041010 Pemerintah Diminta Tingkatkan Investasi Pada Sistem Keselamatan

JAKARTA—Pemerintah diminta untuk meningkatkan investasi pada sistem keselamatan kereta api agar mengurangi beban masinis dalam menjalankan moda tersebut.

“Investasi pada onboard monitoring system dan surveillance sudah saatnya dilakukan oleh pemerintah agar beban masinis bisa dikurangi. Pola onboard monitoring system yang mengandalkan sinyal dan komunikasi radio dua arah itu sudah kuno,” tegas Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Danang Parikesit kepada Koran Jakarta, Minggu ( 3/10).

Dijelaskannya, meningkatkan sistem keselamatan itu akan membuat masinis lebih fokus pada menjalankan kereta. “Kalau pola selama ini dipertahankan, setiap ada kecelakaan bisa disalahkan pada masinis. Padahal, kondisi bekerja tidak mendukung dengan infrastruktur yang terbatas,” katanya.

Diungkapkannya, penerapan teknologi yang mendukung keselamatan itu sebenarnya sempat diusulkan pemerintah dalam anggaran 2011, namun karena pagu dipotong sebesar 300 miliar rupiah oleh DPR, maka tidak bisa direalisasikan. “Semoga adanya kejadian di Pemalang pada Sabtu (2/10) bisa membuka mata semua pihak,” katanya.

Masalah lain yang disorot MTI adalah perlunya  pengaturan rangkaian gerbong belakang kereta api untuk mengurangi dampak kecelakaan. “Sebaiknya ditempatkan gerbong barang bukan orang. Hal ini karena  tabrakan KA ternyata tidak selalu dari depan, tetapi bisa dari belakang seperti yang terjadi di Pemalang tersebut,” jelasnya.

Insiden
Terkait dua peristiwa kecelakaan kereta api yang berlangsung hampir bersamaan di Solo dan Pemalang, Jawa Tengah, Sabtu (2/10) dinihari, manajemen PT Kereta Api Indonesia (KAI) diminta untuk segera melakukan introspeksi dan evaluasi diri untuk meningkatkan kualitas pelayanan terhadap pengguna jasa, terutama yang terkait dengan faktor keselamatan operasi.

Hal itu mengingat kedua peristiwa yang menelan puluhan korban jiwa itu terkait dengan permasalahan operasional pengoperasian kereta api, dan terindikasi kuat akibat faktor kesalahan manusia.

”PT KAI harus melakukan introspeksi dan evaluasi dirinya terkait peristiwa ini. Peristiwa tabrak belakang yang lazim dengan sebutan “sodomi” ini peristiwa yang langka dan penyebabnya didominasi oleh kesalahan operasional pengoperasian kereta api oleh manusia, atau human error. Ada indikasi kuat pelanggaran sinyal dilakukan masinis KA Argobromo Anggrek,” ungkap Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Tundjung Inderawan.

Menurut Tundjung, introspeksi dan evaluasi diperlukan manajemen agar perusahaan tersebut bisa fokus pada upaya pelayanan penumpang. Salah satunya adalah terkait bagaimana menempatkan personel yang kompeten di bidangnya terkait operasional kereta api yang dijalani.

Tundjung juga meminta agar manajemen PT KAI tidak melulu mengorientasikan tugas negara yang diembannya pada wilayah bisnis semata sebagaimana layaknya perusahaan swasta.

Direktur Keselamatan dan Teknik Sarana Ditjen Perkeretaapian Hermanto Dwiatmoko menambahkan, mengacu pada pengalaman yang pernah terjadi, peristiwa tubruk belakang seperti yang dialami KA Argobromo Anggrek dan KA Senja Utama di Stasiun Petarukan Pemalang, maupun antara KA Bima dan KA Ekonomi Gaya Baru Malam Selatan di Stasiun Purwosari, Solo, mayoritas disebabkan oleh faktor kesalahan manusia (human error).

”Sekitar 90 persen peristiwa tubruk belakang itu karena human error. Karena pada saat kejadian, KA yang ditabrak sedang berada di stasiun, sementara KA yang menabrak seharusnya tidak masuk karena tertahan sinyal di belakang. Tetapi, entah karena apa dan bagaimana KA yang menabrak itu bisa masuk. Pada dua peristiwa ini ada dugaan kuat pelanggaran sinyal yang dilakukan masinis KA penabrak. Tetapi, itu sementara, kita akan selidiki lebih lanjut untuk memastikannya,” papar Hermanto.

