031110 Bandara di Sekeliling Merapi Tetap Beroperasi

JAKARTA—PT Angkasa Pura I (Persero) atau AP I selaku pengelola tiga bandara yang berdekatan dengan Gunung Merapi memastikan fasilitas yang dikelolanya masih beroperasi seperti biasa pada Selasa (2/11).

API memiliki tiga bandara yang berdekatan dengan Gunung Merapi yakni bandara Adisutjipto Yogyakarta, Adisumarmo Solo dan Achmad Yani.

Direktur Operasi dan Teknik PT Angkasa Pura I (Persero) Harjoso Tjatur Prijanto menjelaskan, terjadi perbedaan intepretasi atas Notification to Airman (Notam) yang diterbitkan oleh notam office di Jakarta dengan pengelola ketiga bandara tersebut.

“Tadi pagi memang sempat ada letusan Merapi sampai mengeluarkan debu vulkanik. Lalu notam office mengeluarkan peringatan kepada penerbang bahwa beberapa titik untuk rute tertentu ditutup. Tetapi dari tiga bandara tidak menutup operasionalnya, hanya meminta penerbang untuk lebih berhati-hati,” katanya di Jakarta, Selasa (2/11).

Menurutnya, penerbangan Jakarta-Yogyakarta sebenarnya masih aman karena penerbang diminta untuk mengambil rute Jakarta-Cirebon-Cilacap-Yogyakarta. “Saya meminta manajer operasi Bandara Yogyakarta untuk berkordinasi dengan notam office. Tetapi mungkin maksud dari notam office adalah untuk melindungi penerbangan. Sejauh ini kami selaku pengelola bandara selalu dalam posisi yang waspada, karena arah penyebaran debu vulkanik tidak bisa diduga. Karena itu kami selalu meminta bantuan informasi dari pilot,” tegasnya.

Sementara itu, VP Corporate Communication Garuda Indonesia Pujobroto mengungkapkan, penerbangan maskapainya ke Semarang, Solo, dan Jogjakarta baru dapat diberangkatkan di atas pukul 09.00 pagi pada Selasa (2/11).

Langkah ini diambil sehubungan
adanya Informasi Operasional Penerbangan (Notam) No. A1439
yang dikeluarkan airport authotity
bahwa rute penerbangan udara (airways) dari Jakarta menuju Semarang, Solo dan Jogjakarta dinyatakan tertutup sampai pukul 10.00 pagi hari ini , Selasa (2/11), maka dengan mengacu Notam tersebut dan berdasarkan pemantauan perkembangan yang secara terus menerus dilaksanakan oleh Garuda Indonesia, maka penerbangan Garuda ke Semarang, Solo dan Jogjakarta baru akan diberangkatkan diatas pukul 09.00 pagi pada Selasa (2/11).

Dijelaskannya, oenerbangan pertama ke Solo (GA-220) yang pada kondisi normal berangkat dari Cengkareng pukul 05.40 WIB, pada hari ini diberangkat pada pukul 09.40 WIB. Penerbangan pertama ke Jogjakarta (GA-204) yang pada kondisi normal berangkat pukul 0720 WIB, pada hari ini diberangkatkan pada pukul 09.25 WIB.

Sementara itu, tiga penerbangan ke Semarang (GA230, GA-232, dan GA234) yang pada kondisi normal masing – masing berangkat pada pukul 0545, 0730, dan 0835, pada Selasa (2/11) diberangkatkan secara paralel masing – masing pada pukul 09.00, 0915, dan 09.30 WIB.

Ditegaskannya, sekalipun pemberangkatan penerbangan dari Cengkareng ke Semarang, Solo dan Jogjakarta baru dapat diberangkatkan diatas pukul 09.00, namun demikian sesuai koordinasi dan “guidance” dari pihak otoritas penerbangan, penerbangan Garuda dari Semarang dan Jogkarta menuju Jakarta dapat dilaksanakan sesuai schedule yaitu GA-231 dari Semarang menuju Jakarta berangkat pada pukul 06.00 pagi, dan GA-201 dari Jogjakarta menuju Jakarta berangkat pada pukul 06.00 pagi.

