041110 KemHub Tetap Optimistis Pertumbuhan Penumpang Tercapai

JAKARTA—Kementrian Perhubungan (Kemhub) tetap optimistis target pertumbuhan penumpang sebesar 10 persen disbanding tahun lalu masih bisa tercapai walau ada bencana letusan Gunung Merapi yang mengganggu penerbangan ke Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta, Achmad Yani Semarang dan Adi Soemarmo Solo.

“Memang trafik penumpang dan pesawat ke tiga bandara itu, khususnya ke Yogyakarta tinggi. Tetapi target pertumbuhan 10 persen masih bisa tercapai karena kami menghitungnya sepanjang tahun, bukan hanya November-Desember saja,” kata Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemhub Herry Bakti S Gumay di Jakarta, Rabu (3/11).

Berdasarkan catatan, pemerintah menargetkan jumlah penumpang domestik sebanyak 48,18 juta dan 5,45 juta penumpang internasional. Target ini naik 10 persen dibandingkan realisasi tahun lalu dimana penumpang domestik sebanyak 43,8 juta dan 4,96 juta penumpang internasional.

Hingga kuartal III 2010, jumlah penumpang pesawat yang diterbangkan maskapai nasional sebanyak 35,7 juta orang terdiri dari 31,64 juta (65,6% dari target) penumpang domestik dan 4,06 juta (74,4%) penumpang internasional.

Adanya letusan Gunung Merapi membuat beberapa operator menghentikan melayani rut eke Yogyakarta. Tercatat sudah ada PT Indonesia AirAsia yang membatalkan penerbangan Kuala Lumpur-Solo dan Kuala Lumpur-Yogyakarta sepanjang hari kemarin karena khawatir akan debu vulkanik Merapi.

Hal tersebut diikuti oleh dua maskapai asing lainnya, yaitu Silk Air dan Thomas Cook yang enggan mendarat di Solo masing-masing dari Singapura dan Jeddah. Meskipun penumpang yang diangkut dua maskapai itu tidak masuk dalam realisasi penumpang maskapai nasional yang dicatat Kemhub.

Herry sendiri mengakui, penerbangan ke tiga kota di Jawa Tengah itu sudah berstatus waspada. Bahkan otoritas penerbangan Darwin Australia disebutnya sudah menerbitkan notice to airmen untuk mewaspadai pergerakan debu vulkanik (Ashtam) di ketiga kota tersebut.

“Kami menyiasatinya dengan menyiapkan rute Utara dan Selatan. Misalnya rute Selatan yang melintasi Madiun, sebelumnya dilarang oleh Kepala Staf Angkutan Udara untuk dilintasi penerbangan komersil. Tetapi setelah kami jelaskan kondisinya, rute itu bisa dibuka. Sehingga pesawat yang mau terbang dari arah Bali atau Timur ke Barat seperti Solo, Semarang, Yogyakarta, Jakarta bisa lewat situ dengan ketinggian diatas 20.000 kaki,” jelasnya.

Secara terpisah, juru bicara Garuda Indonesia Pujobroto mengakui, sehubungan dengan perkembangan terakhir kondisi Gunung Merapi yang mengakibatkan terganggunya jalur penerbangan di wilayah Solo dan sekitarnya, beberapa penerbangan haji dari Solo dalam beberapa hari ini tidak dapat dilaksanakan.

“Sesuai koordinasi Garuda Indonesia dengan Pemerintah (Departemen Agama) dan berbagai lembaga terkait lainnya, maka penerbangan haji embarkasi Solo mulai hari ini, Rabu (3/11) dialihkan ke Surabaya,” katanya.

Sebagai pelaksanaan pengalihan penerbangan haji dari Solo tersebut, maka pada hari ini (Rabu, 3/11) akan dilaksanakan penerbanga kloter 64, kloter 65, kloter 66 dan kloter 67 asal embarkasi Solo, masing – masing berangkat pada pukul 11.00, 15.00, 15.30, dan 16.00 WIB dengan rute Surabaya – Batam – Jedah.

Menurutnya, langkah pengalihan pemberangkatan ke Surabaya tersebut juga didasarkan pada pertimbangan bahwa pelaksanaan penerbangan haji dari seluruh embarkasi di tanah air – termasuk Solo – harus dapat diselesaikan pada batas waktu pelaksanaan penerbangan haji di bandara King Abdul Aziz Jeddah, yaitu harus berakhir pada tanggal 10 November 2010.

