211010 Pasar Jasa Titipan Capai Rp 8 Triliun

Jakarta –Potensi pasar dari jasa titipan pada tahun ini mencapai 8 triliun rupiah berkat berlakunya  Undang-Undang No 38 tahun 2009 tentang Pos  tahun lalu.

Direktur Ekskutif Asosiasi Pengiriman Jasa Ekspres Indonesia (Asperindo) Syarifuddin mengatakan, UU Pos sangat memungkinkan industri jasa pengiriman untuk berkembang pesat.

“Ada tiga hal penting dari undang-undang itu yang membuat pemain swasta bergairah,” ungkapnya di Jakarta, Rabu (20/10).

Tiga hal itu adalah, pertama, monopoli PT Pos untuk pengiriman warkat dan kartu pos ditiadakan, sehingga membuat pemain swasta diperbolehkan menggarap.  Kedua, swasta.  bisa menggarap pengiriman uang. Dan ketiga perusahaan asing yang mau masuk ke Indonesia harus berbagi  saham dimana  investor lokal harus mendapatkan saham mayoritas.

“Potensinya sangat besar sehingga setiap tahun industri jasa pengiriman ini mengalami peningkatan sebesar 10 persen,” jelasnya.

Sementara General Manajer PT Expressindo System Network (X-Sys) Arif Wahyudi mengungkapkan, ingin ikut merasakan gurihnya kue jasa pengiriman dengan membuka 43 kantor cabang mulai 10 Oktober lalu.

PT Expressindo System Network (X-Sys) adalah anak usaha All Total Transport (ATT) Group.

“Seluruh kantor cabang tersebut dibangun sendiri oleh perusahaannya tanpa skema kemitraan dengan pihak lain. Dengan menyerap lebih dari 200 orang tenaga kerja,” jelasnya.

Dijelaskannya, pilihan membangun kantor cabang secara mandiri untuk menjaga jika  terjadi sesuatu terhadap dokumen atau paket barang yang dikirimkan konsumen. Maka proses penelusuran atas barang tersebut bisa lebih mudah, dibandingkan jika kantor cabang tersebut dioperasikan oleh mitra usaha.

Selain kantor cabang sendiri, perseroan juga  memiliki total armada pengiriman sebanyak  49 unit.  Harga per unit dari armada sekitar  90 jutaan rupiah.

Jika jumlah armada dikalikan harga per unit maka bisa dihitung X-Sys harus mengeluarkan  4,41 miliar rupiah  untuk mengadakan kendaraan.

Sedangkan mitra yang digandeng adalah  Garuda Indonesia, Sriwijaya, Batavia Air, Travel Express Air, dan Lion Air. “Garuda mengirimkan lebih dari 50 persen paket barang kami,” jelasnya.

Selanjutnya diungkapkan, di tahun pertamanya beroperasi, X-Sys menargetkan dapat mengantongi pendapatan 50 miliar rupiah . Dimana 60 persen  diantaranya disumbang dari pendapatan pengiriman dokumen. Sementara 40 persen  sisanya dari pengiriman kargo.

“Masing-masing daerah berbeda target pendapatannya. Tergantung dari potensinya. Namun kami targetkan keuntungan bersih dari bisnis ini bisa mencapai 10 persen dan Return of Investment bisa tercapai dalam 1 tahun,” kata Arif.

X-Sys melayani tiga jenis pengiriman barang. Yaitu X-Day untuk pengiriman barang langsung sampai. Layanan tersebut dilayani perseroan untuk pengiriman ke 26 kantor cabang dengan tarif yang lebih tinggi. Mulai dari  50 ribu rupiah  untuk satu kilogram pertama dan lima ribu rupiah.  untuk kilogram berikutnya di DKI Jakarta. Sampai  300 ribu rupiah untuk satu kilogram pertama dan  30 ribu rupiah  untuk kilogram berikutnya ke Balikpapan.

Lalu ada X-One untuk pengiriman satu hari ke 33 kantor cabang. Serta X-Sure untuk pengiriman ke seluruh kantor cabang dengan tarif yang lebih murah.[Dni]

211010 ANA Gantikan Posisi JAL

JAKARTA—Maskapai penerbangan All Nippon Airways (ANA) akan menggantikan Japan Airlines (JAL) dalam mengisi rute Jakarta-Narita Tokyo.