Diharapkannya,  dengan dibukanya kembali jalur udara (airways) dari cengkareng menuju Semarang, Solo, dan Jogjakarta, maka penerbangan Garuda Indonesia ke kota – kota tersebut dapat dilaksanakan secara normal.[dni]

031110 Lion Air Alami Insiden di Pontianak

JAKARTA—Armada milik maskapai Lion Air dengan registrasi PK-LIQ, bernomorpenerbangan JT-712 jurusan Jakarta-Pontianak mengalami insiden saat mendarat di  Bandara Supadio Pontianak Kalimantan Tengah pada pukul 11.35 waktu setempat.

Direktur Umum Lion Air Edward Sirait mengungkapkan, pesawat Boeing 737-400 itu berangkat dari Jakarta pukul 09.55 WIB  (Local Time) dan membawa 169 penumpang (167 dewasa dan 2 bayi) serta 6 awak  pesawat.

“Pesawat diterbangkan oleh Capt. Anthony  yang memiliki jam terbang 8250 jam.Saat mendarat pesawat mengalami gangguan pendaratan sehingga pesawat keluar dari landasan,” katanya di Jakarta, Selasa (2/11).

Ditegaskannya,   kondisi pesawat  laik terbang dan tidak memiliki catatanmaintenance. Terakhir pesawat menjalani perawatan C-Check di Garuda Maintenance  Facility tahun 2009 dan selanjutnya dijadwalkan untuk pengecekan kembali pada  Juni 2011.“Semua penumpang dan awak pesawat dalam keadaan selamat, tidak ada yang cedera berat dan 2 orang yang mengalami schok.  Lion Air akan menanggung semua biaya  pengobatan penumpang sesuai prosedur yang berlaku,” jelasnya.

JT 712 merupakan penerbangan kedua Lion dari Jakarta ke Pontianak. Adapun untuk ke Pontianak  Lion Air  mengoperasikan empat penerbangan per hari di rute tersebut.

Direktur Teknik dan Operasi PT Angkasa Pura II Salahudin Rafi mengungkapkan, pesawat naas tersebut   melaju melebihi landasan pacu saat mendarat di Bandara Supadio, Pontianak, sehingga mengalami sejumlah kerusakan fisik.“Pesawat  melaju melebihi landasan pacu (Overshhot). Posisi kecelakaan ada di  runway end safety area (RESA). Roda depan patah, mesin rusak, dan pesawat terjerambab di tanah ujung landasan,” ungkapnya.

Diungkapkannya, sebelum Lion mendarat, landasan pacu di Bandara Supadio sebelum insiden Lion Air, didarati oleh delapan pesawat lainnya secara mulus. “Kami mengirim tim dari Bandara Soekarno-Hatta sebanyak tujuh orang dan peralatan pendukung untuk mengangkut pesawat  agar mudah ditarik dari lokasi kejadian. Bandara ditutup untuk sementara waktu,” jelasnya.

Manager Public Relation Garuda Indonesia  Ikhsan Rosan mengungkapkan, maskapainya memiliki tiga kali penerbangan per hari untuk rute Jakarta-Pontianak yang diberangkatkan pukul 06.05 WIB, 11.30 WIB, dan 15.50 WIB. Serta tiga kali penerbangan dari Pontianak menuju Jakarta yang diterbangkan pukul 08.05 WIB, 13.30 WIB dan 17.50 WIB.

“Jadwal pertama Garuda sesuai rencana, penerbangan kedua dibatalkan karena landasan tertutup, dan jadwal ketiga rencananya akan diterbangkan pukul 17.00, karena kami dapat informasi landasan baru dibuka sekitar jam itu,” ungkapnya.

Selain Garuda, maskapai lain yang juga terganggu penerbangannya adalah  Sriwijaya Air.

Situs resmi maskapai itu menyebutkan  setiap harinya Sriwijaya melayani empat kali per hari penerbangan Jakarta-Pontianak yang diberangkatkan pukul 06.00 WIB, 10.35 WIB, 14.25 WIB, dan 18.10 WIB. Penerbangan Pontianak-Jakarta juga dilayani empat kali per hari dengan jadwal keberangkatan 07.00 WIB, 07.55 WIB, 12.35 WIB, dan 16.20 WIB.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) sendiri telah mengirimkan investigatornya untuk memeriksa langsung fakta-fakta di lapangan.[dni]

021110 Indonesia Jalin Kerjasama dengan Timor Leste

JAKARTA—Indonesia melalui Kementrian Perhubungan (Kemenhub) menjalin kerjasama dengan Republik Demokratik Timor Leste dalam penyediaan jasa penerbangan yang diwujudkan dalam penandatanganan  air service agreement pada Senin (1/11).

