280910 Operator Medioker Tawarkan Layanan Baru

JAKARTA—Dua operator medioker menawarkan layanan baru untuk memanjakan pelangganya. Kedua operator itu adalah Axis dan Tri yang masing-masing memiliki 6,5 j dan 8,5 juta pelanggan.

Axis menawarkan  program  Juara Nelpon Rp 0, sedangkan Tri meluncurkan fitur Value Added Services (VAS) radio dan voice chatting.

Chief Marketing Officer Axis Eric Mallia mengungkapkan, melalui program terbaru itu  para pelanggan akan menikmati layanan telepon 0 rupiah per menit ke semua operator, sepanjang hari, setiap hari, setelah pemakaian minimum 100 rupiah.

” Kami melihat pelanggan seringkali ragu untuk melakukan panggilan telepon karena biaya panggilan telepon lintas operator yang mahal, adanya syarat dan kondisi tertentu  yang tersembunyi. Melalui program ini  pelanggan  tidak perlu repot lagi membawa banyak  kartu SIM  untuk mendapatkan harga terbaik,” katanya di Jakarta, Senin (27/9).

Sementara Chief Commercial Officer Tri Suresh Reddy mengungkapkan,  Voice Chatting dan Tri-Radio sangat cocok  bagi pelanggan  yang menggemari musik dan mencari teman.

Dijelaskannya, Tri-Radio merupakan layanan musik berbasis Interactive Voice Response (IVR)  yang memungkinkan pelanggan mendengarkan musik secara lengkap atau full track layaknya mendengarkan radio. Pelanggan cukup menghubungi 369 dan ikuti petunjuknya. Tarif layanan ini adalah  300 rupiah menit (belum termasuk PPN).

Sedangkan  Voice Chat adalah layanan yang memungkinkan pelanggan untuk berhubungan dengan banyak pihak namun dapat tetap merahasiakan identitas diri mereka masing masing, sehingga Voice Chat tetap berjalan selayaknya aktivitas chatting.

Mekanisme layanan ini sangat mudah. Pelanggan cukup menghubungi nomor 121, lalu pelanggan akan di pandu oleh menu suara untuk cara akses beragam fitur layanan ini yang meliputi ngobrol langsung (Direct Talk), mengirim dan mendengarkan pesan, mengirim lagu dari daftar lagu yang tersedia disertai pesan pribadi ke teman,  merekam data profil dan menyimpannya, mendengarkan profil teman yang dipilih.

Untuk berlangganan Voice Chat dan mengakses semua fiturnya dikenakan biaya Rp seribu rupiah per minggu  dan  399 rupiah per menit saat menghubungi 121.

Layanan serupa milik Tri ini telah lebih dulu diperkenalkan oleh Telkom Flexi melalui Flexi Radio dan Flexi Ngroompi. Sedangkan untuk tarif murah ala Axis bisa dikatakan jawaban dari operator ini atas penawaran milik Tri yang menawarkan tarif 99 rupiah per menit untuk lintas operator.[dni]

290810 First Media Tak Gentar IP-TV Telkom

JAKARTA—Penyedia akses TV kabel berbayar dan internet, First Media, tidak gentar dengan langkah Telkom yang akan menawarkan layanan Internet Protocol TV (IP-TV) mulai Oktober nanti.

IP-TV adalah layanan televisi layaknya penyiaran biasa, namun jaringannya berbasis kepada internet protocol (IP). Keunggulan layanan ini adalah pelanggan bisa menentukan kapan menonton jadwal siaran yang disukainya, disamping adanya home shopping.

“Kami tidak gentar dengan IP-TV. Sejauh yang kami tahu di pasar saat ini First Media paling kompetitif dari sisi harga dan teknologi. Jika memang ada teknologi baru yang dianggap kompetitif, tentu akan dipelajari,” ungkap Presiden Direktur First Media, Hengkie Liwanto di Jakarta, akhir pekan lalu.

Diungkapkannya, saat ini konsentrasi perseroan adalah menyediakan  siaran berbasis high definition (HDTV) mulai akhir 2010 ini seusai merampungkan uji coba (trial) kepada 5.000 pelanggan.

