161010 Edward Sirait : Terus Meningkatkan Diri

Kiprah PT Lion Mentari Airlines (Lion Air) dalam kurun dua tahun terakhir ini lumayan  menghentak langit nusantara.

Pada 2009, maskapai berbasis Low Cost Carrier (LCC) ini  ditasbihkan sebagai pengangkut  penumpang domestik terbanyak  dengan  13,3 juta penumpang atau 30,7 persen dari seluruh jumlah penumpang yang diangkut sepanjang 2009 sebanyak 43,5 juta penumpang. Angka itu melesat 44,4 persen dibandingkan 2008 dimana  Lion Air  mengangkut 9,21 juta penumpang.

Pada musim mudik 2010 pun,  Lion Air  berhasil menguasai pasar dengan mengangkut 3 juta penumpang atau menguasai 45 persen pangsa pasar peak season itu. Sedangkan   setiap harinya,  Lion Air  melayani penerbangan sebanyak 390 kali penerbangan ke seluruh Indonesia dengan  mengangkut 62 ribu penumpang. Pada 2010 ini   diharapkan mampu mengangkut 20 juta penumpang dengan kekuatan armada saat ini berjumlah 64 pesawat.

“Perusahaan terus meningkatkan diri untuk melayani pelanggan. Jika statistik menunjukkan adanya peningkatan penumpang yang diangkut, itu menunjukkan keinginan Lion Air  untuk terus mengubah diri menjadi lebih baik dalam melayani pelanggan diapresiasi masyarakat,” ungkap Direktur Umum Lion Air Edward Sirait kepada Koran Jakarta, belum lama ini.

Pria beranak tiga ini mengungkapkan, dalam meningkatkan kemampuan, prioritas pertama yang dilakukan adalah menaikkan kapasitas dengan terus mendatangkan pesawat baru. Alhasil, secara kapasitas jika dibandingkan tahun lalu terjadi peningkatan sebesar 40 persen.

Selain itu untuk layanan yang langsung dirasakan pelanggan juga terus ditingkatkan terutama masalah penanganan bagasi, check in, dan On Time Performance (OTP). “Masalah bagasi ini menjadi prioritas karena langsung dirasakan oleh penumpang. Tak lama lagi akan diterapkan sistem barcode layaknya di meja check in untuk menekan kehilangan,” katanya.

Sedangkan untuk pelaporan diterapkan sistem mobile check in berupa  sistem pemeriksaan tiket penumpang secara jemput bola dimana petugas Lion Air di bandara akan mendatangi calon penumpang untuk men-scan barcode atau memasukkan kode  tiket ke handheld check in. Konsep ini membuat calon penumpang tidak perlu lagi untuk antri di counter check in.  Waktu antrian pun mampu  ditekan dari 15 menjadi 7 menit.

“Kalau untuk OTP kita terus tingkatkan, tetapi harus diingat masalah ini banyak tergantung faktor eksternal seperti cuaca, kepadatan bandara, dan lainnya,” katanya.

Sementara untuk menunjang performa armada, Pria yang hobi berolahraga ini mengungkapkan, sedang membangun hanggar pesawat di  Menado   dengan tanah seluas 12 Ha dengan kapasitas  maksimum menampung 2 pesawat Boeing 737-900ER yang menelan investasi 30-40 juta dollar AS. Rencananya, fasilitas tersebut akan melayani armada sendiri dan dikembangkan menjadi unit bisnis tersendiri.

Komitmen
Dijelaskannya, langkah serius dilakukan Lion Air tak lebih sebagai  wujud komitmen dari  manajemen untuk berbisnis di industri penerbangan. “Industri ini profilnya semua tinggi. Mulai dari dinamika, teknologi, modal, resiko, biaya, dan regulasi. Tetapi marginnya kecil,” katanya.

Hal ini karena  maskapai  ibarat pemilik pipa besar yang mengalirkan air dimana semuanya hanya menumpang lewat di saluran tersebut. “Semuanya kita bayar untuk operasional mulai dari  avtur, sewa pesawat, dan lainnya. Airnya boleh besar, tetapi yang mampu jadi keuntungan hanya beberapa galon, puluhan galon lainnya terbuang saja. Semua pelaku usaha yang ingin bermain di industri penerbangan harus menyadari hal itu agar tidak melakukan kalkulasi yang salah,” katanya.

