141010 Mencari Model Tarif Ideal Bagi Data

Industri telekomunikasi global belum lama ini dihebohkan oleh kasus pengembalian dana milik  konsumen oleh Verizon  Wireless sebesar  90 juta dollar AS. Pemicunya, operator terbesar di Amerika Serikat ini melakukan kesalahan dalam menagih penggunaan layanan data milik 15 juta pelanggannya.

Verizon terbukti salah melakukan penagihan selama beberapa tahun, dimana pelanggan yang sebenarnya tidak menggunakan layanan paket data, tetapi ditagihkan untuk jasa tersebut. Akhirnya ratusan komplain dari pelanggan melayang ke operator tersebut dan  terjadilah refund dengan total jumlah yang membelalakkan mata tersebut.

Kasus yang dialami oleh Verizon ini juga pernah terjadi di Indonesia tahun lalu dengan Telkomsel melalui produk data TelkomselFlash. Kala itu, Telkomsel salah melakukan pemotongan bandwitdh dari pelanggannya sehingga menimbulkan protes. Setelah didesak oleh  Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), operator ini mengembalikan kuota yang disunat.

VP Channel Management Telkomsel Gideon Edie Purnomo menegaskan, perseroan mendapatkan pelajaran penting dalam kasus yang dialaminya tahun lalu sehingga melakukan review secara periodik terhadap penawaran paket data yang dilakukan.

“Sekarang kami memiliki billing system yang lebih mumpuni. Jika ada keluhan, secepatnya terdeteksi dan dilakukan pengembalian berupa bandwitdh atau pulsa,” katanya  di Jakarta, belum lama ini.

Gideon boleh sesumbar, namun temuan terbaru dari Anggota Komite BRTI Heru Sutadi lumayan mengejutkan. “Kami mendapatkan masukan dari konsumen tentang kesalahan penghitungan  sistem penagihan dari Telkomsel. Pelanggan KartuHalo yang seharusnya ditagih untuk  kelebihan kuota  1 rupiah per  kb  ditagih 5 rupiah per kb,” ungkapnya.

Berdasarkan catatan,  terdapat 3 paket bulanan pilihan paket internet unlimited Telkomsel Flash menggunakan kartu Halo, yaitu paket bulanan basic dengan tarif 125 ribu rupiah per bulan, kuota 500 MB dan kelebihan kuota satu rupiah per  kb.  Selain itu, ada juga paket advance 225 ribu rupiah per  bulan dengan kuota 1,2 GB dan kelebihan kuota satu rupiah per  kb serta paket pro dengan tarif  400 ribu rupiah  per bulan, kuota 3 GB kelebihan kuota satu rupiah per  kb.

Heru mengaku  sudah meminta manajemen Telkomsel untuk menyelesaikan persoalan tersebut dengan konsumen yang bersangkutan. Apabila ternyata Telkomsel belum menyelesaikannya, maka menurut Heru akan dilakukan proses lebih lanjut berupa pemanggilan manajemen Telkomsel ke BRTI.

Mencari Model
Gideon mengatakan untuk tarif layanan data memang sedang dicari bentuk ideal ke pelanggan. Terdapat dua model penagihan yang lazim dikenakan oleh operator yakni berbasis kilobyte atau unlimited. “Di Indonesia belum bisa diterapkan tarif berbasis kualitas layanan karena masyarakat belum aware. Pengguna masih sensitif dengan harga. Tetapi untuk pelanggan korporasi, harga tidak dipedulikan yang penting kualitas,” katanya.

Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi mengakui, penawaran tarif data yang ideal lebih sulit ketimbang untuk suara dan data. “Data itu memang tricky. Jika di suara dan SMS diberiakn bonus tidak semuanya digunakan oleh pengguna. Berbeda dengan data, ditawarkan unlimited, jaringan bisa diokupansi seharian sehingga menganggu layanan. Kondisi ini membuat  2-3 persen pelanggan bisa menguasai jaringan,” jelasnya.

Hal itu tentunya membuat operator harus berhitung karena biaya untuk menyelenggarakan layanan data tidak murah. Belum lagi, kontribusi layanan data belum signifikan, saat ini baru berkontribusi 7 persen bagi total pendapatan dengan EBITDA margin 20-25 persen. Bandingkan dengan suara dan SMS yang memiliki EBITDA margin hampir 50 persen dengan sumbangan ke pendapatan 89 persen.

“Solusi yang sedang dikembangkan adalah Fair Usage Policy (FUP). Konsep ini  dengan menawarkan tarif dalam kisaran kecepatan dan kuota teretentu. Jika pun ditawarkan unlimited, biasanya kecepatan akan menurun jika kuotanya habis,” jelasnya.

Direktur Jaringan XL Dian Siswarini menambahkan, untuk menjamin jaringan tidak kebobolan pun perseroan menetapkan standar keamanan. “Data ini berbasis Internet Protocol (IP). Komunikasi bisa datang dari mana saja dan mencoba membobol FUP. Kami secara berkala melakukan tes penetrasi untuk menjaga FUP berjalan,” katanya.

Head Of Multimedia Smart Telecom Ruby Hermanto mengungkapkan  tren di dunia  untuk mobile broadband  menuju quota based dan meninggalkan unlimited. Selain itu operator  juga berupaya operator membangun jaringan wifi untuk mengurangi beban mobile broadbandnya.

“Di Indonesia untuk data belum ada perang tarif karena operator masih berhitung biaya produksi dan kemampuan jaringan. Pola unlimited pun tetap menjadi andalan selagi jaringan masih dalam proses peningkatan mutu.  Jika pun ada operator banting tarif, itu hanya upaya untuk bertahan hidup,” katanya.

Sementara Direktur Utama Bakrie Connectivity  Erik Meijer mengatakan, pentarifan  unlimited tidak bisa bertahan lama, apalagi dengan tarif semurah yang berlaku di Indonesia dan  penggunaan bandwidth oleh konsumen yg semakin meningkat cepat. “Di negara barat paket unlimited bisa seharga ratusan dollar AS sebulan; disini cuma 20 dollar atau kurang. Ini tidak wajar. Saat ini kita mengandalkan FUP saja untuk mengontrol pemakian dan kualitas jaringan,” katanya.

Group Head Vas Marketing Indosat Teguh Prasetya  menegaskan, operator tak bisa melawan keinginan pelanggan. “Masyarakat suka dengan pola  flat payment, operator hanya bisa mengimbangi dengan  kontrol per aplikasi, per URL, per IP address  dan  bandwitdh management, “ jelasnya.

Pada kesempatan lain, Praktisi Telematika Raherman Rahanan mengatakan,  pelanggan  menggemari pentarifan flat-fee  karena ingin  mengontrol pengeluarannya. “Banyak operator belum siap menerapkan pola ini tetapi memaksakan diri. Akirnya kejadian salah penagihan. Sistem ini idealnya jika  sudah menerapkan Online Charging System (OCS) atau PCRF,” katanya.

Sedangkan Heru meminta, operator harus melakukan edukasi ke pelanggan untuk penggunaan layanan data agar jaringannya tidak terokupansi secara sia-sia.

“Perilaku masyarakat itu kalau ditawarkan tarif unlimited benar-benar digunakan tanpa pertimbangan. Padahal untuk mobile broadband itu ada manajemen radio dimana ada sistem antrian untuk menggunakan frekuensi. Kalau tidak ada edukasi, rezim berbasis mendapatkan pengalaman yang sama dengan tarif kompetitif sulit terwujud,” ketusnya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s