071010 Kemenhub Dorong Pemilik Kapal Bereskan Masalah Pajak

JAKARTA—Kementrian Perhubungan (Kemenhub) mendorong para pemilik kapal untuk menyelesaikan masalah pajak yang membelitnya agar tidak bermasalah dalam pengoperasian.

“Kami mendorong para pemilik kapal bersama Indonesian National Shipowners Association (INSA) menyelesaikan masalah itu. Jika dibiarkan bisa berimbas pada operasional kapal,” ungkap Direktur Lalu Lintas Angkutan Laut Leon Muhammad di Jakarta, Rabu (6/10).

Sebelumnya, Komite Pengawas Perpajakan menemukan 1.000 unit kapal berbendera Indonesia pada Juni lalu belum memiliki Pemberitahuan Impor Barang (PIB) dan Surat Keterangan Bebas Pajak Pertambahan Nilai (SKB PPN).

Ketua Umum INSA Johnson W Sutjipto mengungkapkan, saat rapat terakhir organisasinya dengan Ditjen Pajak dan Ditjen Bea Cukai, Kementerian Keuangan, dilakukan 17 September lalu, sudah ada jalan keluar untuk menyelesaikan administrasi impor dan perpajakan.

Diungkapkannya, langkah yang akan dilakukan adalah, seluruh perusahaan pemilik kapal baik anggota INSA maupun yang belum menjadi anggota INSA melaporkan nama perusahaan, nama kapal yang bermasalah dan penanggung jawab kepada DPP INSA melalui email pajak@insa.or.id. Selanjutnya INSA akan memfasilitasi perusahaan tersebut sehingga bisa mendapatkan PIB dan SKB PPN dari Kementerian Keuangan.

Johnson menjelaskan, Kementerian Keuangan sebenarnya tidak mengutip bea masuk dan pajak untuk kapal niaga dalam negeri. Namun dengan tarif 0 persen tersebut bukan berarti perusahaan pemilik kapal tidak memiliki kewajiban untuk mengurus PIB dan SKB PPN.[dni]

071010 Layanan Haji : Melayani Umat, Mencari “Berkah”

Pada pekan kedua  September ini kontingen calon jemaah haji Indonesia mulai diterbangkan ke Arab Saudi untuk beribadah di tanah suci. Operator telekomunikasi tak mau melepaskan momentum  tersebut mencari “Berkah” alias meningkatkan pundi-pundi pendapatan melalui layanannya bagi jemaah atau kerabat  jemaah di tanah air.

Pemimpin pasar seluler lokal  Telkomsel yang memiliki 91 juta pelanggan  menyediakan ragam paket hemat layanan data dan paket unlimited BlackBerry bagi pelanggan paskabayar maupun prabayar yang sedang menjalankan ibadah haji di Tanah Suci.

Telkomsel memberlakukan tarif hemat hingga 80 persen dari tarif normal untuk layanan suara yang berlaku hingga 31 Desember 2010. Seluruh paket dan tarif hemat layanan komunikasi di Tanah Suci ini merupakan hasil kerjasama Telkomsel dengan operator Zain di Arab Saudi.

Untuk menikmati layanan Haji, pelanggan kartuHALO dapat membeli paket data roaming 5 MB seharga  250 ribu rupiah  dan paket data roaming 15 MB  700 ribu rupiah. Sedangkan bagi pelanggan simPATI dan Kartu As tersedia paket data roaming 5 MB dengan harga  275 ribu rupiah dan  770 ribu rupiah  untuk paket data roaming 15 MB.

Bagi pengguna layanan BlackBerry, Telkomsel menyediakan paket unlimited BlackBerry 3 hari yang dapat diperoleh dengan harga 200 ribu rupiah  bagi pelanggan kartuHALO dan  225 ribu rupiah  untuk pelanggan simPATI dan Kartu As. Terdapat juga  paket unlimited BlackBerry 7 hari dimana pelanggan kartuHALO hanya dikenakan  400 ribu rupiah, sementara pelanggan simPATI dan Kartu As cukup  450 ribu rupiah.

Selain paket hemat layanan data dan paket unlimited BlackBerry, Telkomsel juga menawarkan paket SMS hemat, yakni paket 50 SMS seharga Rp 125.000 (kartuHALO) dan Rp 150.000 (simPATI dan Kartu As), serta paket 100 SMS dengan harga Rp 200.000 (kartuHALO) dan Rp 250.000 (simPATI dan Kartu As).

Tak mau ketinggalan, XL Axiata pun  secara khusus menghadirkan program bagi pelanggan selama di Arab Saudi  mulai 1 Oktober hingga 31 Desember 2010.