Ditegaskannya, walau Lion Air agresif dalam meningkatkan kapasitas dan layanan, tetapi jalur LCC tetap menjadi pilihan karena kebutuhan dari masyarakat itu adalah alat transportasi.

“Masyarakat Indonesia belum memiliki perilaku merencanakan perjalanan jauh hari. Di Indonesia biasanya jika ingin berpergian itu mendadak. Kalau sudah begini tinggal kita pintar-pintar menawarkan harga dan pilihan jadwal terbang yang tidak memberatkan pengguna,” katanya.

Dikatakannya, Lion Air sendiri memiliki prioritas dalam berbisnis  menjaga tingkat isian minimum tercapai di setiap rute agar operasional sehari-hari tidak rugi. Strategi supply create demand dengan  menurunkan tarif untuk mengubah paradigma masyarakat tentang angkutan udara  menjadi andalan dari Lion Air.

“Strategi ini jangan dianggap perang harga oleh maskapai untuk bertahan. Dalam menentukan harga pun harus cerdik karena perubahan sangat cepat ibarat pasar saham. Masalah harga ini menjadi penting karena   bagian dari memicu munculnya kebutuhan di satu daerah untuk angkutan udara. Setelah kebutuhan itu muncul, tentu nanti ada revisi tarif baru. Namanya orang berbisnis,” jelasnya.

Edward yang memiliki pengalaman hampir satu dekade di  bisnis penerbangan menyakni pertumbuhan dari transportasi udara akan sangat ditentukan oleh kondisi makro ekonomi nasional.

“Masyarakat menggunakan angkutan udara itu tergantung daya beli. Beda lima ribu rupiah saja bisa batal beli tiket. Inilah kenapa dalam berkecimpung di bisnis ini membutuhkan komitmen berinvestasi dengan menjiwai kalau industri ini memiliki profil yang tinggi seperti saya ungkapkan sebelumnya,” tegasnya.

Sedangkan untuk para pekerja yang ingin mengabdi di industri penerbangan, Lelaki yang sangat mencintai keluarganya ini   mengatakan dibutuhkan tiga pirnsip dalam bekerja. Pertama, sadar fungsi. Kedua, komitmen dengan sesuatu yang disepakati. Ketiga tulus dalam bekerja.

“Di bisnis jasa ini tiga hal itu harus diyakini dan dijalankan. Jika tidak sadar fungsi, kurang dalam berkomitmen dan tidak tulus, maka yang terjadi ego tidak bisa ditekan dan akhirnya malah mereka yang melayani malah minta dilayani,” katanya.

Pria yang akrab disapa Edo ini mencontohkan dirinya yang sebelumnya mengurus keuangan dan dua tahun lalu ditambah beban tugas sebagai juru bicara perusahaan. “Saya jalani dengan sungguh-sungguh sesuai fungsinya. Saya percaya segala sesuatu yang kita kerjakan selalu ada yang menilai. Apalagi Tuhan sudah mengatakan hidup di dunia ini adalah untuk terus belajar dan bekerja,” katanya berbagi kiat sukses. [dni]

161010 Garuda Rambah Bisnis Solusi TI Penerbangan

JAKARTA—PT Garuda Indonesia  merambah bisnis solusi Teknologi Informasi (TI) untuk industri penerbangan  melalui unit usaha PT Aero Systems Indonesia (ASYST).

“Pembentukan unit ini untuk meningkatkan layanan ke pelanggan dan membantu Garuda menuju Quantum Leap pada 2014,” ungkap Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar di Jakarta, Jumaat (15/10).

Diungkapkannya, untuk tahap awal unit ini akan lebih fokus melayani Garuda, setelah itu menawarkan jasa ke maskapai lainnya layaknya bisnis perawatan pesawat yang dilakukan oleh Garuda Maintenance Facilities (GMF).

Chief Executive Officer ASYST Rian Alisjahbana mengungkapkan, dalam melayani Garuda saja, target mencapai 50 persen pendapatan sudah bisa dicapai. “Kami baru saja berhasil menggandeng dua maskapai. Satu lokal, dan lainnya internasional,” jelasnya.

