270910 Telkom Dapat Anugerah Peduli Pendidikan

JAKARTA—PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) mendapatkan penghargaan Anugerah Peduli Pendidikan dari Kementrian Pendidikan Nasional atas peran serta aktif perseroan  dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.

“Kami berterima kasih usaha Telkom mengembangkan dunia pendidikan melalui kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) ternyata diperhatikan oleh pemerintah. Penghargaan ini menjadi semangat bagi Telkom untuk terus melakukan hal serupa di masa depan,” kata  Direktur Human Capital & General Affair (HCGA) Telkom Faisal Syam di Jakarta, akhir pekan lalu.

Dikatakan, sejak lama Telkom  menyadari pendidikan sebagai elemen kunci bagi kemajuan suatu bangsa. Itu sebabnya, perseroan memiliki Yayasan Sandhykara  Putra Telkom (YSPT) yang mengelola tak kurang dari 46 lembaga pendidikan mulai tingkat TK, SD, SMP, SMA, SMK, hingga Akademi yang tersebar di berbagai kota di Indonesia serta Yayasan Pendidikan Telkom (YPT) yang mengelola tiga lembaga pendidikan tinggi yaitu Institut Teknologi Telkom, Institut Manajemen Telkom, dan Politeknik Telkom.

Dijelaskannya, kebijakan program  CSR  di sektor pendidikan diarahkan untuk mengambil peran dan menjadi bagian dari upaya membangun masyarakat yang cerdas dan kreatif.  Untuk mewujudkan komitmen tersebut, perseroan mengembangkan berbagai program strategis di bidang pendidikan yang berkelanjutan, antara lain: Internet Goes to School, e-Learning, Smart Campus, Bagimu Guru Kupersembahkan, pembangunan Broadband Learning Center (BLC) termasuk di pulau-pulau terluar seperti Pulau Sebatik, Santri indigo, Kreasi Konten dan Aplikasi, Program Cooperative Education (COOP) dan lain-lain.[dni]

270910 Azas Cabotage Jangan Ditunda

JAKARTA—Pemerintah diminta jangan menunda penerapan azas cabotage untuk memberikan peluang bagi pengusaha pelayaran lokal  menggarap bisnis angkutan laut.

“Tidak ada alasan dari pemerintah dalam hal ini Kementrian Perhubungan (Kemenhub) untuk menunda penerapan azas cabotage sesuai jadwal. Pengusaha lokal sudah siap menjalankannya,” tegas Anggota komisi V DPR RI dari Fraksi PKS, Yudi Widiana Adia di Jakarta, akhir pekan lalu.

Azas cabotage adalah ketentuan muatan domestik diangkut kapal-kapal berbendera nasional. Azas ini berlaku untuk  kapal-kapal jenis cair dan lepas pantai pada  tahun 2010 dan 2011.

Pada 2005, pemerintah mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) No.5 tahun 2005 tentang Pemberdayaan Industri Maritim Nasional. Sejak saat itu, industri pelayaran nasional berkembang pesat. Jumlah armada niaga nasional sudah mendekati angka 10.000 unit atau tumbuh lebih dari 50 persen dibandingkan dengan 2005 yang angkanya baru sekitar 6.000 unit

Ketua Bidang Angkutan Lepas Pantai Indonesian National Shipowners Association (INSA) Sugiman Layanto mengungkapkan,  khusus untuk pasar kapal lepas pantai (Off shore) yang rencananya akan berlaku azas cabotage pada akhir tahun ini,  di Indonesia  diperebutkan oleh 500 kapal milik banyak perusahaan. Dimana 63 perusahaan  diantaranya merupakan perusahaan asing.

“Secara jumlah perusahaan asing itu kecil jumlahnya, tetapi mereka  mengantongi 60 persen  total pendapatan kapal lepas pantai di Indonesia sebesar satu miliar dollar AS per tahun,” ungkapnya.

Pria yang juga menjadi Direktur Utama PT Wintermar itu menjelaskan masih besarnya penguasaan kapal berbendera asing di sektor off shore karena kapal berbendera Indonesia hanya menguasai armada berskala kecil. Kapal-kapal berbendera asing banyak menguasai armada berskala besar jenis FSO, FPSO, rig, yang nilai sewanya menembus 500 ribu dollar AS per hari.

“Kapal berbendera Indonesia belum banyak yang masuk ke sana. Kendala lainnya adalah dari perusahaan minyak belum percaya pada angkutan lokal. Sejauh ini baru Pertamina yang tinggi komitemennya mendukung azas cabotage,” katanya.

Diungkapkannya,  untuk memenuhi kebutuhan armada nasional sesuai tenggat waktu pelaksanaan asas cabotage  secara penuh pada 1 Januari 2011, pelaku usaha pelayaran terus melakukan pengadaan kapal.