“ANA sudah mengajukan permohonan izin rute untuk melayani Jakarta-Narita. Kami sudah memberikan izinnya, karena maskapai Jepang memiliki hak trafik untuk terbang ke Indonesia. ANA nantinya akan menggantikan rute yang ditinggalkan JAL,” kata Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemhub) Herry Bakti S Gumay  di Jakarta,  Rabu (20/10).

Dikatakannya, untuk jadwal pemanfaatan rute diserahkan ke ANA. “Kami memberikan izin, karena sebelumnya otoritas penerbangan Jepang sudah mengizinkan Garuda Indonesia untuk membuka rute Jakarta-Narita. Tadinya Garuda hanya terbang dari Denpasar ke Narita,” jelasnya.

Sebelumnya, pada Agustus lalu ANA melalui siaran persnya mengungkapkan rencana membuka kembali rute penerbangan Jakarta-Narita satu kali sehari. Maskapai tersebut pernah melayani rute tersebut sekitar 12 tahun yang lalu.

Namun, dalam rilis itu tidak disebutkan secara pasti kapan penerbangan ke Jakarta itu akan kembali dilayani. ANA hanya menyebut akan memulainya tahun depan. Selain terbang ke Jakarta, ANA juga berencana membuka penerbangan ke Manila dan Filipina.

Perpanjang Sewa
Pada kesempatan lain, Direktur Pemasaran dan Distribusi Indonesia AirAsia Widijastoro
Nugroho  mengungkapkan,  memperpanjang sewa dua unit Boeing 737-300 dari lessornya di luar negeri karena  penyelesaian penebalan landasan (overlay) Bandara
Husein Sastranegara tidak jadi rampung pada Desember tahun ini.

“Kami memperpanjang sewa dua unit Boeing sampai Maret 2011, seharusnya sudah habis November tahun ini. Hal tersebut sudah disepakati dengan lessor,” katanya

Saat ini anak usaha AirAsia Berhad Malaysia itu memiliki empat destinasi yang diterbanginya dari Bandung. Yaitu menuju Medan, Denpasar, dan Singapura masing-masing sebanyak satu kali sehari. Serta menuju Kualalumpur sebanyak satu kali sehari.

Maskapai yang terkenal dengan penerbangan murahnya itu menempatkan
tiga dari empat unit Boeing 737-300 yang dioperasikannya untuk melayani penerbangan dari Bandung. Tertundanya penyelesaian overlay, IAA belum bisa menggunakan Airbus A320 untuk terbang ke Bandung.

“Hal ini jelas merugikan karena selama ini load factor rute Bandung rata-rata 85 persen , bahkan saat high season bisa mencapai 90 persen. Bahkan dengan masuknya Malaysia Airlines di rute Kualalumpur-Bandung, pasarnya tidak tergerus karena memang sangat besar peminatnya. Karena itulah kami meminta kepastian dari Angkasa Pura II untuk segera menyelesaikan pekerjaan overlay tersebut,” imbuhnya.

PT Angkasa Pura II (Persero) sendiri sedang menyeleksi perusahaan yang akan mengerjakan overlay bandara tersebut. Sebanyak 12 perusahaan berebut tender overlay Bandara Husein Sastranegara.

Direktur Utama AP II Tri S Sunoko memastikan keputusan pemenang tender senilai  44,2 miliar rupiah itu kemungkinan besar baru bisa ditetapkan akhir bulan ini. Sehingga pekerjaan baru bisa dimulai awal tahun depan.

Bandara Husein Sastranegara memiliki landasan pacu dengan ketebalan 37
cm. Hal ini membuat  hanya bisa didarati Boeing 737-300 berbobot 51,7 ton saat mendarat. Sementara berat maksimal mendarat Airbus A320-300 mencapai 64,5 ton.

211010 Mobile Advertising: Meretas Jalan Mencari Keuntungan

Perusahaan mobile media global BuzzCity belum lama  ini mengumumkan Indeks Mobile Advertising Global periode kuartal III 2010. Tercatat, terdapat pertumbuhan global sebesar 17 persen  pada periklanan di situs atau aplikasi mobile.