Dijelaskannya, solusi yang ditawarkannya kepada industri penerbangan adalah end to end mulai dari jaringan, infrastruktur, serta pengintegrasian sistem. “kami juga bekerjasama dengan IBM membuat data center yang memiliki spesifikasi standar internasional Tier III dengan standar ketersediaan mencapai 99.98 persen,” katanya.

Rute Internasional
Sementara itu,  Direktur Niaga Garuda Indonesia Agus Priyanto,  mengungkapkan, mulai tahun depan   perseroan minimal akan membuka tiga rute baru menuju Taipei, India, dan Brisbane Australia.

“Untuk Taipei sudah pasti akan diterbangkan dari Jakarta. Sementara untuk India dan Brisbane belum pasti dari mana. Sampai saat ini ketiganya masih dalam evaluasi pasar sambil menunggu kedatangan pesawat baru. Kan tidak mudah membuka rute baru,” jelasnya.

Sementara untuk rute domestik, Garuda menurutnya akan lebih banyak menambah frekuensi penerbangan dari Jakarta. Dua kota tujuan yang sudah pasti akan ditambah frekuensinya adalah Jogjakarta menjadi sembilan kali per hari dan Semarang menjadi lima kali per hari.

Garuda sendiri dalam program Quantum Leap  pada 2014 mendatang   akan mengoperasikan 116 pesawat dengan komposisi 90 Boeing 737-800 NG dan 26 Airbus A330-200.

Bertambah dari pesawat yang dioperasikannya saat ini sebanyak 74 pesawat dengan rincian Boeing 747-400 sebanyak 3 unit, Airbus A330-300 sebanyak 6 unit, Airbus A330-200 sebanyak 8 unit, Boeing 737-800 NG sebanyak 23 unit, Boeing 737-400 sebanyak 19 unit, Boeing 737-300 sebanyak 10 unit dan Boeing 737-500 sebanyak 5 unit.

“Dengan menambah pesawat, pada 2014 jumlah penumpang kami targetkan meningkat lebih dari dua kali lipat. Seiring dengan pembukaan rute-rute baru baik domestik maupun internasional. Tahun lalu jumlah penumpang Garuda 11 juta, pada 2014 jumlahnya meningkat menjadi 28 juta penumpang,” kata Emirsyah.[dni]

161010 Pengembangan Bandara Gandeng Maskapai

JAKARTA—Pemerintah membuka kesempatan bagi maskapai untuk ikut mengembangkan bandara Soekarno-Hatta (Soetta) untuk mengakali kekurangan dana dalam pembangunannya.

“Pemerintah hanya akan membantu pendanaan sesuai porsinya dan akan lebih mengandalkan pendanaan dari skema private public partnership (PPP). Tetapi kalau ternyata proses tendernya memakan waktu lama, terpaksa digunakan pendanaan dari AP II atau sinergi BUMN,” ungkap Deputi Kementerian BUMN bidang Infrastruktur dan Logistik Sumaryanto Widayatin di Jakarta, Jum’at (15/10)

Dijelaskannya, dalam skema PPP pun pemerintah lebih senang menggandeng maskapai internasional  untuk  menjadi mitra, sehingga bisa membawa penumpangnya ke Indonesia.

Sayangnya, ia enggan menyebutkan berapa besar dana yang dibutuhkan untuk mengembangkan Soekarno-Hatta. “Tugas kita  segera mengurus pembebasan tanah untuk membangun landasan ketiga di Soekarno-Hatta. Termasuk tanah untuk membangun terminal 4 dan 5. Dimana pendanaannya bisa dicari dari pinjaman bilateral,” jelasnya.

Selanjutnya diungkapkan, bandara lain yang akan dikembangkan adalah Ngurah Rai dengan mensinergikan pembangunan Tanjung Benoa. “Rencananya akan dibangun jalan tol menyambungkan pelabuhan Benoa dan Ngurah Rai. Tetapi ini baru dirapatkan besok (Sabtu, 16/10) pagi,” jelasnya.

