121110 Pembelian Perangkat TI Sebaiknya oleh Pemerintah Pusat

JAKARTA—Pembelian perangkat Teknologi Informasi (TI) yang berkaitan dengan masalah keamanan, pemerintahan, dan infrastruktur sebaiknya dilakukan oleh pemerintah pusat agar terjadi penghematan  anggaran dan kemudahan koordinasi penggunaan.

“Sebaiknya pembelian perangkat TI yang berkaitan dengan tiga hal itu dilakukan oleh pemerintah pusat suatu negara karena ini melibatkan dana yang besar dan penggunannya membutuhkan banyak koordinasi dari berbagai instansi,” ungkap General Manager Intergraph Southeast Asia Russel Smith di Jakarta, Kamis (11/11).

Intergraph adalah perusahaan yang menawarkan solusi TI untuk keamanan, pemerintahan, dam infrstruktur berbasis geospasial dari Amerika Serikat. Perusahaan ini telah melayani 60 negara di seluruh dunia melalui solusi TI yang memungkinkan satu pemerintahan bisa mengambil keputusan operasional lebih baik dan cepat.

Dijelaskannya, masalah ego sketoral dalam pembelian satu perangkat TI hal yang lumrah terjadi tidak hanya di negara berkembang, tetapi juga di negara maju. “Di Amerika Serikat juga terjadi hal yang sama. Sekarang tinggal bagaimana posisi dari pemerintahan pusatnya mengambil posisi untuk berinisiatif dengan menegaskan perangkat TI tertentu harus dikelola secara nasional. Saya rasa di Indonesia untuk beberapa perangkat sudah mulai ditegaskan,” katanya.

Menurutnya, jika adanya koordinasi yang baikdari pembelian satu perangkat TI, maka bisa terjadi penghematan biaya sebesar 30 hingga 40 persen oleh negara. Hal itu dipacu karena adanya sentralisasi, standarisasi, dan optimisasi.

Berkaitan dengan produk yang dijualnya, Russel mengungkapkan, harganya mulai dari 200 ribu hingga 100 juta dollar AS. “Komponen yang mahal untuk eksternal hardware. Di negara biasa kami beroperasi, setidaknya 10 persen dari belanja TI pemerintah bisa diserap untuk solusi Intergraph,”  katanya.

Berdasarkan catatan, sektor pemerintah rata-rata mengambil porsi 11 persen dari belanja TI nasional yang tahun ini diperkirakan mencapai 1,731 miliar dollar AS atau tumbuh 11,9 persen dari tahun sebelumnya. Jika Intergraph membidik 10 persen dari belanja TI pemerintah, maka ada uang senilai  19.041 juta dollar AS yang diincar.

Sementara Praktisi Telematika Mochammad James Falahuddin mengatakan, kendala belum makasimalnya penggunaan perangkat TI oleh pemerintah adalah karena terlalu fokus kepada penyerapan anggaran, bukan pada master plan.

“Sistem anggaran pemerintahan yang masih menjadikan ‘penyerapan’ anggaran dalam satu periode sebagai salah satu indikator utama kinerja lembaga pemerintahan,  ikut andil  borosnya pembelian perangkat TI tidak penting.  Biasanya di kuartal keempat tahun ini, akan bermunculan berbagai pekerjaan yang ‘kurang penting’ tapi dipaksa diwujudkan demi mantra ‘terpenuhinya target penyerapan anggaran,” katanya.

Menurut James, kendala lainnya adalah keinginan dari pemerintah memulai terlalu besar atau terlalu kecil  Hal ini bisa dilihat dari banyaknya  instansi pemerintah yang begitu ambisius, meluncurkan proyek implementasi TI dalam skala yang sangat besar, entah itu jumlah sistem yang dibangun dalam satu rangkaian proyek cukup banyak, atau sasaran implementasi dari satu sistem yang terlalu luas.

“Masalah lainnya di pemerintah itu adalah terlalu berfokus pada sistim transaksional, bukan pada proses bisnis  dan kurang memiliki pemahaman terhadap ekosistem TI secara utuh. Solusi dari menyelesaikan masalah itu perlu adanya perubahan paradigma mengukur kesuskesan instansi, membuat master plan, dan memahami transformasi bisnis,”  tuturnya.[dni]

121110 Garuda Selesaikan Penerbangan Haji Tahap I

JAKARTA—Maskapai nasional, Garuda Indonesia, menyelesaikan  penerbangan haji tahap pertama untuk keberangkatan dari 10 embarkasi dengan menerbangkan  sebanyak 119.622 jemaah yang terbagi dalam 308 kloter pada Kamis (11/11).

