061010 Sriwijaya Pesan 10 unit Boeing 737-800

JAKARTA—Maskapai Sriwijaya Air (Sriwijaya) berencana mendatangkan 10 unit Boeing 737-800 Next Generation (NG) untuk memperkuat armadanya guna mengembangkan rute domestik dan regional yang dimilikinya.

Corporate Communication Manager Sriwijaya Ruth Hannya Simatupang mengungkapkan, jajaran manajemen telah berangkat ke markas    Boeing di Seattle, Amerika Serikat untuk menandatangani kontrak pemesanan pesawat  pada 12 Oktober 2010.

“Armada yang dipesan akan datang secara bertahap. Soalnya pesawat jenis ini  tidak dilakukan mass production. Delivery pertama akan dilakukan 2012,” ungkapnya di Jakarta,  Selasa (5/10).

Diungkapkannya, perseroan  akan menggunakan opsi lease to buy alias sewa-beli untuk pengadaan sepuluh pesawat tersebut. Sedangkan untuk pengadaan akan mengandalkan  mengandalkan kas perusahaan. “Pesawat-pesawat baru itu nantinya akan digunakan Sriwijaya untuk melayani penerbangan domestik dan regional,” jelasnya.

Berdasarkan catatan, pesawat jenis ini dibanderol Boeing  dengan harga 72,5 juta sampai 81 juta dollar AS jika dibayar secara tunai.

Saat ini Sriwijaya sudah mengoperasikan 27 pesawat. Terdiri dari 13 unit Boeing 737-200, delapan Boeing 737-300 dan enam Boeing 737-400. Sampai akhir tahun Sriwijaya masih akan mendatangkan dua unit Boeing 737-400 dan satu unit Boeing 737-300 dengan opsi lease to buy. Sehingga diakhir tahun ini pesawatnya genap berjumlah 30 unit.

Sriwijaya juga berniat mendatangkan 60 pesawat berbadan kecil sampai 2012 untuk mengoperasikannya sebagai feeder pesawat besar dari bandara-bandara terpencil. “Untuk pesawat kecil belum ditentukan jenis yang akan dibeli. Masih dipelajari dulu,” kata Hanna.

Sejauh ini terdapat  sejumlah produsen pesawat yang berminat memasok pesawat jenis itu kepada maskapainya. Diantaranya ATR, Afro RG, Embraer dan Bombardier.

Lion Air
Secara terpisah, Direktur Umum Lion Air Edward Sirait mengungkapkan, hingga akhir  September lalu perseroan  memiliki 43 unit Boeing 737-900 ER.

“Kami juga  membuka rute baru Yogyakarta-Banjarmasin (PP) pada akhir September. Sementara anak usaha Wings Air pada awal Oktober ini akan melayani Medan-Silangit (PP) dengan pesawat ATR72-500 sebanyak dua kali seminggu,” katanya.

Direktur Operasional Lion Air Redi Irawan menambahkan, hingga akhir tahun ini jumlah armada ATR72-500 akan berjumlah 10 unit. “Pada pertengahan tahun depan akan berjumlah 15 unit dari optional 30 unit yang ditawarkan. Sepertinya kita akan ambil lagi optional 15 unit yang disediakan pabrikan untuk memperkuat armada,” jelasnya.

Edward menjelaskan, agresifnya perseroan menambah armada karena melihat pertumbuhan penumpang angkutan udara yang terus positif setiap tahunnya. “Kapasitas untuk tahun ini dibandingkan dengan tahun lalu telah dinaikkan menjadi 40 persen. Inilah salah satu alasan Lion berhasil mengangkut 3 juta penumpang melalui 150 penerbangan pada mudik lalu,” jelasnya.

Selanjutnya Edward mengungkapkan, perseroan berencana  memperbanyak peralatan mobile check-in scanner untuk mengurai antrian penumpang yang menumpuk di terminal penumpang setiap kali pesawat mau berangkat.

“Saat ini kami baru memiliki delapan unit peralatan yang itu untuk digunakan di terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng,” katanya.