Secara terpisah, Direktur Utama Angkasa Pura I Tommy Soetomo mengakui, bandara Ngurah Rai akan dikembangkan untuk menambah dua terminal lagi diatas lahan 129 ribu meter persegi “Bandara ini sudah melayani penumpang 9 juta setiap tahunnya. Padahal kapasitasnya 1,5 juta penumpang setiap tahunnya. Kami akan menggandeng pemerintah setempat untuk pembangunan, selain dana pinjaman 1,25 triliun rupiah,” jelasnya.

Sebelumnya,  Wakil Presiden memimpin rapat keselamatan transportasi udara yang menghasilkan delapan jurus. Salah satu jurus yang ditetapkan adalah meningkatkan kapasitas Soekarno-Hatta dengan cara menambah satu landasan dan dua terminal baru. Pemerintah menargetkan tiga jenis pekerjaan itu bisa dimulai tahun depan untuk mulai digunakan pada 2013.

Selain itu, Pemerintah juga akan memanfaatkan bandara Halim Perdanakusuma untuk mengalihkan kelebihan kapasitas penumpang dan pesawat yang selama ini terpusat di Soekarno-Hatta.

Bandara Soetta   awalnya di desain dengan kapasitas 22 juta penumpang per tahun. Sementara tahun lalu saja jumlah penumpangnya mencapai 37 juta penumpang.

Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Herry Bakti S Gumay menjelaskan sampai saat ini tercatat baru PT Lion Mentari Air yang berminat menggunakan bandara tersebut.

“Kalau ada lebih banyak lagi maskapai komersil yang menyatakan minatnya, saya perkirakan tahun depan sudah bisa digunakan. Karena saat ini Halim Perdanakusuma hanya digunakan untuk maskapai carter dan pesawat TNI,” jelasnya.

Padahal menurutnya bandara tersebut memiliki potensi yang cukup untuk melayani penerbangan komersil, karena sanggup di darati oleh pesawat Hercules sampai Boeing 747.

“Tetapi terminal penumpangnya perlu dibesarkan. Termasuk teknologi radar dan sistem TI nya harus diperbaharui. Kementerian Keuangan dan BUMN juga harus mengeluarkan izin penggunaan aset tersebut untuk keperluan komersial. Prinsipnya Kemhub akan mendukung,” jelasnya.

Sedangkan Ketua Umum Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Emirsyah Satar mengaku agak sulit menjadikan Halim Perdanakusuma sebagai bandara yang melayani penerbangan berjadwal.

“Di Halim itu aturannya ketat, pesawat yang diizinkan mendarat hanya pesawat berkapasitas di bawah 100 penumpang. Tapi kalau pemerintah sudah menetapkan demikian, itu bukan hal yang mustahil dilakukan,” katanya.[dni]

151010 Pemerintah Diminta Selesaikan Blueprint Perkeretaapian Nasional

JAKARTA–Pemerintah diminta secepatnya menyelesaikan blueprint perkeretapian nasional agar perkembangannya sebagai moda transportasi bisa terjamin.

“Kereta api moda transportasi andalan masyarakat. Sayangnya, hingga kini Kementerian Perhubungan belum menyelesaikan blueprint pembangunan perkeretaapian Indonesia sehingga menghambat perkembangan industri,” sesal Anggota Komisi V DPR RI, Yudi Widiana Adia di Jakarta, Kamis (14/10).

Ditegaskannya, pemerintah perlu mempercepat penyusunan desain dan peta jalan pembangunan perkertaapian Indonesia untuk memudahkan penyusunan langkah-langkah strategis pembangunan perkeretaapian nasional.

“Kementerian Perhubungan menyampaikan butuh dana 17 triliun rupiah untuk pembangunan jaringan baru kereta api nasional dan 19,3 triliun rupiah untuk merehabilitasi jalur kereta api yang rusak. Namun hingga saat ini kami tidak tahu seperti apa blueprint pembangunan perkeretaapian kita,” tegasnya.

Menurutnya, pembangunan infrastruktur kereta api merupakan salah satu rencana kerja yang harus menjadi prioritas pemerintah. Sayangnya program revitalisasi pembangunan infrastruktur transportasi kereta api yang dicanangkan pemerintah terkesan lamban dalam pelaksanaannya.