XL menggandeng anak usaha Axiata lainnya, Etisalat Mobily untuk berkomunikasi murah. Tarif menelpon yang dikenakan 1.800 rupiah untuk 3 menit pertama ke nomor lokal Arab Saudi memanfaatkan teknologi Voice Over Internet Protocol (VoIP) dengan  kode 01000 dari Indonesia ke nomor lokal Arab Saudi.

Program promo ini juga memberikan diskon bagi layanan jelajah internasional hingga 60 persen  bagi pengguna XL  yang menerima telpon selama berada di Arab Saudi. Sementara itu untuk pelanggan XL yang menelepon ke Indonesia dari Saudi akan mendapatkan diskon hingga 25 persen.

Untuk menerima SMS, pelanggan tidak akan terkena biaya apapun selama berada di Tanah Suci. Apabila mengirimkan SMS, akan dikenakan tarif  4 ribu rupiah per  SMS. XL juga menjamin BlackBerry tetap bisa digunakan selama di Arab Saudi hanya  hanya dengan tarif  75 ribu rupiah per hari.

Operator kecil seperti Axis dan Tri pun memberikan layanan serupa dengan pemain besar.  Axis memanfaatkan induk perusahaan,  Saudi Telecom Company (STC), untuk memberikan layanan telekomunikasi yang lebih murah bagi jemaah haji.

Cukup dengan menelepon ke nomor  1500 dari kartu Axis  untuk memilih jaringan Al Jawal merk milik STC di Arab kemudian mengaktifkan nomor roaming lokal (Local Roaming Number) pada saat mereka pertama kali tiba di Arab Saudi.  LRN ini akan membuat  pelanggan  mendapatkan layanan telepon lokal di Arab Saudi hanya 1.500 rupiah per menit dan telpon ke semua operator di Indonesia hanya 6 ribu rupiah  per menit.

Sedangkan untuk jelajah internasional, operator ini menawarkan tarif yang kompetitif yaitu 1.500 rupiah  per SMS ke nomor tujuan manapun di seluruh dunia dan 50 ribu rupiah  per hari untuk layanan paket data roaming BlackBerry.

Sementara Tri  meluncurkan Kartu Perdana Ibadah. Kartu tersebut dikhususkan bagi masyarakat yang akan melakukan ibadah haji dengan tarif yang sangat murah. Di antaranya adalah gratis terima telepon dan SMS,  telepon termurah dari Arab Saudi ke Indonesia mulai Rp 2.100/menit dan beragam konten Islami dan Haji. Bila Axis berafiliasi dengan Al Jawal, maka Tri bekerjasama dengan merk lokal yaitu Mobily.

Naik
GM Corporate Communication Telkomsel Ricardo Indra mengharapkan pada musim Haji kali ini sebanyak 50 persen dari total 230 ribu jemaah Indonesia akan menggunakan layanan yang ditawarkannya.

“Trafik untuk seluruh layanan pada musim haji  2009 meningkat dibandingkan trafik pada tahun 2008. Trafik layanan suara meningkat 37 persen, trafik SMS naik 52 persen, dan trafik layanan data melonjak 754 persen. Tahun ini tentu kita harapkan angkanya lebih besar,” jelasnya di Jakarta, Rabu (6/10).

VP Sales and Distribution Axis Syakieb A. Sungkar mengungkapkan,  pada musim haji 2009 lalu, pengguna Axis mencapai 35.000 orang termasuk para tenaga kerja Indonesia. “Tahun ini kita harapkan naik jadi dobel digit,” jelasnya.

Sementara VP Enterprise and Carrier XL Titus Dondi mengaku tidak memiliki target khusus untuk layanan Haji. “Kami hanya ingin membantu jemaah beribadah secara khusuk.  Pada musim Haji lalu  ada sekitar 5000-6000 pengguna yang menggunakan layanan XL,” ungkapnya.

Terkait dengan layanan BlackBerry selama di Arab Saudi jika seandainya pemerintah setempat memblokir mengingat hingga sekarang belum ada kesepakatan dengan Research In Motion untuk masalah penyadapan data,  Titus mengatakan, apabila layanan diblokir  XL akan mematuhi regulasi pemerintah Arab.

“Jika memang ada pemblokiran, pelanggan tidak  akan dirugikan pelanggan karena Daily Unlimited Data XL dikenakan apabila terj adi  transaksi yakni penggunaan layanan  dan  ada mekanisme registrasi,” jelasnya.