Penandatanganan dilakukan oleh  Menteri Perhubungan Freddy Numberi sebagai wakil dari pemerintah Indonesia dan Menteri Infrastruktur Timor Leste Pedro Lay Da Silva sebagai wakil dari negara asal Xanana Gusmao itu.

“Kerjasama antar kedua negara meliputi 14 kali penerbangan seminggu untuk rute Jakarta-Denpasar-Dili.  Kedua pemerintahan sedang mengaji pengembangan untuk rute Surabaya-Kupang-Dili,” ungkap Freddy di Jakarta, Senin (1/11).

Diungkapkannya, pemerintah Indonesia  sudah menunjuk Merpati Nusantara Airlines dan Metro Batavia untuk melayani rute tersebut. “Selama ini Merpati sudah melayani penerbangan carter ke Dili, nantinya mereka akan menjadi penerbangan berjadwal. Sementara Batavia Air sedang mempersiapkannya,” jelasnya.

Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Perhubungan Bambang S Ervan menambahkan, penerbangan berjadwal mulai berlaku efektif sejak kerjasama diteken perwakilan kedua negara.

“Nantinya kalau ada maskapai lain yang berminat terbang ke Timor Leste bisa juga. Tetapi untuk tahap awal, maskapai yang melayani hanya yang ditunjuk terlebih dulu. Kalau ada maskapai lain mau masuk, harus dengan negosiasi kedua pemerintahan,” kata Bambang.

Pedro Lay Da Silva mengaku sangat gembira dengan kerjasama tersebut. Pasalnya, dengan adanya penerbangan berjadwal sebanyak 14 kali per hari dari Indonesia maka dampaknya secara ekonomi bisa dirasakan oleh negaranya.

“Timor Leste masih merupakan negara muda, dengan kerjasama ini industri pariwisata kami diharapkan bisa berkembang. Timor Leste juga sedang menyiapkan maskapai nasionalnya untuk bisa terbang ke Indonesia. Selama ini selain Merpati, baru Silk Air yang melayani rute Dili-Singapura,” jelasnya.

Sedangkan Executive Vice President Commercial Merpati  Tonny Aulia Achmad mengungkapkan,  saat ini maskapainya sudah melayani tujuh kali penerbangancarter seminggu dari Denpasar ke Dili menggunakan pesawat Boeing737-300 berkapasitas 138 kursi. Rute tersebut dibanderol  mulai  348 dollar AS pulang pergi untuk setiap penumpang.

“Tingkat isiannya (Load factor) sekitar 85 persen , komposisinya  60 persen  merupakan pebisnis. Nantinya kami akan menambah satu kali penerbangan ke Dili dari Denpasar. Serta membuka rute baru Kupang-Dili sebanyak 2 kali seminggu menggunakan pesawat MA 60 berkapasitas 50 kursi. Diharapkan sebelum Natal sudah bisa jalan,” kata Tonny.

Diungkapkannya,  Merpati juga tengah mengaji dua rute lainnya yakni  Ujung Pandang-Dili serta Darwin-Kupang-Dili. Namun untuk rute terakhir, masih menunggu kesepakatan fifth freedom rights yang dibahas antara Pemerintah Indonesia dan Australia.

Kedua rute tersebut akan dilayani menggunakan MA 60 yang sudah dipesan Merpati sebanyak 12 unit dari produsennya. Agenda pengiriman setiap bulan 3 unit mulai November 2010.

Sedangkan Direktur Niaga Batavia Air Hasudungan Pandiangan memastikan maskapainya akan memulai penerbangan Denpasar-Dili mulai Desember 2010 menggunakan Airbus A319 berkapasitas 144 kursi.

“Saat ini perizinannya sedang kami urus dari Kemhub dan otoritas penerbangan Timor Leste. Tetapi yang pasti tarif kami akan lebih rendah dibanding Merpati. Segemn yang dibidik yaitu, siswa, bisnis, keluarga serta wisatawan,” tegas Hasudungan.[dni]

021110 Dezzo Perkaya Varian

JAKARTA— PT. Indonusa Komunikasi sebagai  pemegang merek ponsel  Dezzo memperkaya varian dari alat komunikasi itu untuk melayani penggunanya.