Dalam uji coba HDTV, First Media menggandeng penyedia konten ESPN dan HBO. Namun dalam beberapa bulan ke depan, sebelum peluncuran, jumlah penyedia konten akan ditambah menjadi 12 channel. Rencananya, dalam jangka waktu tiga tahun ke depan, layanan channel televisi yang menggunakan HD dari First Media bisa mencapai seratus channel.

Investasi yang disiapkan dalam waktu tiga tahun mengembangkan HDTV  sekitar  50  sampai  75 juta dollar AS dimana salah satu agenda adalah meningkatkan  ekspansi pasar dari 500 ribu home pass menjadi coverage satu juta pelanggan. Sedangkan saat ini  First Media memiliki 350 ribu pelanggan.

Deputy Director Strategic Business Development First Media Marcelus Ardiwinata menambahkan, walau untuk Video on Demand (VoD) secara sistem sudah siap pada  Desember tahun ini, namun belum diluncurkan karena masih menunggu kesiapan konten lokal.

Dijelaskannya, untuk menyediakan kualitas gambar yang baik dibutuhkan bandwidth dedicated 12 Mbps untuk untuk HDTV dan 8 Mbps khusus VoD.  “Setiap area kami memiliki delapan kanal dengan kapasitas masing-masing kanal 40 Mbps. Sehingga total bandwidth yang kami sediakan ada 320 Mbps. Cukup besar untuk melayani HDTV dan VoD,” jelasnya.[dni]

280910 Tender SIMM-LIK Segera Digelar

JAKARTA—Kementrian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) tengah mempersiapkan tender  Sistem Informasi Manajemen dan Monitoring Layanan Internet Kecamatan (SIMM-LIK) untuk mendukung hadirnya Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK) yang tengah dibangun oleh beberapa perusahaan.

“Setelah tender PLIK diselesaikan dan tengah diselesaikan pembangunan, sekarang masuk pada tahap kedua yakni SIMM-LIK. Saat ini sedang direvisi regulasinya dan diperkirakan pada Oktober nanti tendernya digelar oleh Balai Telekomunikasi dan Informatika Pedesaan (BTIP),” ungkap Juru Bicara Kemenkominfo Gatot S Dewo Broto di  Jakarta, Senin (27/9).

Direktur Utama Lintasarta Samsriyono Nugroho mengharapkan, tender SIMM-LIK secepatnya digelar karena memegang peranan penting dalam penyelenggaraan PLIK. “Kami sudah selesai membangun PLIK  1,5 bulan lebih cepat di Bali, Nusa Tenggara, dan Nusa Tenggara Timur yang meliputi 428 kecamatan. Namun, itu baru sebatas infrastruktur karena akses internet dan SIMM-LIK belum ada. Sementara masyarakat sudah tidak sabar menggunakannya,” katanya.

Dijelaskannya, selain SIMM-LIK hal lain yang harus secepatnya ditender adalah port internet yang menyambungkan link ke bandwidth internasional. “PLIK ini kan semua dibawah BTIP, baik sistem jaringan dan konten. Jadi, kami tidak bisa mengaktifkan tanpa supervisi BTIP,” katanya.

Menurutnya, peluang pemenang tender PLIK dalam lelang SIMM-LIK akan lebih besar ketimbang pelaku usaha lainnya karena konfigurasi sistem jaringan adalah milik para pemenang. “Tetapi tidak tertutup juga kemungkinan yang menang nantinya bukan peserta PLIK. Hal ini karena dalam PLIK itu menetapkan penggunaan jaringan ada spesifikasi teknis dan semua bisa menyesuaikan. Apalagi bahasa mesin itu standar,”katanya.