PT Wintermar misalnya,  berencana mendatangkan tiga jenis kapal sebanyak 12 unit. Yaitu Platform Supply Vessel (PSV), Anchor Handling Tug Supply (AHT), dan Fast Utility Vessel (FUV). Harga per unitnya bervariasi antara  4 juta hingga 15 juta dollar AS. Kedatangan kapal baru itu akan melengkapi 57 kapal sejenis yang dimiliki dari perusahaan yang beraset  130 juta dollar AS.

Dana pembelian kapal akan didapat dari hasil Initial Public Offering (IPO) pelepasan 25 persen saham perseroan yang rencananya menangguk dana segar 300-400 miliar rupiah. Tambahan armada ditargetkan bisa meningkatkan pendapatan  38 persen  tahun depan dari target tahun ini 100 miliar menjadi 140 miliar rupiah tahun depan.

Jika kapal tersebut sudah datang nanti, Wintermar akan menggunakannya untuk mengikuti tender kapal pemasok kargo dan penumpang proyek migas lepas pantai. Dua perusahaan migas yang dibidik adalah  CNOOC untuk proyek di Teluk Jakarta dan Chevron di Balikpapan selama lima tahun.[dni]

250910 AP II Akan Bangun Terminal Kargo di Soetta

JAKARTA—PT Angkasa Pura II (Persero) atau AP II akan membangun terminal kargo baru di kawasan Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) untuk mengantisipasi lonjakan bisnis kargo udara.

“Investasi yang dibutuhkan untuk membangun terminal itu sekitar 900 miliar rupiah dengan daya tamping satu juta ton per tahun. Rencananya pembangunan dimulai pertengahan tahun depan setelah grand design pengembangan bandara Soetta disetujui oleh Kementrian Perhubungan dan BUMN,” ungkap Direktur Utama AP II Tri S Sunoko di Jakarta, Jumat (24/9).

Dijelaskannya, perseroan memutuskan membangun terminal kargo baru untuk menyesuaikan dengan pertumbuhan kargo yang setiap tahun naik rata-rata 10 persen di bandara tersebut.

Fasilitas pergudangan di Soekarno-Hatta dibangun 1984 dengan kapasitas 300.000 ton per tahun. Sementara tahun lalu realisasi kargo yang melewati bandara itu sudah 433.180 ton. Tahun ini dengan proyeksi moderat saja jumlahnya bisa mencapai 586.736 ton.

Tujuan pengiriman kargo domestik dari Soekarno-Hatta paling banyak menuju daerah Sumatera sebanyak 39 persen, Jawa 22 persen, Kalimantan 15 persen, dan Nusa Tenggara 12 persen.

“Pendanaan dari pembangunan ini
bisa dari kas internal atau melalui pinjaman, nanti dipastikan lagi. Sementara lokasinya kemungkinan besar di seberang kantor pusat Garuda Maintenance Facilities (GMF), disana ada lahan 50 hektare yang bisa dikembangkan,”jelasnya.

Tri memastikan, terminal kargo itu akan memiliki standar internasional. Dimana seluruh layanan akan dilakukan secara otomatis menggunakan transhipment facilities yang modern, tidak manual seperti saat ini.

Proses ekspor-impor melalui terminal tersebut juga akan dipercepat, menurut studi JICA proses keluar masuk kargo di Soekarno-Hatta masih sekitar 5,5 hari.

“Pungutan-pungutan dipastikan juga akan dipangkas, karena tidak ada lagi pertemuan fisik antara petugas dengan konsumen. Selain itu, perlu diupayakan membuka akses jalan khusus untuk Soekarno-Hatta tidak hanya melalui tol Sediatmo yang digunakan untuk umum. Karena itu kami juga perlu bicara dengan Kementerian PU, Jasa Marga dan Pemda,” jelasnya.[dni]

250910 Lion Air Tingkatkan Kualitas Layanan Check-In

JAKARTA—Maskapai swasta nasional terbesar, Lion Air, meningkatkan kualitas layanan check in bagi pelanggannya
dengan menerapkan mobile check in dan Internet web check in mulai dua bulan lalu.

“Mobile check in sudah dijalankan sejak dua bulan lalu di bandara Soekarno-Hatta. Sedangkan Internet web Check in  akan diterapkan mulai bulan depan,” ungkap Direktur Umum Lion Air Edward Sirait di Jakarta, Jumat
(24/9).

