041010 Pemerintah Diminta Tingkatkan Investasi Pada Sistem Keselamatan

JAKARTA—Pemerintah diminta untuk meningkatkan investasi pada sistem keselamatan kereta api agar mengurangi beban masinis dalam menjalankan moda tersebut.

“Investasi pada onboard monitoring system dan surveillance sudah saatnya dilakukan oleh pemerintah agar beban masinis bisa dikurangi. Pola onboard monitoring system yang mengandalkan sinyal dan komunikasi radio dua arah itu sudah kuno,” tegas Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Danang Parikesit kepada Koran Jakarta, Minggu ( 3/10).

Dijelaskannya, meningkatkan sistem keselamatan itu akan membuat masinis lebih fokus pada menjalankan kereta. “Kalau pola selama ini dipertahankan, setiap ada kecelakaan bisa disalahkan pada masinis. Padahal, kondisi bekerja tidak mendukung dengan infrastruktur yang terbatas,” katanya.

Diungkapkannya, penerapan teknologi yang mendukung keselamatan itu sebenarnya sempat diusulkan pemerintah dalam anggaran 2011, namun karena pagu dipotong sebesar 300 miliar rupiah oleh DPR, maka tidak bisa direalisasikan. “Semoga adanya kejadian di Pemalang pada Sabtu (2/10) bisa membuka mata semua pihak,” katanya.

Masalah lain yang disorot MTI adalah perlunya  pengaturan rangkaian gerbong belakang kereta api untuk mengurangi dampak kecelakaan. “Sebaiknya ditempatkan gerbong barang bukan orang. Hal ini karena  tabrakan KA ternyata tidak selalu dari depan, tetapi bisa dari belakang seperti yang terjadi di Pemalang tersebut,” jelasnya.

Insiden
Terkait dua peristiwa kecelakaan kereta api yang berlangsung hampir bersamaan di Solo dan Pemalang, Jawa Tengah, Sabtu (2/10) dinihari, manajemen PT Kereta Api Indonesia (KAI) diminta untuk segera melakukan introspeksi dan evaluasi diri untuk meningkatkan kualitas pelayanan terhadap pengguna jasa, terutama yang terkait dengan faktor keselamatan operasi.

Hal itu mengingat kedua peristiwa yang menelan puluhan korban jiwa itu terkait dengan permasalahan operasional pengoperasian kereta api, dan terindikasi kuat akibat faktor kesalahan manusia.

”PT KAI harus melakukan introspeksi dan evaluasi dirinya terkait peristiwa ini. Peristiwa tabrak belakang yang lazim dengan sebutan “sodomi” ini peristiwa yang langka dan penyebabnya didominasi oleh kesalahan operasional pengoperasian kereta api oleh manusia, atau human error. Ada indikasi kuat pelanggaran sinyal dilakukan masinis KA Argobromo Anggrek,” ungkap Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Tundjung Inderawan.

Menurut Tundjung, introspeksi dan evaluasi diperlukan manajemen agar perusahaan tersebut bisa fokus pada upaya pelayanan penumpang. Salah satunya adalah terkait bagaimana menempatkan personel yang kompeten di bidangnya terkait operasional kereta api yang dijalani.

Tundjung juga meminta agar manajemen PT KAI tidak melulu mengorientasikan tugas negara yang diembannya pada wilayah bisnis semata sebagaimana layaknya perusahaan swasta.

Direktur Keselamatan dan Teknik Sarana Ditjen Perkeretaapian Hermanto Dwiatmoko menambahkan, mengacu pada pengalaman yang pernah terjadi, peristiwa tubruk belakang seperti yang dialami KA Argobromo Anggrek dan KA Senja Utama di Stasiun Petarukan Pemalang, maupun antara KA Bima dan KA Ekonomi Gaya Baru Malam Selatan di Stasiun Purwosari, Solo, mayoritas disebabkan oleh faktor kesalahan manusia (human error).