Dicontohkannya, pertambahan panjang lintasan rel kereta api di Indonesia yang hanya sekitar 0,2 persen per tahun. Saat ini total panjang lintasan kereta api di Indonesia hanya 4.813,000 km. Sementara jumlah gerbong kereta api pun hanya sekitar 5.250 unit untuk melayani penumpang yang tahun ini jumlahnya diperkirakan mendekati 200 juta orang.

Lebih lanjut Yudi mengatakan, pengembangan perkeretaapian nasional selama ini kurang berpihak pada pertumbuhan industri kereta api nasional.

Hal itu terlihat dari dua hal, pertama kementerian perhubungan masih setengah hati untuk memperkuat kewenangan PT Kereta Api (KA). Itu terlihat dari proses penyerahan kewenangan dari Kemenhub ke PT yang berjalan lamban.

Pemisahan kewenangan antara regulator (Kemenhub) dengan Operator (PT KA) masih harus diperjelas. Sebagai misal, pengelolaan stasiun, rel, sinyal yang tentu saja harus mengacu pada UU no 23/2007 tentang perkeretaapian maupun PP no 72 tahun 2009.

“Kemenhub sebaiknya memperkuat peran sebagai pembina perkeretaapian nasional. Sehingga kemandirian PT KA harus terus diperkuat dan didorong,” ujarnya.

Selanjutnya yang kedua, masih belum optimalnya penggunaan produk dalam negeri baik gerbong maupun sarana lainnya yang sebetulnya bisa di produksi oleh PT INKA Indonesia.

Menurut Yudi, PT INKA merupakan perusahaan pembuat gerbong dan kereta penumpang yang kemampuan teknologinya sudah baik dan memiliki fasilitas yang modern. Semua ini diperoleh melalui proses akumulasi kemampuan dan sekaligus pembelajaran teknologi yang tidak sederhana, lama dan terus-menerus.

Namun demikian, kemampuan teknologi yang bagus itu akan menjadi sia-sia jika pemerintah cenderung lebih menyukai penggunaan produk impor.

“Untuk itu mengapa saya mendesak pemerintah segera menyelesaikan blueprint pembangunan perkeretaapian nasional dan menyerahkannya kepada kita. Kami ingin tahu keberpihakkan pemerintah itu kepada siapa,”ketusnya.[Dni]

151010 Pembenahan Perkeretaapian Mulai dari Fundamental

JAKARTA—Pemerintah diminta membenahi masalah perkeretapian nasional dari masalah fundamental berkaitan dengan keselamatan ketimbang memprioritaskan pembangunan jaringan seperti jalur ganda 26 kilometer dari Petarukan hingga Pekalongan, Jawa Tengah.

“Jika bicara keselamatan di perkeretapian masalahnya bukan jalur ganda. Di Jabodetabek sudah jalur ganda masih ada kecelakaan. Sebaiknya hal-hal fundamental yang dikerjakan,” tegas Pengamat Kereta Api Taufik Hidayat di Jakarta, Kamis (14/10).

Menurutnya, hal yang fundamental dilakukan adalah penegakkan hukum terhadap regulasi kereta api, peningkatan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM), peremajaan alat-alat di bengkel dan armada, serta restrukturisasi organisasi.

“Selama ini tidak ada penegakkan hukum yang jelas dari setiap pelanggaran. Contohnya, kasus kebakaran gerbong belum lama ini. Jelas membiarkan orang lain masuk ke area kereta itu salah. Makin parah, gerbongnya tidak diasuransikan,” ketusnya.

Diingatkannya, jika pemerintah memaksa untuk memperkuat jaringan sama saja membangun jalan tetapi dilewati oleh mobil tua yang lambat.

Hal yang sama juga berlaku dengan nafsu PT Kereta Api yang ingin mengembangkan teknologi tetapi tidak didukung kemampuan SDM.

Sebelumnya, Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono usai rapat dengan Wakil Presiden Boediono di kantor Wapres, Jl. Medan Merdeka Selatan, Rabu (13/10) menjelaskan, proses percepatan pembangunan jalur ganda menjadi salah satu instruksi Wapres kepada Kementerian Perhubungan, dalam hal ini Direktorat Jenderal Perkeretaapian.

