201010 Valuasi Aset Flexi Libatkan Lembaga Negara

JAKARTA–Serikat Karyawan (Sekar) PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) meminta valuasi aset unit usaha Fixed Wireless Access (FWA) Flexi melibatkan lembaga negara seperti Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk mencegah kerugian dalam merger dengan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL).

“Flexi itu adalah aset negara. Tidak bisa hanya menyewa konsultan swasta untuk melakukan valuasi aset, karena tidak akan independen,” tegas Sekjen Sekar Telkom Asep Mulyana di Jakarta, Selasa (19/10).

Menurutnya, sebagai bagian dari aset negara dimana Flexi adalah unit bisnis Telkom yang notabene Badan Usaha Milik Negara (BUMN)harus hati-hati dalam memperlakukannya oleh manajemen.

“Jika hanya konsultan ditunjuk oleh Dewan Direksi, tentu akan melapor kepada Direksi juga. Padahal, posisi direksi sendiri sesuai Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) 14 Juni 2010 hanya sementara. Kalau begini harusnya tidak boleh mengambil kebijakan strategis,” katanya.

Diungkapkannya, secara aset Flexi memiliki nilai sekitar 7 triliun rupiah, tetapi mengingat akan dimergerkan dengan BTEL yang notabene swasta dan tercatat sahamnya di bursa maka tidak seimbang dalam bernegosiasi. Sedangkan nilai kapitalisasi pasar BTEL saat ini sebesar 6,693 triliun rupiah

“BTEL pasti akan menyodorkan saham, sementara Flexi berupa aset yang nilainya tidak bisa dikerek. Saham BTEL saja sejak pertengahan September lalu terangkat dari 160 menjadi 250 rupiah berkat pernyataan dari Menneg BUMN Mustafa Abubakar yang terkesan mendukung merger. Ini kan tidak apple to apple jadinya,” sesalnya.

Belum lagi, lanjutnya, masalah hutang BTEL yang nanti bisa ikut menjadi tanggungan Telkom secara grup jika nanti memiliki saham perusahaan itu.

Berdasarkan laporan keuangan BTEL  per Juni 2010, pada 16 Juli 2010 salah satu emiten Grup Bakrie ini kembali berutang sebesar 30 juta dollar AS.Setelah itu pada  12 Agustus 2010 berhutang RMB 2 miliar dari Industrial and Commercial Bank of China dan Huawei Technologies Co. Ltd.

Tambahan utang ini membuat  beban bunga yang dibayarkan oleh BTEL kembali menanjak sehingga menekan bottom line perseroan. Tercatat,  laba bersih BTEL pada semester I lalu anjlok drastis 96,29 persen dari 72,8 miliar rupiah menjadi tinggal 2,7 miliar rupiah.

Melihat kondisi seperti itu, Ketua Umum Sekar Telkom Wisnu Adhi Wuryanto menegaskan, 22 ribu karyawan Telkom menolak rencana merger antara Flexi dengan Esia karena tidak menguntungkan perseroan secara grup.

“Kami sudah menyatakan sikap ini dengan mengirimkan surat pada 23 September lalu ke dewan direksi, tetapi belum ada tanggapan. Jika tidak diindahkan akan ada aksi mogok dari Sekar. Selain itu kami juga akan melaporkan aksi merger ini ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk mengawasi agar tidak menjadi masalah dikemudian hari bagi pengambil keputusan,” tegasnya.[Dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s