

“Angkanya masih bisa lebih besar lagi karena kapasitas pesawat yang digunakan maskapai dan tarif per penumpang bisa lebih besar dari itu tergantung kelompok layanan maskapainya. Belum lagi di Jogjakarta juga ada tiga penerbangan internasional PP,” kata Emir.[Dni]