Indeks Mobile Advertising Global mencatat setiap aktivitas periklanan diseluruh Jaringan Iklan BuzzCity, termasuk 2.500 penerbit konten di seluruh dunia. Data tersebut mewakili permintaan para pengiklan untuk iklan mobile internet.

Sebanyak 54 pasar masing-masing mendapatkan lalu lintas data per bulan melebihi 10 juta impresi. Angka ini naik dari 44 pasar di kuartal kedua  dan 32 pasar di kuartal I  yang berhasil meraih lebih dari 10 juta impresi.

Tercatat, sedikitnya 14 negara telah mengalami pertumbuhan sebesar 2 digit di periklanan mobile selama 3 bulan terakhir. Sementara itu tiga pasar lain yakni Libya, Korea Selatan dan Kenya menunjukkan 3 digit pertumbuhan,” ucapnya.

Sementara India, Turki, Amerika Serikat, Malaysia, Afrika Selatan dan Meksiko telah mengalami pertumbuhan dua-digit selama tiga kuartal berturut-turut.

Khusus Indonesia,  Indeks Mobile Advertising Global  periode kuartal ketiga 2010 yang dirilis oleh BuzzCity menunjukkan  jumlah iklan banner mobile Indonesia masih paling tinggi.

Meski demikian, untuk pasar Indonesia, belanja iklan yang dikeluarkan pengiklan cenderung berfluktuasi. Ini menyebabkan penurunan pada angka jumlah iklan banner yang terpasang turun 16 persen atau mencapai 3,685,538,814 iklan dibandingkan periode sebelumnya.

Ditenggarai menurunnya jumlah iklan mobile seiring dengan berkurangnya permintaan dari pengiklan dibanding dengan kuartal sebelumnya.

Sedangkan di pasar iklan mobile di Indonesia, khususnya pada jaringan iklan BuzzCity, terlihat pertumbuhan sebesar 57 persen  selama bulan September 2010.

Secara nasional, diperkirakan belanja iklan untuk mobile advertising pada tahun ini mencapai  150 milar rupiah.

Masih Belajar
Group Head and Vas Marketing Indosat Teguh Prasetya mengakui layanan mobile advertising masih dalam tahap belajar di Indonesia sehingga. “Industri belum matang untuk mobile advertising. Hal ini makin diperberat dengan perilaku dari pemasang iklan yang masih coba-coba di media baru ini,” jelasnya.

Diungkapkannya, Indosat secara pertumbuhan memiliki laju yang tinggi, bahkan untuk pendapatan mencapai dua kali lipat dari target awal yang diinginkan. “Pengakses mobile advertising di Indosat sekitar 8 juta pelanggan. Kalau nominal rupiahnya tidak bisa diungkap,” katanya.

Teguh optimistis, layanan ini akan bisa berbicara banyak beberapa tahun lagi karena secara akses ke target pasar lebih terukur. “Sekarang memang price per impression dari mobile advertising belum sekompetitif media konvensional. Nanti, jika era mencari informasi kian tinggi di layar keempat alias mobile phone, baru angka berbicara lain,” katanya.

CEO Domikado Ronald Ishak menyakini layanan mobile advertising akan berbicara banyak pada tahun depan  Seiring luasnya daya serap smartphone, tablet PC, sampai perangkat pintar bergerak sejenisnya oleh pasar.

“Pengiklan baru saja masuk ke ranah Web. Mungkin membutuhkan waktu setahun lagi untuk masuk ke perangkat mobile,” katanya.

Menurutnya,  impresi iklan mobile sudah mulai terasa, potensinya pun sedikit-sedikit mulai terlihat. Hal itu ditandai dengan munculnya sejumlah aplikasi mobile yang diperuntukkan bagi pengguna smartphone.

“Tetapi, aplikasi yang dikembangkan harus memiliki karakter kuat. Strateginya tidak main-main. Pengembang sekarang sudah mulai memikirkan aplikasi apa yang kira-kira bisa mendatangkan uang dan keuntungan. Tak hanya sekadar aplikasi gratis. Karena itu tiap pengembang harus memikirkan formula yang pas,” terang dia.

