220910 APWI Sesalkan Lambatnya Pembayaran Airtime

JAKARTA-Asosiasi Pengusaha Wartelkom Indonesia (APWI) menyesalkan lambatnya pembayaran dana Airtime oleh operator telekomunikasi.

“Pada 22 Juni lalu telah dibuat rekening bersama (Escrow Account) oleh APWI dan Telkom sebagai fasilitator. Namun, hingga sekarang belum ada pencairan, baik itu hak organisasi sebesar 40 persen atau dana airtime,” ungkap Ketua Umum APWI Srijanto Tjokorsudarmo di Jakarta, Selasa (21/9).

Dijelaskannya, operator seluler sudah menyetorkan dana sebesar
28,8 miliar untuk biaya Airtime selama 10 bulan.”Itu rentang waktu dimana kedua belahpihak dalam posisi sepakat untuk sementara. Sisanya masih didiskusikan lagi,” jelasnya.

Sebelumnya, para pengusaha wartel  menuntut tujuh operator seluler untuk mengembalikan biaya airtime periode trafik April 2005 hingga Januari 2007 senilai 54,093 miliar rupiah yang merupakan hak pemilik wartel.

Pembayaran airtime berdasarkan KM 46/2002 tentang penyelenggaraan wartel yang menyatakan pendapatan airtime dari penyelenggara jaringan bergerak seluler sekurang-kurangnya 10 persen.

Airtime selama berlaku, oleh pengusaha wartel disetorkan melalui PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom), setelah itu oleh Telkom menyetorkan ke operator seluler.

APWI beranggapan masih ada tunggakan oleh operator seluler kepada para pengusaha wartel untuk periode April 2005 hingga Januari 2007.

Namun periode tagihan itu menjadi  perdebatan untuk periode berlakunya airtime setelah periode Maret 2005 antara APWI dan operator. APWI beranggapan airtime berlaku sejak Agustus 2002 sesuai berlakunya KM 46/2002 dan berakhir Januari 2007 karena PM No 5 memberikan masa peralihan satu tahun. Sedangkan para operator beranggapan airtime berakhir Januari 2007.

Selanjutnya Srijanto mengungkapkan, APWI juga menuntut Telkom mengembalikan tagihan airtime sejumlah 2,84 miliar rupiah yang ditarik pada percakapan dibawah 6 detik karena alasan perbedaan skema tarif wholesale dan retail.

Dikatakannya, tindakan Telkom menagihkan dan menyimpan dana itu menyalahi Kepmenparpostel No. 46/98 Tentang Tarif Interkoneksi Jaringan Telekomunikasi antar Penyelenggara Jasa Telekomunikasi Pasal 7 yang menyatakan tarif interkoneksi tarif interkoneksi jaringan seluler dengan PSTN dihitung berdasarkan tarif pungut panggilan interkoneksi ke pelanggan.

“Telkom harus mengembalikan dana itu ke pengusaha Wartel, kalau tidak kami somasi,” katanya.

Secara terpisah, Juru bicara Telkom Eddy Kurnia menegaskan dalam kasus Airtime perseroan hanya menjadi fasilitator. “Kami bukan pemungut airtime. Masalah dana harus dicairkan secara cepat tentunya memerlukan koordinasi dengan banyak pihak,” katanya.[Dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s