041110 Konsolidasi BTEL-Flexi: Valuasi Aset oleh Konsultan

JAKARTA—PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) memilih valuasi aset perseroan dilakukan oleh konsultan independen dalam proses konsolidasi dengan unit usaha Fixed Wireless Access (FWA) milik PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom).

“Kami lebih memilih valuasi asset dilakukan oleh pihak profesional dan independen. Soalnya kedua perusahaan terdaftar sebagai perusahaan publik,” tegas Presiden Direktur Bakrie Telecom Anindya N Bakrie di Jakarta, Rabu (3/11).

Diungkapkannya, masalah pemilihan konsultan merupakan tahap selanjutnya dari negosiasi dengan Telkom dalam rangka konsolidasi. “Sekarang kita fokus kepada bentuk dari konsolidasi dulu. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan seperti masalah aset dan sumber daya manusia. Ini isu penting, karena ini pertama kalinya dua perusahaan besar di telekomunikasi berkonsolidasi,” tegasnya.

Dikatakannya, pihak BTEL sangat berkeinginan konsolidasi terjadi antara kedua perusahaan karena bisa menghemat sumber daya terbatas seperti penomoran dan frekuensi serta biaya pemasaran. “Kalau ditanya saya mau secepatnya ini terealisasi. Tetapi keduanya adalah perusahaan publik. Jadi, harus berhati-hati,” katanya

Sebelumnya, Sekjen Serikat Karyawan (Sekar) Telkom Asep Mulyana, meminta valuasi aset Flexi melibatkan lembaga negara seperti Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk mencegah kerugian dalam konsolidasi dengan BTEL.

“Flexi itu adalah aset negara. Tidak bisa hanya menyewa konsultan swasta untuk melakukan valuasi aset, karena tidak akan independen,” tegasnya.

Menurutnya, sebagai bagian dari aset negara dimana Flexi adalah unit bisnis Telkom yang notabene Badan Usaha Milik Negara (BUMN)harus hati-hati dalam memperlakukannya oleh manajemen.

“Jika hanya konsultan ditunjuk oleh Dewan Direksi, tentu akan melapor kepada Direksi juga. Padahal, posisi direksi sendiri sesuai Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) 14 Juni 2010 hanya sementara. Kalau begini harusnya tidak boleh mengambil kebijakan strategis,” katanya.

Diungkapkannya, secara aset Flexi memiliki nilai sekitar 7 triliun rupiah, tetapi mengingat akan dimergerkan dengan BTEL yang notabene swasta dan tercatat sahamnya di bursa maka tidak seimbang dalam bernegosiasi. Sedangkan nilai kapitalisasi pasar BTEL saat ini sebesar 6,693 triliun rupiah

“BTEL pasti akan menyodorkan saham, sementara Flexi berupa aset yang nilainya tidak bisa dikerek. Saham BTEL saja sejak pertengahan September lalu terangkat dari 160 menjadi 250 rupiah berkat pernyataan dari Menneg BUMN Mustafa Abubakar yang terkesan mendukung merger. Ini kan tidak apple to apple jadinya,” sesalnya.

Belum lagi, lanjutnya, masalah hutang BTEL yang nanti bisa ikut menjadi tanggungan Telkom secara grup jika nanti memiliki saham perusahaan itu.

Berdasarkan laporan keuangan BTEL per Juni 2010, pada 16 Juli 2010 salah satu emiten Grup Bakrie ini kembali berutang sebesar 30 juta dollar AS.Setelah itu pada 12 Agustus 2010 berhutang RMB 2 miliar dari Industrial and Commercial Bank of China dan Huawei Technologies Co. Ltd.

Tambahan utang ini membuat beban bunga yang dibayarkan oleh BTEL kembali menanjak sehingga menekan bottom line perseroan. Tercatat, laba bersih BTEL pada semester I lalu anjlok drastis 96,29 persen dari 72,8 miliar rupiah menjadi tinggal 2,7 miliar rupiah.

Menanggapi masalah kinerja bottom line dari perseroan, Anindya menegaskan, laba BTEL tertekan bukan karena factor biaya operasional tetapi lebih kepada masalah selisih kurs. “Kinerja kami dalam jalur yang benar,” tegasnya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s