Untuk keberangkatan dari Surabaya tersebut, Garuda Indonesia menyiapkan kendaraan bus untuk mengangkut para jemaah menuju Surabaya dan proses check-in, pelaporan bagasi, dan persiapan – persiapan lainnya telah diselesaikan terlebih dahulu di Solo.

Dalam kegiatan penerbangan haji tahun 2010/1431H ini, Garuda Indonesia menerbangkan sebanyak 119.622 jemaah dalam 306 kelompok terbang (kloter), dan dari embarkasi Solo Garuda menerbangkan sebanyak 33.492 jemaah dalam 88 kloter.[dni]

041110 Adhi Karya-Biro Asri Garap Overlay Landasan Husein Sastranegara

JAKARTA—PT Angkasa Pura II (Persero) atau AP II menetapkan PT Adhi
Karya-PT Biro Asri sebagai pemenang lelang pekerjaan penebalan (overlay) landasan Bandara Husein Sastranegara Bandung.

Dua perusahaan yang menjadi satu entitas saat mengajukan dokumen penawaran ini ditetapkan sebagai pemenang dengan harga penawaran 41,82 miliar rupiah.

“Harga tersebut lebih rendah dibandingkan pagu anggaran yang disediakan AP II sebesar 44,2 miliar rupiah . Penetapan pemenang setelah melalui hasil evaluasi administrasi, teknis, harga, kualifikasi serta verifikasi,” ungkap Chief of Auction Komite Lelang AP II Agus Haryadi di Jakarta, Rabu (3/11).

Direktur Utama AP II Tri S Sunoko meminta Adhi Karya-Biro Asri untuk segera memulai pekerjaan penebalan landasan Husein Sastranegara pada bulan ini juga. “Targetnya bisa selesai April 2011,” tegasnya.

Ditetapkannya Adhi Karya-Biro Asri berarti menyingkirkan 11 perusahaan lain yang berhasil menembus tahap prakualifikasi. Kesebelas perusahaan itu adalah PT Bumi Karsa, konsorsium PT Nindya Karya (Persero)-PT Itama Raya, PT Hutama Karya, konsorsium PT Duta Graha Indah-PT Bumi Duta Persada, PT Marga Maju Makmur.

Selanjutnya PT Widya Sapta Colas, PT Tuju Wali Wali, konsorsium PT Tri Perkasa Aminindah-PT Probocindo Tunggal Taruna, PT Istaka Karya, PT Yasa Patria Perkasa, konsorsium PT Brantas Abipraya-PT Wijaya Karya dan terakhir PT PP (Persero) Tbk.

Penebalan landasan Husein Sastranegara menjadi isu belakangan ini menyusul desakan PT Indonesia AirAsia (IAA) yang meminta AP II dan Kementerian Perhubungan untuk melakukan penebalan landasan bandara tersebut. Ketebalan landasan 37 cm saat ini, membuat bandara hanya bisa didarati Boeing 737-300 berbobot 51,7 ton saat mendarat.

Sementara berat maksimal mendarat Airbus A320-300 yang sudah banyak digunakan IAA mencapai 64,5 ton.IAA adalah maskapai yang paling banyak memiliki penerbangan ke Bandung. IAA memiliki penerbangan dari dan menuju Bandung dari Medan, Denpasar, Singapura dan Kuala Lumpur masing-masing sebanyak satu kali sehari.[dni]

041110 Konsolidasi BTEL-Flexi: Valuasi Aset oleh Konsultan

JAKARTA—PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) memilih valuasi aset perseroan dilakukan oleh konsultan independen dalam proses konsolidasi dengan unit usaha Fixed Wireless Access (FWA) milik PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom).

“Kami lebih memilih valuasi asset dilakukan oleh pihak profesional dan independen. Soalnya kedua perusahaan terdaftar sebagai perusahaan publik,” tegas Presiden Direktur Bakrie Telecom Anindya N Bakrie di Jakarta, Rabu (3/11).