Praktisi telematika Andy Zain mengungkapkan, perusahaan kakap di Amerika Serikat yang telah memiliki basis kuat dalam pengembangan mobile advertising mengakui potensi pasar yang dimiliki oleh Indonesia lumayan besar, tetapi tidak dari sisi keuntungan.

“Pemasang iklan di mobile advertising itu kebanyakan perusahaan asing. Sayangnya,  kebanyakan perusahaan tersebut tidak mau menyediakan waktu  untuk mengerti bisnis model yag sesuai  di  pasar Indonesia dan menyamaratakan sudut pandangnya dengan kacamata sendiri,” sesalnya.

Diungkapkannya,  pengguna mobile Internet di Indonesia rata-rata  masih banyak dari kalangan menengah ke bawah dimana bisa dilihat dari  80 persen ponsel yang ada di pasar harganya di bawah 1.5juta rupiah.

Hal ini membuat kebanyakan pemakai mobile Internet aksesnya ke portal yang itu-itu  saja, seperti Facebook, mig33 dan lainnya. “Butuh edukasi  lebih luas agar  orang mau  berinteraksi interaksi ke situs atau layanan yg berbeda. Inilah penyebab uang di mobile advertising ataupun layanan mobile lain masih terbatas,” jelasnya.

Praktisi telematika lainnya Faizal Adiputra menjelaskan, pemasang iklan memasang produknya di media konvensional lebih pada membangun citra, sedangkan untuk akuisisi mulai menoleh pada medium digital dimana salah satunya mobile advertising.

“Sebenarnya ada beberapa perusahaan yang bergerak di mobile advertising mulai menunjukkan sinyal positif. Namun, tantangannya tidak hanya dari sisi pemilik produk, tetapi kemauan dari agency periklanan sebagai mitra pemilik produk mengedukasi juga memegang peranan penting,” jelasnya.

Pada kesempatan lain, Ketua Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) bidang ICT  Iqbal Farabi mengatakan, mobile advertising banyak digeluti oleh pelaku usaha muda karena dinamisnya tantangan dalam pengembangannya. “Umumnya ini mainan anak muda. Jika bicara modal yang dibutuhkan, memulai bisnis ini bisa dari segmen Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Modal utama adalah jaringan di pasar dan kreatifitas,” katanya.

Sementara Pengamat telekomunikasi Mochammad James Falahuddin menegaskan, jika pemain mobile advertising ingin menawarkan pemasangan iklan harus didukung kekuatan dari situs sebagai penarik pengunjung datang.

“Tidak bisa hanya mengandalkan aplikasi di mobile phone. Pelanggan harus di-trigger dengan situs yang dimiliki agar ada interaksi. Intinya selama tidak ada unique visitor di satu situs, akan susah berjualan ruang di mobile advertising,” tegasnya.[dni]

211010 Komisaris Utama TRG Investama Sakti Wahyu Trenggono: Membangun Wahana Bagi Industri Kreatif

Nama Teknologi Riset Global (TRG) Investama  menjadi pembicaraan di industri telekomunikasi pekan ini setelah mengumumkan akan menggarap bisnis Cloud Computing melalui merek Indonesian Cloud. Sebelumnya, perusahaan yang dimiliki oleh Sakti Wahyu Trenggono ini dikenal bermain sebagai penyedia menara telekomunikasi  dengan merek Indonesian Tower dan perangkat Broadband Wireless Access  melalui TRG Wimax.

Dana sebesar 10 miliar rupiah telah disiapkan oleh Pria yang akrab dipanggil “TG” ini bagi Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk melakukan riset tentang konten-konten spesifik berkaitan dengan cloud computing selama tiga tahun.  Indonesian Cloud sendiri diharapkan melantai di pasar  satu tahun ke depan memperebutkan kue di pasar senilai 2,1 triliun rupiah.

Wartawan Koran Jakarta, Doni Ismanto, mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai penggemar golf ini pada Rabu (20/10). Berikut petikannya:

T: Pendirian Indonesian Cloud menimbulkan rumor TRG Investama tidak lagi serius menggarap bisnis  Wimax dan menara.
J: Rumor itu tidak benar. Kami serius ingin menjadi perusahaan yang bermain di teknologi informasi mulai sebagai penyedia infrastruktur, perangkat, hingga aplikasi. Sebagai penyedia perangkat wimax, TRG baru saja memenangi tender di Telkom untuk Wimax Nomadic. Belum lagi pada Juni 2011, pabrik hasil kerjasama dengan SIIX mulai berperasi yang menelan investasi 30 juta dollar AS untuk pengembangan perangkat Wimax.

