111010 Kemenhub Segera Bentuk OP

JAKARTA—Kementrian Perhubungan (Kemenhub) melalui Ditjen Perhubungan Laut (Hubla) akan segera membentuk Otoritas Pelabuhan (OP) sebagai respons dari dikeluarkannya surat persetujuan oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan) untuk mendirikan instansi tersebut.

“Surat dari Menpan masuk pada Kamis (7/10) lalu. Saya akan menginformasikan ke Menhub terkait hal ini. Setelah itu segera dibentuk OP dan Syahbandar di empat pelabuhan utama. Bulan ini juga akan selesai pembentukannya karena personil sudah lama dipersiapkan,” ungkap Dirjen Perhubungan Laut Sunaryo di Jakarta, akhir pekan lalu.

Dijelaskannya, pembentukan OP dan syahbandar sesuai amanat dari Undang-Undang (UU) No 17 Tahun 2010 tentang Pelayaran dan Peraturan Pemerintah No.61/2009 Kepelabuhan.

Dalam regulasi itu disebutkan Otoritas Pelabuhan (Port Authority) adalah lembaga pemerintah di pelabuhan sebagai otoritas yang melaksanakan fungsi pengaturan, pengendalian, dan pengawasan kegiatan kepelabuhanan yang diusahakan secara komersial.

Unit Penyelenggara Pelabuhan adalah lembaga pemerintah di pelabuhan sebagai otoritas yang melaksanakan fungsi pengaturan, pengendalian, pengawasan kegiatan kepelabuhanan, dan pemberian pelayanan jasa kepelabuhanan untuk pelabuhan yang belum diusahakan secara komersial.

Syahbandar adalah pejabat pemerintah di pelabuhan yang diangkat oleh Menteri dan memiliki kewenangan tertinggi untuk menjalankan dan melakukan pengawasan terhadap dipenuhinya ketentuan peraturan perundang- undangan untuk menjamin keselamatan dan keamanan pelayaran.

Sebelumnya, Kemenhub telah melayangkan surat ke kantor Menpan untuk meminta  persetujuan membentuk ketiga lembaga tersebut. Pada Kamis (7/10) melalui  surat yang ditandatangan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, E E Mangindaan,  bernomor B/2237 tertanggal  7 Oktober 2010 direstui  usulan organisasi dan tata kerja ke 3 UPT tersebut.

Diungkapkan Sunaryo,  selanjutnya  akan dibentuk  empat  kantor OP dan syahbandar di pelabuhan utama, yakni pelabuhan Tanjung Priok  (Jakarta), Tanjung Perak (Surabaya), Belawan (Medan) dan Makassar (Sulawesi Selatan).

“Secepatnya akan  ditetapkan nomenklatur tiga lembaga tersebut, untuk menggantikan kantor administrator pelabuhan  dan kantor pelabuhan yang selama ini menjalankan tugas pemerintahan di pelabuhan. Adanya lembaga baru ini akan secara tegas memisahkan peran regulator dan operator di pelabuhan,” tegasnya.
Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Capt. Bobby R. Mamahit, yang juga ketua tim kerja pembentukan kantor OP menyatakan, kegiatan yang saat ini masih berjalan dalam rangka terbentuknya kantor OP adalah perhitungan asset pelabuhan.

Direktur Perkapalan dan Kepelautan, Ditjen Hubla Suwandi Saputro mengungkapkan, perhitungan aset milik Pelindo I-IV akan selesai oleh Kementrian BUMN pada November nanti. “Untuk menarik personil Pelindo ke OP rasanya tidak mungkin karena standar gajinya berbeda. OP itu nanti isinya Pegawai Negeri Sipil (PNS), apa mau pegawai Pelindo menerima gaji standar PNS,” katanya.

Berkaitan dengan nasib dari  kegiatan kontrak-kontrak kerja yang dilakukan pihak pengelola pelabuhan akhir-akhir ini, seperti akan adanya kontrak kerja sama pada perusahaan bongkar muat (PBM) untuk melakukan kegiatan bongkar muat di pelabuhan Tanjung Priok dengan ditetapkannya 16 PBM terseleksi, Sunaryo menyatakan pihaknya akan meninjau apakah kontrak tersebut kewenangan regulator atau operator.