Berdasarkan catatan, pemenang tender PLIK adalah  Telkom, Jastrindo Dinamika, Sarana Insan Muda Selaras, serta Aplikanusa Lintasarta. Dalam pembangunan PLIK sendiri beredar isu tak sedap dimana  masyarakat yang ingin  memanfaatkan Layanan Internet Kecamatan di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Jawa Timur mengeluh karena disuruh membayar 10 juta rupiah untuk mengaktifkan jasa yang dibiayai oleh dana USO. Diduga ini ulah subkontraktor yang disewa pemenang untuk pembangunan karena SIMM-LIK dan port internet sendiri belum ada.[dni]

280910 Tarik Menarik Standar Akses

Indonesia memang sasaran  empuk bagi pemilik teknologi dan perangkat. Jika untuk perangkat, seperti Ipad atau Blackpad  Indonesia terkesan akomodatif, tidak demikian bagi teknologi baru.

Lihatlah tarik menarik yang terjadi antara pemenang tender Braodband Wireless Access (BWA) dengan regulator. Pemerintah atas semangat menumbuhkan manufaktur dalam negeri menginginkan teknologi 4G Worldwide Interoperability for Microwave Access (Wimax) menggunakan standar Nomadic (16d), sementara para pemenang lebih condong ke  802.16e (16e)  untuk Mobile dan Nomadic Wimax.

Saat ini sudah ada dua pemenang yang memberikan sinyal akan melakukan komersial tak lama lagi.  First Media sebagai pemenang lisensi BWA untuk area Jabodetabek dan Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) menanamkan investasi sebesar 350 juta dollar AS hingga 10 tahun ke depan untuk mengembangkan Sitra. Komersial pertama akan dilakukan di Jabodetabek pada Oktober nanti.  Hingga kini perseroan  membangun  sekitar 90  BTS. Ditargetkan pada tahun pertama ada  100 ribu pelanggan yang diraih.

Sementara Berca mengalokasikan anggaran sebesar 500 juta dollar AS untuk biaya capital expenditure (capex) dan operational expenditure (opex) guna  mengembangkan jaringan layanan Wimax di 24 kota di Indonesia. Anggaran itu akan dialokasikan untuk menyiapkan berbagai keperluan yang dibutuhkan mulai dari back office, billing system, customer support, sewa menara hingga infrastruktur base station.

Pada pertengahan 2009 lalu, Berca memenangkan e-auction Broadband Wireless Access (BWA) dengan mayoritas lebar pita 30 MHz di 8 zona wilayah yang mencakup daerah-daerah luar Jawa, antara lain Sumatera, Kalimantan, Sulawesi bagian Selatan, Bali dan Nusa Tenggara.

WiGO rencananya  mulai diluncurkan di Medan dan Balikpapan pada Oktober 2010, selanjutnya di tahun ini juga menyusul Batam, serta kota-kota besar lain di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara, pada 2011 mendatang. Ditargetkan ada sejuta pelanggan yang menggunakan WiGO hingga 2011 mendatang.

Hal yang menjadi masalah adalah, kedua perusahaan dikabarkan belum membeli perangkat ke perusahaan lokal yang memiliki Type Approval (TA) standar 16d yakni  PT Teknologi Riset Global (TRG) dan PT Hariff Daya Tunggal. First Media dikabarkan menggunakan perangkat milik perusahaan terafiliasi dengan Alvarion dari Israel yakni Alvaritek, sedangkan Berca memakai  perangkat dari China milik  ZTE.

Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) sendiri mencoba mencari jalan keluar dengan mengakomodasi  permintaan penambahan spektrum kanalisasi menjadi 5 Mhz dan 10 Mhz termasuk guardband, yang diajukan beberapa operator BWA.  Jika permintaan itu diluluskan, angin berbalik mendukung standar 16e karena penambahan kanal sama saja mengakui digunakannya standar itu. Ditengarai langkah BRTI ini sebagai dampak bertemunya penyedia perangkat 16e dengan  Wakil Presiden Boediono seusai lebaran lalu.

Namun, dipastikan tarik-menarik akan terus terjadi karena Ditjen Postel sendiri melalui Direktur Standarisasi Azhar Hasyim bersikukuh pada regulasi yang ada. “Kami tidak akan mengeluarkan sertifikat Uji Laik Operasi (ULO) bagi Berca jika perangkatnya tidak sesuai standar,” tegasnya.