Dijelaskannya, mobile check in adalah sistem pemeriksaan tiket penumpang secara jemput bola dimana petugas Lion Air di bandara akan mendatangi calon penumpang untuk men-scan barcode atau memasukkan kode  tiket ke handheld check in. Konsep ini membuat calon penumpang tidak perlu lagi untuk antri di counter check in. Saat ini terdapat 8
handheld check in dimana investasi untuk satu alat mencapai3 ribu dollar AS.

“Kami rencananya akan menerapkan layanan serupa di bandara-bandara yang padat seperti Medan dan Makassar. Ini
akan menekan keluhan pelanggan terhadap layanan di counter check in manual walau sudah diterapkan standar pelayanan untuk satu pelanggan itu minimal 1,5 menit,” jelasnya.

Sedangkan internet web check in adalah pola yang memungkinkan pelanggan untuk secara real time memesan kursi.
Namun, untuk kursi di baris tertentu seperti deretan depan dan dekat pintu darurat harus melalui konfirmasi petugas.

“Konsep ini sangat praktis. Pelanggan di bandara hanya tinggal menanyakan pintu keberangkatan saja ke petugas,”
jelasnya. Berkaitan dengan kekuatan armada yang dimilikinya, Edward mengungkapkan, pada akhir September ini perseroan akan kedatangan tiga unit Boeing 737-900 ER sehingga pesawat sejenis yang dimiliki menjadi 43 unit.

“Kami juga akan membuka rute baru Yogyakarta-Banjarmasin (PP) pada akhir bulan ini. Sementara anak usaha Wings Air pada awal Oktober ini akan melayani Medan-Silangit (PP) dengan pesawat ATR72-500 sebanyak dua kali seminggu,” katanya.

Direktur Operasional Lion Air Redi Irawan menambahkan, hingga akhir tahun ini jumlah armada ATR72-500 akan
berjumlah 10 unit. “Pada pertengahan tahun depan akan berjumlah 15 unit dari optional 30 unit yang ditawarkan.
Sepertinya kita akan ambil lagi optional 15 unit yang disediakan pabrikan untuk memperkuat armada,” jelasnya.

Edward menjelaskan, agresifnya perseroan menambah armada karena melihat pertumbuhan penumpang angkutan udara yang terus positif setiap tahunnya.

“Kapasitas untuk tahun ini dibandingkan dengan tahun lalu telah dinaikkan menjadi 40 persen. Inilah salah satu alasan Lion berhasil mengangkut 3 juta penumpang melalui 150 penerbangan pada mudik lalu,” jelasnya.

Diakuinya, secara persentase Lion mengangkut pemudik lumayan dominan yakni 45 persen. Tetapi secara riil pertumbuhan pemudik yang diangkut jika dibandingkan dengan tahun lalu hanya sebesar 3 persen. “Ini karena kapasitas kami tambah terus,”katanya.

Berdasarkan catatan, saat ini armada Lion berjumlah 58 pesawat terdiri atas 40 Boeing 737-900 ER, dua Boeing
747-400, dua  Boeing 737-300, delapan Boeing 737-400, dan enam MD-80. Sedangkan hingga akhir tahun nanti industri penerbangan diperkirakan mengangkut 45 juta penumpang.

AirAsia
Pada kesempatan lain, Presiden Direktur Indonesia AirAsia Dharmadi mengeaskan, maskapainya  akan tetap
memberlakukan kebijakan no fuel surcharge walaupun maskapai-maskapai lain akan meningkatkan fuel surcharge
mereka.

AirAsia mendapat pemasukan tambahan dari produk-produknya seperti Baggage Supersize, AirAsia Insure, AirAsiaGo, AirAsia Courier, Pick a Seat dan AirAsia Megastore. Tahun lalu, pemasukan tambahan untuk semua Grup AirAsia (AirAsia Berhad, Thai AirAsia and Indonesia AirAsia) adalah sebesar RM 603.5 juta, 14,6 persen  dari total pendapatan grup. Sampai semester pertama tahun 2010, pemasukan tambahan dari Grup AirAsia telah mencapai RM 460.9 juta.

Untuk lebih meningkatkan pendapatan, AirAsia telah melakukan perubahan pada websitenya, airasia.com, sehingga dapat menarik jutaan pengunjung dari seluruh dunia. Tahun ini saja, airasia.com telah menarik lebih dari 33 juta pengunjung. Jumlah tersebut membuat website AirAsia menjadi sebuah platform dengan daya jual yang sangat
kuat.

“Meningkatkan fuel surcharge mungkin merupakan solusi yang paling mudah, namun keuntungan yang diperoleh bersifat temporer. Kami lebih mengutamakan keuntungan jangka panjang dengan berpegang teguh pada prinsip kami, yakni menawarkan kursi penerbangan dengan tarif yang terjangkau,”
tandasnya.[dni]