“Kita harus saling mengormati mana-mana tugas regulator dan operator. Jangan berpikiran dengan adanya op akan membuat kegiatan di pelabuhan akan mengalami kendala, tetapi sebaliknya pembentukan OP akan membuat pengelolaan pelabuhan lebih profesional dan efisiensi, sehingga kegiatan pelabuhan di tanah air lebih maju lagi,” tandasnya.

Suwandi menegaskan,  adanya otoritas pelabuhan, maka  pihak-pihak yang akan menjalankan kegiatan pengelolaan terminal khusus akan melakukan kontrak kerja sama dengan otoritas pelabuhan. Sebelumnya kontrak dilakukan dengan pengelola pelabuhan (Pelindo I – IV).

Secara terpisah, Ketua Umum Dewan Pemakai Jasa Angkutan Laut Indonesia (Depalindo) Toto Dirgantoro menyambut baik pemebentukan OP. “Kami hanya meminta personil yang ditempatkan di instansi tersebut memiliki visi bisnis dan berintegritas. Soalnya akan banyak Badan Usaha Pelabuhan (BUP) yang berkompetisi di pelabuhan nantinya,” katanya.[dni]

091010 Cari Tantangan, XL Kembali Revisi Target Pelanggan

JAKARTA—PT XL Axiata Tbk (XL) kembali merevisi target jumlah pelanggannya tahun ini setelah pencapaian bisa diraih lebih awal dari tenggat waktu.

“Posisi raihan yang didapat hingga September lalu 38,5 juta pelanggan. Itu berarti target yang ditetapkan telah diraih lebih awal. Agar jajaran manajemen tetap bergairah, kami memberikan tantangan dengan menaikkan target menjadi 40 juta pelanggan,” ungkap Direktur Utama XL Hasnul Suhaimi di Jakarta, Jumat (8/10).

Untuk diketahui, XL pada pertengahan kuartal kedua merevisi target pelanggan 2010 dari 35 juta menjadi 38 atau 39 juta nomor alias naik sekitar 8,5 persen. Adanya revisi kedua ini, berarti kenaikan dari target awal sekitar 14 persen.

Diakuinya, aksi  memasang target pelanggan sebesar 40 juta nomor juga merupakan upaya menegaskan ke pasar perseroan berada di  nomor dua pada akhir tahun nanti. “Jika ditanya dari sisi laba bersih dan nilai kapitalisasi pasar pada semester I lalu, XL telah nomor dua,” tegasnya.

Berdasarkan catatan, operator nomor dua, Indosat saat ini memiliki 37,8 juta pelanggan. Sementara XL pada semester I lalu  mencatat laba bersih semester I 2010 sebesar 1,3 triliun rupiah atau  tumbuh 87 persen dibanding periode yang sama di tahun 2009. Sedangkan  pendapatan usaha sebesar 8,5 triliun rupiah naik 35 persen dibanding semester I 2009.

Porsi pendapatan terbesar milik XL  masih disumbang dari pendapatan suara dan sewa infrastruktur sebesar 66 persen, data sebesar 7 persen, pendapatan dari value added services seperti ring back tone dan SMS premium 5 persen, lalu dari SMS 22 persen.

Sedangkan posisi laba bersih Indosat  semester pertama 2010 turun 71,5 persen menjadi hanya 287,1 miliar rupiah  dibanding periode sama tahun lalu yang mencapai 1,007 triliun rupiah. Untuk pendapatan usaha konsolidasi Indosat tumbuh sebesar 5,8 persen menjadi 9,661 triliun dari 9,135 triliun rupiah  pada tahun sebelumnya pada periode yang sama.[dni]

091010 Garuda Siap Bersaing dengan Lion

JAKARTA—Maskapai pelat merah, Garuda Indonesia (Garuda) menegaskan siap bersaing dengan PT Lion Mentari Airlines (Lion Air) dalam bisnis perawatan pesawat.