 

Menurut Wamenhub, selain meneruskan proyek pembangunan jalur ganda Petarukan-Pekalongan, Dirjen Perkeretaapian yang juga turut menghadiri rapat tersebut juga diperintahkan untuk melakukan revitalisasi dan modernisasi sistem persinyalan perkeretaapian. ”Ini untuk sebagai antisipasi untuk mengurangi kemungkinan kecelakaan. Langkah ini akan kita mulai pada 2011,” jelasnya. 

Di sisi lain, terkait upaya meminimalisasi angka kecelakaan,  

Wapres juga menginstruksikan operator yang dalam hal ini PT Kereta Api Indonesia (KAI) untuk segera memasang alat-alat keselamatan pencegah kecelaan yang berhubungan dengan operasional KA. Termasuk salah satunya adalah mensertifikasi para masinis dan ahli-ahli teknis yang belum memiliki sertifikat kompetensi, serta mengganti pegawai yang telah memasuki masa pensiu dengan sistem perekrutan yang terencana. 

“Hal lain adalah pemisahan hal-hal yang masuk dalam ranah regulator dan operator sesuai UU. Misalnya bagaimana pengelolaan stasiun, rel, dan sinyal, bisa dipisahkan secara tegas siapa yang bertanggung jawab antara operator dan regulator. Ini tentunya akan emngacu pada aturan yang sudah ada, yaitu UU Perkeretaapian No 23/2007,” ungkap Wamenhub. 

Kemudian, Wamenhub menambahkan, Wapres Boediono juga meminta agar segera dibentuk Direktorat Keselamatan KA yang akan menjadi bagian Direktorat  Jenderal Perkeretaapian. Pembentukan lembaga baru ini bertujuan agar penanganan dan antisipasi terhadap hal-hal yang berkaitan dengan keselamatan pengoperasian KA dapat dilakukan secara lebih terfokus. 

Selain itu, Wapres juga mengimbau untuk dilakukannya revisi terhadap surat kesepatakan bersama (SKB) tiga menteri No 19/1999. Keputusan bersama itu dibuat oleh Menteri Perhubungan, Menteri Keuangan dan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, yang membahas tentang Pembiayaan Atas Pelayanan Umum Angkutan Kereta Api Penumpang Kelas Ekonomi (Public Service Obligation/PSO), Pembiayaan atas Perawatan dan Pengoperasian Prasarana Kereta Api (Infrastructure Maintenance and Operation/IMO), serta Biaya atas Penggunaan Prasarana Kereta Api (Track Acces Card/TAC). 

”Wapres juga menyampaikan instruksi untuk  melakukan percepatan investasi untuk infrastuktur perkeretaapian. Saat ini, sudah ada proses Public Private Partnership (PPP) pembangunan jalur KA Bandara Soekarno-Hatta-Manggarai. Kemudian, kita juga diminta melakuakan percepatan penyelesaian standar operation dan manual untuk pelaksanaan kegiatan operasional KA yang saat ini masih banyak menganut aturan zaman Belanda. Nantinya itu akan disesuaikan dengan UU yang kita miliki,” katanya.[Dni]

151010 Lion Air Akan Tempati Terminal 1B

JAKARTA—Maskapai swasta terbesar, Lion Air, berencana akan menempati sebagian terminal 1B Bandara Soekarno-Hatta yang ditinggalkan oleh Batavia Air untuk meningkatkan pelayanan bagi pelanggannya.

“Kami akan menempati sebagian terminal 1B mulai bulan depan. Ini bagian dari komitmen untuk melayani pelanggan,” ungkap Direktur Umum Lion Air Edward Sirait di Jakarta, Kamis (14/10).

Ditegaskannya, maskapainya terus akan meningkatkan pelayanan bagi pelanggan, termasuk menerapkan pola barcode untuk keamanan bagasi. “Masalah bagasi ini menjadi perhatian dalam pelayanan karena banyak dikeluhkan oleh pelanggan. Sistem barcode ini bisa mencegah bagasi ketinggalan atau kehilangan,” katanya.

