141010 Mencuri Pasar Melalui LTE

Nama penyedia jaringan Alcatel-Lucent (ALU) boleh berkibar di luar negeri sebagai pemegang 7 kontrak Long Term Evolution (LTE) dari berbagai operator dan mitra 50 uji coba teknologi yang digadang-gadang sebagai generasi keempat layanan data.

Namun, di Indonesia perusahaan asal Perancis itu untuk teknologi 3G tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan perusahaan sejenis dalam mendapatkan kepercayaan operator.

ALU di Indonesia banyak berkiprah dalam jaringan serat optik  Telkom. Untuk teknologi 2G pun, kreasi ALU tidak begitu banyak diminati oleh operator. Seretnya pembelian perangkat ALU oleh  operator di Indonesia konon karena harga yang diberikan tidak kompetitif.

Namun, ALU tidak menyerah. Harapan akan hadirnya LTE di Indonesia membuat para punggawanya bergairah. Hal ini karena LTE yang menerapkan fully Internet Protocol Based (IP Based) membuat peluang terbuka bagi vendor ini untuk mencuri pasar.

“Kami menyiapkan solusi end to end bagi operator yang ingin mengembangkan LTE. Bahkan, jika operator hanya membeli radio atau transmisi pun kita terbuka. Soalnya standar LTE itu ada interperobiltas sehingga bisa berkomunikasi dengan merek manapun,” ungkap  Chief Technology Officer Regional Unit Asia Selatan dan Tenggara Alcatel Lucent Dirk Wolter di Jakarta, belum lama ini.

Marketing Manager Alcatel-Lucent China Investment  Zhuu Zhenjun menambahkan, perseroan juga  telah mengembangkan ngConnect yaitu program untuk mendorong perkembangan ekosistem LTE diantaranya dengan pengembangan aplikasi.

“Operator dapat berperan sebagai agregator informasi dan menghasilkan user generated content. Banyak aplikasi yang dapat dikembangkan oleh pengembang software aplikasi lokal,” ujarnya.

Adapun jenis aplikasi itu diantaranya komunikasi, game, hiburan, navigasi, Internet dan kendaraan. Selain itu masih ada aplikasi lain yang diperkirakan berkembang di saat LTE digelar seperti aplikasi untuk keselamatan publik, kesehatan, pendidikan dan terutama aplikasi bisnis.

Dirk mengaku, saat ini ALU dalam pembicaraan dengan semua operator lokal untuk melakukan uji coba LTE.  Namun, dalam pengumuman resmi yang dibuat oleh Telkomsel, XL, dan Indosat nama-nama yang diajak bekerjasama masih pemain lama di 3G seperti Huawei, Ericsson, Nokia Siemens Network (NSN), dan ZTE.

Walau pun begitu, Dirk tidak patah arang, bahkan mendorong pemerintah untuk secepatnya menentukan alokasi frekuensi ideal bagi LTE. “Spektrum 700 MHZ dan 2,6 GHZ itu ideal untuk LTE. Untuk low band yang menjangkau area rural bisa dengan 700 MHZ, sementara yang butuh kapasitas tinggi di perkotaan menggunakan 2,6 GHZ dengan alokasi bandwitdh 20 MHz,” katanya.

Saat ini ada beberapa pilihan pita frekuensi yang menuut Alcatel Lucent cocok untuk implementasi LTE, yaitu 700MHz, 1.800 MHz, 2,3 GHz, 2,6 GHz.
Namun band frekuensi tersebut saat ini juga digunakan layanan lain. Di pita 700 MHz misalnya juga digunakan oleh stasiun TV, di 1800 MHz digunakan oleh 5 operator GSM, di 2,3GHz  sebagian digunakan untuk WiMax dan 2,6GHz digunakan oleh operator satelit.

Menurutntya,  LTE sebagai tahapan evolusi teknologi di seluler menjadi kunci pendorong dalam mengejar ketertinggalan tersebut. Hal ini karena Internet broadband di Indonesia masih jauh tertinggal dari rata-rata penetrasi di negara-negara Asia Pasifik meski dari benchmark penetrasi seluler pada 2007 Indonesia sukses melewati indeks di Asia Pasifik

LTE juga menjadi solusi ditengah kondisi margin yang diraih operator saat ini terus berada dalam ‘tekanan’ dari pelanggan seluler yang mengharapkan layanan terjangkau. Ini karena hanya LTE yang sanggup menyediakan kapasitas yang besar namun dengan biaya rendah dan juga pilihan teknologi dari berbagai vendor yang dapat beroperasi satu sama lain.

Sementara Direktur Perencanaan dan Pengembangan Telkomsel Herfini Haryono mengatakan pihaknya masih akan menentukan waktu yang tepat untuk menggelar LTE dan memiliki wewenang untuk mengontrak vendor.  “Teknologi tidak mungkin mengendalikan bisnis tetapi kami akan investasi untuk teknologi-teknologi baru,” ujarnya.

Pada kesempatan lain, Pengamat Telematika Raherman Rahanan mengatakan, tidak ada teknologi yang unggul satu sama lain jika pemilihan segmen tepat. “Semua teknologi ada kelemahannya.LTE ekosistem belum terbentuk sehingga skala ekonomis tidak ideal. 3G memiliki keunggulan di jangkauan dan skala ekonomis. Jadi, semua tergantung pilihan operator, pelanggan tidak peduli dengan teknologi yang penting kualitas layanan,” tegasnya.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s