221010 Surya Air Bisa Garap Rute Perintis dan Perusahaan Tambang

JAKARTA—Maskapai carter, Surya Air, yang dibentuk oleh  perusahaan rokok terbesar di tanah air, Gudang Garam, disarankan focus menggarap rute penerbangan perintis atau mencari kontrak jangka panjang  dari perusahaan migas atau tambang.

“Dua pasar itu potensial digarap oleh pemain baru seperti Surya Air. Kalau sudah punya dedicated market seperti itu jelas lebih menguntungkan, karena jumlah pendapatan sudah bisa diperkirakan di awal,” ungkap Ketua Maskapai Penerbangan Tidak Berjadwal  Indonesia National Air Carriers Association (INACA)  Bayu Sutanto di Jakarta, Kamis (21/10).

Sebelumnya, Gudang Garam melalui keterbukaan informasi ke pasar saham mengungkapkan telah  mendirikan anak usaha bernama PT Surya Air pada 15 Oktober lalu dan akan menggeluti  bisnis pengangkutan udara niaga tidak berjadwal. Surya Air dibenamkan modal awal  74,99 miliar rupiah untuk tahap awalnya.

Selanjutnya Bayu mengungkapkan, pola bisnis penerbangan perintis adalah adanya   kontrak penerbangan  dengan Kementerian Perhubungan (Kemhub) hanya berlaku selama satu tahun, untuk kemudian ditenderkan lagi tahun berikutnya. Sesuai dengan dana subsidi penerbangan perintis yang dikucurkan pemerintah setiap tahun.

Sedangkan, memenangkan tender pesawat carter yang dilakukan perusahaan migas atau tambang biasanya memiliki durasi kontrak minimal 5 tahun sampai 10 tahun. Ini tentu membuat  adanya   kepastian pekerjaan bagi maskapai baru seperti Surya Air.

Diungkapkannya, untuk bisa beroperasi sebagai maskapai carter komersil  Gudang Garam agar menyiapkan seluruh persyaratan yang dibutuhkan. Misalnya, untuk mendapatkan Surat Izin Usaha Penerbangan (SIUP) dan AOC harus mengajukan rencana bisnis lima tahun ke depan kepada Kemhub. Selain itu manajemennya   harus memiliki manajemen yang berpengalaman di industri penerbangan.

Belum lagi dari struktur permodalan karena Undang-Undang Nomor 1/2009 tentang Penerbangan mensyaratkan seluruh maskapai carter untuk minimal mengoperasikan tiga
unit pesawat dengan satu diantaranya berstatus milik mulai 2012.

Secara terpisah, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan
(Kemhub) Herry Bakti S Gumay mengungkapkan, rencana PT Gudang Garam Tbk
untuk masuk ke industri penerbangan melalui PT Surya Air masih wacana.

“Belum ada permohonan dari Gudang Garam untuk membentuk Surya Air
masuk ke kami, Jadi kesimpulan sementara  baru wacana,” kata Herry.

Dikatakannya, meski   pemerintah tidak akan membatasi pihak mana pun untuk masuk ke industri penerbangan karena  pasar penumpang domestik maupun internasional dari Indonesia masih sangat besar, namun dalam pemberian ijin tentu akan ketat.

“Untuk bisa membentuk maskapai, mereka harus mendapatkan Surat Izin Usaha Penerbangan (SIUP) dan Air Operator Certificate (AOC). Nah untuk bisa mendapatkan itu mereka harus melaporkan rencana bisnis, struktur permodalan dan sebagainya ke pihak kami,” jelasnya.[dni]

221010 Batavia Air Buka Rute Tanjung Pinang

JAKARTA—Maskapai penerbangan swasta, Batavia Air membuka rute  Jakarta – Tanjung Pinang (PP) untuk meningkatkan layanan bagi pelanggannya. Penerbangan ke rute baru tersebut menggunakan pesawat Boeing 737-400 dengan nomor penerbangan Y6-553,

”Tanjung Pinang merupakan kota domestik ke-40 yang diterbangi oleh Batavia Air. Dengan telah masuknya Batavia Air ke Tanjung Pinang ini, masyarakat mempunyai pilihan transportasi apabila ingin ke Jakarta, maupun kota-kota lain di Indonesia, karena mulai hari ini, Tanjung Pinang telah terhubung dengan 39 kota yang diterbangi Batavia Air,” ungkap Direktur Niaga Batavia Air H. Pandiangan di Jakarta, Kamis (21/10).