”Sekitar 90 persen peristiwa tubruk belakang itu karena human error. Karena pada saat kejadian, KA yang ditabrak sedang berada di stasiun, sementara KA yang menabrak seharusnya tidak masuk karena tertahan sinyal di belakang. Tetapi, entah karena apa dan bagaimana KA yang menabrak itu bisa masuk. Pada dua peristiwa ini ada dugaan kuat pelanggaran sinyal yang dilakukan masinis KA penabrak. Tetapi, itu sementara, kita akan selidiki lebih lanjut untuk memastikannya,” papar Hermanto.

Terkait hal itu, Hermanto diminta untuk selekasnya melakukan evaluasi, terutama terkait sumber daya manusia atau personel yang berada pada jajaran operasional. PT KA juga diminta meningkatkan kehati-hatian dan menambah porsi perhatiannya terhadap faktor-faktor yang berhubungan dengan keselamatan pengoperasian KA.

Menurutnya, jika  terkait dengan regulasi, sepertinya tidak ada persoalan. Undang-undang dan peraturan pemerintah sudah jelas dan detail menjabarkan. Semua tinggal bagaimana PT KAI mengimplementasikannya di lapangan. Misalnya, terkait masa kerja masinis maksimal 8 jam, dll. Pada jalur Jakarta – Semarang – Surabaya, biasanya masinis diganti di semarang untuk menghindari terjadinya kelelahan atau fatigue.

Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sudaryatmo mengungkapkan, terdapat dua hal penting yang harus diperhatikan yakni kompensasi yang harus diberikan kepada korban sesuai nilai kerugian. “Yang kedua, pasca kecelakaan harus ada pihak yang bertanggung jawab atas kecelakaan ini. Dalam konteks pidana, pertanggung jawaban sejatinya dilakukan oleh pihak korporasi,” katanya.

Pasalnya, lanjut Sudaryatmo, selama ini jika terjadi kecelakaan, urusan pertanggung jawaban pasti dilimpahkan ke petugas di lapangan.

“Terkait kecelakaan ini, sudah seharusnya diarahkan pada pertanggungjawaban secara korporasi, dimana pihak direksi yang harus bertanggung jawab. Hal ini pun dimungkinkan dalam UU Perlindungan Konsumen,” jelasnya.

Sedangkan Pengamat perkeretaapian dari Unika Soegijapranata Joko Setijowarno mengungkapkan, untuk mengetahui lebih jauh penyebab kecelakaan kereta api di Pemalang, bisa dilakukan pemeriksaan terhadap kondisi masinis melalui pengecekan sampel darah.

“Namun, yang lebih signifikan bisa dilakukan pengecekan terhadap rekaman pembicaraan di ruang PK/OC (pusat kontrol), sehingga bisa diketahui isi percakapan dan kondisi terakhir sesaat sebelum kejadian,” jelasnya.

Terkait sistem persinyalan, Joko mengakui, di jalur Pantura-Semarang, rata-rata telah menggunakan sistem elektrifikasi yang sudah moderen pengoperasiannya. “Di jalur ini sudah cukup bagus. Akurasi pun cukup tinggi, meski tidak menutup kemungkinan terjadi pelanggaran, karena tetap dioperasikan oleh manusia,” jelasnya.

Sebelumnya, KA Argobromo Anggrek tujuan Jakarta – Semarang – Surabaya menghantam KA Senja Utama dengan tujuan sama yang sedang berhenti di Stasiun Petarukan Pemalang, Jateng, Sabtu dinihari pukul 02.38 WIB. Sedangkan KA Bima tujuan Jakarta – Malang dan KA Ekonomi Gaya Baru Malam Selatan di Stasiun Purwosari, Solo, Jateng, pukul  02.31 WIB.

Hingga Sabtu siang, jumlah korban meninggal akibat kecelakaan di Pemalang tercatat mencapai hingga 42 orang dan puluhan lainnya mengalami luka berat dan ringan.  Sementara  akibat kejadian di Solo, satu penumpang meninggal dunia setelah dilarikan ke rumah sakit dan beberapa lainnya menderita luka.

Saat ini, penyidik pegawai negeri sipil (PPNS) yang bekerja sama dengan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) selaku pihak yang paling berwenang menyelidiki peristiwa kecelakaan ini sebagaimana ditegaskan UU Perkeretaapian No. 23/2007, masih mengumpulkan bukti dan fakta di lapangan.