Diungkapkannya,  dalam waktu dekat Lion akan menambah peralatan tersebut untuk digunakan di bandara lain seperti Polonia Medan, Juanda Surabaya, dan
Sultan Hasanudin Makassar yang memang banyak penumpangnya.

Di setiap bandara tersebut, Lion akan mengoperasikan minimal sepuluh alat sejenis.  Harga peralatan scanner itu sekitar  3 ribu dollar AS per unitnya.[Dni]

061010 Kapasitas Galangan Kapal Lokal Terbatas

JAKARTA—Kapasitas galangan kapal lokal untuk mereparasi kapal-kapal terbatas karena terkendala faktor produktifitas.

“Indonesia memiliki 250 perusahaan galangan kapal, tetapi yang benar-benar beroperasi untuk membangun atau reparasi kapal tidak sebesar itu,” ungkap Ketua Umum Indonesian National Shipowners Association (INSA) Johnson W Sutjipto di Jakarta, Selasa (5/10).

Dicontohkannya, di Palembang terdapat 13 perusahaan galangan kapal, tetapi yang benar-benar beroperasi hanya tiga perusahaan. “Padahal Indonesia memerlukan 11,95 juta GT kapasitas galangan kapal untuk reperasi dan diperkirakan 10 hingga 20 persen dari kapasitas itu kapal berbendera Merah Putih, terutama kapal besar diatas 50 ribu DWT,” jelasnya.

Menurutnya, pengusaha kapal lokal lebih berkeinginan untuk memperbaiki kapalnya di dalam negeri karena lebih murah ketimbang di luar negeri. Namun, di Indonesia hal yang menjadi kendala adalah masalah terbatasnya galangan besar dan produktifitas yang rendah walau harga perbaikan murah.

“Berbisnis galangan kapal itu kuncinya pada ketersediaan logistik, Sumber Daya Manusia (SDM), dan teknologi. Indonesia memiliki kelebihan di SDM itu. Tingginya pertumbuhan kapal lokal sebenarnya membuat potensi pasar perbaikan kapal itu tinggi dan harus dimanfaatkan oleh pengusaha lokal,” jelasnya.

Diungkapkannya, pada posisi Maret 2010 kapal berbendera Merah Putih berjumlah 9.309 unit atau rata-rata terjadi pertumbuhan 10 persen sejak adanya Inpres No 5 Tahun 2005. “Semua ini karena adanya azas cabotage yang diberlakukan oleh pemerintah dimana menjadi semacam jaminan bagi industri pelayaran lokal untuk berkiprah,” katanya.

Dikatakannya, azas cabotage juga mendorong tumbuhnya plafon kredit dari industri perbankan ke pelayaran. Pada dua tahun lalu plafon kredit untuk pelayaran mencapai 18,55 triliun rupiah atau 82,2`1 persen dari plafon kredit yang disiapkan sebesar 22,56 triliun rupiah. Sedangkan pada Desember 2009 realisasi kredit ke sektor pelayaran sebesar 22,413 triliun rupiah atau 82,8 persen dari total plafon 27,07 triliun rupiah.

Direktur Operasi PT Tribuana Achmad Soetopo mengakui, selalu sulit mendapatkan space karena tidak banyak galangan yang menerima dock untuk kapal besar. Tribuana adalah operator kapal penyeberangan di lintasan Merak—Bakauheni.

Diungkapkannya, kesulitan mencari tempat docking di dalam negeri tersebut berlangsung sejak lama. “Kapasitas galangan nasional kita memang masih terbatas,” katanya.

Berdasarkan catatan, sekarang kapasitas galangan untuk kegiatan reparasi kapal baru 9,7 juta DWT. Hingga Desember 2009, jumlah galangan di Indonesia yang tersebar dari Sabang sampai Merauke mencapai 250 unit, dan telah berpengalaman dalam membangun berbagai jenis kapal dan ukuran daya angkut hingga 50.000 DWT.[dni]