300910 Registrasi Prabayar: Solusi Mendapatkan Pelanggan yang Solid

Saat ini Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang memiliki tingkat penetrasi kartu SIM yang tinggi. Diperkirakan penetrasi telah mencapai angka 80 persen dari total populasi melalui 11 operator.

Negeri ini memiliki  11 operator yang memegang lisensi  seluler dan  Fixed Wireless Access (FWA). Kesebelas operator itu adalah Telkomsel, Indosat, XL Axiata, Natrindo Telepon Seluler (Axis), Hutchison CP Telecom (Tri), Mobile-8 Telecom (Fren), Smart Telecom (Smart), Bakrie Telecom (Esia), Telkom (Flexi), Sampoerna Telecom Indonesia (Ceria), dan Batam Bintan Telecom (BBT).

Komposisi pelanggan terbesar masih dikuasai Telkomsel dengan 91 juta, Indosat 37,7 juta, XL 35,2 juta, Flexi 16,2 juta, Esia 11,1 juta, Axis 7,5 juta, Tri 7,5 juta, Mobile-8 2,5 juta, Smart 3 juta, dan sisanya Ceria dan BBT.

Di tengah tingginya penetrasi, muncul fenomena tidak sehat yakni  tingkat perpindahan pelanggan (churn rate) antaroperator yang  sangat tinggi dibandingkan dengan negara lain.  Diperkirakan churn rate  mencapai 13 persen per bulan atau 156 persen dalam waktu setahun.  Sedangkan di luar negeri hanya sekitar 2-3 persen. Fenomena ini jika dibiarkan merugikan industri telekomunikasi.

Registrasi
Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi mengatakan, sebenarnya ada solusi yang ampuh untuk menekan churn rate dan dilindungi regulasi yakni mengoptimalkan registrasi prabayar oleh operator.

“Produk prabayar menguasai 95 persen pangsa pasar pelanggan. Sayangnya, walau sudah ada  Peraturan Menteri  Komunikasi dan Informasi No.23/M.KOMINFO/10/2005 tentang Registrasi Terhadap Pelanggan Jasa Telekomunikasi, hingga sekarang belum optimal dijalankan baik oleh operator atau pelanggan,” katanya di Jakarta, Rabu (29/9).

Untuk diketahui, proses registrasi telah ditetapkan oleh pemerintah  mulai Oktober 2005. Lalu dalam waktu enam bulan pemerintah meminta para operator telekomunikasi meregistrasi pelanggan prabayarnya yang total kala itu berjumlah 58 juta nomor.

Menyadari tidaklah mudah menyiapkan infrastruktur dan mengedukasi pelanggan, pemerintah pun tidak mau ngotot. Apalagi, dalam program ini membuat operator mengeluarkan investasi tambahan membeli server. Pengunduran  jadwal menjadi pilihan yakni akhir September semua nomor harus sudah terdaftar. Dan  ketika waktunya datang,  terpaksa  9,34 persen nomor dari total 58 juta nomor atau sama dengan  5,4 juta nomor dihanguskan.

Seiring berjalannya waktu, program ini seperti berjalan di tempat karena hingga saat ini diperkirakan hanya 6 persen dari total nomor prabayar yang dijamin validitasnya setelah melalui proses verifikasi.

Dijelaskannya, kendala yang ditemukan di lapangan dalam implementasi program ini adalah rendahnya validitas data kala registrasi hal itu terlihat dari bisa digunakannya layanan telekomunikasi walau pelanggan memasukkan data secara asal-asalan. ”Sekarang menjadi timbul pertanyaan, apakah program registrasi yang dijalankan sekarang masih perlu atau butuh revisi. Apalagi operator selama ini rendah komitmennya dalam melaporkan data pelanggan secara berkala,” katanya.

Padahal, menurutnya, tujuan dari program ini sangat mulia. Ditilik dari sisi pemerintah dari data yang valid bisa menjadi bahan untuk menentukan kebijakan misalnya dalam alokasi penomoran. Bagi operator bisa mendapatkan profil pelanggan sehingga bisa membuat program pemasaran yang tepat dan berujung pada  churn rate  nan rendah. Sedangkan pelanggan sendiri bisa mendapatkan jaminan memiliki nomor yang sama kala kehilanggan ponsel.

Kendala
Legal and Public Complain Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sularsi mengungkapkan, tidak jalannya registrasi prabayar karena rendahnya komitmen operator dan belum adanya acuan data yang  seragam dari pemerintah.

”Operator terjebak dalam pertarungan mencari pelanggan sebanyak-banyaknya sehingga menurunkan hambatan membeli kartu perdana baru, apalagi ada indikasi mereka menjemput bola melakukan validasi data. Sedangkan pemerintah hingga sekarang belum ada data nasional kependudukan yang valid seperti Single Identity Number (SIN). Selama dua ini tidak ada, bagaimana mau jalan program itu,” katanya.

Menurutnya, pemerintah perlu memberikan regulasi yang lebih kuat bagi operator dalam menjalankan validasi karena selama ini operator terkesan takut untuk memblokir nomor pelanggan yang memberikan data asal-asalan.

”Operator berpegang pada aspek teknis di server. Jika main blokir nanti khawatir dituntut pelanggan. Ada baiknya regulasi tentang registrasi itu direvisi dengan memasukkan konsep reward dan punishment,” katanya.

Anggota Komite BRTI Iwan Krisnandi mengakui regulasi untuk registrasi prabayar tidak begitu solid sehingga ada celah yang bisa dimanfaatkan operator. Misalnya membiarkan kartu prabayar diaktifkan oleh penjual di lapak karena tidak mau nomor hangus.

”Membenahi registrasi prabayar berarti juga harus memperbaiki distribusi penjualan. Sebaiknya kartu perdana dijual di gerai resmi operator saja. Tingkatan pengasong cukup untuk isi ulang pulsa,” katanya.

Secara terpisah, Sekjen Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Dian Siswarini mendesak pemerintah menyediakan database penduduk secara online yang menjadi acuan operator untuk validasi. ”Di negara maju ada acuan untuk nomor penduduk, di Indonesia ada banyak. Jangan dipertanyakan kalau data dimasukkan asal-asalan diverifikasi, kita kan pakai sistem. Jika menurut sistem sudah benar, tentu dibiarkan menggunakan layanan,” katanya.

Pengamat telekomunikasi Guntur S. Siboro menegaskan, jika registrasi diharapkan sebagai alat untuk mengetahui profil pelanggan atau mencegah penyalahgunaan jasa telekomunikasi hal itu sulit dilakukan. ”Registrasi itu hanya alat untuk mendapatkan nomor yang sama bagi pelanggan, itu kalau mengisi dengan jujur,” ketusnya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s