Juru Bicara KNKT JA Barata  menyatakan, institusinya telah menurunkan dua tim untuk menyelidiki peristiwa kecelakaan kereta api tersebut.

Tim pertama yang dipimpin langsung Ketua KNKT Tatang Kurniadi, papar Barata, mengutus investigator Koensabdono, Kartomo, Sutjahjono, Edi Sasongko, Mumuh, Wahyudijantho, dan Marjono.

“Sementara investigator KNKT yang bertugas ke Purwosari adalah Purwanto, Whosep Muktamar dan Budiharjo,” jelas Barata. [dni]

041010 Pengusaha Kapal Tolak Wacana Open Registry

JAKARTA–Para pengusaha kapal menolak wacana pemberlakukan sistem registrasi terbuka pendaftaran kapal atau open registry untuk mengakali kurangnya armada domestik dalam rangka penerapan azas cabotage.

Open registry bagi Indonesia adalah sistem pendaftaran kapal berbendera Merah Putih yang sebagian sahamnya bisa dimiliki oleh badan usaha atau perseorangan asing sesuai dengan Daftar Negatif Investasi (DNI).

Berdasarkan aturan tentang daftar bidang usaha yang tertutup dan terbuka dengan persyaratan di bidang penanaman modal itu, kegiatan angkutan laut nasional dapat dilakukan oleh perusahaan joint venture antara badan usaha Indonesia dan asing dengan batasan kepemilikan modal asing maksimal 49 persen.

“Open registry justru membuka peluang bagi pengusaha asing untuk menguasai pelayaran lokal. Jika wacana itu dibiarkan berlawanan dengan  UU No.17/2008 tentang Pelayaran. Bahkan azas cabotage pun tidak membolehkan itu,” tegas Kabid Pengembangan Armada Indonesia National Shipowners Association (INSA) Ibnu Wibowo di Jakarta akhir pekan lalu.

Ditegaskannya, dalam azas cabotage dinyatakan untuk angkutan domestik harus dibawa oleh kapal berbendera Indonesia, diawaki dan investornya  anak bangsa juga. “Kalau wacana open registry itu dibiarkan hanya memberikan peluang usaha bagi para broker atau penilai. Padahal, jika pelayaran lokal dikuasai oleh investor dalam negeri ada multiplier effect yang benar-benar dirasakan sektor riil seperti industri galangan kapal yang bergairah dan lainnya,” jelasnya.

Ditambahkannya, sistem open registry saat ini hanya dianut oleh beberapa negara yang potensi maritimnya tidak terlalu besar, seperti Panama, Liberia, Somalia, Mauritus, Barbados, dan Bahama, yang menjadikan sistem itu hanya sebagai alat untuk menambah pendapatan negara dari sektor angkutan laut

Sedangkan Indonesia sebagai negara maritim sangat berpotensi mengembangkan bisnis pelayaran, misalnya dengan  membuka peluang bagi pelayaran lokal  untuk mengangkut barang-barang ekspor yang selama ini dikuasai oleh kapal asing.

Selama ini kapal-kapal asing menguasai 95 persen dari angkutan ekspor, sedangkan sisanya oleh kapal lokal. Total ekspor diperkirakan  550 juta ton dengan nilai mencapai 14,6 miliar dollar AS.

Diungkapkannya, untuk bisa menguasai 30 persen pangsa pasar angkutan ekspor, khususnya batu bara,  Indonesia membutuhkan 73 unit kapal  bulk carriers jenis handymax.

Direktur Utama PT Era Indoasia Fortune Paulis A. Djohan  menambahkan,  potensi pangsa muatan ekspor sangat menjanjikan sehingga sektor pelayaran nasional ditantang untuk merebutnya.

Dia menjelaskan selama ini potensi pangsa muatan ekspor dan impor dari Indonesia belum dioptimalkan karena untuk merebutnya dibutuhkan dukungan kebijakan pemerintah.

Dijelaskannya, jika kapal asing dibiarkan mengangkut angkutan ekspor maka pemerintah kehilangan penerimaan dari sisi pajak mencapai 78 juta dollar AS. “Ini karena konsep pembayarannya Freight on Board (FOB). Konsep ini hanya menguntungkan pembeli,” katanya.