Manager and  Marketing Communication  Indonusa Komunika, Anna Sastromulyono mengungkapkan,  seri terbaru dari Dezzo adalah D688 yang memiliki fitur unggulan TV analog.

“Dezzo D688  adalah ponsel TV paling tipis yang pernah diluncurkan dengan harga hanya 399 ribu rupiah,” ungkapnya di Jakarta, Senin (1/11).

Diungkapkannya, ponsel ini memiliki  fitur multimedia yang  lengkap, dual kamera untuk video chatting, facebook, chatting dan support JAVA.

Dijelaskannya, Dezzo D 688 hadir dalam balutan hitam sehingga terkesan kokoh dan lengkungan sisi dan desain yang tipis hanya 1 cm menjadikannya begitu nyaman dalam genggaman tangan.

Pilihan casing yang bervariasi dan tergolong berkualitas baik juga semakin membuat ponsel Dezzo D688 terlihat menarik. Ponsel ini tersedia dalam beberapa pilihan warna, merah, hitam, pink dan biru.

Dijelaskannya, layar horisontal TFT 2 inci 320×240 piksel mampu menampilkan gambar dengan sangat baik, tepat dibawah layar tersedia tombol navigasi 4 arah yang diapit oleh tombol menu, call 1 dan 2, end call dan tombol khusus FM radio.

“Tombol qwerty keypad berjajar rapi, rapat dan besar, tombol ini sangat nyaman, empuk dan responsif ketika digunakan untuk mengetik cepat. Tidak ada tombol lain di sisi ponsel, hanya lubang jack 2 mm, port micro usb di sisi kiri ponsel,” jelasnya.

Ditegaskannya, meskipun berdesain super tipis dan berharga murah, ponsel tersebut memiliki fitur multimedia yang menjanjikan mulai dari pemutar musiknya mampu memutarkan file MP3, AMR, AAC dan WAV, suara yang disemburkan speaker eksternal di belakang ponsel sangat baik, keras dan jernih meskipun volume maksimal. Bahkan bisa menikmati siaran radio FM tanpa harus memasangkan headset dan simpan 9 stasiun radio favorit.

“Untuk koneksi internet, ponsel yang berbundling dengan Telkomsel ini dilengkapi dengan WAP 2.0 yang memungkinkan terkoneksi dengan situs jejaring social dan instant messenger,” jelasnya.[dni]

021110 Regulator Harus Berani Pangkas Biaya Interkoneksi

JAKARTA—Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Informasi (LPPMI) mendesak regulator telekomunikasi harus berani memangkas biaya interkoneksi mencapai dobel digit layaknya dua tahun lalu guna mendorong kompetisi di industri.

“Jika regulator hanya berani memangkas biaya interkoneksi sesuai hitungan konsultan yang ditunjuk, itu mencerminkan semangatnya menyelamatkan operator dan membiarkan pemborosan sumber daya alam terbatas berupa frekuensi dan penomoran,” ketus Direktur LPPMI Kamilov Sagala di Jakarta, Senin (1/11).

Menurutnya, jika ada pemangkasan biaya interkoneksi hingga dobel digit akan terjadi seleksi alam yang menuntut operator lebih efisien dan mendorong munculnya konsolidasi alami antar operator sehingga penggunaan sumber daya alam terbatas menjadi efektif. “Jika hitungan konsultan ditelan mentah-mentah tanpa adanya analisa dan mencermati kondisi di lapangan, patut dipertanyakan keputusan yang diambil oleh Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI),” tegasnya.

Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI)  Nonot Harsono mengungkapkan, operator  dalam meminta penurunan biaya interkoneksi beragam. “Semua operator sepakat untuk melakukan perhitungan ulang. Persentase penurunan  tidak seragam. Ada yang minta turun minimal hingga 30 persen,” ungkapnya.

Sebelumnya, perhitungan dari konsultan, Tritech, yang ditunjuk oleh regulator menimbulkan kontroversi karena tidak mencerminkan efisiensi dari operator.  Hasil hitungan Tritech  untuk jasa seluler dalam melakukan panggilan lokal sekitar 3,94 persen yakni dari 261 rupiah pada 2007 menjadi 251 rupiah dalam hitungan baru. Sementara untuk jasa SMS diperkirakan ada penurunan sebesar 11,84 persen yakni dari 26 rupiah dua tahun lalu menjadi 23 rupiah.