Batavia Air saat ini mengoperasikan lebih dari 170 penerbangan setiap harinya dan melayani 40 kota tujuan di seluruh Indonesia, serta 5 kota tujuan Internasional yaitu,Jeddah dan Riyadh (Saudi Arabia), Guangzhou (China), Kuching (Malaysia) dan Singapura. Batavia Air mempunyai 37 armada pesawat yang terdiri dari Boeing 737-300, Boeing 737-400, Airbus A-319, Airbus A-320 dan Airbus A330.

Sementara itu,  Direktur Utama PT Angkasa Pura II (Persero) Tri S Sunoko mengungkapkan, hingga   kuartal III  2010,  dua belas bandara yang dikelola perseroan telah melayani 45,09 juta arus penumpang atau sudah mencapai 81,8 persen dari target tahun ini yakni   55,12 juta penumpang.

“Tahun lalu saja dari 52,5 juta penumpang yang dilayani, sebanyak 37,1 juta atau 70,6 persen  berasal dari Soekarno-Hatta. Tahun ini pasti tidak banyak berbeda,”  ungkap Tri.

Diungkapkannya, pergerakan pesawat selama periode Januari-September 2010 tercatat 368.169. Terdiri dari pergerakan pesawat rute internasional sebanyak 62.104 dan pesawat rute domestik 306.065.

Berdasarkan catatan, Kementerian BUMN menargetkan pendapatan AP II bisa naik 4 persen dibandingkan 2009. Tahun lalu AP II berhasil mengantongi pendapatan sebesar  2,74 triliun rupiah.[dni]

221010 Laba Indosat Anjlok 63,4 %

JAKARTA—PT Indosat Tbk (ISAT) masih belum mampu keluar dari kubangan kerugian hingga kuartal ketiga tahun ini. Hal itu terlihat dari laba bersih pada kuartal III 2010 yang hanya  sebesar 530,9 miliar rupiah atau anjlok    63,4 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar 1,449,9 triliun rupiah.

“Pemicu posisi laba bersih  tertekan pada kuartal ketiga 2010 sama dengan  periode kuartal II lalu yakni nilai kurs secara mark to market, biaya bunga dan depresiasi,” ungkap Presiden Direktur & CEO Indosat Harry Sasongko kepada Koran Jakarta, Kamis (21/10).

Penguatan rupiah diyakini telah menyebabkan posisi utang operator yang mengklaim masih nomor dua untuk pemain seluler nasional ini meningkat 11,8 persen  menjadi  27,308 triliun rupiah  dari sebelumnya  24,418 triliun rupiah.

Berdasarkan catatan, anak usaha Qatar Telecom ini   memiliki utang berdenominasi dolar AS dalam jumlah yang cukup besar. Meskipun perseroan telah berupaya mengurangi porsi utang dolar, namun laju penguatan rupiah sangat cepat membuat rasio utang membengkak. Beberapa waktu lalu, perseroan telah melakukan pembiayaan kembali (refinancing) obligasi senilai  650 juta dollar AS dengan bunga 7,375 persen berjangka waktu 10 tahun.

Diungkapkannya, walau laba bersih tertekan,   namun pendapatan usaha berhasil dibukukan sebesar 14,843 triliun atau   mengalami peningkatan sebesar 8,1 persen dari periode sama tahun lalu senilai 13,732,9 triliun rupiah.