“Garuda dari dulu tidak pernah takut bersaing dengan siapa pun. Kami hanya meminta semua berada dalam playing field yang sama sehingga semua bisa bersaing dengan sehat,” tegas Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar di Jakarta, Jumat (8/10).

Diungkapkannya, perseroan dalam bisnis perawatan pesawat memiliki unit  anak usaha  PT Garuda Maintenance Facilities AeroAsia (GMF) yang selama ini telah memiliki tiga hanggar untuk menjalankan bisnis.

“Sekarang dalam tahap negosiasi dengan Angkasa Pura II untuk menambah satu hanggar lagi. Hal ini untuk mengantisipasi pertumbuhan armada Garuda yang dalam waktu empat tahun mendatang,” jelasnya.

Saat ini GMF memiliki 3 hangar dengan total kapasitas 25 pesawat. Hangar 1 diperuntukkan bagi pesawat berbadan lebar (wide body) dengan kapasitas 4 pesawat. Hangar 2 khusus digunakan untuk melakukan Line Maintenance berkapasitas 8 pesawat. Terakhir, hangar 3 memiliki kapasitas untuk bisa merawat 13 pesawat sekaligus.

Sementara hangar 4 di desain khusus untuk perawatan 16 pesawat berbadan sedang (narrow body) Airbus A320 dan Boeing 737 dengan nilai investasi  50 juta sampai 60 juta dollar AS.

Rencana pembangunan hangar 4 itu menindaklanjuti dikantonginya sertifikat kemampuan merawat pesawat A320 dari European Aviation Safety Agency (EASA). Garuda sendiri saat ini memiliki  74 unit pesawat  dan diakhir 2014 jumlahnya akan bertambah jadi 116 unit.

Selanjutnya Emirsyah menegaskan, pangsa pasar  yang dinikmati oleh pemain lokal untuk perawatan pesawat masih besar karena selama ini jasa tersebut dikuasai oleh pemain asing. “Nilai bisnis dari perawatan pesawat itu sekitar 750 juta dollar AS, hanya sekitar 20 persen yang dinikmati oleh pemain lokal. Jika ada pemain tambahan  pun , kuenya masih besar untuk digarap,” ketusnya.

Sebelumnya, Direktur Umum Lion Air Edward Sirait mengungkapkan, perseroan mengeluarkan dana sebesar 30-40 juta dollar AS untuk  ekspansi ke bisnis perawatan pesawat dengan  membangun hanggar di Bandara Sam Ratulangi, Manado.

Tahap awal, hangar itu akan digunakan untuk merawat pesawat sendiri yaitu Boeing 737-900ER. Selanjutntya,  hanggar  itu bisa menjadi sentra perawatan pesawat baru di Indonesia Bagian Timur  yang tidak hanya melayani pesawatnya sendiri tetapi juga bisa melayani pesawat maskapai lainnya.

Terbuka
Selanjutnya Emirsyah menegaskan, perseroan juga terbuka untuk bekerjasama dengan maskapai lain dalam mengembangkan bisnis.

“Garuda itu membuka diri untuk bekerjasama dengan siapa saja. Jika dari hitungan bisnis menguntungkan, kami akan senang sekali,” katanya.

Salah satu kerjasama yang terbuka dilakukan adalah dengan Mandala Airlines mengingat maskapai berbasis Low Cost Carrier (LCC) itu sedang mengalami kendala ketersediaan pesawat. Saat ini Mandala hanya memiliki lima pesawat jauh dibawah standar regulasi yakni harus memiliki 10 pesawat dengan komposisi 5 sewa dan 5 milik sendiri.

“Kalau dengan Mandala sejauh ini belum ada proposal yang diberikan atau diajukan. Sebenarnya untuk LCC kami lebih fokus mengembangkan Strategy Unit Business (SBU  Citilink yang akan ditambah dua pesawat dari lima yang ada,” jelasnya.[dni]

081010 Lion Air Bangun Hanggar di Manado

JAKARTA—Maskapai penerbangan swasta terbesar nasional, Lion Mentari Airlines (Lion Air) akan membangun Hanggar Pusat Perawatan Pesawat yang berlokasi di Bandara Sam Ratulangi Manado untuk menunjang ekspansi di masa depan.