Pelaut
Pada kesempatan lain, Kepala Badan Pendidikan dan Patihan Kementerian Perhubungan, Dedi Darmawan mengungkapkan, banyak perusahaan pelayaran asing yang berminat dengan pelaut lokal.

Dicontohkannya, sebanyak perwira 852 orang pelaut dari sekolah dan lembaga pendidikan pelayaran milik pemerintah yang diwisuda hanya 10 persen yang berkarya di perusahaan-perusahaan pelayaran di Indonesia.

Hal itu berujung pada  kekurangan perwira kapal yang saat ini jumlahnya mencapai 18.000  orang  hanya dipasok oleh sebagian kecil dan lulusan sekolah swasta.

“Saat ini, pasokan untuk pelaut lokal sebagian besar diambilkan dari sekolah dan lembaga pendidikan pelayaran swasta. Jumlahnya sekitar 500 an orang,” katanya.

Seperti diketahui jumlah pelaut asal Indonesia yang bekerja pada perusahaan pelayaran asing mencapai  80.000 orang-90.000, 10.000  di antaranya adalah perwira. Sementara yang ada di dalam negeri kurang dari setengahnya.

Berdasarkan catatan,  investasi kapal niaga di dalam negeri sepanjang 5 tahun terakhir meningkat signifikan menyusul penerapan asas cabotage yang menumbuhkan pangsa pelayaran nasional.

Nilai investasi pelaku usaha yang bergerak di sektor pelayaran nasional melalui pengadaan kapal baru maupun bekas itu diperkirakan naik lebih dari 54 persen  dibandingkan dengan catatan pada 2005.

Peningkatan investasi ini terutama ditunjukkan sektor angkutan lepas pantai (off shore) dan angkutan ekspor impor dengan volume muatan mencapai 500 juta ton per tahun. Besarnya investasi itu dihitung berdasarkan perkiraan nilai pembelian kapal  baik melalui impor maupun pembangunan di dalam negeri yang mencapai 3.268 unit dibandingkan dengan 2005 yang tercatat sebanyak 6.041 unit. Saat ini jumlahnya sudah mencapai 9.309 unit kapal atau terjadi penambahan sebanyak 3.268  unit kapal.[Dni]

041010 Wintermar Datangkan 6 Kapal Baru

JAKARTA—PT Wintermar Offshore Marine (Wintermar) pada semester II tahun ini mendatangkan enam unit kapal penunjang angkutan lepas pantai (off shore)  sebagai bagian dari strategi perseroan untuk memperkuat armada yang dioperasikan di dalam maupun luar negeri dengan kapal berusia lebih muda.

Sampai akhir Juni 2010, total kapal  Wintermar  mencapai 57 unit dengan rata-rata berusia 8 tahun. Enam unit  yang dibeli tersebut adalah kapal off shore berteknologi tinggi dan berukuran lebih besar dalam rangka mendukung kegiatan eksplorasi dan eksploitasi migas di Tanah Air.

Keenam kapal tersebut adalah jenis Fast Utility Vessel (FUV), Diving Support Vessel (DSV), dan Anchor Handling Tug (AHT). Harga per unitnya bervariasi antara  4 juta dan paling besar  15 juta dollar AS.

“Keenam kapal itu merupakan kapal baru,” ungkap Managing Director PT Wintermar Offshore Marine, Sugiman Layanto melalui keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu (3/10)

Dijelaskannya, pilihan untuk mendatangkan kapal-kapal baru dengan yang didukung teknologi lebih modern, canggih dan dengan ukuran lebih besar karena saat ini dan ke depan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi migas di Tanah Air semakin berkembang menyusul meningkatnya kebutuhan konsumsi migas di dalam negeri. Selain itu, kapal-kapal tersebut disiapkan untuk meningkatkan daya saing pada pangsa pasar di luar negeri karena perseroan memiliki target agar kapal-kapal tersebut juga bisa mengisi pasar di luar negeri.