Diungkapkannya, masalah pemilihan konsultan merupakan tahap selanjutnya dari negosiasi dengan Telkom dalam rangka konsolidasi. “Sekarang kita fokus kepada bentuk dari konsolidasi dulu. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan seperti masalah aset dan sumber daya manusia. Ini isu penting, karena ini pertama kalinya dua perusahaan besar di telekomunikasi berkonsolidasi,” tegasnya.

Dikatakannya, pihak BTEL sangat berkeinginan konsolidasi terjadi antara kedua perusahaan karena bisa menghemat sumber daya terbatas seperti penomoran dan frekuensi serta biaya pemasaran. “Kalau ditanya saya mau secepatnya ini terealisasi. Tetapi keduanya adalah perusahaan publik. Jadi, harus berhati-hati,” katanya

Sebelumnya, Sekjen Serikat Karyawan (Sekar) Telkom Asep Mulyana, meminta valuasi aset Flexi melibatkan lembaga negara seperti Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk mencegah kerugian dalam konsolidasi dengan BTEL.

“Flexi itu adalah aset negara. Tidak bisa hanya menyewa konsultan swasta untuk melakukan valuasi aset, karena tidak akan independen,” tegasnya.

Menurutnya, sebagai bagian dari aset negara dimana Flexi adalah unit bisnis Telkom yang notabene Badan Usaha Milik Negara (BUMN)harus hati-hati dalam memperlakukannya oleh manajemen.

“Jika hanya konsultan ditunjuk oleh Dewan Direksi, tentu akan melapor kepada Direksi juga. Padahal, posisi direksi sendiri sesuai Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) 14 Juni 2010 hanya sementara. Kalau begini harusnya tidak boleh mengambil kebijakan strategis,” katanya.

Diungkapkannya, secara aset Flexi memiliki nilai sekitar 7 triliun rupiah, tetapi mengingat akan dimergerkan dengan BTEL yang notabene swasta dan tercatat sahamnya di bursa maka tidak seimbang dalam bernegosiasi. Sedangkan nilai kapitalisasi pasar BTEL saat ini sebesar 6,693 triliun rupiah

“BTEL pasti akan menyodorkan saham, sementara Flexi berupa aset yang nilainya tidak bisa dikerek. Saham BTEL saja sejak pertengahan September lalu terangkat dari 160 menjadi 250 rupiah berkat pernyataan dari Menneg BUMN Mustafa Abubakar yang terkesan mendukung merger. Ini kan tidak apple to apple jadinya,” sesalnya.

Belum lagi, lanjutnya, masalah hutang BTEL yang nanti bisa ikut menjadi tanggungan Telkom secara grup jika nanti memiliki saham perusahaan itu.

Berdasarkan laporan keuangan BTEL per Juni 2010, pada 16 Juli 2010 salah satu emiten Grup Bakrie ini kembali berutang sebesar 30 juta dollar AS.Setelah itu pada 12 Agustus 2010 berhutang RMB 2 miliar dari Industrial and Commercial Bank of China dan Huawei Technologies Co. Ltd.

Tambahan utang ini membuat beban bunga yang dibayarkan oleh BTEL kembali menanjak sehingga menekan bottom line perseroan. Tercatat, laba bersih BTEL pada semester I lalu anjlok drastis 96,29 persen dari 72,8 miliar rupiah menjadi tinggal 2,7 miliar rupiah.

Menanggapi masalah kinerja bottom line dari perseroan, Anindya menegaskan, laba BTEL tertekan bukan karena factor biaya operasional tetapi lebih kepada masalah selisih kurs. “Kinerja kami dalam jalur yang benar,” tegasnya.[dni]

041110 Mencari Konten Pengisi Pipa

International Telecommunication Union (ITU) mencatat pengguna internet di dunia pada akhir tahun ini mencapai dua miliar orang. Di Indonesia, pengguna internet diperkirakan mencapai 35 juta orang dan penetrasi dari jasa ini mencapai 7,18 persen.

Pemicu dari tingginya pertumbuhan internet di sebabkan oleh tigal hal yaitu penyebaran infrastruktur, services, serta aplikasi atau konten. Infrastruktur bisa dilihat dari variasi alat yang digunakan mengakses internet dan kesiapan teknologi broadband. Services atau layanan dari keterjangkauan harga dan kualitas. Sementara konten dan aplikasi hadir sesuai dengan kebutuhan dari pengguna seperti social networking, games, atau menunjang bisnis skala kecil atau menengah.

