281010 Kasus BHP Frekuensi Smart Dibawa ke PTUN

JAKARTA—Ditjen Postel sedang menimbang untuk membawa kasus belum dibayarnya Biaya Hak Penggunaan (BHP) frekuensi milik Smart Telecom (Smart) ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) agar ada kepastian hukum.

“Kasus ini telah berjalan sejak  menkominfo  era Sofian Djalil dan Muhammad Nuh. Ketimbang berlarut-larut, lebih baik dibawa saja ke PTUN agar Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) tidak hilang,” tegas Dirjen Postel M. Budi Setyawan di Jakarta, Rabu (27/10).

Sebelumnya, Smart yang menguasai lima kanal di spektrum 1.900 Mhz ditenggarai miliki hutang BHP frekuensi kepada negara sebesar 500 miliar rupiah. Smart sebagai  dua perusahaan yang dilebur menjadi satu yakni Primacell dan WIN menolak membayar sebesar itu karena merasa sebagai entitas baru yang muncul tiga tahun lalu tidak wajib melakukan pembayaran.

KemKominfo kala dipimpin oleh Muhammad Nuh dikabarkan mengirim surat ke kejaksaan untuk meminta pendapat tentang besaran pembayaran yang layak dilakukan Smart. Kabarnya, surat dari Kejaksaan mengatakan pembayaran hanya perlu dilakukan setengah dari nilai hutang. Sementara pendapat dari Kementrian Keuangan menyatakan masalah besaran diserahkan ke lembaga teknis yakni KemenKominfo.

“Jika ditanya ke KemenKominfo tentu kami tidak ingin nilainya berubah. Nah, ketimbang adu argumen terus, baiknya ke PTUN saja. Harus diketahui, jika nilai berubah, bagaimana pertanggungjawaban ke target PNBP. Angka itu sudah dhitung sebagai hutang  operator ke negara,” tegas Budi.

Diungkapkannya, sebagai bentuk ketegasan pemerintah terhadap Smart, pemerintah hanya mengijinkan dua kanal dioperasikan. “Tiga lagi kami kunci sementara. Sebenarnya kita bisa lebih tegas yakni pencabutan ijin. Tetapi ada pertimbangan ekonomis karena Smart sudah menyerap tenaga kerja dan memiliki jumlah pelanggan yang signifikan,” tukasnya.

Sementara berkaitan dengan hutang BHP frekuensi milik Mobile-8 Telecom senilai 50 miliar rupiah, Budi mengungkapkan, rekan Smart tersebut telah melunasinya. “Sudaha da pembayaran belum lama ini,” katanya.

Smart sejak beroperasi telah menghabiskan belanja modal sebesar 300 juta dollar AS. Pada tahun ini perseroan menyiapkan belanja modal sekitar 250 juta dollar AS dengan asumsi biaya investasi satu pelanggan sekitar 75 hingga 200 dollar AS. Pada tahun ini, Smart melakukan aliansi pemasaran dengan Mobile-8 mengusung merek SmartFren.

Dikabarkan, pemilik Smart, Franky Widjaja,  telah menyuntikkan dana lima triliun rupiah untuk menggenjot pembangunan infrastruktur dengan menggandeng ZTE dan Samsung agar teknologi data EVDO REV-B dapat digelar April 2011 di puluhan kota.

Selain itu, Smart juga akan mempertegas akusisi terhadap Mobile-8 secara legalitas. Aksi korporasi ini kabarnya menunggu restrukturisasi hutang   Mobile-8 selesai. Setelah itu, sisa saham pemilik lama akan diborong oleh Smart.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s