051010 Menanti Lisensi SLI

Aksi XL Axiata dan Natrindo Telepon Seluler (NTS/Axis) meminta tambahan frekuensi 3G sebenarnya sudah diprediksi banyak kalangan karena kedua operator ini terlihat giat  meminta lisensi ke pemerintah.

Setelah urusan penambahan frekuensi selesai, sebenarnya ada satu masalah yang belum jelas penyelesaiannya oleh pemerintah bagi kedua operator itu. Lisensi Sambungan Langsung Internasional (SLI) masih menjadi impian bagi kedua operator setelah kalah dari Bakrie Telecom (BTEL) dalam lelang yang dilakukan pemerintah tiga tahun lalu.

Saat ini pemain SLI berbasis clear channel ada tiga yakni Telkom, Indosat, dan Bakrie Telecom. Potensi  pasar dari jasa SLI  sekitar tiga triliun rupiah yang akan berasal dari jumlah panggilan sebesar tiga miliar menit per tahun. Komposisi panggilan adalah  70 persen  keluar negeri dan 30 persen panggilan dari luar negeri.

Telkom  mengklaim menguasai 53 persen pangsa pasar SLI. Sedangkan sisa pangsa pasar diambil  Indosat dan secuil oleh BTEL.

XL  kala tender tiga tahun lalu digadang-gadang menjadi pemenang, tetapi  tersungkur karena tidak lengkapnya administrasi. Sementara Axis tersandung masalah pembatasan kepemilikan asing yang dominan.

Padahal kala itu XL merupakan pesaing kuat dari BTEL karena  melalui jaringan milik induk usahanya, Telekom Malaysia, telah memiliki ketersambungan    ke negara yang tergolong Tier-1 seperti Amerika, Hong Kong, Australia, Eropa, dan  Jepang karena memiliki  memiliki dua gateway  di Singapura dan  Malaysia yang siap disambungkan untuk layanan SLI.

Sedangkan dari potensi  pasar yang akan digarap lumayan menjanjikan karena XL berjanji akan mengoptimalkan layanan bagi sesama pelanggan. Hal ini melihat adanya  600 juta panggilan internasional yang dilakukan oleh 35,2 juta pelanggannya

Sementara di Axis sendiri terdapat 20 persen  dari total 6 juta pelanggan yang aktif menggunakan panggilan internasional. Panggilan banyak dilakukan ke Singapura, Malaysia, dan Arab Saudi.

“Jika kesempatan untuk mendapatkan lisensi SLI dibuka oleh pemerintah, tentu kami ingin sekali. Ini akan membuat tarif SLI yang kami berikan lebih kompetitif,” tegas VP Sales and Distribution Axis Syakieb Sungkar di Jakarta, Senin (4/10).

Diungkapkannya, tarif SLI yang diberikan oleh Axis paling murah saat ini baik berbasis Voice over Internet Protocol (VoIP) atau clear channel. Contoh, ke Arab Saudi dengan panggilan clear channel menetapkan tarif 1.388 rupiah per menit, sementara di pasar sebesar 1.500 rupiah per menit.

“Itu kita sewa jaringan Telkom untuk originasi atau membawa trafik dari Indonesia. Jika punya lisensi sendiri tentu lebih murah,” katanya.

Direktur Telekomunikasi Ditjen Postel Titon Dutono belum berani mengeluarkan sinyal tambahan pemain SLI karena isu tersebut terlalu sensitif. “Ini domain Menkominfo. Baiknya tanya ke beliau saja,” kilahnya.

Menkominfo Tifatul Sembiring sendiri pada Februari lalu memberikan sinyal akan menambah pemain SLI karena beranggapan belum ada kompetisi di sektor ini. Rencananya penambahan akan terjadi setelah evaluasi kinerja SLI milik BTEL selesai dilakukan.

Sayangnya, setahun sudah kode akses 009 milik BTEL berkibar di pasar, namun belum ada juga hasil evaluasi yang disodorkan oleh regulator ke publik. Bahkan, sepertinya regulator enggan menanyakan nasib pembangunan Sentra Gerbang Internasional (SGI) Kupang-Darwin yang menjadi faktor penentu BTEL keluar sebagai pemenang tender.

Jika seperti ini, harapan Indonesia menjadi Telecommunication Hub di kawasan Asia tentu akan semakin lama menjadi kenyataan. [dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s