“Trafik dari data dalam kurun waktu lima tahun belakangan meningkat ratusan kali lipat, tetapi tidak paralel dengan pendapatan yang hanya naik sekitar 30 persen. Ini harus diwaspadai oleh operator agar tidak menjadi pipa penghantar data saja,” ungkap Direktur Utama Indosat Mega Media (IM2) Indar Atmanto di Jakarta, belum lama ini.

Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi mengungkapkan, selain bermain di data terdapat cara lain untuk menghindari menjadi penghantar pipa yang baik bagi konten yakni menggunakan infrastruktur secara bersama-sama. “Sudah tidak jamannya operator membangun dari hulu ke hilir. Jika ada penggunaan infrastruktur bersama-sama itu bisa menekan biaya,” jelasnya.

Diakuinya, pemain telekomunikasi memiliki peluang di era konvergensi dengan menyajikan layanan diluar komoditas dasar seperti suara dan SMS dalam bentuk triple play yang melibatkan layanan dasar, Broadband dan Internet Protocol TV (IPTV). Namun menjadikan mainan baru itu sebagai penghasil uang dalam waktu singkat membutuhkan perjuangan yang panjang.

“Tantangan terbesar dari penetrasi broadband adalah rendahnya penetrasi perangkat ke konsumen seperti komputer dan kalukalasi ekonomis yang belum menguntungkan operator. Tetapi, dengan terus tumbuhnya jasa data, operator harus mampu menjaga keseimbangan berinvestasi antara mengakomodasi kebutuhan dari bisnis dasar dan mengantisipasi mekarnya layanan data,” jelasnya.

Konten Andalan
Sementara Group Head Pemasaran Vas Indosat Teguh Prasetya mengungkapkan, operator sudah mulai meraba-raba dan menginkubasi konten-konten yang mampu menjadi andalan untuk menjadi pendapatan dimasa depan.

“Video, File Sharing dan Web browsing akan mendominasi trafik hingga empat tahun mendatang. Pertumbuhan dari tiga itu berkisar 15-46 persen setiap tahunnya. Selain itu Voice over Internet Protocol (VoIP) melalui sosial media akan tumbuh pesat juga,” ungkapnya.

Diungkapkannya, tren kedepan untuk pengiriman video atau file sharing tidak harus dari server tetapi bisa juga antar personal (P toP) layaknya SMS.”Video berbasis paket data sudah mulai diperkenalkan sekarang. Jika perangkat untuk merekam video makin konvergen, keterbatasan bandwidth bisa diatasi, dan perilaku untuk berbagi makin tinggi, maka layanan ini akan menjadi konten yang mematikan,” jelasnya.

Vice President Digital Music & Content Management Telkomsel Krishnawan Pribadi mengungkapkan, perseroan sudah merintis agar konten andalan lebih cepat menghasilkan pendapatan melalui situs langit musik yang bermain menjual lagu full track dan video clip.
Langit Musik sendiri dalam bisnis Telkomsel tercatat sebagai New bisnis yang ditargetkan menyumbang sebesar 12-15 persen dari total pendapatan 2010 sebesar 48 triliun rupiah. Saat ini toko musik online yang dikelolanya telah mampu menghasilkan omset 150-200 juta rupiah per bulan seiring ditambahnya saluran untuk mengakses dan jumlah lagu.

Rata-rata terdapat 40 ribu pelanggan aktif mengunduh satu hingga dua lagu di laman tersebut setiap harinya. Langit musik akan bertambah kuat seiring hadirnya PT MelOn Indonesia. Perusahaan ini baru saja didirikan oleh Telkom dan SK Telecom dari Korea sebagai Digital Music Service yang menyediakan layanan download dan streaming musik secara tak terbatas (unlimited).

Perusahaan ini menelan investasi senilai 51 miliar rupiah dimana Telkom melalui anak usaha Metra, menguasai 51 persen sahamnya. Kekuatan kompetitif utama MelOn Indonesia adalah mampu menyediakan semua jenis musik, termasuk lagu-lagu Indonesia dan Internasional (Pop Amerika/Inggris), bahkan lagu-lagu Korea, Jepang, dan Cina.