Pendapatan  seluler tetap menjadi andalan dengan raihan 11,914 triliun rupiah atau meningkat 16,6 persen dari periode yang sama tahun lalu   10,217 triliun rupiah.

Sementara    non seluler menurun 16,7 persen  menjadi 2,928 triliun rupiah  dibandingkan periode sama tahun lalu  3,515 triliun rupiah.

“Pendapatan seluler berkontribusi sebesar 80 persen bagi total omset perusahaan. Jika dilihat pertumbuhan per kuartal pada 2010, bisnis seluler mengalami kenaikan sebesar 6,1 persen, Multimedia (Midi) naik 1,2 persen, telepon tetap mengalami penurunan dua persen, sementara penyewaan menara naik 26 persen. Tantangannya ada di bisnis telepon tetap karena harga mengalami penurunan, khususnya untuk sambungan internasional,” jelasnya.

Selanjutnya diungkapkan, untuk Earning Before Interest, Taxes, Depreciation and Amortization (EBITDA) mengalami kenaikan sebesar  12,6 menjadi  7,127 triliun rupiah  disbanding periode sama tahun lalu  6,327 triliun rupiah.

Sedangkan  marjin EBITDA  naik tipis 1,9 persen  menjadi 80 persen  dari sebelumnya 46,1 persen.  Untuk Belanja modal (capital expenditure/capex)  per triwulan II tahun ini  sebesar 4,339 triliun rupiah atau   turun 54,1 persen  dari sebelumnya  9,457 triliun rupiah.

Sementara jumlah pelanggan seluler Indosat  meningkat tajam 40,9 persen menjadi 39,7 juta pelanggan dari sebelumnya 28,2 juta pelanggan. Nilai dari perusahaan sendiri sekitar 6,16 miliar dollar AS dengan kapitalisasi pasar posisi terakhir 32,6 triliun rupiah.

Posisi Indosat sendiri di kompetisi seluler terus ditekan oleh XL yang pada awal bulan ini mengumumkan telah berada di posisi kedua untuk kapitalisasi pasar dengan besaran 48,5 triliun rupiah. XL dan merevisi target pelanggannya dari 38 atau 39 juta menjadi 40 juta pelanggan pada akhir tahun nanti.

“Aksi  memasang target pelanggan sebesar 40 juta nomor  merupakan upaya menegaskan ke pasar perseroan berada di  nomor dua pada akhir tahun nanti. Jika ditanya dari sisi laba bersih dan nilai kapitalisasi pasar pada semester I lalu, XL telah nomor dua,” tegas Direktur Utama XL Hasnul Suhaimi, belum lama ini.
.
Sayangnya, anak usaha Axiata ini belum mengumumkan kinerja untuk kuartal ketiga periode 2010. Berdasarkan catatan, XL pada semester I lalu   mencatat laba bersih semester I 2010 sebesar 1,3 triliun rupiah atau  tumbuh 87 persen dibanding periode yang sama di tahun 2009.  Sedangkan posisi laba bersih Indosat  semester pertama 2010 turun 71,5 persen menjadi hanya 287,1 miliar rupiah  dibanding periode sama tahun lalu yang mencapai 1,007 triliun rupiah.

Pada kesempatan lain, pengamat ekonomi dari Universitas Trisakti Fransiscus Paschalis mengingatkan, dengan laba bersih dari Indosat yang kurang dari satu  triliun rupiah per per tahun, membuat Indosat diragukan   masih mampu melakukan investasi di tahun depan. Walaupun restrukturisasi hutang dilakukan tetapi itu hanya membuat simplifikasi tanpa menafikan biaya bunga yang tetap tinggi.

“Tren positif yang dicapai jika dilihat per kuartal harus memacu semangat manajemen Indosat bekerja lebih keras. Apalagi tahun depan diprediksi pasar seluler mulai masuk titik jenuh,” katanya.[dni]