“Pembangunan hangar sudah merupakan kebutuhan yang mendesak seiring dengan perkembangan industri penerbangan nasional. Perawatan pesawat yang dimiliki sendiri akan dapat menghemat biaya perawatan, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan penerimaan pajak, meningkatkan kemampuan tenaga kerja di bidang perawatan dan yang terpenting dapat meningkatkan kehandalan (reliability) pesawat, keamanan dan keselamatan penerbangan,” ungkap Direktur Utama Lion Air Rusdi Kirana di Jakarta, Kamis (7/10).

Menurutnya, dipilihnya kota Menado sudah sangat tepat karena tidak ada fasilitas serupa di kawasan Indonesia Timur. Menado merupakan salah satu destinasi Internasional, letaknya cukup strategis untuk penerbangan jarak jauh (jet) dan jarak pendek (propeller) serta wilayah sekitar bandara masih cukup luas.

“Selanjutnya diharapkan hangar ini bisa menjadi pusat perawatan pesawat di Indonesia Bagian Timur dan juga menjadi suatu Strategic Business Unit (melayani perawatan pesawat maskapai lain),” jelasnya.

Diungkapkannya, untuk tahap awal, fasilitas hangar perawatan pesawat milik Lion Air akan dibangun di atas tanah seluas 12 Ha dengan kapasitas hangar maksimum menampung 2 pesawat Boeing 737-900ER. Struktur bangunan buatan Rubb Aviation USA, bangunan berlantai dua. Lantai dasar terdiri dari Engine Shop, Cabin Repair Shop, Avionic Shop, Non Distructvie Test Shop, Hydraulic Component Shop, Wheel Brake shop dan Ground Support Equipment. Sedangkan lantai dua untuk perkantoran dan guest house karyawan.

Lion Air sebagai maskapai penerbangan swasta terbesar di Indonesia setiap hari melayani penerbangan sebanyak 390 kali penerbangan ke seluruh Indonesia, mengangkut 62 ribu penumpang dan ditargetkan pada tahun 2010 akan mengangkut 20 juta penumpang dengan armada yang saat ini berjumlah 64 pesawat dan akan terus bertambah sejalan dengan sudah dipesannya 178 pesawat Boeing 737-900ER dari pabriknya di Seattle AS.

Garuda
Pada kesempatan lain, Juru bicara Garuda Indonesia Pujobroto mengungkapkan efektif 7 Oktober 2010 perseroan menambah frekuensi penerbangan rute Osaka-Denpasar (pp) dari yang sebelumnya sebanyak 5 kali seminggu menjadi 7 kali seminggu.

“Penambahan frekuensi ini upaya Garuda Indonesia untuk memenuhi permintaan pasar yang semakin meningkat seiring terus berkembangnya trafik antara kedua kota, serta untuk memberikan kemudahan bagi para pengguna jasa,” jelasnya.

Saat ini, selain melayani rute penerbangan Osaka-Denpasar, Garuda Indonesia juga melayani kota-kota lainnya di Jepang yaitu Nagoya-Denpasar sebanyak 3 kali seminggu, Tokyo-Denpasar sebanyak 7 kali seminggu serta Tokyo-Jakarta sebanyak 7 kali seminggu.

Sementara itu, Direktur Utama PT GMF AeroAsia (Garuda Indonesia Group) Richard Budihadianto mengungkapkan, berhasil menyakinkan   PT Travira Air untuk merawat   pesawat maskapai itu untuk  tiga tahun mendatang.

“Kerjasama jangka panjang ini menguntungkan kedua pihak. Kolaborasi ini  diharapkan dapat meningkatkan pendapatan GMF AeroAsia karena pekerjaan yang dilakukan mencakup komponen, mesin, engineering services. Bagi Travira Air, kerjasama ini bisa meningkatkan kesiapan pesawatnya untuk mendukung operasional perusahaan pertambangan di Indonesia,” katanya.[dni]