051010 UU Konvergensi Akan Picu Persaingan

JAKARTA—Hadirnya Undang-Undang (UU) Konvergensi diyakini akan memicu persaingan dan pemain baru di industri telekomunikasi Indonesia.

“Jika membaca Rancangan Undang-Undang (RUU) Konvergensi yang sedang dikonsultasi publik oleh Kemenkominfo, itu akan memicu persaingan di industri telekomunikasi. Hal ini karena konsep unbundling diterapkan oleh regulasi itu,” ungkap Sekjen Indonesia Wireless Broadband (Idwibb)Yohanes Sumaryo di Jakarta, Senin (4/10).

Dijelaskannya, konsep ubundling adalah membagi entitas dalam tiga level yakni penyedia jaringan (network), akses, dan konten. “Jika dipecah dalam tiga entitas tentu akan menimbulkan pemain-pemain baru di industri. Kemungkinan ini akan membuat  era duopoli di jaringan tetap segera berakhir,” katanya.

Menurutnya, hadirnya UU Konvergensi akan bisa “memukul” Telkom sebagai penguasa pasar karena akan ada  pemisahan pembukuan sebagai pemain  network, services dan konten.  “Pemisahan pembukuan yang paling efektif  kalau dalam bentuk  perusahaan berbeda supaya tidak terjadi cross subsidy yang menghambat kompetisi,” katanya.

Secara terpisah, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Serikat Karyawan Telkom, Wisnu Adhi Wuryanto menolak keras rencana penggabungan unit usaha Fixed Wireless Access (FWA), Flexi dengan Esia dari Bakrie Telecom.

“Sikap penolakan  harus diambil, karena penggabungan ini berpotensi digugat banyak pihak karena melanggar persaingan usaha di sektor telekomunikasi,” tegasnya.

Menurut dia, pelanggaran persaingan usaha tersebut pernah disuarakan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) yang menyatakan penggabungan ini akan merugikan masyarakat karena perusahaan hasil penggabungan ini dapat mempermainkan tarif FWA. “Apalagi, penggabungan Flexi – Esia akan menguasai lebih 90 persen pangsa pasar FWA. Kalau ini terjadi, masyarakat bisa menjadi korban monopoli kedua perusahaan tersebut,” ujarnya.

Menurutnya,  saat ini bukan waktu yang tepat untuk melakukan penggabungan Flexi dengan Esia atau dengan perusahaan manapun karena performa kinerja yang ada.

Ia menilai penggabungan kedua operator CDMA tersebut kental nuansa politis, baik dilihat dari posisi Esia sebagai anak perusahaan Group Bakrie maupun dihubungkan dengan rencana Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS LB) Telkom yang mengagendakan penggantian Direksi Telkom dalam waktu dekat.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s