T: Apa tujuan Indonesian Cloud dibentuk
J :Industri Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (TIK) di Indonesia ini semuanya dikuasai oleh asing. Mulai dari perangkat hingga ke tingkat kreatif sekalipun seperti software dan konten. Ini sangat  ironis kondisinya.  Sebenarnya ada peluang besar bagi anak bangsa untuk bermain di TIK yakni untuk software dan konten. Indonesian Cloud ingin menjadi wahana bagi industri kreatif itu untuk masuk ke pasar.  Konsep bisnis yang ditawarkan Cloud Computing ini memungkinkan  semua elemen bisa mencicipi kemajuan perekonomian karena setiap fungsi memiliki nilai.

T: Apa nilai bisnis dari industri Cloud Computing itu besar
J: Besar sekali. Untuk diketahui saja, di perbankan untuk membeli software Silver Lake saja bisa menelan investasi 50 juta dollar AS. Belum lagi aplikasi untuk perpajakan, Single Identity Number (SIN), dan lainnya.  Angka itu besar sekali dan semua dinikmati oleh pemain asing. Padahal, anak bangsa kita mampu membuat semua itu asalkan diberikan kesempatan dan akses ke pasar.

T: Apa kendala terbesar mengembangkan bisnis Cloud Computing
J: Keberpihakan. Baik itu dari pemerintah atau pelaku usaha. Pemerintah harus menunjukkan keberpihakkan melalui regulasi yang dibuat dan memanfatkan Cloud Computing untuk menekan pemborosan nasional. Bayangkan kalau lembaga pemerintah itu menggunakan data center atau aplikasi bersama,itu kan sudah penghematan. .Sedangkan dari pelaku usaha kita minta diberi kesempatan, kalau bisa pola pikir memiliki diubah menjadi menyewa alias dari belanja modal menjadi biaya operasional agar ada penghematan belanja solusi teknologi informasi.

T: Indonesian Cloud baru masuk pasar satu tahun lagi, tidak akan kehilangan momentum
J: Kami ingin masuk ke pasar dengan persiapan yang matang. Kunci kemenangan di bisnis ini adalah di penelitan dan pengembangan yang kuat. Inilah alasan kita menggandeng ITB dan beberapa kampus lagi.

T: Optimiskah bersaing dengan pemain besar seperti Telkom dan Indosat
J; Kami memiliki keunggulan independen sebagai perusahaan cloud computing. Ini unik karena pemain besar yang sudah memiliki bendera. Posisi independen membuat kita bebas untuk bekerjasama dengan semua lapisan. Bidikan utama adalah pasar pemerintah dan Usaha Kecil Menengah (UKM). Telkom dan Indosat pun akan  digandeng karena secara infrastruktur backbone kedua perusahaan ini kuat. Pasar cloud computing ini baru akan tumbuh,  semua kekuatan harus membangun bersama-sama

211010 Kemenkominfo Optimistis UU Konvergensi Disahkan

JAKARTA—Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) optimistis Undang-undang Konvergensi (UU Konvergensi ) disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada tahun depan untuk meningkatkan daya saing industri telekomunikasi Indonesia

“Kami optimistis Rancangan Undang-undang (RUU) konvergensi yang sedang dalam tahap kosultasi publik bisa disahkan tahun depan. UU ini penting sekali untuk meningkatkan daya saing dan menumbuhkan industri teknologi informasi dan komunikasi (TIK) nasional,” ungkap Sekjen Kemenkominfo Basuki Yusuf Iskandar di Jakarta, Rabu (20/10).

Dijelaskannya, dalam RUU tersebut didorong industri TIK untuk mengkombinasikan kekuatan dari Indonesia yakni kebudayaan, sumber daya manusia (SDM), dan keunikan.

“Indonesia selama ini negara konsumen. Kekuatan Indonesia ada pada tiga hal di atas dan harus dioptimalkan. RUU ini mendorong adanya diversifikasi produk, terutama pada konten. Masalah konten sendiri akan lebih diatur dalam UU Informasi dan Transaksi Elektornika (ITE),” jelasnya.