“Perseroan pun dalam beberapa tahun terakhir sudah melepas kapal-kapal kecil dan kapal berusia tua. Kebijakan ini dilakukan karena kebijakan Wintermar adalah menyediakan kapal berusia muda ke pasar,” ungkap Sugiman.

Selain untuk merespon tuntutan pasar, pembelian enam unit kapal baru berteknologi tinggi itu sebagai bagian dari dukungan pelayaran terhadap kebijakan pemerintah tentang asas cabotage yang mewajibkan angkutan laut di dalam negeri wajib menggunakan kapal berbendera Merah Putih dan diawaki awak berkewarganegaraan Indonesia.

“Pasar offshore ke depan sangat cerah karena kegiatan eksplorasi dan eksploitasi migas di laut lepas semakin banyak sehingga kebutuhan kapal offshore padat teknologi dan besar meningkat. Pasar yang bagus juga didorong oleh kebijakan asas cabotage,” ujarnya.

Sebelumnya Sugiman mengungkapkan, jika kapal baru tersebut sudah datang nanti, Wintermar akan menggunakannya untuk mengikuti tender kapal pemasok kargo dan penumpang proyek migas lepas pantai. Dua perusahaan migas yang  sedang membuka tender adalah CNOOC untuk proyek di Teluk Jakarta dan Chevron di Balikpapan selama lima tahun.

“Tambahan armada ditargetkan bisa meningkatkan pendapatan kami 38 persen tahun depan. Dari target tahun ini  100 miliar menjadi 140 miliar rupiah tahun depan,” jelas Sugiman.

Wintermar sendiri dalam rangka menghadapi pesatnya perkembangan pasar offshore ke depan  merencanakan IPO pada November 2010. Perseroan sudah melakukan submit ke otoritas pasar modal. Saham  yang dilepas ke publik sebanyak  25 persen dengan target perolehan dana dari IPO 350 miliar-400 miliar rupiah.

Underwriter yang dipilih adalah Ciptadana, Bahana dan CIMB. saham perdana yang akan dilepas perusahaannya akan ditawarkan kepada peminat dari dalam dan luar negeri dengan porsi masing-masing sekitar 12,5 persen.

Dana hasil IPO tersebut akan digunakan untuk membeli kapal-kapal baru yang lebih muda dan berteknologi tinggi serta berukuran lebih besar sesuai tuntutan pasar. Perseroan telah merencanakan untuk melanjutkan pembelian kapal-kapal baru pada 2011 mendatang. Sedangkan total aset yang dimiliki oleh perusahaan ini mencapai 130 juta dollar AS.[dni]

021010 Distribusi Terganggu, Listrik Bandara Soetta Kembali Bermasalah

JAKARTA–Listrik di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) kembali bermasalah. Kali ini terjadi pada Jumat (1/10) dimana  listrik padam kembali sejak pukul 10.40 hingga 11.22 WIB.

Gangguan  disebabkan adanya masalah dalam sistem distribusi gardu induk Kosambi pada pukul 10.40 WIB. Padahal, gardu tersebut memasok listrik untuk bandara.

Direktur Utama AP II Tri S Sunoko menegaskan,  AP II dan PLN sudah bekerjasama  menangani masalah tersebut.

“Kami sudah bekerjasama dengan PLN. Mereka akan menanganinya,” ungkapnya di Jakarta,  Jumat (1/10).

Diungkapkannya, sesaat pasokan listrik bermasalah, sistem back up listrik bandara seperti genset maupun UPS bandara sudah berfungsi dengan baik. Cadangan listrik ini langsung mengambil beban sehingga operasional penerbangan, navigasi udara dan fasilitas di bandara lancar.

“Sampai sekarang kami masih mencari tahu penyebab gangguan tersebut,” katanya.

Untuk diketahui, belum lama ini.  AP II dan PLN barusaja meneken head of agreement (HoA) pengelolaan listrik di Bandara Soekarno Hatta.

Adanya kerjasama ini memungkinkan  PLN melakukan pendampingan pengelolaan kelistrikan di Soekarno-Hatta sampai level 3; yaitu sampai jaringan Tegangan Menengah (TM), genset yang terhubung pada JTM dan Main Power Station (MPS), genset serta Uniterupted Power Supply (UPS) untuk daerah prioritas.