Secara terpisah, Pengamat telekomunikasi Bayu Samudiyo menilai hal yang wajar operator memanfaatkan musim haji karena momentum pemasaran untuk kuartal keempat sangat terbatas. “Libur sekolah dan Ramadan jatuhnya di kuartal ketiga. Sedangkan di kuartal keempat ini hanya tinggal Haji, Natal, dan Tahun Baru. Biasanya kontribusi ke total pendapatan  tidak sebesar Ramadan,” katanya.

Menurutnya, layanan yang akan paling diminati pelanggan selama di tanah suci adalah suara karena perilaku masyarakat jika berjauhan masih suka untuk berbicara langsung dengan kerabatnya. “Layanan lain tentunya data seperti BlackBerry karena suka berbagi keberadaan melalui gambar,” tuturnya.[dni]

071010 Buah dari Sinergi

Tarif telekomunikasi yang lumayan murah dinikmati oleh masyarakat selama di Arab Saudi tak bisa dilepaskan dari adanya sinergi antara operator lokal dan internasional.

Lihat saja XL yang memanfaatkan anak usaha Axiata, Etisalat Mobily atau  Axis yang menggandeng Saudi Telecom Company (STC).

Untuk diketahui, saat ini XL adalah pemasok utama bagi pendapatan Axiata grup, sementara STC adalah pemegang saham dominan di Axis.

Inilah  buah dari sinergi dimana operator bisa menawarkan tarif yang lebih murah dan variatif karena efisiensi bisa dilakukan. Dalam tataran domestik, sinergi yang dinanti  adalah nasib konsolidasi unit usaha Fixed Wireless Access (FWA) Telkom, Flexi, dengan Bakrie Telecom Tbk (BTEL) sebagai pemilik merek Esia.

Konsolidasi antara kedua pemain yang bisa menguasai 90 persen pasar FWA itu tak dipungkiri harus dilakukan  jika ingin bersaing dengan layanan seluler. Secara teknis, keterbatasan kanal adalah alasan utama. Jika kedua pemain memaksa untuk berjuang sendiri di belantara telekomunikasi lokal, tak pelak masing-masing hanya akan mampu meraup 30 juta pelanggan.

Saat ini Flexi memiliki 16,2 juta pelanggan, sementara Esia sekitar 11,1 juta. Untuk infrastruktur,  Flexi memiliki 5.600 BTS sedangkan Esia lebih dari 4.000 unit BTS.

Jika keduanya bergabung, efisiensi  akan terjadi  mengingat Esia memiliki pasar yang kuat di Jabodetabek dan Banten, sementara Flexi di luar kedua area itu.  Sayangnya, aksi konsolidasi menjadi tersendat oleh isu-isu politis akibat ketidakkonsistenan Menneg BUMN Mustafa Abubakar dalam mengelola pernyataan.

Hal itu terlihat dari tergesa-gesanya diumumkan rencana korporasi serta bentuk konsolidasi yang berubah-ubah mulai right issue hingga perpaduan aset. Entah disengaja atau tidak, Mustafa membocorkan rencana korporasi itu menjelang Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Juni lalu. Tentu ini tidak kondusif bagi jajaran manajemen Telkom karena muncul isu  konsolidasi  sebagai bagian dari nilai tawar memperpanjang jabatan  ke pemegang saham.

Akibat tidak mampu  menempati diri layaknya seorang CEO perusahaan,  pernyataan yang dikeluarkan  Mustafa lebih banyak menjadi konsumsi media  sehingga yang diuntungkan hanya pemain di bursa keuangan yang memiliki saham Telkom atau BTEL. Tetapi untuk Telkom secara korporasi, posisi berubah dari  seharusnya berperan sebagai gadis cantik untuk dipinang berubah menjadi perjaka tua yang dikejar-kejar deadline untuk menikah.

Keresahan pun mulai merebak di tengah karyawan Telkom. Hal itu bisa dilihat dari pernyataan Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Serikat Karyawan Telkom, Wisnu Adhi Wuryanto yang menolak keras rencana penggabungan  karena menilai lebih kental nuansa politis ketimbang bisnis dari konsolidasi tersebut, apalagi dikaitkan dengan rencana pergantian jajaran Direksi Telkom pada RUPSLB mendatang.

Jika sudah begini, mungkin sebaiknya Menneg BUMN sebagai kuasa pemegang saham pemerintah di Telkom lebih memprioritaskan  menggelar RUPSLB dan mendesak Tim Penilai Akhir (TPA) untuk mengeluarkan nama definitif yang berkuasa di operator itu ketimbang mengeluarkan pernyataan yang tidak produktif terkait konsolidasi.