Padahal  Telkomsel yang dijadikan sebagai acuan untuk hitungan bottom up dalam laporan keuangannya menunjukkan harga retail per menit sudah turun 70 persen dalam kurun waktu dua tahun. Hal yang aneh jika untuk biaya interkoneksi rata-rata penurunan berkisar di angka 4-6 persen. Keanehan ini memunculkan tudingan tak sedap terhadap independensi dari konsultan yang ditunjuk oleh regulator.

Menanggapi hal itu, Anggota Komite Heru Sutadi membantah keras jika Tritech merupakan titipan dari operator tertentu untuk mempengaruhi keputusan regulator dalam menentukan besaran penurunan biaya interkoneksi. “ Sejak penghitungan yang lama sudah menggunakan biaya Postel. Mana ada konsultan dibayari oleh operator. Penunjukkan pun berdasarkan lelang,” ketusnya.[dni]

021110 Frekeunsi 2,5 GHz Jadi Rebutan

JAKARTA—Penyelenggara layanan seluler dan penyiaran terlibat perebutan alokasi frekeunsi 2,5 GHz dalam mengembangkan jasanya.

Perebutan ini dipicu karena adanya keinginan dari pemain seluler  menggelar teknologi Long Term Evolution (LTE) di frekeunsi 2,5 GHz yang selama ini dikuasai oleh Indovision sebesar 150 MHz sebagai penyelenggara TV kabel.

“Para operator seluler yang menghembuskan isu pengembangan LTE  mulai terang-terangan menyatakan niat untuk melakukan penggusuran pemanfaatan frekuensi tersebut.. Hal itu bisa dilihat dari  niat Telkomsel yang hendak masuk ke frekuensi 2.5 Ghz tersebut dari sejumlah media,” ujar Head of Corporate Secretary Indovision, Arya Mahendra Sinulingga di Jakarta, akhir pekan lalu.

Menurutnya, aksi Telkomsel patut disayangkan  karena posisi Telkomsel yang merupakan anak usaha Telkom menimbulkan rumor tak sedap. “Telkom memiliki bisnis TV berlangganan  TelkomVision. Sangat disayangkan bila usaha tersebut hanya merupakan cara untuk menyaingi posisi Indovision yang saat ini merupakan penguasa 70 persen pangsa  TV berbayar,” tegas Arya.

Arya mendesak,  pemerintah untuk bersikap tegas dan tidak tunduk pada kepentingan vendor semata. Hal ini karena sudah bukan rahasia lagi,  ngototnya berbagai operator untuk merampas frekuensi 2.5 GHz erat kaitannya dengan kepentingan vendor untuk  memasarkan produknya.

Sementara itu, Dirut Telkomsel Sarwoto Armosutarno menyerahkan sepenuhnya  masalah frekuensi 2,5 GHz  kepada regulator dan tidak bermaksud menggunakan spektrum tersebut untuk LTE secara sepihak.

“Telkomsel memang menjadi pelopor dalam ujicoba LTE di Indonesia dan selama proses ujicoba menggunakan frekuensi milik sendiri. Tidak ada niat menggunakan frekuensi milik Indovision,” tegasnya.

Secara terpisah, Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono  mengisyaratkan akan mengalokasikan pita 2,5 GHz untuk  LTE.

“Kita akan adopsi tren yang terjadi di sebagian besar dunia dimana LTE berada di 2,5 GHz. Tentunya penempatan LTE akan diikuti dengan penataan frekuensi di pita tersebut bersama seluruh stakeholder, termasuk operator satelit existing,” katanya.

Berdasarkan catatan, Indonesia telah menandatangani artikel 5 resolusi dan rekomendasi International Telecommunication Union (ITU)  pada 2007.  Dalam Final Acts, pemerintah  seharusnya langsung menyiapkan roadmap migrasi Indovision keluar dari pita 2,5 GHz pada saat berakhirnya satelit Indostar I 2009 lalu. Hal ini karena alokasi frekuensi itu memang lebih cocok untuk Wimax atau LTE.[dni]

021110 Duel Panas di Posisi Nomor Dua

Pertempuran antara PT XL Axiata Tbk (XL) dengan PT Indosat Tbk (Indosat) dalam memperebutkan posisi nomor dua di kancah seluler nasional kian panas saja. Hal ini bisa dilihat kala XL pada awal Oktober lalu mengumumkan merevisi  target pelanggan dari 38 menjadi 40 juta pengguna karena  pada  September  telah didapat 38,5 juta pelanggan.