“Penerbangan diselesaikan  dengan ketepatan waktu (on time performance/OTP) sebesar 92.26 persen. Penerbangan terakhir phase I (keberangkatan) yaitu kloter 44 (GA-1505) dari Makasaar, diberangkatakan dari Makassar pada pukul 13.24 WITA, Rabu (10/11) dan tiba di Jeddah pada Kamis (11/11) dinihari pukul 03.00 waktu setempat dan mengangkut 239 calon jemaah,” ungkap Juru bicara Garuda Indonesia Pujobroto di Jakarta, Kamis (11/11).

Berkaitan dengan  kondisi Gunung Merapi yang mengakibatkan terganggunya jalur penerbangan di wilayah Solo dan sekitarnya, Pujo menjelaskan,  sesuai koordinasi dengan Pemerintah (Departemen Agama) dan berbagai lembaga terkait lainnya, maka penerbangan haji embarkasi Solo, mulai kloter 64 hingga kloter 88,  dialihkan ke Surabaya.

Untuk keberangkatan dari Surabaya tersebut, Garuda Indonesia menyiapkan kendaraan bus untuk mengangkut para jemaah menuju Surabaya dan proses check-in, pelaporan bagasi, dan persiapan – persiapan lainnya telah diselesaikan terlebih dahulu di Solo.

“Tahap kedua atau kepulangan akan dimulai  dimulai pada 21 November hingga  20 Desember 2010. Kami harapkan tidak ada hambatan di tahap kedua nanti,” katanya.

Berdasarkan catatan,    Garuda   mengoperasikan 15 pesawat berbadan lebar (wide body) yang terdiri dari empat pesawat Boeing 747, satu pesawat Boeing 767, enam pesawat Airbus 330-300, dan empat pesawat Airbus 330-200.

Pesawat-pesawat tersebut  rata-rata berusia muda, bahkan ada yang diproduksi tahun 2009, dan proses tender pesawat-pesawat tersebut dilaksanakan secara terbuka dan transparan – yang diumumkan di beberapa media cetak nasional dan internasional.

Secara terpisah, Direktur Umum Lion Air Edward Sirait mengungkapkan, maskapainya   secara resmi beroperasi di Terminal 1B Bandara Soekarno Hatta (Soetta) mulai 11 November 2010 untuk penerbangan ke dan dari Sumatera, Batam, Pangkal Pinang dan Palangkaraya.

Di Terminal 1B Lion Air mendapatkan dedicated check-in counters dan boarding gates serta fasilitas lain sesuai standard pelayanan penerbangan yang ada.

“Untuk penerbangan lainnya masih tetap beroperasi di Terminal 1A.  Penambahan terminal operasional merupakan solusi meningkatkan pelayanan penumpang khususnya kenyamanan sebelum terbang (pre-flight) oleh karena kapasitas di Terminal 1A yang sudah over capacity,” katanya.

Untuk diketahui,  penerbangan Lion Air dari dan ke Bandara Soetta  secara keseluruhan berjumlah 143 frekuensi penerbangan per hari sedangkan yang melalui Terminal 1B pada saat ini kurang lebih 65 frekuensi penerbangan per hari.

Saat ini total penerbangan per-hari (flight per day) dari 61 pesawat yang dimiliki perseroan  rata-rata 460 frekuensi penerbangan (350 penerbangan Lion Air dan 110 penerbangan Wings Air), melayani penerbangan ke 64 kota tujuan (domestik dan internasional).

Apron Soetta
Pada kesempatan lain, Chief of Auction Komite Lelang   Angkasa Pura II Agus Haryadi mengungkapkan, perseroan  menetapkan PT Adhi Karya Tbk sebagai pemenang lelang pembangunan apron atau tempat parkir pesawat di Terminal 3 Pier 1  Bandara Soetta.

“Proses lelang sudah dimulai sejak 3 November 2009. Setelah dilakukan evaluasi administrasi, teknis dan harga maka kami tetapkan Adhi Karya sebagai pemenang lelang tersebut dengan nilai pekerjaan 156,33
miliar rupiah,” katanya.

Dijelaskannya, AP II memberikan  waktu untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut selama 300 hari sejak tanggal yang ditetapkan dalam kontrak bagi Adhi Karya.

Adhi Karya sebelumnya juga  ditetapkan sebagai pemenang pekerjaan penebalan (overlay) landasan pacu Bandara Husein Sastranegara Bandung yang dikelola oleh AP II.[dni]