Staf ahli Kemenkominfo Bidang Hubungan Internasional dan Kesenjangan Digital Karamulloh Ramli menambahkan, RUU Konvergensi akan menjadi pengganti UU Telekomunikasi No 36/99. “Sementara untuk UU ITE dan Penyiaran akan dilakukan revisi untuk mengharmonisasi isinya dengan semangat konvergensi,” jelasnya.

Anggota Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Teguh Anantawikarma meminta dalam  UU Konvergensi nantinya semangat pemerintah untuk melakukan kutipan terhadap industri dikurangi. “Saya harapkan regulasi baru semangatnya bukan memnimbulkan kutipan baru, tetapi lebih mendorong industri. Kalau dilihat dalam RUU Konvergensi masih ada semangat mengutip itu,” sesalnya.

Sementara Direktur Lembaga Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat Informasi (LPPMI) Kamilov Sagala mengatakan, RUU Konvergensi tidak mengakomodasi semangat penyatuan antara penyiaran, konten, dan telekomunikasi. “Jika hanya menjadi pengganti UU Telekomunikasi, RUU konvergensi itu dalam posisi banci. Harusnya tiga UU (ITE, Penyiaran, Telekomunikasi) itu digabung dalam satu UU Konvergensi,” tegasnya.[dni]

211010 ULO Berca Ditolak

JAKARTA—Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) melalui Ditjen Postel menolak permintaan Uji Laik Operasi dari  salah satu pemenang tender Broadband Wireless Access (BWA), Berca, karena tidak melengkapi syarat administrasi.

“Surat yang dikirimkan Berca sudah kami jawab dengan menolak permintaan untuk melakukan ULO. Hal ini karena permintaannya tidak lengkap secara administrasi,” ungkap Direktur Standarisasi dan Sertifikasi Ditjen Postel Azhar Hasyim di Jakarta, Rabu (20/10).

Diungkapkannya, penolakan terpaksa dilakukan karena dalam administrasi, Berca tidak mencantumkan sertifikasi perangkat yang dimiliki.  “Jika tidak ada sertifikasi, standar perangkat tidak bisa diketahui,” katanya.

Sebelumnya, Chairman Berca Group Murdaya Widyawimarta Poo menjanjikan pada Oktober nanti layanan  4G Wimax milik perseroan akan keluar dengan merek dagang  WiGO. Rencananya WiGO akan mulai tersedia di Medan dan Balikpapan pada bulan Oktober 2010, selanjutnya menyusul Batam dan kota-kota besar lain di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara.

Berca mendapatkan lisensi untuk mengoperasikan layanan BWA di frekuensi 2.3 GHz, dengan lebar pita sebesar 30MHz, yang mencakup 8 zona layanan, tersebar di sebagian besar daerah-daerah di luar Jawa, yakni Sumatera, Kalimantan, Sulawesi bagian Selatan, Bali dan Nusa Tenggara. Perseroan  mengalokasikan anggaran sebesar 500 juta dollar AS untuk biaya capital expenditure (capex) dan operational expenditure (opex) guna  mengembangkan jaringan layanan Wimax di 24 kota di Indonesia.

Berkaitan dengan pemain BWA lainnya, First Media yang telah mengantongi ULO untuk merek Sitra Wimax, Azhar mengungkapkan, kemungkinan akan mendapatkan penalti karena komersialisasi terus molor dari target semula. “Mereka ada kewajiban harus membangun dalam lisensi modernnya. Jika tidak terpenuhi, tentu akan mendapatkan denda,” katanya.

First Media sebagai pemenang lisensi BWA untuk area Jabodetabek dan Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) menanamkan investasi sebesar 350 juta dollar AS hingga 10 tahun ke depan untuk mengembangkan Sitra. Komersial pertama akan dilakukan di Jabodetabek pada Oktober nanti.

Kabar beredar mengatakan molornya kedua pemain menggelar Wimax karena lebih memilih perangkat diluar standar yang ditetapkan dalam tender lelang tahun lalu. First Media dikabarkan menggunakan perangkat dari Alvaritek, sementara Berca menggandeng ZTE.[dni]