051010 Tambahan Frekuensi 3G : Menyamakan Kekuatan Sumber Daya

Operator pemilik lisensi 3G akhirnya menyerah dengan keinginan pemerintah dalam mendapatkan tambahan frekuensi di spektrum 2,1 GHz.

Tiga operator yang sebelumnya masih berharap kemurahan hati dari pemerintah untuk menurunkan harga frekuensi, akhirnya menyerah. Menjelang akhir  September lalu, ketiganya akhirnya bersedia menambah frekuensi sebesar 5 Mhz untuk melengkapi jumlah menjadi 10 MHz dalam memberikan layanan data berbasis teknologi 3G.

“Tiga operator menyusul Telkomsel dan Indosat untuk menambah frekuensi di 2,1 GHz. Mereka setuju dengan harga yang ditawarkan pemerintah sejak tahun lalu alias sama dengan yang dibayar dua pendahulunya (Telkomsel dan Indosat),” ungkap Dirjen Postel M. Budi Setiawan di Jakarta, Senin (4/10)..

Ketiga operator itu adalah XL Axiata, Hutchison CP Telecom Indonesia (HCPT/Tri), dan Natrindo Telepon Selular (NTS/Axis). Pemerintah menetapkan biaya 160 miliar rupiah untuk mendapatkan tambahan sebesar 5 MHz tersebut.

Namun jika dihitung secara detail, untuk tahun pertama biaya yang dikeluarkan oleh operator untuk mendapatkan tambahan 5 MHz lumayan menguras kantong. Telkomsel mengeluarkan dana sebesar 320 miliar rupiah untuk  Upfront fee,  selain Biaya Hak Penggunaan (BHP) frekuensi  tahun pertama sebesar 160 miliar rupiah.

Sementara Indosat mengeluarkan dana sebesar 352 miliar rupiah ( upfront fee + BHP tahunan) dan XL menguras kantongnya sebesar 487,6 miliar rupiah (upfront fee+BHP). Besaran pembayaran berbeda-beda karena pemerintah memberikan dua opsi pembayaran. Operator dibolehkan  membayar besar di depan, namun kecil untuk selanjutnya atau sebaliknya.

“Sebenarnya dalam rencana perseroan, XL baru akan mengambil tambahan frekuensi tahun depan. Namun karena pemerintah punya deadline pada September ini, aksi pembelian dipercepat. Ini tidak begitu menganggu karena XL memang telah menetapkan 25 persen dari total belanja modal sebesar 400- 450 juta dollar untuk pengembangan layanan data,” ungkap Direktur Utama XL Hasnul Suhaimi.

Diperkirakannya, kanal kedua yang dimiliki untuk 3G tersebut akan bisa dikomersialkan dalam waktu dua hingga tiga bulan kedepan dimana inovasi High Speed Packet Access (HSPA+) akan diimplementasikan di beberapa area yang dianggap potensial.

“Penambahan BTS 3G (Node B) juga akan melihat kebutuhan trafik. Saat ini kami memiliki 2.301 Node B, hingga akhir tahun diharapkan menjadi tiga ribu Node B. Sedangkan kapasitas pelanggan yang bisa dilayani dengan adanya tambahan frekuensi bisa menjadi sekitar 34 juta nomor melonjak dua kali lipat dari 17 juta pelanggan data yang ada saat ini,” jelasnya.

Sementara Direktur Utama Axis Eric Aas mengungkapkan, tambahan frekuensi yang bersebelahan langsung dengan kanal lama memungkinkan perseroan untuk menjalankan HSPA+ dan Long Term Evolution (LTE). “Untuk LTE akan diimplementasikan jika ada regulasi mendukung dari pemerintah. Sekarang kami fokus dengan roadmap 3G melalui seribu Node B yang dimiliki,” jelasnya.

Fleksibel
Deputy VP Corporate Secretary Telkomsel Aulia E Marinto mengakui,  tambahan frekuensi 3G membuat perseroan  lebih fleksibel dalam mengembangkan layanan data berkecepatan lebih tinggi, dengan kapasitas lebih besar dan kualitas lebih baik.. Hal ini karena  frekuensi 3G tambahan  dapat dialokasikan untuk layanan data secara khusus dan mendukung untuk melanjutkan roadmap ke teknologi HSPA dan HSPA+ atau LTE.

Sejauh ini sudah 25 kota besar di Indonesia yang dinobatkan sebagai broadband city oleh Telkomsel berkat tambahan frekuensi dimana layanan  HSPA+ telah tersedia dengan  kecepatan hingga 21 Mbps melalui  7.500 Node B dan akan berjumlah  8.500 Node B pada akhir tahun nanti.

“Kota-kota tersebut ke depannya juga akan dilayani teknologi LTE bila pemerintah sudah memberikan izin dan kebutuhan pasar terhadap layanan berbasis teknologi LTE semakin meningkat. Mulai tahun depan teknologi Software Define Radio (SDR) dimana memungkinakan LTE dan 3G jalan bersamaan diterapkan,” jelasnya.

Group Head Vas Marketing Indosat Teguh Prasetya mengungkapkan, tambahan frekuensi 3G sudah dikomersialkan  sejak awal 2010 dan hingga saat ini  hampir seluruh wilayah Jawa dan Sumatera sudah tercover HSPA+.  “Jaringan Indosat juga sudah siap untuk SDR,” tegasnya.

Tarif  Belum Turun
Sayangnya, walau operator sudah menambah kapasitas, namun pelanggan belum bisa mendapatkan tarif data yang murah. “Untuk penurunan tarif, kami belum berani berjanji. Soalnya biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan tambahan frekuensi itu lumayan besar,” jelas Hasnul.

Diungkapkan Hasnul, saat ini kontribusi layanan data bagi XL masih berkisar 6 persen bagi total pendapatan. Perseroan masih fokus menaikkannya menjadi 10 persen pada akhir tahun nanti. “Kami hanya bisa berjanji kualitas layanan data akan semakin membaik,” katanya.

Aulia mengatakan, untuk urusan tarif Telkomsel lebih melihat pada peta persaingan dan tren di pasar. “Kontribusi data masih 6 persen pada semester I lalu, kita ingin dorong menjadi 10 persen. Layanan ini masih bayi, jika belum apa-apa sudah perang tarif nanti berdampak pada kualitas,” kilahnya.

Pada kesempatan lain, Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono menilai, penambahan frekuensi akan membuat persaingan di layanan data menjadi keras karena semua pemain memiliki sumber daya alam yang setara.

“Kalau soal tarif memang susah turun karena sekarang operator belum efisien. Jumlah pelanggan secara riil memberikan keuntungan belum signifikan. Operator masih mencari keseimbangan antara pelanggan riil dan tarif ritel,” katanya.

Sementara Praktisi Telematika Raherman Rahanan mengakui penambahan kanal akan menambah kapasitas bandwitdh sehingga jumlah pelanggan akan ikut terdongkrak.

“Tetapi itu semua tergantung kebijakan yang diambil operator dalam mengembangkan teknologi. Jika benar mau mengantisipasi LTE, implementasi SDR langkah yang bijak karena akan mempermudah  menambah  module LTE tanpa perlu  menginstal unit radio yang baru secara total,” jelasnya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s