Selama proses pendampingan tersebut, PLN akan melakukan beberapa tahapan aktifitas dan pekerjaan. Diantaranya tahapan assesment aset, tahap perbaikan dan penggantian peralatan terkait dengan hasil assesment. Disusul kemudian dengan tahapan assesment dan peningkatan pola operasi yang meliputi pendefinisian prioritas daerah layanan, persyaratan pasokan pada daerah sesuai definisi dan persyaratan sistem operasi secara umum di Soekarno-Hatta.

AP II berharap di masa depan mati atau tidaknya listrik di bandara Soekarno Hatta, operasi penerbangan harus tetap terjamin. Termasuk di dalamnya alat-alat listrik, X-ray, check in control, dan fasilitas penting di bandara harus tetap beroperasi.[Dni]

021010 GATF Targetkan Penjualan Rp 20 Miliar

JAKARTA— Ajang Garuda Indonesia Travel Fair (GATF) menargetkan mampu melakukan penjualan hingga 20 miliar rupiah dan meraup 35 ribu pengunjung. Jika target itu terealisasi maka ada kenaikan sebesar 42 persen dibandingkan penjualan 2010 sebesar 14 miliar rupiah dan naik 66 persen untuk pengunjung dibandingkan tahun lalu sebesar 21 ribu orang.GATF merupakan salah satu event terbesar pariwisata yang  diikuti oleh Garuda Indonesia Groups, travel agent, wholesalers dan retailers, hotel dan resorts, dan berbagai institusi yang terkait dalam industri pariwisata  menawarkan berbagai paket liburan dengan harga menarik baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Pada tahun ini GATF akan berlangsung tanggal 8-10 Oktober 2010, bertempat di Jakarta Convention Center. “Ajang ini merupakan bentuk dukungan Garuda Indonesia terhadap peningkatan pariwisata Indonesia dengan tujuan untuk meningkatkan minat dan memfasilitasi masyarakat untuk mengadakan perjalanan wisata sehingga perkembangan industri pariwisata nasional dapat terus meningkat. Dalam GATF kali ini kami akan menggandeng Bank Mandiri sebagai mitra Garuda Indonesia untuk kemudahan bertransaksi,” jelas Direktur Niaga Garuda Indonesia Agus Priyanto di Jakarta, Jumat (1/10). Senior Vice President Card Business Bank Mandiri, Handayani menyambut baik kerjasama dengan Garuda Indonesia  karena  memberikan kesempatan bagi pemegang kartu kredit Bank Mandiri untuk mewujudkan impian tujuan berwisata ke dalam dan luar negeri. “Khusus bagi pemegang kartu Mandiri Visa dan Master Card, dengan mengunjungi pameran ini, maka akan dapat menikmati penawaran menarik yaitu ‘No Surcharge’ dan ‘Program Cicilan 0 persen,”   tambahnya.Produk MandalaSecara terpisah, President Director Mandala, Diono Nurjadin mengungkapkan, Mandala, sebagai maskapai Indonesia bertarif murah meluncurkan tiga produk perjalanan yang inovatif agar penumpang mendapatkan pilihan lebih banyak lagi.  Ketiga produk itu adalah Qjump, 2nd Bag, dan MySeat.  Qjump dirancang untuk memenuhi kebutuhan penumpang yang capek mengantri. 2nd Bag merupakan produk inovatif yang dapat meringankan perjalanan. Sedangkan MySeat  membuat penumpang dapat memilih kursi yang mereka inginkan.    “Semua produk akan berlaku untuk rute internasional pada tanggal 1 Oktober.  Penumpang rute internasional kami, Singapore, Hong Kong dan Macau dapat merasakan produk inovatif ini.  Penumpang domestik dapat merasakan produk ini mulai 15 Oktober,” katanya.  Sementara itu, Senior Executive Vice President Marketing & Corporate Services Singapore Airlines (SIA) Bey Soo Khiang mengungkapkan, maskapainya berencana membuka penerbangan Singapura-Sao Paulo, Brazil pada Maret 2011. Penerbangan tersebut akan dilayani via Barcelona di Spanyol. Sao Paulo akan menjadi kota destinasi pertama maskapainya menuju Amerika Latin.”Kota terbesar di Brazil itu merupakan pusat seni dan hiburan serta memiliki pengaruh besar dalam bidang perdagangan dan keuangan di kawasan tersebut. Sehingga kami berniat untuk terbang kesana,” kata Bey  Penerbangan tersebut akan beroperasi antara Barcelona dan Guarulhos, Bandara International Sao Paulo berdasarkan perjanjian kerjasama codeshare dengan Spanair yang merupakan salah satu mitra SIA dalam Star Alliance. Kerjasama codeshare ini akan memfasilitasi penerbangan dari jaringan Spanair ke Sao Paulo melalui hub Barcelona.”SIA juga telah bekerja sama dengan  penerbangan-penerbangan domestik Spanair, yaitu antara Bacelona ke Bilbao, Madrid dan Palma Mallorca,” ujarnya. Amerika Latin merupakan benua keenam yang sudah dijangkau SIA melalui penerbangan-penerbangannya. SIA juga menjadi satu-satunya maskapai penerbangan yang menawarkan penerbangan langsung antara Asia Tenggara dan Brazil. Singapore Airlines saat ini melayani penerbangan yang menghubungkan Singapura dan Barcelona setiap hari, melalui Milan, Italia. Dengan adanya layanan baru tersebut, tiga penerbangan akan beroperasi secara non-stop menghubungkan Singapura-Milan-Barcelona, sementara empat penerbangan lainnya akan tetap melayani rute Singapura – Milan – Barcelona. Untuk memastikan bahwa baik Barcelona maupun Milan akan  dilayani tujuh kali per minggu, layanan penerbangan non-stop tiga kali seminggu rute Singapura-Milan akan segera diluncurkan.[dni]