Selanjutnya untuk memperluas segmen, Langit Musik juga menyediakan video clip bekerjasama dengan VuClip dari Numedia yang dapat diunduh oleh pelanggan. “Target omset untuk penjualan video clip ini hingga akhir tahun mencapai 5-6 miliar rupiah, sedangkan tahun depan sekitar 10 miliar rupiah setiap bulan. Kami lebih optimistis dalam menjual layanan ini karena perilaku pelanggan lebih ingin menikmati gambar dan lagu,” jelasnya.

Pada kesempatan lain, CEO Numedia Global Andy Zain mengakui, perilaku berbagi memang mulai terjangkiti di pelanggan seluler dan menjadi peluang bagi konten video. “Teknologi Vuclip cocok untuk pengguna ponsel karena data sudah dikompres. Ini membuat video tersaji lebih baik dengan harga yang terjangkau,” jelasnya.

Dijelaskannya, pada dasarnya pengguna memang suka video, tetapi selama ini belum ada teknologi yang bisa menghantarkan dengan baik dan harga yang tepat. “Kalau dulu pelanggan dipaksa pakai video call yang mahal dan jangkauan masih terbatas atau dipaksa untuk paket berlangganan video padahal penggunaannya jarang sehingga tidak laku,” jelasnya.

Diungkapkannya, model bisnis dari Vuclip pun lumayan baru dengan tidak mensyaratkan aplikasi lunak terinstall di ponsel. “ Prinsipnya semua ponsel yang memiliki wap browser dan video player bisa mengakses layanan ini. Sejak layanan ini dikomersialkan bersama XL ada 7 juta video yang telah diunduh oleh pengguna,” katanya.

Sementara praktisi telematika Mochammad James Falahuddin mengingatkan, operator yang ingin bermain di konten harus waspada dengan gelembung sementara dari aplikasi yang laku dijual. “Contohnya lagu berbentuk Full track, awal tahun dianggap masih potensial, sekarang justru mulai menurun. Apalagi Ring Back Tone yang lebih cepat turnnya,” jelasnya.

Diharapkannya, hadirnya MelOn Indonesia dapat menaikkan kurva penjualan lagu full track dengan syarat Telkom grup terus meningkatkan kualitas jaringan dan membuat metode pembayaran yang mudah diakses.”Berjualan secara online itu hanya dua syaratnya memiliki jaringan dan pembayaran yang bagus serta banyak didatangi oleh pengunjung,” katanya.[dni]

041110 Kala Penguasa Rebutan Lahan

Pada akhir pekan lalu, industri Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) nasional dikagetkan adanya keributan “kecil’ antara dua penguasa soal pemakaian frekuensi.

Pelakunya adalah Telkomsel yang menguasai jasa seluler dengan 94 juta pelanggan dan Indovision sebagai pemain utama di TV berbayar dengan 700 ribu pelanggan. Pemicunya adalah spektrum 2,5 Ghz yang dikuasai oleh Indovision.

Bagi pemain di sektor telekomunikasi dan penyiaran, frekuensi diibaratkan sebagai lahan yang paling berharga untuk digarap. Frekuensi biasanya didapat dari pemerintah melalui lelang dan membayar Biaya Hak Penggunaan (BHP).

Riak kecil dimulai kala punggawa Telkomsel secara tersirat mengatakan jika ingin teknologi 4G atau yang dikenal Long Term Evolution (LTE) hadir dan mencapai ekosistem, maka harus ditempatkan di spektrum 2,5 Ghz. Hal ini karena penyedia perangkat global memiliki produk untuk frekuensi tersebut.

Memang, secara teknologi LTE dapat dijalankan di frekuensi manapun. Tetapi, praktik secara global, teknologi ini banyak digunakan pada spektrum 700 Mhz dan 2,6 Ghz . Spektrum 700 Mhz digunakan untuk area rural, sementara untuk melayani kapasitas tinggi di perkotaan menggunakan 2,6 GHZ dengan alokasi bandwitdh 20 MHz.

Kendalanya di Indonesia, untuk spektrum 2,6 Ghz terkendala mengingat Indovision menguasai alokasi 2,5 Ghz sebanyak 150 Mhz untuk satelit Protostar II. Padahal, World Radio Communication Conference 2000 (WRC) menegaskan frekuensi 2,5 GHz dilakokasikan untuk teristerial baik itu pengembangan 3G (LTE) atau WiMAX.