Di BRTI sendiri suara juga tidak solid. Anggota Komite Heru Sutadi menilai tidak mudah mengadopsi standar baru jika pemain lokal tidak semuanya siap. “Kalau hanya satu pemain yang ada nanti ribut lagi. Sejauh ini kami baru tahap mengaji kemungkinan dan masih berpegang pada dokumen tender,” tegasnya.

Suara lebih keras dilontarkan oleh Telkom sebagai salah satu pemenang tender yang mengancam akan menuntut regulator jika standar diubah. “Kala tender dulu sudah sepakat pakai standar nomadic. Jika main ubah ditengah jalan, ini mengubah kalkulasi bisnis. Ini preseden buruk bagi kepastian investasi,” tegas Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmasnsyah. Kalau sudah begini, akankah Wimax hadir bulan depan? kita tunggu saja.[dni]

280910 Berpacu di Pasar Tablet

Suksesnya Apple Inc memasarkan komputer tablet melalui produk Apple Ipad belum lama ini menggoda pesaingnya untuk ikut mencicipi pasar komputer yang identik dengan layar sentuh tersebut. Tercatat, dalam kuartal pertama kehadirannya, Ipad telah terjual sebanyak 3,27 juta unit.

Pemain yang serius ingin menantang Apple adalah Samsung dengan  Galaxy Tab. Tak tanggung-tangung, kabarnya disiapkan dua versi yakni Tab dengan layar 7 dan 10 inch.

Perangkat tablet 10 inch itu nantinya akan dirilis pada paruh pertama 2011 dan datang bersama V8 Javacripst Engine. Rencananya tablet ini akan berjalan dengan OS Android Gingerbread (3.0) atau OS Android terbaru, Honeycomb. Dengan mengusung layar 10 inch, tentunya akan memiliki resolusi layar yang lebih tinggi dari 1024 x 600.

Para pengamat berharap perangkat tersebut  menjadi tablet pertama yang  berfitur HD Ready. Namun masih belum jelas apakah perangkat anyar ini akan dipamerkan pada acara Consumer Electronics Show 2010 di Las vegas, Amerika serikat atau akan bebarengan dengan peluncuran iPad baru.

Sedangkan untuk  Galaxy Tab 7 Inch seharusnya sudah bisa diluncurkan jika masalah dengan sejumlah aplikasi Android terselesaikan.

Kabarnya, resolusi layar Galaxy Tab 7 yang mencapai 1024 x 600 tidak dapat menjalankan beberapa aplikasi yang ada di Android Market dengan sempurna. Sebab, aplikasi bersangkutan hanya bisa tampil pada resolusi maksimal 800 x 400.

Masalah tersebut muncul karena memang Android sesungguhnya didesain untuk perangkat smartphone. Pihak Google baru-baru ini menjelaskan bahwa OS Android sesungguhnya memang tidak dioptimalkan untuk perangkat tablet. Khususnya Android 2.2 atau Froyo ditujukan terutama untuk layar ukuran kecil, bukan layar sebesar tablet.

Jika Samsung sedang dipusingkan  dengan masalah teknis, Research In Motion (RIM) tiba-tiba menyodok dengan rencana meluncurkan BlackPad pekan ini. RIM dikabarkan meminta  Quanta Computer Inc dari Taiwan untuk membuat dan merancang BlackPad. Sedangkan untuk chip ditunjuk Marvell Technology Group Inc sebagai mitra.

Kabar beredar mengatakan  perangkat ini mengusung BlackBerry OS 6, memiliki layar 7 inch, dilengkapi kamera, tersedia akses Bluetooth, Wi-FI, dan digadang-gadang mampu melakukan layanan video conference.  Harganya juga akan dipatok di kisaran yang sama dengan milik Apple Ipad  yakni mulai dari  499 dollar AS.