Selain itu, masih berkaitan dengan pelayanan, Edward menjanjikan akan meningkatkan On Time Performance (OTP) maskapai mengingat pelanggan banyak menjadikan maskapainya sebagai alat transportasi. “Sebagai maskapai berbasis Low Cost Carrier (LCC) kami sudah mengatur jadwal keberangkatan dan kedatangan sesuai dengan jam makan pelanggan. Kalau OTP tidak terpenuhi kasihan pelanggan. Namun , masalah OTP ini harus diingat juga ada faktor eksternal yang menentukan seperti kapasitas bandara, kondisi cuaca, dan lainnya,” jelasnya.

Untuk diketahui, Lion menempati sebagian Terminal 1B setelah maskapai Batavia secara resmi memindahkan operasinya mulai 10 Oktober lalu dari terminal 1B ke terminal 1C Bandara Soekarno Hatta .

Kursi Australia
Pada kesempatan lain, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Herry Bakti S Gumay mengungkapkan, kemungkinan Lion Air tidak mendapat alokasi kursi ke Australia karena belum mengajukan permohonan.

“Seingat saya dari usulan yang diajukan Direktorat Angkutan Udara maskapai yang mendapat alokasi adalah Mandala, Sriwijaya, AirAsia dan Garuda Indonesia. Namun Lion tidak dapat karena mereka memang belum mengajukan permohonan. Prinsipnya kan first in first served,” ungkap Herry.

Berdasarkan catatan, berkat direvisinya perjanjian udara Australia dan Indonesia belum lama ini ada 4 ribu kursi tersedia bagi maskapai domestik. Pola pemberian berdasarkan jadwal permohonan yang diberikan alias first in firs served.

Sementara Marketing Manager Indonesia AirAsia Andy Adrian mengaku sudah mengantongi izin untuk membuka rute Darwin-Denpasar dari otoritas penerbangan Australia.

“Kami sudah mengurusnya lebih dulu, karena untuk membuka penerbangan internasional harus mendapat persetujuan kedua pemerintahan. AirAsia menurut saya lebih mudah mendapatankan izin karena sebelumnya sudah memiliki rute Denpasar-Perth dibanding maskapai lain yang baru mau terbang kesana,” jelas Andy.

Sementara Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar mengaku maskapainya sudah siap untuk menambah frekuensi rute Jakarta-Sydney menjadi setiap hari dan Jakarta-Melbourne menjadi lima kali dalam seminggu.

“Kami harapkan November sudah bisa ditambah frekuensinya. Karena di bulan yang sama dijadwalkan Airbus A330-200 yang kami pesan khusus untuk menambah frekuensi sudah datang. Ditambah satu unit pesawat yang sama pada Maret 2011,” kata Emir.

Berdasarkan catatan, sejumlah maskapai yang sudah mengajukan permohonan membuka rute baru antara lain Batavia Air, Sriwijaya, Indonesia AirAsia dan Garuda Indonesia.

Batavia membidik rute Denpasar-Perth menggunakan Airbus A320 berkapasitas 180 kursi untuk melayani rute Denpasar-Perth satu kali setiap hari. Dengan demikian bisa dihitung jatah kursi yang ingin diperoleh Batavia sebanyak 1.260 kursi per minggu.

Sriwijaya senada dengan Batavia ingin mendapat jatah 1.260 kursi per minggu untuk Jakarta-Perth setiap hari. Sriwijaya berencana menggunakan Boeing 737-800NG berkapasitas 180 kursi.

Angka yang diajukan dua maskapai diatas lebih banyak dari rencana Garuda Indonesia dan Indonesia AirAsia. Garuda ingin menambah frekuensi penerbangan untuk rute Jakarta-Sydney sebanyak 666 kursi dan Jakarta-Melbourne 444 kursi menggunakan Airbus A330-200 berkapasitas 222 kursi. Untuk Jakarta-Sidney Garuda ingin meningkatkan frekuensinya menjadi satu kali penerbangan setiap hari. Sementara Jakarta-Melbourne ingin ditingkatkan jadi lima kali dalam seminggu dari saat ini tiga kali seminggu.

Sementara AirAsia cukup dengan 720 kursi untuk rute Denpasar-Darwin yang dibidiknya mengandalkan Airbus A320 berkapasitas 180 kursi. AirAsia berencana melayani rute tersebut empat kali dalam seminggu.[dni]