Bahkan Indonesia telah menandatangani artikel 5 resolusi dan rekomendasi International Telecommunication Union (ITU) pada 2007. Dalam Final Acts, pemerintah seharusnya langsung menyiapkan roadmap migrasi Indovision keluar dari pita 2,5 GHz pada saat berakhirnya satelit Indostar I 2009 lalu.

Head of Corporate Secretary Indovision, Arya Mahendra Sinulingga menilai keberanian Telkomsel menyuarakan arti strategis pita yang dikuasainya sebagai niat yang secara terang-terangan melakukan penggusuran pemanfaatan frekuensi tersebut.

Menurutnya, aksi Telkomsel patut disayangkan karena posisi Telkomsel yang merupakan anak usaha Telkom menimbulkan rumor tak sedap. “Telkom memiliki bisnis TV berlangganan TelkomVision. Sangat disayangkan bila usaha tersebut hanya merupakan cara untuk menyaingi posisi Indovision yang saat ini merupakan penguasa 70 persen pangsa TV berbayar,” tegas Arya.

Melihat suasana mulai panas, Dirut Telkomsel Sarwoto Armosutarno menyerahkan sepenuhnya masalah frekuensi 2,5 GHz kepada regulator dan tidak bermaksud menggunakan spektrum tersebut untuk LTE secara sepihak.

“Telkomsel memang menjadi pelopor dalam ujicoba LTE di Indonesia dan selama proses ujicoba menggunakan frekuensi milik sendiri. Tidak ada niat menggunakan frekuensi milik Indovision,” tegasnya.

Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono mengungkapkan, akan dilakukan evaluasi secara menyeluruh terkait frekuensi meliputi semua fungsi dan layanan yang diperlukan Indonesia.

“Misalnya, untuk TV digital nanti sebenarnya perlu seberapa lebar untuk seluruh wilayah NKRI, lalu berapa sisanya. Selanjutnya satelit dan seluler sebenarnya butuh lebar pita berapa dan lainnya. Dalam buku putih frekuensi yang diterbitkan tak lama lagi telah disiapkan dua scenario untuk spektrum 2,5 Ghz bagi pemain lama yakni pita digunakan bersama-sama atau dipindah ke alokasi lainnya,” ujarnya.

Anggota Komite lainnya, Heru Sutadi menegaskan, masalah spektrum 2,5 Ghz banyak yang harus diklarifikasi seperti isu kepemilikan satelit atau keinginan menggeser slot orbit satelit Protostar II dari dari slot 107.7 derajat Bujur Timur ke 108,8 derajat Bujur Timur.

Untuk diketahui, sejak kepemilikan satelit Protostar II dikuasai SES World Skies (SES) ada keinginan menggeser slot orbit karena SES ingin mengoptimalkan layanan KU-Band. Para pegiat teresterial pun melihat ada ketidakadilan dalam pembyaran BHP dengan penguasaan 150 MHz karena diperkirakan cuma 1 juta rupiah per mhz. Hal ini berbanding jauh dengan penyelenggara 3G yang dikenakan harga dasar 160 miliar rupiah untuk 5 Mhz.[dni]

041110 Telkom Segera Komersialkan IPTV

JAKARTA—Setelah mengalami beberapa kali pengunduran jadwal, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) berjanji akan mengomersialkan layanan Internet Protocol TV (IPTV) mulai Desember 2010.

“Jika tidak ada masalah akan dikomersialkan bulan depan. Diharapkan tahun depan ada 300 ribu pelanggan yang terjaring menggunakan layanan yang tergolong baru di Indonesia ini,” ungkap Direktur Teknologi Informasi dan Suplai Telkom Indra Utoyo di Jakarta, Rabu (3/110 pemula.

Diungkapkannya, komersialisasi IPTV tertunda karena proses pengadaan yang sangat ketat dan detail terutama menyangkut teknologi baru triple screen (TV, PC dan ponsel). Saat ini, Telkom telah fokus pada pengiriman perangkat, penyiapan pusat operasi, pematangan strategi konten serta penghantaran layanan.

Untuk mengedukasi masyarakat, Telkom melakukan demo percobaan IPTV dalam pergelaran pameran komputer Indocomtech 2010 tanggal 3-7 November 2010 di Jakarta Convention Center. Selama periode September-November operator yang berkonsorsium dengan anak usaha yang bergerak dalam layanan TV berbayar PT TelkomVision tersebut adalah masih melakukan percobaan.

