191010 Menuju Awan Komputasi Indonesia

Lembaga riset Gartner memperkirakan dalam waktu dua tahun mendatang sebanyak 80 persen dari perusahaan kelas kakap  di dunia  akan menggunakan cloud computing untuk meningkatkan daya saingnya.

Diperkirakan pada tahun ini nilai bisnis dari  pemanfaatan teknologi internet untuk menyediakan sumber komputing itu secara global mencapai 80 miliar dollar AS dengan tingkat pertumbuhannya setiap tahun sebesar 25 persen dalam jangka waktu lima tahun mendatang.

Dari sisi jenis layanan,  Cloud Computing, terbagi dalam 3  yaitu  Software as a Service (SaaS), Platform as a Service (PaaS) dan Infrastructure as a Service (IaaS). Sementara dari sifat jangkauan layanan, terbagi menjadi Public Cloud, Private Cloud dan Hybrid Cloud. Konsep komputasi awan menjanjikan belanja modal untuk Teknologi Informasi (TI) diubah menjadi biaya operasional sehingga terjadi efisiensi.

International Data Corporation memperkirakan pada tahun lalu pendapat dari public cloud mencapai 16 miliar dollar AS dan diperkirakan pada 2014 akan mencapai 55,5 miliar dollar AS. Sementara analis lainnya memperkirakan Private Cloud atau yang selama ini dikenal dengan enterprise cloud-based  pada 2010 memiliki nilai  12.1 miliar dollar AS dengan pertumbuhan tiap tahunnya mencapai 43 persen pada tahun depan.  Produk  SaaS akan menguasai segmen ini  sebesar 70 persen, sementara  30 persen datang dari  IaaS pada tahun ini.

“Untuk Indonesia nilai  pasar dari komputasi awan masih kecil. Pada tahun depan diprediksi mencapai 2,1 triliun rupiah dengan sumbangan SaaS sebesar 40 persen.  Telkom sendiri menguasai pasar sekitar 70 persen,” ungkap Direktur Whole Sales and Enterprise Telkom Arief Yahya di Jakarta, Senin (18/10).

Diungkapkannya, potensi pasar yang besar untuk ditawarkan solusi komputasi awan adalah pemerintah karena berperan sebagai lokomotif di industri. “Pemerintah secara regulasi membuka peluang bagi pelaku usaha, misalnya dengan adanya National Single Windows (NSW) yang membuat semua pelaku usaha berlomba mendukung program itu. Belum lagi secara belanja Teknologi Informasi (TI) pemerintah daerah dan pusat itu lumayan besar, khususnya untuk pendidikan dan  kesehatan. Di pendidikan saja ada alokasi dana 200 triliun rupiah dimana 20 persen untuk belanja TI,” jelasnya.

Berdasarkan catatan, sektor pemerintah rata-rata mengambil porsi 11 persen dari belanja TI nasional yang tahun ini diperkirakan mencapai 1,731 miliar dollar AS atau tumbuh 11,9 persen dari tahun sebelumnya.

Disarankannya, untuk pemerintah daerah pun tak segan memanfaatkan cloud computing karena bisa menekan biaya investasi dan membuat adanya efisiensi. “Pemerintah daerah itu tidak akan head to head secara geografis. Jika cloud computing dimanfaatkan, banyak dana yang bisa dihemat,” jelasnya.

Kepala Badan Litbang SDM Kemenkominfo Cahyana Ahmadjayadi menjelaskan, pemerintah pusat sudah mengeluarkan peraturan menteri tentang tata kelola TIK bagi pemerintah daerah untuk berbelanja TI agar terjadi efisiensi. “Kami juga memberikan beasiswa untuk mencetak Chief Information Officer (CIO) bagi pegawai negeri di daerah agar konsep komputasi awan ini bisa diterima. Soalnya, pemerintah pusat tidak bisa intervensi langsung cara daerah berbelanja. Inilah cara kita mengedukasinya,” jelasnya.

Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi mengungkapkan, bisnis cloud computing akan diregulasi secara jelas dalam Undang-Undang Konvergensi karena selama ini belum memiliki aturan yang jelas.

“Regulasi diperlukan karena disini isu utamanya adalah masalah keamanan. Inilah kenapa Indonesia terus mendorong perusahaan asing yang memberikan layanan cloud computing untuk meletakkan server di sini. Tujuannya untuk melindungi warga negara dan kepentingan negara,” tegasnya.

Menurutnya, penyelenggara cloud computing harus memiliki lisensi dan dibatasi kepemilikan asing dalam berusaha. “Selama ini cloud computing itu masuk dalam sistem komunikasi data (Siskomdat) dengan kepemilikan asing yang sangat longgar yakni mencapai 95 persen,” jelasnya.

Heru menyarankan,  agar lembaga pemerintah termasuk polisi, TNI memiliki cloud computing  sendiri secara bersama agar efisien dan fleksibel. “Nah, kendalanya di Indonesia itu masalah ketersedian bandwitdh yang timpang antara Indonesia bagian barat dan timur. Ini harus dicarikan solusinya oleh pemerintah salah satunya dengan Broadband USO,” katanya.

Manfaatkan Peluang
Direktur Utama Teknologi Riset Global Investama (TRG Investama) Gatot Tetuko mengakui, potensi pasar yang besar dari cloud computing menggoda perusahaanya untuk ikut mencicipi.

“Cloud computing sama dengan konsep berbagi infrastruktur. Setelah aktif di penyedian menara dan perangkat Wimax, kami melebarkan sayap ke cloud computing. Ini adalah peluang masa depan yang harus dioptimalkan anak bangsa,” ungkapnya.

Untuk diketahui, TRG Investama adalah pemilik sebagian saham Indonesian Tower dan TRG. Di Cloud Computing sendiri TRG Investama akan mengeluarkan merek dagang Indonesian Cloud. Langkah pertama yang disiapkan oleh perusahaan ini untuk menggarap bisnis cloud komputing adalah menggandeng Institut Teknologi Bandung untuk melakukan riset tentang konten-konten spesifik berkaitan dengan cloud computing. Dana 10 miliar rupiah digelontorkan untuk program tersebut hingga jangka waktu tiga tahun mendatang. Indonesian Cloud sendiri diharapkan melantai di pasar  satu tahun ke depan.

“Kami memiliki keunggulan independen sebagai perusahaan cloud computing. Ini unik karena pemain besar yang sudah memiliki bendera. Posisi independen membuat kita bebas untuk bekerjasama dengan semua lapisan. Bidikan utama adalah pasar pemerintah dan Usaha Kecil Menengah (UKM),” ungkapnya.

Pengamat telematika Mochammad James Falahuddin mengungkapkan, tugas utama menuju awan komputasi Indonesia adalah edukasi ke pasar. “Mengubah pola pikir dari memiliki menjadi menyewa itu susah. Untuk kondisi Indonesia itu yang bakal diminati adalah  SaaS dan IaaS,” jelasnya.

Sementara praktisi lainnya, Andreas Nugraha mengatakan jika regulasi yang dikeluarkan terkait keamanan itu akan menjawab keraguan dari penyewa akan layanan yang ditawarkan oleh penyedia cloud computing. “Asal jangan semangatnya memungut iuran saja. Ini bisnis baru, belum berkembang,” jelasnya.

Sedangkan Arief Yahya meminta, jika akan ada regulasi yang dikeluarkan pemerintah, faktor yang harus diperhatikan adalah masalah komitmen dari pemain asing untuk menggandeng investor lokal mengembangkan cloud computing. “Harus ada regulasi yang mendorong kerjasama. Mulai dari pemasaran hingga kepemilikan bersama. Di bisnis software saja banyak sekali pemain asingnya. Padahal ini modalanya kreatifitas,” katanya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s