Semua ini untuk memberikan kepastian  bagi industri telekomunikasi, karyawan dan direksi Tekom. Harus diingat, Flexi merupakan aset negara. Jika salah-salah dalam mengambil keputusan dimana ada aset negara dialihkan ke swasta, maka  pasal 2 dan 3 UU Anti Korupsi siap menanti pejabat yang mengambil keputusan.  Jika itu terjadi, tentu ini menjadi tamparan keras bagi industri telekomunikasi yang selama ini dikenal well regulated.[dni]

071010 VoD Akan Tingkatkan Konten Lokal

JAKARTA—Fitur Video on Demand (VoD) yang mulai diperkenalkan oleh penyelenggara TV berbayar diyakini bisa mendorong perkembangan konten lokal mengingat semakin bervariatifnya kebutuhan masyarakat akan hiburan.

Strategic & Business Developement First Media Marcelus Ardiwinata menjelaskan, ke depan televisi hadir sebagai media interaktif.

“Nantinya orang tak hanya bisa menikmati siaran TV saja, namun bermain games, melihat portal berita internet, melakukan jejaring sosial, dan sebagainya saat industri televisi interaktif sudah berkembang di Indonesia. VoD adalah pintu pembuka pertama akan masuknya masa TV interaktif,” jelasnya di Jakarta, Rabu (6/10).

Menurutnya, VoD akan membuat
pelaku bisnis TV serta production house (PH) lokal untuk memulai bisnisnya di daerah.  “Nantinya konten-konten lokal pun bisa terus bertumbuh melalui TV-TV komunitas,” katanya.

Dikatakannya, untuk membuat kondisi TV interaktif kondusif membutuhkan kerjasama berbagai pihak terkait. Mulai dari pemerintah, sektor swasta, hingga masyarakat sendiri. Jika itu semua berjalan lancar penantian tumbuhnya konten lokal TV via kabel bukan menjadi impian lagi.

Sebelumnya Menkominfo Tifatul Sembiring mengatakan, industri konten  sangat menjanjikan bagi pemain lokal karena dari total belanja modal 80 triliun rupiah di industry telekomunikasi , 90 persen diserap oleh vendor asing untuk pembelian perangkat.

Diungkapkannya, volume bisnis teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di Indonesia mencapai 300 triliun per tahun dengan belanja modal 80 triliun rupiah per tahun.
Sedangkan pengguna jasa nirkabel mencapai 178 juta nomor,  internet 45 juta pelanggan.

“Kami sudah menyiapkan berbagai regulasi menyambut era konvergensi, dimana telekomunikasi , broadcast, dan internet hadir dalam satu perangkat. Diantaranya UU Konvergensi dan  TIPITI,” jelasnya. [dni]

071010 Pasar Aplikasi Contact Center akan Capai US$ 28 juta

JAKARTA—Pasar aplikasi contact center akan mencapai 28 juta dollar AS dalam waktu enam tahun mendatang akibat tingginya permintaan dari industri lokal.

“Pada tahun lalu nilai bisnis dari aplikasi contact center mencapai 9,2 juta dollar AS. Angka itu dicapai sebagian besar didorong oleh terbatasnya jumlah ekspansi atau peningkatan perhatian dari industry bukan penyebaran baru,” ungkap Associate Director Frost & Sullivan Shivanu Sukla di Jakarta, Rabu (6/10).

Menurutnya, rendahnya penyebaran contact center pada tahun lalu karena keraguand ari industry utnuk menghabiskan penyebaran pada saat ekonomi tidak menetu. “Di sisi lain vendor contact center global berlanjut untuk tetap eksis dengan memperkuat jaringan mitranya. Diharapkan aksi ini menuai keuntungan pada pertengahan tahun nanti,” jelasnya.

Pada kesempatan lain, Google meluncurkan Google Maps Indonesia dengan menggandeng Telkomsel untuk menampilkan 200 ribu titik yang banyak diminati di seluruh tanah air berdasarkan 19 kategori lokasi pemgguna.

Product Manager Google Southeast Asia Andrew McGlinchey menjelaskan, platform geografis ini juga memungkinkan para pengguna, perusahaan, dan pengembang menciptakan peta mereka sendiri tentang tempat-tempat di Indonesia.

Deputy Vice President Product Lifecycle Management Telkomsel Ririn Widaryani mengatakan, Telkomsel akan mendorong 93 juta pelanggannya untuk mengakses Google Maps mulai dari ponsel sederhana hingga kategori smartphones. “ Kami optimistis pelanggan akan senang menggunakan Goggle Maps karena skema berlangganan data yang diberikan tarifnya lumayan kompetitif. Apalagi Telkomsel memiliki jangkauan yang luas sehingga fitur ini akan menolong bagi pelanggan yang sering berpergian keluar kota,” jelasnya.[dni]