“Ini ekosistem baru, dan kami belajar dengan mempersiapkan segala sesuatunya karena tidak hanya memasang perangkat langsung jalan. Harus dipikirkan strategi konten, operasi, kualitas layanan dan dukungannya,” ujarnya.

Diungkapkannya, untuk memicu lahirnya konten yang kreatif Telkom menggelar Indigo Awards agar industri kreatif di Indonesia terus tumbuh.

“Telkom ingin menjadi pendukung pertumbuhan itu karena industri kreatif juga bisa menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan perekonomian,” katanya.

Industri kreatif yang dibidik adalah musik digital karena cukup potensial dan sesuai dengan transformasi perseroan sebagai operator berbasis Telecommunication Information Media Edutainment (TIME).

“Kami tinggal menyiapkan ekosistemnya. Misalnya lewat SpeedyTrek atau layanan Ring Back Tone (RBT),” ujar Indra. Saat ini terdapat tujuh juta pelanggan RBT dari Telkomsel dan Telkom. Selain itu, terdapat sekitar 31 ribu member SpeedyTrek dari Telkom Speedy yang merupakan komunitas-komunitas band indie dan pendengarnya,” jelasnya.[dni]

041110 Postel Ancam Pengguna Frekeunsi Ilegal

JAKARTA—Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi (Ditjen Postel) mengancam pengguna frekuensi illegal dengan denda 400 juta rupiah dan kurungan penjara karena tindakan tersebut berpotensi merugikan negara.

“Saat ini ditengarai adanya penggunaan alat penguat sinyal oleh masyarakat. Perangkat tersebut seharusnya tidak diperbolehkan untuk dipakai karena memancarkan frekuensi yang range-nya all band, atau mencakup 800, 900, dan 1800 MHz,” ungkap Kasubdit Analisa dan Evaluasi Frekuensi Kemkominfo Rachmad Widayana, di Jakarta, Rabu (3/11).

Menurutnya, tindakan yang dilakukan oleh masyarakat yang menggunakan perangkat dan frekuensi illegal melanggar UU No.36/99 tentang Telekomunikasi Pasal 52 dan 53 yang mengatur tentang standarisasi dan pelanggaran izin frekuensi.

Sementara Perwakilan Asosiasi Telekomunikasi Selular Indonesia (ATSI) Toto Suwandi menyarankan pemerintah untuk mensosialisasikan pada masyarakat menjaga kondisi yang ada sehingga kondusif bagi operator dalam menyediakan layanan sesuai standar kualitas layanan (quality of service).

“Repeater yang digunakan masyarakat terus memancarkan sinyal sehingga sangat mengganggu kinerja BTS milik operator selular yang lokasinya berdekatan. Akibatnya langsung berdampak pada pelanggan. Sinyal yang dipancarkan BTS ke ponsel pelanggan menjadi tidak maksimal atau terputus sama sekali,” tutur Toto.

Sebelumnya, Kemkominfo memantau gangguan sinyal seluler yang terjadi di 42 titik di Jabodetabek yang membuat menurunnya kualitas layanan bagi pelanggan. Meningkatnya gangguan terjadi sejak Agustus-Oktober 2010. Kejadian serupa juga terjadi di beberapa daerah seperti Medan, Batam, Banten, Bandung, Yogyakarta, Surabaya dan Bali.

Gangguan sinyal dirasakan bagi pengguna frekuensi band 900 MHz yaitu PT Telkomsel, PT XL Axiata dan PT Indosat. Dampak gangguan tersebut di antaranya mengakibatkan tingginya drop call, khususnya bagi para pengguna layanan telekomunikasi seluler yang sedang berada tidak jauh dari BTS tertentu yang berdekatan dengan lokasi gangguan akibat adanya interferensi.

Berdasarkan pengalaman pada tahun lalu, gangguan disebabkan kecenderungan sejumlah warga masyarakat dan perkantoran tertentu yang berusaha menggunakan alat penguat sinyal (repeater) namun ilegal, dengan tujuan untuk memperoleh penerimaan sinyal yang baik dari BTS terdekat, tetapi dampak destruktifnya secara down-link mengakibatkan gangguan penerimaan pada pengguna layanan seluler di sekitarnya.[dni]