Pemanasan dari hadirnya BlackPad untuk di Indonesia terlihat dengan hadirnya BlackBerry seri Torch yang  memiliki layar sentuh capacitive dengan kemampuan multi touch. Inovasi ini membuat  pengguna bisa melakukan gerakan seperti flick dan pinch seperti di Ipad.

BlackBerry Torch juga perangkat pertama yang menggunakan sistem operasi BlackBerry OS 6. Beberapa kemampuannya  adalah sinkronisasi via WiFi dan halaman terpadu untuk social media.

Meraba
Para mitra RIM di pasar lokal pun menunjukkan minatnya untuk memasarkan Blackpad walau hingga saat ini belum ada informasi detail dari perusahaan asal Kanada  yang telah membuka kantor di Indonesia atas nama PT Research In Motion Indonesia itu

“Kalau Torch kami memang akan pasarkan. Tahap pertama akan diambil sebanyak lima ribu unit. Per 8 Oktober nanti akan dijual. Untuk BlackPad dilihat dulu informasi detailnya,” ungkap VP Channel Management Telkomsel Gideon Edi Purnomo kepada Koran Jakarta, belum lama ini.

Group Head Vas Marketing Indosat Teguh Prasetya menegaskan selain menjual lima ribu unit Torch, pasti akan menjual Blackpad. ”Perangkat itu akan menjadi cerminanan dari keunggulan layanan BlackBerry mengakses data. Jika harga yang ditawarkan tepat, bisa jadi Ipad akan terlewati,” katanya.

GM Mobile Data Channel Services XL Handono Warih mengakui, untuk Torch memiliki pasar yang menjanjikan karena dari sisi model eksklusif dan sistem operasi yang baru. “BlackPad masih diragukan apalagi untuk masuk Indonesia karena ini strategi RIM merusak pasar Ipad yang telah resmi hadir di pasar global. Kalau masuk Indonesia masih agak lama. BlackPad akan sukses jika RIM bisa menghadirkan konten yang bervariasi,” jelasnya.

VP Distribusi dan Penjualan Axis Syakieb Sungkar memperkirakan jika BlackPad murni digunakan sebagai komputer,  ada kemungkinan tarif berlangganan layanan berbeda dengan smartphone BlackBerry. “Soalnya akan lebih haus data untuk mengakses konten. Secara prinsip kami ambil Torch dan Blackpad. Masalahnya, untuk Blackpad ini belum ada informasi detail. Jadi kita meraba-raba,” katanya.

Pada kesempatan lain, Praktisi Telematika Faizal Adiputra mengatakan, Blackpad masih akan susah berkompetisi dengan Ipad. “BlackPad itu segmennya pengguna BlackBerry. Persaingan justru akan terjadi antara pengguna tablet Android dan BlackBerry,” katanya.

Sedangkan untuk harga berlangganan layanan akses BlackPad, Faizal menyakini akan sama dengan smartphone BlackBerry karena keunggulan teknologi RIM pada kemampuannya mengkompresi data.
Sementara Praktisi Telematika lainnya, Raherman Rahanan menyakini pertempuran di komputer tablet adalah milik sistem operasi android dan Apple. “Para penggemar Android sedang menanti Samsung Galaxy Tab. Jika Apple tidak mengubah strategi eksklusif konten, maka android akan melibasnya. Apalagi secara kualitas layar, Samsung lebih menjanjikan,” katanya.

Secara terpisah, Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indoensia (BRTI) Heru Sutadi meminta masyarakat menggunakan perangkat yang telah disertifikasi oleh pemerintah. “Hingga saat ini Ipad belum resmi masuk Indonesia, tetapi sudah banyak yang menggunakan. Nah, kalau ada kerusakan, siapa yang melayani purna jual,” katanya.

BRTI sendiri, lanjutnya, menyambut gembira langkah RIM yang akhirnya membuka kantor perwakilan di Indonesia dan diharapkan selanjutnya dengan membangun server lokal. “Dua itu menjadi perhatian kami karena akan dikuti dengan kewajiban dari perusahaan itu membayar kewajiban Universal Service Obligation (USO) dan Biaya Hak Penyelenggaraan (BHP),” jelasnya.[dni]