021010 STPI Curug Investasi Rp 300 Miliar untuk Tingkatkan Kapasitas Lulusan

JAKARTA– Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug akan berinvestasi sebesar 300 miliar rupiah untuk meningkatkan kapasitas lulusannya guna mengantisipasi pertumbuhan industri penerbangan.

Kepala Badan Pengembangan SDM Perhubungan Kemhub Dedi Darmawan mengungkapkan, untuk pembangunan infrastruktur dan investasinya dilakukan bertahap.

“Mulai tahun ini dibangun jalan, listrik, pasokan air dengan perumahan dosen. Sementara tahun depan, Pemerintah menganggarkan sekitar  300 miliar rupiah untuk infrastruktur lain diluar pengadaan 18 pesawat latih baru,” jelasnya di Jakarta, Jumaat, (1/10).

Diharapkannya, membaiknya infrastruktur akan membuat sekolah mampu menghasilkan  95 calon pilot tahun depan.

Infrastruktur yang akan dibangun laboratorium teknik pesawat udara, laboratorium air workshop navigasi udara terpadu, labotarium engineering, labotarium ATC and APP, mendatangkan simulator Boeing 737 Next Generation dan Airbus A320 sampai membuka area latih baru di Semarang.

Sedangkan untuk pesawat latih dilakukan tender  mendatangkan 18 pesawat latih baru dengan harga per unit pesawat  2 miliar rupiah.

“Saat ini Curug mampu menghasilkan 70 pilot per tahun, nah mulai tahun depan sekolah itu sanggup menghasilkan 95 pilot. Target Pemerintah pada 2012 sekolah itu bisa menghasilkan 200 pilot per tahun,” katanya.

Diungkapkannya,    untuk merekrut pilot dari STPI Curug, maskapai harus menggantikan biaya sekolah masing-masing pilot yang sebelumnya dibiayai negara sebesar  500 juta rupiah  per pilot dengan menyetorkannya ke kas negara.

Selanjutnya Dedi memastikan, sebanyak 25 pilot lulusan STPI yang diwisuda terpadu perwira perhubungan yang dilantik  oleh Menteri Perhubungan Freddy Numberi pada Rabu (28/9) telah mendapatkan ikatan dinas dengan Garuda.

“Mereka akan dididik kembali oleh Garuda selama beberapa bulan  untuk mendapatkan izin  untuk mengawaki pesawat,” katanya.[Dni]