Terkait hal itu, Hermanto diminta untuk selekasnya melakukan evaluasi, terutama terkait sumber daya manusia atau personel yang berada pada jajaran operasional. PT KA juga diminta meningkatkan kehati-hatian dan menambah porsi perhatiannya terhadap faktor-faktor yang berhubungan dengan keselamatan pengoperasian KA.

Menurutnya, jika  terkait dengan regulasi, sepertinya tidak ada persoalan. Undang-undang dan peraturan pemerintah sudah jelas dan detail menjabarkan. Semua tinggal bagaimana PT KAI mengimplementasikannya di lapangan. Misalnya, terkait masa kerja masinis maksimal 8 jam, dll. Pada jalur Jakarta – Semarang – Surabaya, biasanya masinis diganti di semarang untuk menghindari terjadinya kelelahan atau fatigue.

Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sudaryatmo mengungkapkan, terdapat dua hal penting yang harus diperhatikan yakni kompensasi yang harus diberikan kepada korban sesuai nilai kerugian. “Yang kedua, pasca kecelakaan harus ada pihak yang bertanggung jawab atas kecelakaan ini. Dalam konteks pidana, pertanggung jawaban sejatinya dilakukan oleh pihak korporasi,” katanya.

Pasalnya, lanjut Sudaryatmo, selama ini jika terjadi kecelakaan, urusan pertanggung jawaban pasti dilimpahkan ke petugas di lapangan.

“Terkait kecelakaan ini, sudah seharusnya diarahkan pada pertanggungjawaban secara korporasi, dimana pihak direksi yang harus bertanggung jawab. Hal ini pun dimungkinkan dalam UU Perlindungan Konsumen,” jelasnya.

Sedangkan Pengamat perkeretaapian dari Unika Soegijapranata Joko Setijowarno mengungkapkan, untuk mengetahui lebih jauh penyebab kecelakaan kereta api di Pemalang, bisa dilakukan pemeriksaan terhadap kondisi masinis melalui pengecekan sampel darah.

“Namun, yang lebih signifikan bisa dilakukan pengecekan terhadap rekaman pembicaraan di ruang PK/OC (pusat kontrol), sehingga bisa diketahui isi percakapan dan kondisi terakhir sesaat sebelum kejadian,” jelasnya.

Terkait sistem persinyalan, Joko mengakui, di jalur Pantura-Semarang, rata-rata telah menggunakan sistem elektrifikasi yang sudah moderen pengoperasiannya. “Di jalur ini sudah cukup bagus. Akurasi pun cukup tinggi, meski tidak menutup kemungkinan terjadi pelanggaran, karena tetap dioperasikan oleh manusia,” jelasnya.

Sebelumnya, KA Argobromo Anggrek tujuan Jakarta – Semarang – Surabaya menghantam KA Senja Utama dengan tujuan sama yang sedang berhenti di Stasiun Petarukan Pemalang, Jateng, Sabtu dinihari pukul 02.38 WIB. Sedangkan KA Bima tujuan Jakarta – Malang dan KA Ekonomi Gaya Baru Malam Selatan di Stasiun Purwosari, Solo, Jateng, pukul  02.31 WIB.

Hingga Sabtu siang, jumlah korban meninggal akibat kecelakaan di Pemalang tercatat mencapai hingga 42 orang dan puluhan lainnya mengalami luka berat dan ringan.  Sementara  akibat kejadian di Solo, satu penumpang meninggal dunia setelah dilarikan ke rumah sakit dan beberapa lainnya menderita luka.

Saat ini, penyidik pegawai negeri sipil (PPNS) yang bekerja sama dengan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) selaku pihak yang paling berwenang menyelidiki peristiwa kecelakaan ini sebagaimana ditegaskan UU Perkeretaapian No. 23/2007, masih mengumpulkan bukti dan fakta di lapangan.

Juru Bicara KNKT JA Barata  menyatakan, institusinya telah menurunkan dua tim untuk menyelidiki peristiwa kecelakaan kereta api tersebut.

Tim pertama yang dipimpin langsung Ketua KNKT Tatang Kurniadi, papar Barata, mengutus investigator Koensabdono, Kartomo, Sutjahjono, Edi Sasongko, Mumuh, Wahyudijantho, dan Marjono.

“Sementara investigator KNKT yang bertugas ke Purwosari adalah Purwanto, Whosep Muktamar dan Budiharjo,” jelas Barata. [dni]

1 Komentar

  1. semoga membantu


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s