Indosat menjawab gertakan XL dengan buru-buru mengumumkan kinerjanya selama sembilan bulan pertama dengan menyatakan  meraih  39,7 juta pelanggan.

Jumlah pelanggan menjadi andalan bagi Indosat menahan gempuran XL menyalip posisi nomor dua karena dari sisi raihan pendapatan, laba bersih, atau nilai kapitalisasi pasar, perlahan tapi pasti mulai terlindas oleh anak usaha Axiata Group itu.

Simak saja laba bersih dari XL pada kuartal ketiga 2010 yang mencapai  2,1 triliun rupiah,  Sedangkan laba bersih Indosat hanya  530,9 miliar rupiah.

Pendapatan  seluler Indosat pun kalah kinclong dengan  raihan 11,914 triliun rupiah, sementara XL meraih pendapatan usaha 13 triliun rupiah. Untuk  nilai kapitalisasi pasar,  Indosat  pada posisi  32,6 triliun rupiah, jauh tertinggal dari XL  dengan besaran 48,5 triliun rupiah.

Namun kalau berbicara posisi hutang, Indosat adalah jawaranya dengan nilai 27,308,3 triliun rupiah. Sedangkan XL hanya 10.9 triliun rupiah. Posisi hutang dengan bunga tinggi inilah pemicu tertekannya bottom line Indosat selama ini, ditambah penggunaan biaya yang kurang efisien.

“Indosat memiliki biaya pemasaran yang lumayan besar, padahal kondisi industri seluler  tingkat pindah layanan tinggi. Jika tidak pintar melakukan retensi, pendapatan yang masuk  per kuartal  hanya sesaat karena pelanggan bisa beralih dengan cepat,” jelas Pengamat Ekonomi dari Universitas Trisakti Fransiscus Paschalis kepada Koran Jakarta, Senin (1/11).

Dikhawatirkannya,  tidak ada suntikan uang segar dari pemegang saham bisa memicu  Indosat kurang agresif tahun depan karena terlalu bergantung pada pinjaman. “Perbedaan  antara Axiata dan Qtel bisa dilihat dari keinginan menyelesaikan hutang di anak usahanya. Axiata membantu dengan menyuntikkan dana, sementara Qtel  lebih senang me-manage hutang dan mencari pinjaman baru,” jelasnya.

Praktisi telematika Suryatin Setiawan mengatakan, jika melihat kinerja hingga kuartal III, XL akan segera menggantikan posisi Indosat di posisi nomor dua. “Indosat belum kelihatan akan agresif berinvestasi. Sementara XL secara ratio gearing dan interest cover (likuiditas/insolvency ratios) terlihat lebih baik ketimbang Indosat,” katanya.

Praktisi telematika Bayu Samudiyo mengatakan peluang Indosat mempertahankan posisi masih ada jika lebih inovatif dalam pemasaran. “Indosat selama ini terkesan sebagai follower di pasar. Upaya mempertahankan jumlah pelanggan sebagai nomor dua tidak ada artinya jika Average Revenue Per User (ARPU) kecil dan tidak menaikkan pendapatan,” katanya.

Diingatkannya, nilai saham perusahan di pasar ditentukan dari  Net Earning Before Interest Tax Depreciation, Amortization (EBITDA) dan kinerja keseluruhan perusahaan. “Bermain jumlah pelanggan itu raihan semu karena nanti biasanya ada pembersihan di kuartal berikutnya,” jelasnya.

Presiden Direktur Indosat Harry Sasongko menyakini mulai tahun depan arus kas dari perseroan akan mulai positif karena pertumbuhan pendapatan meningkat. “Hutang akan dibayar dari hasil operasi. Kita harapkan perkuartal pertumbuhan top line tetap dobel digit,” katanya.

Direktur Utama XL Hasnul Suhaimi menegaskan, penentuan dari adu kuat akan dilihat pada tahun depan. “Revisi target pelanggan sengaja dilakukan agar jajaran manajemen tetap bergairah. Babak akhir dari pertarungan pada tahun depan mengingat pasar mulai masuk masa saturasi,” ungkapnya.[dni]